Berbagi Kisah Cinta, Bukan Derita

1663 Kata
Tanpa kusadari, seorang perempuan ikut duduk di sebelahku. Entah sejak kapan ia berada di sana. Karena ombak begitu keras mendebur, jejak langkahnya yang terpendam di antara pasir pantai menjadi tidak terdengar. Senja menemaniku, atau aku yang sebetulnya menemaninya di sini. Aku sadar ketika ia mulai berbicara, terdengar pelan tetapi setengah berteriak. Suaranya tertutupi sahutan camar di lepas pantai. “Memang benar, ini belum menjelang sore. Tapi sangat indah. Ombaknya keras sekali, seperti dirimu selama ini Raka!!” teriak Senja mendekat ke hadapan telingaku. Aku yang tersadar berbalik menghadapnya yang sedang terduduk dengan posisi sama di sebelah kananku. “Sejak kapan kamu di siniiii? Saya minta kamu beristirahat tadi,” akupun berucap setengah berteriak. Cukup sulit berbicara di kala ombak sedang keras-kerasnya membentur bibir pantai mendekati tempat duduk kami. Aku perhatikan Senja sedang mengarahkan pandangannya ke tengah laut. Ia coba bersemayam dengan keanggunan dari lukisan Tuhan pada keindahan alam ini. Seolah tak ingin melewatkan sedetik pun, Senja terlihat enggan berkedip. Aku menatapnya tanpa jawaban dari kalimat yang aku pertanyakan. Senja mengenakan gaun putih polos terjuntai hingga setengah paha. Gaunnya berlepit bak tirai di istana raja. Bahunya dibiarkan terbuka, seakan ingin juga merasakan terpaan angin laut di bawah teriknya mentari. Tak ada ketakutan akan legamnya kulit ia gambarkan. Begitu bebas, sangat bebas. Aku melihat gambaran Tere di hadapanku. Berkali pula aku coba tepis bayangan itu. Senja tetaplah Senja, bukan Tere dengan keceriaannya. Aku berhasil menghapus kenangan itu, di sini. Di bibir Pantai Karang Hawu, bersama Senja, saat matahari sedang berada di puncak cakrawala. Dalam ketenangannya, Senja tiba-tiba merajuk bak anak kecil di hadapanku. Perutnya sudah minta diisi. Dari bulatan mentari bisa kupastikan sudah lewat dari tengah hari saat ini, kami sudah terlalu lama di sini. Aku juga sudah mulai merasakan lapar. Tak tega rasanya mendiamkan Senja dalam kekalutan membutuhkan makanan. Aku ajak ia menepi sejenak dari pantai, mencari sajian rumah makan yang sudah buka melayani rasa lapar kami. Di dekat situ aku lihat ada sebuah restoran ikan bakar, dengan meja untuk pelanggan yang terbuka mengarahkan pandangan ke laut lepas. Senja juga melihat ke arah yang sama. Karena itu satu-satunya tujuan mata kami berpencar, mencari dan menepi ke satu sudut yang serupa. Kami bangkit dari duduk di alas pasir Pantai Karang Hawu, berjalan menyusuri garis pantai. Tiada pijakan batu atau aspal kami cari. Tetap berada di atas pasir pantai menjadi pilihan terbaik. Senja tak kalah bodoh denganku, ia juga tidak menggunakan alas kaki. Beberapa kali telapak kaki indahnya itu menginjak butiran pecahan karang, ia mengaduh. Aku hanya mampu mengapit lengannya, mencoba menarik beban agar tak terinjak kembali karang yang bertebaran. Tanpa terasa Senja semakin merapatkan dirinya bersamaku. Aku menjadi tempat bersandar sepenuhnya dari kesakitan Senja menginjak pecahan karang. Satu waktu, Senja harus terduduk karena pecahan karang di balik jernihnya pasir pantai itu semakin membuat sakit telapak kakinya. Aku menemaninya duduk sejenak. Ia membersihkan sendiri beberapa serpih batu yang menempel di telapaknya. Aku hanya memperhatikan tingkahnya. Lama kuperhatikan, ia semakin menggemaskan. Belakangan wajah itu yang selalu memenuhi khayalan. Senja sempat meringis ketika satu serpihan menancap di sela-sela buku jari kakinya. Aku membantunya mencabut batu. Pada bekasnya, terlihat memerah tapi bukan darah. Hanya lecet sesaat, dan meninggalkan bekas seperti lubang. “Bodoh, kenapa tidak pakai sandal?” kataku sambil membantu Senja membersihkan beberapa bulir batu di telapak kakinya. “Aku tadi lihat kamu keluar kamar, tidak pakai sandal. Jadi aku kira kamu mau ke taman atau sekedar ke coffee shop hotel. Tidak tahu kamu mau ke pantai. Kamu yang bodoh karena sudah mengajariku kebodohan ini,” pungkas Senja. Aku hanya menatapnya dingin, tidak membalas perkataannya. Setelah semuanya bersih kami melanjutkan kembali berjalan. Sekira 5 menit berjalan kaki dengan ringisan setiap 10 langkah, akhirnya tiba di restoran itu. Senja memilih duduk di meja paling ujung, tempat terbuka, tak jauh dari tempat pembakaran ikan. Setelah memesan beberapa makanan, aku pergi sebentar, dan meminta agar Senja menunggu di sini. Aku membelikannya sandal jepit berwarna biru. Ini akan sedikit membantu menghilangkan kesakitannya pada batu yang menusuk telapak kakinya. Apalagi siang hari seperti ini, panas terik matahari jatuh langsung ke bentala. Selain batu yang mengancam, sengat panas bisa juga berikan rasa sakit saat berjalan. “Pakai ini. Di luar panas. Pasir, batu atau aspal yang akan kamu pijak akan memberikan panas juga ke telapak kakimu.” Senja yang sedang memandang laut beralih menatapku, sambil tersenyum ia berucap, “Terimakasih, ya.” Saat menunggu, kami kembali terdiam, tidak ada kata coba kami ucapkan. Senja yang duduk dihadapanku, membelakangi laut, tampak berbalik arah, ikut melihat ke arah ombak yang menjuntai. Aku pun meresapi kedamaian ini. Kami sama-sama sedang tidak ingin diganggu dalam menghayati tenangnya nurani. Tak lama, pesanan makanan datang. Senja memesan satu ekor ikan baronang bakar, sedangkan aku ingin mencicipi rasa cumi bakar di sini. Kami makan dengan lahap saat itu. Nikmatnya kudapan berhasil menjadikan kami lupa akan kesakitan-kesakitan tadi ketika berusaha mencapai titik ini. Selesai sudah urusan makanan. Tiba-tiba Senja berpindah tempat duduk, menarik kursi di sampingku, mendudukkan diri sejajar bersamaku. Dua anak manusia yang sedang terjerat waktu. Lalu ia mengatakan, “Bosan aku melihat kamu terus. Mau berbalik melihat pantai, leher aku rasanya pegal.” Aku terdiam, seperti biasa tidak membalas perkataan Senja yang tidak sepatutnya aku tanggapi. Aku tahu Senja tidak bermaksud menggodaku, ia bukan tipikal penggoda seperti itu. Ia hanya bercanda, berharap aku jungkalkan bibir agar tersenyum pada kelakuannya. Tetapi aku khawatir jika tingkah gemasnya seperti ini yang seringkali ia pertunjukkan di hadapanku, bisa saja memberi ruang untukku menanamkan perasaan kepadanya. Sejurus kemudian, merasa apa yang disampaikannya tidak ditanggapi, ia mencoba mencari pembahasan lain. Berusaha menarik perhatian yang sedang aku lekatkan pada keniscayaan. Ia menerobos masuk jauh ke dalam pribadiku. “Raka, kenapa kamu begitu dingin? Selalu seperti ini dengan setiap orang kah? Tidakkah seharusnya kita berbicara, bercengkrama, bercanda? Kamu tidak iri melihat awan di atas sana saling b******u mengikuti rotasi bumi? Atau kamu tidak ingin seperti buih laut yang bersama ombak menjalin keakraban? Aku hanya ingin mencoba bersahabat Raka.” “Saya memang seperti ini. Maaf kalau kemudian kamu merasa tidak nyaman. Saya juga tidak pernah meminta kamu untuk berada di sini, menemani saya.” “Tidak, bukan maksudku begitu. Sudah selayaknya kan, dua orang yang berada di satu tempat bisa saling berbagi waktu. Tentang apapun itu.” Aku lagi-lagi tidak membalas perkataannya. Dalam kesejajaran, mata kami saling bertemu. Mencoba menggumuli keberadaan diri masing-masing. Senja menatap mataku lekat dan bulat-bulat. Membuatku membuang jauh pandangan. Menepis segala bayangan bersama kemungkinan-kemungkinan yang lain. Orang-orang seringkali berkata jika cinta adalah hasil dari reaksi kimia. Kalau perpaduannya cocok, perasaan bisa menerjemahkan dalam kesadaran yang dinamakan cinta. Aku tidak tahu bahan kimia apa yang kemudian memberikan kami kesempatan seperti ini. Bertemu dalam desir angin, kaku dalam terjangan ombak. Perlahan, aku nyatanya bisa menerjemahkan jika aku memang cinta pada lekatnya Senja.    Senja berujar sebentar, mencairkan bulir beku tingkah laku kami. Ia seolah tidak pernah kehabisan kata untuk memaksaku berbicara. Sudah sejak lama memang aku menutupi segala kehendak diri. Jauh di lubuk hatiku, aku ingin berbicara banyak denganmu. Memberikan berita bahwa pribadiku sedang tidak baik, dan aku membutuhkan kamu sebagai teman bercerita, namun tidak bisa. “Kamu tahu kenapa aku sangat cinta dengan laut bersama pantainya? Karena mereka begitu terbuka. Coba kamu lihat, tidak ada batasan yang mampu menutupi pandangan ke tengah cakrawala sana. Laut juga menghadirkan kesejukan. Kesejukan itu memberikan kita kedamaian. Kalau kita pejamkan mata seperti ini,” Senja mencontohkan dengan menghadapkan wajahnya lurus ke laut lepas, matanya terpejam, bibir merahnya setengah tersenyum, bahagia dan berkata kembali, “Akan banyak ketenangan hadir bersama impian yang bisa kita gambarkan.” Saat membuka mata, ia menoleh ke hadapanku. Mendapati mataku yang sedang menelanjangi wajah cantiknya. Senja tersipu, malu. Menertawakan dirinya dan diriku. Aku pun tak bisa bersembunyi dari kecurangannya yang membuka mata terlalu cepat. Sungguh hanya pada saat ia terpejam, segalanya bisa menjadi biru dan itu membuatku semakin meracau. Kemudian kami berada dalam keterasingan. Canggung, kata yang lebih tepat menggambarkan apa yang terjadi saat itu. Senja kembali berkata, kali ini ia tahu harus berbuat seperti apa di hadapanku, mencoba mengembalikan keakraban dengan memperbincangkan keindahan lautan. “Aku berkali-kali plesiran ke pantai yang kata orang-orang indah, tapi tidak pernah ada yang sama seperti di sini. Benar katamu ya, di sini semua gejolak rasa itu ada, termasuk perasaan mistis. Mungkin karena di daerah ini sunyi, sepi, dikelilingi perbukitan yang berbatasan langsung dengan lautan, jadi kesannya begitu. Berbicara mistisme, aku juga tidak mengerti mistisme seperti apa yang bisa membuatku berlaku bodoh menguntitmu, duduk di pinggir pantai bersamamu tadi hingga sampai di sini berbicara denganmu yang seperti batu.” “Itu bukan mistisme, hanya kamu saja yang selalu ingin tahu urusan orang lain.” “Hmm... Mistisme pun akan kalah dengan hadirnya sinisme. Apa barusan itu adalah sinisme? “Saya tidak sinis, hanya menjawab pertanyaanmu tentang menguntit barusan.” “Bagimu mungkin tidak sinis, tapi bagi orang lain yang sedang berhadapan denganmu itu sungguh menyebalkan. Apakah kamu sadar kalau kamu semenyebalkan itu?” “Semua orang berhak untuk dimengerti, tapi terkadang tidak semua orang ingin berusaha untuk mengerti orang lainnya. Kalau saya menyebalkan, bukan tanggung jawab saya untuk menepis identitas itu. Cukup rubah saja pendapatmu, dan cara pandangmu tentang saya.” “Kamu tidak adil, minta orang lain untuk merubah cara pandangnya terhadapmu. Tapi kamu sendiri tidak berusaha untuk merubah cara pandangmu terhadap cara orang lain memandangmu.” Senja benar, aku mengaku salah atas sikapku. Entah mengapa perempuan ini banyak memberikanku kesadaran akan sikap yang seharusnya kuberikan padanya. Aku tidak pernah menerima protes sekeras ini dari siapapun. Baru dengan Senja, aku mendapat banyak cercaan terhadap caraku bersikap. Biasanya orang-orang di luar sana mengalah dengan membiarkanku dalam kediaman. Sementara Senja tidak pernah membiarkanku untuk diam. Selalu saja ada kata yang diucapkannya agar aku berbicara, walau itu hanya sebarisan kalimat tak bermakna. Saat itu, dengan perempuan mana pun, termasuk Senja, Sinta atau siapapun itu. Caraku berbicara memang seadanya, seperlunya, bahkan sebisanya tak berbicara. Sinta memaklumi jika aku berkarakter seperti ini, Senja tidak. Ia tahu aku berwarna, jauh lebih berwarna dari sekedar langit yang menampakkan gulungan awan putih berlatar biru di atas sana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN