Senja di Laut Selatan

1689 Kata
Aku beranjak dari tempatku duduk, saat Senja masih memperhatikan gulungan ombak di depan matanya. Setelah membayar semua makanan, aku bermaksud mengajaknya ke suatu tempat yang jarang orang ketahui di sini. Termasuk penduduk asli, mungkin juga tidak banyak mengetahui. Di arah barat laut, ada bukit yang menjorokkan bebatuan ke arah lepas samudra. Dari sana, matahari terbenam bisa terlihat bulat-bulat, tidak ada batas penghalang sama sekali. Jarang orang berkunjung ke bukit itu karena banyak cerita yang mengedepankan mitologi hingga dirasa menakutkan. Bukit itu diceritakan sebagai tempat Putri Kadita menceburkan diri ke laut setelah terusir dari Istana Kerajaan Sunda akibat kedengkian ibu tiri terhadap kecantikannya. Putri Kadita yang kelak dijuluki sebagai Nyai Ratu Roro Kidul itu ditimpakan penyakit kulit oleh ibu tirinya, permaisuri kerajaan. Penyakit kulit itu tak bisa disembuhkan oleh siapapun, bahkan tabib-tabib sakti milik Kerajaan Sunda. Raja kemudian terpaksa mengusir Putri Kadita karena khawatir akan memberikan wabah penyakit ke seluruh istana kerajaan. Putri Kadita akhirnya beranjak dari istana kerajaan seorang diri, berjalan jauh menyusuri tanah yang mampu dipijaknya. Sejauh kaki melangkah, ia hanya mendengarkan suara hati. Hingga sampai di antara batas daratan dengan laut selatan, daerah Sukabumi sekarang. Tempat yang konon lekat dengan cerita Ratu Pantai Selatan. Putri Kadita berdiam di sana beberapa waktu. Menikmati kesendirian dan berteman dengan hati. Hingga sampai berada di sebuah bukit, melihat kerasnya deburan ombak membentur karang, ada suara lain menghujam nuraninya. Suara itu mengatakan, kalau ingin penyakit kulitnya sembuh, Putri Kadita harus melompat ke laut selatan. Menyerahkan diri sepenuhnya pada ganasnya samudra. Putri Kadita merasa semuanya telah sirna. Jikapun nyawa hilang karena beranjak dari daratan menuju cengkraman lautan, tidak ada yang akan menangisi kematiannya. Tak ada pilihan, Putri Kadita membenamkan dirinya ke laut lepas dari ketinggian bukit di barat laut Pantai Karang Hawu. Jiwanya barangkali tidak pernah benar-benar tenggelam. Ia masih ada hingga kini, menjaga kesucian panorama laut selatan dari jahatnya bulus manusia yang memperalat kecantikan hanya sebagai hiasan. “Senja, kalau kamu masih mau tahu urusan orang, berkenankah ikut denganku? Akan aku tunjukkan sesuatu,” ucapku dihadapannya. “Asal tidak kamu dorong aku ke laut sana, aku mau tahu apa yang akan kamu tunjukkan,” seru Senja dengan mata gemericing terbiaskan cahaya matahari dan kemudian mengikutiku berjalan. Sepanjang perjalanan menuju bukit, tidak banyak kata kami bicarakan. Seperti biasa. Senja pun hanya beberapa kali menanyakan tentang hendak kemana arah tujuan kita. Aku berujar, jangan banyak bertanya, ikut dan percaya saja. Senja tak lagi banyak bertanya, tapi tetap memaksaku berbicara, dengan berbagai cara. Menuju bukit yang tak seberapa tinggi ini. Senja sempat meminta istirahat sejenak. Aku pun agak letih setelah berjalan kaki cukup jauh. Peluh membasahi tubuh kami, tapi tak bisa menghalangi untuk terus melangkah menuju sepi. Rerimbunan dedaunan menutupi pula pijak jalan yang hendak kami lalui. Saat itu, biarpun sudah tersusun tangga batu yang tak beraturan, kiri kanan bukit masih banyak dipenuhi pepohonan. Dedaunannya lekat menutup cahaya matahari menyentuh tanah. Dari sudut-sudut, tercium aroma bunga, ada melati, mawar, kenanga, dan seroja. Aku cukup hafal semua harum ini. Wangi bunga tujuh rupa di tempat ini semakin membuat orang yang tak terbiasa akan ketakutan. Senja terus memegang tanganku erat, ia menjadi sering bertanya lagi, akan kemana kita. Tak jauh di puncak bukit, terlihat pondokan berwarna hijau. Beberapa warga sengaja membangun tempat itu sebagai penanda petilasan Putri Kadita. Konon di tempat itu juga terdapat makam dua orang penyebar Islam di Sukabumi. Menambah suasana mistis yang tersaji di sini. Beberapa orang kami temui di pinggir pondokan. Tak seperti sepanjang perjalanan mengikuti anak tangga yang nampak sepi, nyatanya di tempat ini sudah ramai kunjungan ziarah. Tampak berbeda dengan beberapa tahun lalu, kini terlihat sudah banyak orang tahu tempat ini. Sadar mencuri perhatian orang, Senja lantas merenggangkan pegangannya pada tanganku. Tetapi tetap berjalan menempel erat tubuhku. Ia merasa terasing dengan tatapan mata selamat datang dari mereka, ditambah bau menyan, dupa dan kembang tujuh rupa yang digunakan orang-orang untuk ritual. Entah untuk apa ritual itu dilakukan. Aku sendiri beranggapan jika menghormati Putri Kadita atau Nyi Roro Kidul tak harus bersentuhan dengan segala macam lelaku mistis seperti itu, tapi cukup dengan memberikan rasa cinta pada laut selatan serta kawasan sekitarnya. Dengan cara apa? Dengan menjaganya dari kerusakan. Tetapi itulah kebudayaan, dari sisi gelapnya yang barangkali memancing sejuta pertanyaan, akan tetap ada keyakinan dilakukan, semata-mata untuk mempertahankan kehidupan.  Sekira lima menit, kami telah tiba di tujuan. Dari pondokan tadi, kurang lebih seratus meter jalan menurun dengan lintasan batu kali yang sengaja disusun warga, terdapat tebing karang yang tajam menjorok ke laut. Bagian bawahnya sudah terkikis oleh pukulan ombak. Hingga hanya menyisakan batu ini sebagai mahkota Pantai Karang Hawu, begitu aku menyebutnya. Saat tiba, Senja langsung meluruskan kakinya dengan terduduk pada pipihan batu yang lebih mirip kursi, merasakan gemetar di kakinya, meredakan linu di persendiannya. Bagi yang belum terbiasa berjalan jauh dan menaiki anak tangga menuju bukit, memang sebuah hal melelahkan. Berbeda dengan Senja, aku menatap kebebasan yang disajikan alam ini. Aku sebenarnya kurang suka dengan laut. Jika boleh memilih, aku akan menghabiskan waktu lama di pegunungan daripada lautan. Hanya hal terbatas yang bisa dilakukan di lautan. Memandang kejernihan birunya air yang dibatasi lengkungan rona milik langit. Segalanya membiru, seperti hatiku. Tapi tak semuanya, masih ada gumpalan putih yang menghiasi biru, baik di langit maupun di lautan. Awan bersama riak deburan ombak seolah mengisi warna lain selain biru di sini. Aku kemudian membalikkan tubuhku, melihat Senja yang masih tersengal aluran nafasnya. Kuhampiri untuk memastikan jika semuanya baik-baik saja. “Senja, kamu tidak apa-apa? Melelahkan ya? Baru pertama kali jalan sedikit jauh seperti tadi? Sepertinya kita harus sering-sering menjelajah ke pedalaman Indonesia. Agar kakimu lebih terbiasa bercengkrama dengan tanahnya. Ini belum seberapa,” tuturku duduk di sampingnya. “Aku baru terkilir beberapa hari lalu, hanya tadi sebentar menahan sakit saja. Sekarang sudah agak reda. Maaf merepotkanmu. Digunakan untuk naik tangga bukit seperti tadi jadi bertambah rasa nyerinya,” Senja menolehkan pandang ke arahku meminta perhatian dariku. Matanya belum memperhatikan apa yang ada di depannya, hamparan biru yang sebentar lagi menjadi jingga. Atas ucapannya mengenai kaki yang ternyata masih dalam kondisi tidak baik. Aku kelewat khawatir akan keadaannya. Dengan cepat, aku membantu Senja memijat bagian kaki yang sedari tadi terus ia pegangi. Aku merasa bersalah. Aku kira kemanjaan Senja tanpa alasan. Sepanjang jalan bergelayut di lengan, sesekali menarik tangan, meminta bantuanku untuk meringankan beban. Saat kulakukan sentuhan kecil pada lututnya, Senja tersenyum, beberapa kali meringis disertai pingkal tawa. Lalu ia berbicara jika sedang seperti ini, aku seolah bukan Raka yang selama ini dikenalnya. “Aku melihat sisi lain dari dirimu. Ternyata selain bisa menghadirkan sinis untuk orang lain, kamu juga bisa berlaku manis. Aku kira hanya legam hitam saja yang ada pada tatap matamu. Tetapi sungguh berwarna ya,” kata Senja sambil tertawa. Mendapati kata-kata seperti itu, aku menjadi salah tingkah. Seolah waktu berhenti sesaat, memaksaku berfikir jika apa yang kulakukan barusan terhadapnya adalah di luar reaksi seorang teman. “Lalu apa yang ingin kamu tunjukkan padaku?” perkataan Senja memecah ruang fikirku. Ia yang sedari tadi hanya menatapku di sebelahnya dan terkadang tertunduk ke bawah kakinya, mulai mencuri tahu. Senja beralih melihat ke hadapan pandang. Sesaat terbelalak, seolah tak percaya aku memberinya kebebasan pada apa yang dilihat mata. Luas, begitu luas hingga terlihat tak berujung. Tidak terlihat ada orang lain setolehan kami. Hingga menelisik jauh ke sebrang, tiada aspal abu-abu atau susunan tinggi gedung yang berusaha mencakar langit mirip Gunung Merbabu. Segalanya alami. Angin ini, air di bawah sana, batu-batu karang yang mulai merapat pori-porinya, tumbuhan hijau di belakang tempat kami bersandar, burung-burung yang mencari tempat hinggap di atas samudra, segalanya indah hasil dari lelapnya semesta. Senja takjub, ia mengulangi lagi memejamkan kedua mata. Meresapi segala apa yang terhampar di atas bentala. Nafasnya tidak lagi tersengal. Kini mulai teratur. Sedetik nafas didenguskan, tiga detik menghirup udara kesegaran. Senja merasa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang secara kodrat adalah anak alam. Namun kini kodrat itu bergerak, berputar 360 derajat, menjadi perusak segala apapun yang dimiliki alam. Keserakahan telah menjerumuskan cara hidup manusia yang seharusnya berdampingan dengan alam. Segala macam eksploitasi dilakukan. Dari perut bumi, berbagai cairan dikeluarkan, dijadikan sumber energi untuk bahan bakar katanya. Hingga perut kerontang, energi terbakar habis tak menyisakan manfaat bagi siapapun. Aku turut menemani Senja dalam gelapnya imajinasi, mata kami berdua terpejam. Entah apa yang mengisi ruang gelap di kepala Senja. Di kepalaku, hanya ada ketakutan, teriakan, kekesalan, kemarahan, segala yang menimbulkan kekalutan, semuanya tergambar jelas. Sesaat sebelum aku membuka mata, bayangan Tere hadir kembali, mencoba merebut kebahagiaan yang hendak kuciptakan bersama Senja. Aku membuka mata, tidak ingin kembali terpejam dan dihadirkan segala macam lelaku buruk di masa lalu. Masih membekas dan teringat jelas. Tidak ada yang kabur sedikitpun. Pertengkaran kami, teriakan Tere, tangis amarahnya, segala macam bentuk keegoisan seorang manusia berada di sana. Aku tak tahan untuk kemudian tidak membagi cerita pada Senja mengenai mengapa aku begitu dingin di hadapan perempuan sepertinya. “Senja,” panggilku pelan padanya. “Ssssttt, sebentar jangan ganggu aku membenamkan diri dalam sunyi yang tak bisa terbagi seperti ini,” jawabnya dengan masih memejamkan mata. “Bolehkah sekarang kita berbagi cerita?” Senja kemudian membuka matanya perlahan. Kenyataan akan ceritaku membuatnya menghapus semua lekang indah di imajinasinya. Ia lebih memilih mendengarkanku. “Soal apa? Soal ceritaku atau ceritamu? Jika itu tentangku, rasa-rasanya berdiam diri dengan memejamkan mata seperti tadi lebih menarik Raka. Tidak ada lagi hal yang tidak kamu ketahui jika itu tentangku. Aku sudah ceritakan semua hal di hadapanmu.” “Bukan. Ini tentang saya. Rasanya tak adil jika hanya kamu yang membuka segala kisah kehidupan.” “Oh, pria di depanku ini sudah bisa menjadi teman yang baik sepertinya. Kalau begitu, aku akan jadi pendengar yang baik juga dan tidak akan menyela perkataanmu jika tidak kamu izinkan. Itu perjanjiannya kan?” “Yap, terimakasih atas perjanjian dan perhatianmu.” “Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu telah memberikanku pengalaman hidup seindah ini. Rasanya sayang jika seumur hidupku hanya berteman dengan racun kota. Terimakasih Raka.” Aku lantas membuka segala cerita pada Senja, tidak ada sebutir huruf pun coba aku tutupi darinya. Ia membalas dengan penuh penghargaan kepadaku. Tidak ada penghakiman, tidak ada rasa ingin mengerti sendiri, tidak pula rasa memenangi pertandingan hati. Senja menjadi perempuan terindah yang mampu menjungkalkan pandanganku terhadap kepicikan atas pengkhianatan. Terimakasih.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN