Bukan Fiktif

1644 Kata
Mendaki cinta yang berbukit, lelah, dan sakit. Di puncak menanti sebatang tegap pohon damar, aroma getahnya wangi, sewangi makhluk hidup yang hadir pada sudut-sudut bumi. Menanjak dan berkali lagi menghela nafas, bukit didaki, kembali menjaga asa. Satu-satunya yang tertinggal hanyalah harapan. Jika tidak mampu, berhenti saja. Duduk dengan tenang di bawah sana, melihat sudut yang berbeda dari balik bukit yang menampilkan ketelanjangan semesta.            “Ini berawal beberapa tahun lalu. Saya sebelumnya tidak sepengecut ini berhadapan dengan perempuan. Tapi sekarang yang hadir adalah ketakutan, jika perempuan semua serupa seperti dia. Hampir tidak ada harapan, kosong seperti cibiran orang-orang yang menyemburkan duka ke hadapan wajahku. Mereka tidak tahu. Mereka hanya mencari kesenangan menertawakan kehidupan orang lain dari penderitaan yang sedang dienyamnya,” aku mulai membuka cerita pada Senja di atas bukit ini. Sepanjang kata, tidak berani kutatap matanya. Terlalu banyak ketakutan menghampiriku, tapi yang terbesar adalah menghadirkan kecewa di nadinya.            Aku melanjutkan, dengan cerita bagaimana aku bertemu Tere pertama kali, menjadi kekasih sahabatku, lantas menjadi sahabat karena kadung sering menumpahkan rasa, menjadi kekasihku sendiri hingga sampai pada titik di mana semua berbalik. Sepanjang cerita, sesekali kulihat ekspresi mengangguk dari Senja, tanda untuk mencoba mengerti. Sesekali pula Senja tersenyum tersipu bahagia membayangkan jika perempuan itu adalah dirinya. Sisanya cukup banyak Senja menggenggam tanganku sebagai urun simpati terhadap apa yang telah menimpaku.            “Sejak pertemuan malam itu, setelah Tere menceritakan apa yang diperbuatnya setahun belakangan dengan Bang Edo termasuk mengalpakan satu nyawa. Menjadi lebih jarang kami bertemu atau sekedar berbagi cerita melalui telefon. Saya juga sedikit merasa bersalah ketika mengantarkan sampai di depan rumahnya, kemudian menyampaikan bersedia menikahi Tere jika tidak ada seorang lelaki pun yang ingin menghapus kesedihannya. Kata-kata itu mungkin terekam di bawah alam sadar kami berdua,” sambungku.            “Tere kemudian menghubungi saya kembali ketika ia minta pendapat untuk mengakhiri hubungan dengan Bang Edo. Tere sudah tidak tahan dan memuncak segala kesalnya saat itu. Katanya, mereka berdua sempat bertengkar di jalan raya, tak jauh dari kosan tempat mereka tinggal bersama. Pertengkaran itu terjadi tengah malam, di jalanan sepi, saat sudah jarang orang berlalu lalang.” Menurut cerita Tere padaku, Bang Edo mengejarnya sambil membawa pisau, mengancam akan membunuh Tere. Sebabnya? Tere tidak diperkenankan bertemu dengan salah satu alumni organisasi. Tere memang terikat kisah lama dengan orang ini. Tapi kesetiaan Tere menunggu Bang Edo menjadi seorang manusia seharusnya tidak bisa dikesampingkan begitu saja dan itu layak dijadikan pertimbangan jika pertemuan Tere dengan orang itu murni merupakan kepentingan organisasi. Begitulah pandang buta seorang yang sedang terbakar api cinta. Perdebatan masalah itu pun pada akhirnya melebar kemana-mana, hingga mereka berdua kalap mata. Tere menantang kekasihnya itu untuk membunuhnya jika masih terus saja dikekang. Jelas Bang Edo tidak memiliki keberanian seperti itu. Bagaimanapun binatangnya seekor harimau, ia tidak akan mau memakan bangkai pasangannya sendiri. Tere terlanjur histeris dengan pemandangan di depan matanya. Kekasihnya ini dalam keadaan sangat tertekan akan kehidupan. Aku tidak bisa mempersalahkan Bang Edo sepenuhnya, ada andil Tere yang aku sadari menekan kondisi psikologis Bang Edo. “Lalu apa yang terjadi saat itu?” suara Senja menanyakan kelanjutan dari ceritaku. “Mereka didamaikan oleh warga sekitar. Beberapa teman Tere membawanya ke tempat yang lebih aman. Teman-temannya sepakat jika mereka tidak bisa dipertemukan lebih dahulu. Dalam kondisi kalut seperti itulah Tere menelfon saya. Saya hanya bisa mendukung kebaikan, bukan menilai siapa salah siapa benar. Mereka berdua orang yang dekat dengan saya. Rasanya tak adil jika kemudian saya mempersalahkan salah satunya. Tere tetap mencari pembenaran bahwa segala kejadian yang telah menimpanya adalah kesalahan Bang Edo seorang. Ia merasa tidak memiliki kesalahan. Saya tahu beberapa hal disembunyikannya. Tapi saya enggan mengorek perihal itu,” lanjutku menuntaskan pertanyaan Senja. “Beberapa waktu berlalu saya ketahui hubungan mereka benar-benar kandas. Kondisi sangat tidak memungkinkan. Ibunya Tere sama sekali tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Bang Edo. Tere tidak bisa menahan segala tekanan di dalam dan luar batinnya. Hatinya masih cinta dengan Bang Edo, tapi sungguh kondisi tidak memungkinkan jika harus dipaksakan. Mereka juga tidak memiliki uang saat itu. Kosan pun berbulan belum dibayar. Tere akhirnya harus bergantian menumpang menginap di kosan teman-temannya maupun di sekretariat organisasi. Bang Edo pulang ke rumahnya dengan berjuta penyesalan. Semesta seperti sengaja menekan agar jalinan cinta yang terpupuk lama akhirnya saling meninggalkan. Saya tahu cerita seperti itu dari Kak Tari. Kami masih berhubungan baik, bahkan sampai sekarang. Tak jarang juga kami saling menelisik, berbagi cerita mengenai perubahan sikap Tere kepadanya.” “Sebetulnya Tere terlihat sangat egois,” Senja menanggapi cerita tentang awal keputusan yang pada akhirnya memisahkan Tere dan Bang Edo. “Awalnya saya tidak setuju terhadap pandangan seperti itu. Saya banyak membelanya tanpa bisa saya sadari, dan akhirnya menuding kesalahan pada Bang Edo. Tetapi saya salah, Tere memang makhluk egois dan perkiraanmu benar soal itu Senja,” kelakarku dengan lembut kepada teman ceritaku ini. “Itu hanya pembelaanmu saja mungkin Raka. Mencari teman senasib ya Bang Edo itu tempatnya,” tawa Senja. “Bisa jadi. Kita fikir mungkin kita objektif. Tapi tidak seperti itu. Bagaimana mungkin bisa mendegradasi diri sendiri? Tapi mungkin saja, tidak semua orang berfokus pada dirinya sendiri. Ada beberapa yang lebih mementingkan orang lain. Dan biasanya terjadi pada mereka yang sedang jatuh cinta. Seberapapun kesalahannya, tetap mulia di hadapan cinta. Bukan begitu Senja?” ia hanya mengangguk kecil entah sebuah pertanda setuju atau hanya menutupi ragu menghadapi pertanyaanku. Aku kembali berbicara pada Senja, “Setelah hubungan antara Bang Edo dan Tere berakhir, saya tak kunjung kembali ke lingkungan kampus. Bang Hendra sudah mulai sibuk saat itu. Saya banyak membantunya untuk urusan PHS. Rangka Karya baru hendak dilahirkan karena saya dan Erik sedang menggodok konsep itu. Namun memang segalanya menguras waktu. Kuliah pun terbengkalai padahal hanya tinggal selesaikan skripsi.” “Selang tiga bulan kemudian, Tere menjalin cinta baru dengan pria yang bernama Ari. Pria ini memiliki kemiripan sikap dengan Bang Edo, hanya saja kemudian Tere tidak memiliki pilihan. Tapi ia sebetulnya sadar, keluar dari kandang harimau, masuk ke dalam kandang singa. Sama-sama terpenjara, dan kali ini walaupun tidak ada k*******n fisik, kekangan pada kebebasan Tere jauh lebih dalam walaupun halus tak terlihat. Tere tetap melanjutkan hubungannya. Fisiknya terlihat baik, tidak ada lebam yang menghantam wajahnya, tidak pula memar pada sudut tubuhnya. Tapi psikologisnya jauh lebih terguncang. Dia benar-benar dipenjara.” “Dipenjara, maksudmu?” “Tere disewakan kamar kos oleh Ari. Di dalam kamar kos itu Ari membelikan Tere akuarium ikan hias, dengan maksud menjaga Tere dari kesendirian. Maklum Ari sibuk dengan pekerjaannya. Tapi segala kebutuhan ekonominya dipenuhi oleh Ari. Untuk makan sehari-hari, juga dikirimkan. Tere tak pernah kurang satu apapun. Namun ada harga yang harus dibayar oleh Tere. Ia tidak bebas untuk bergerak. Di dunia organisasi, tuntutan bergerak itu suatu keharusan. Untuk keluar kamar membeli sesuatu pun Tere harus meminta izin Ari apalagi untuk kegiatan organisasi. Tangan Ari tidak pernah bermain, tetapi mulutnya selalu menembak tepat di hati dan fikiran Tere. Segala macam julukan dilekatkan Ari jika Tere tidak bisa menurut kepadanya. Di satu sisi, Tere terus melawan, tapi perlawanan yang dilakukan tidak melepaskan, justru semakin mengikat kuat. Semakin dilawan, Ari semakin senang mengurung Tere di dalam kamarnya, dijadikan objek penistaan atas alibi percintaan. Air mata mungkin sudah habis dipakai untuk menangis.” “Sungguh perempuan yang malang. Kamu tahu darimana soal itu, Ka?” tanya Senja kembali. Padahal di awal ia sendiri yang membuat janji untuk tidak menyela pembicaraanku. Ini yang membuatku suka pada Senja, dia tidak menyelaku hanya butuh beberapa penegasan. “Tere tidak pernah melewatkan cerita tentang dirinya pada saya. Dia selalu menyempatkan waktu untuk bersenda gurau bersama. Saya terkadang berfikir, apa maksudnya membuka diri pada saya seterbuka itu. Bahkan mungkin dengan kekasihnya saat itu saja dia tidak akan seterbuka itu. Setiap menerima kabar berita darinya, saya selalu pertanyakan juga, apakah Ari tahu soal ini? Tere menjawab jika Ari tidak tahu, termasuk jika Tere sudah pernah menggugurkan kandungan hasil buah cintanya dengan Bang Edo. Ari hanya tahu jika Tere sudah tidak utuh sebagai perempuan. Dan waktu itu, kehilangan keperawanan adalah perkara biasa di lingkungan kota seperti Jakarta. Sekarang pun masih menjadi hal biasa.” “Mungkin kamu telah memberinya kenyamanan lebih sebagai sahabat, sehingga dia jadi terbuka denganmu?” Senja untuk kesekian kalinya membutuhkan penegasan. “Saya tidak yakin seperti itu. Memang pria pendiam dan introvert sepertiku katanya lebih nyaman untuk diajak bercerita. Perempuan terkadang hanya butuh didengarkan, tidak butuh diarahkan. Mereka sudah tahu akan kemana arah hidupnya berjalan, justru kelimbungan akan kesendirian lah yang bisa mematikan rasa percaya mereka pada kehidupan. Karena itu mereka hanya butuh didengarkan,” seruku pada Senja. “Huftt,.. Rumit,” Senja menghela nafas sejenak dan mengarahkan pandangnya kembali pada lautan. Telinganya masih mendengar apa yang hendak kukatakan. “Hubungan Tere dengan Ari berjalan hanya 5 bulan. Ia tidak sanggup dengan letupan psikologisnya yang selalu diguncangkan oleh kata-kata Ari. Segala macam kata melompat menjadi u*****n seperti p*****r, perempuan s****l, tak tahu diri dan sebagainya. Lalu, ketika Tere memutuskan hubungan dengan Ari, saya adalah orang pertama yang dihubunginya. Suatu malam ia meminta saya datang ke kosannya untuk membantu membawa barang-barang. Ari sedang di luar kota katanya. Kata-kata perpisahan disampaikan melalui pesan singkat. Tak mungkin pula meminta pisah dengan bicara langsung. Tak akan pernah terjadi jika itu yang dilakukan. Karena Ari pasti menolak berpisah. Baginya Tere hanyalah boneka koleksi. Ari ini orang berpunya, salah satu orang kepercayaan walikota. Karier politiknya sedikit bagus dan berpihak pada masa depannya. Perempuan yang berkali lipat lebih cantik dari Tere pun dapat ia tekuk. Hanya saja, Tere dijadikan pertaruhan saat itu untuk didapatkan. Tere sendiri mengakui jika Ari sebetulnya hanya pelarian. Tapi justru Tere berlari ke lembah curam. Saya berbeda pendapat soal itu. Saya katakan kalau ia gelap mata, karena kerap didera kesulitan saat bersama Bang Edo, sekarang memandang pria dari tingkat kemampuan ekonomi. Pada akhirnya ia terjebak sendiri.” “Prianya menganggap pertaruhan, perempuannya menganggap pelarian. Ini tidak masuk di akal, tapi ternyata ada ya Raka?” tanya Senja penasaran. “Saya menghadapi kenyataan, bukan sebuah cerita fiktif Senja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN