6 | Pandai Memainkan Situasi

1372 Kata
Setelah Karin pikir-pikir lagi, dia gak tahu apa-apa soal mantan calon istri Damar selain namanya. Masalahnya, yang punya nama Amira bukan cuma dia seorang. Ada puluhan, bahkan ratusan yang punya nama serupa. Susah juga mencari nama Amira di sosial media yang merujuk ke masa lalu Damar. Dua hari Karin sibuk cari di berbagai media sosial tapi belum dapat hasil. Bisa saja dia bertanya pada Damar, tetapi Karin gak mau lelaki itu malah curiga dan menganggap kalau Karin terlalu kepo dengan perempuan itu. Perempuan berambut sebahu yang tengah mengunyah potongan buah apel sambil menonton film di kamar, kini teringat pada ibu mertuanya. Ibu dari Damar pasti tahu mengenai nama lengkap Amira. Apalagi beliau pernah bilang kalau dari dulu dirinya bekerja dengan keluarga Amira. Ya, nanti dia akan main ke kos untuk mengantar makan siang dan mencari tahu mengenai perempuan yang membuat suaminya susah lupa. Sepulang kerja, Damar menjemput istrinya ke kos yang dulu menjadi tempat dia tinggal selama beberapa tahun—dan kini ditempati ibu juga. Pemilik kos sudah kenal dengan Karin karena hampir setiap hari main ke sini. Di matanya, Karin adalah anak yang baik dan polos. Selain membawakan makanan untuk ibu mertua, gak jarang dia juga memberikannya untuk pemilik kos. Citra dari perempuan yang tengah mengandung itu terlihat menyenangkan di mata orang-orang yang bukan menjadi objek obsesinya. “Nak, Ibu mau bilang sesuatu sama kamu,” kata sang ibu yang membuat Damar menatap wanita yang telah melahirkannya itu. “Iya, Bu?” “Kamu kan udah nikah sama Karin sekarang, Ibu minta kamu jangan terlalu mengabaikan dia. Kasihan istrimu. Dia lagi hamil, wajar kalau dia butuh perhatian lebih dari kamu.” Alis Damar bertaut. Dia sempat melirik ke arah sang istri yang duduk di sebelah ibunya, kemudian kembali menatap wanita yang memberikan dia nasihat. “Damar gak mengabaikan Karin, Bu.” “Karin cerita sama ibu tadi. Kamu masih suka mengabaikan dia karena belum bisa lupa sama Amira. Ibu tahu kamu dan dia punya hubungan udah lama, Nak. Memang susah melupakan seseorang yang udah sama kita bertahun-tahun lamanya. Tapi kan kondisi sekarang udah beda, kamu sendiri yang milih mau kaya gini dan memutuskan hidup sama Karin. Jangan buat dia sedih, kasihan dia,” jelas ibu, termakan kata-kata memelas Karin yang bercerita mengenai sikap dingin Damar yang sedikit dilebih-lebihkan. “Kamu yang buat hidupnya berubah, itu pun harusnya kamu berterima kasih karena Karin dan papanya masih mau memaafkan dan menerima kamu dengan baik. Kamu harus bisa bertanggung jawab dan konsisten sama pilihanmu.” Damar sempat menunduk, kemudian mengangguk. “Baik, Bu. Damar minta maaf.” “Jangan minta maaf sama Ibu, tapi sama istrimu,” sahut ibunya. “Langkah dia buat bilang ke Ibu udah benar, jadi jangan tegur dia nanti ya. Bukan Ibu ingin ikut campur mengenai rumah tangga kalian, Ibu cuma mau yang terbaik buat kamu dan Karin, Damar.” “Ya,” lirih lelaki itu. “Saya minta maaf kalau belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, Karin,” lanjut pemilik wajah tampan dengan rahang tegas sambil menatap istrinya tepat di manik. “Gak apa-apa, Kak. Aku tahu kok kalau Kak Damar masih butuh adaptasi. Apalagi ini terlalu tiba-tiba juga buat Kakak,” ucap Karin yang kelihatan tenang dan bijak di depan ibu mertua juga suaminya. Damar mengangguk dan tersenyum tipis. Ibu benar, mungkin dirinya memang perlahan harus bisa melupakan Amira. Walau rasa bersalah dan cinta untuk perempuan itu gak pernah bisa hilang sepenuhnya, tetapi hidup memang harus berjalan. Kalau dia terus-terusan hidup seperti ini, jelas itu akan melukai Karin juga. Sebelum pulang, Karin sempat bilang pada Damar untuk membawa ibu ke restoran untuk makan malam bersama. Ibu sempat menolak dan bilang dia bisa masak sendiri untuk makan malam karena stok bahan makanan yang dibeli Damar masih sangat cukup, tetapi karena Karin memaksa wanita itu … jadi mertuanya mengiyakan. Sejak dirinya punya hubungan dengan Karin, papa memberikan pinjaman satu mobil pada Damar yang kebetulan jarang dipakai. Karin yang berperan besar di belakang itu. Dia yang membujuk papa untuk memberikan satu kunci mobilnya dan membiarkan Damar untuk memakai salah satu kendaraan roda empat sang papa. Dia ingin Damar terlihat lebih keren dengan membawa mobil mewah, bukan lagi Damar yang hanya memakai motor biasa. Bahkan Karin berencana untuk menghadiahkan mobil baru untuk Damar saat lelaki itu ulang tahun. Tentunya dia masih merahasiakan ini sendiri, gak ada yang tau sama sekali mengenai rencananya termasuk papa. Dia gak peduli kalau tabungannya terkuras habis … yang terpenting dia bisa membuat Damar senang. Obsesinya pada lelaki itu gak main-main. *** Karin tersenyum sambil menyisir wig rambut panjang yang terpasang di kepalanya. Dia sengaja membeli wig dan beberapa potong pakaian baru untuk menunjang diri supaya bisa mirip dengan Amira. Dia sudah menemukan sosial media milik Amira berbekal meminta ibu mertua untuk menyebutkan nama lengkap Amira kemarin. Gak susah untuk mendapatkan informasi karena nama lengkapnya dia pasang di bio i********:. Karin yakin itu Amira saat stalk lebih jauh dan mendapati akun f*******: perempuan itu juga. Semua foto dia dan Damar sepertinya sudah dihapus, tetapi … masih ada satu foto masa sekolah mereka yang tertinggal di sana. Kebetulan memang di foto itu ada dua anak lagi yang ikut berpose bersama mereka. Amira menuliskan sesuatu di sana : bestfriend forever. Karin menyimpan foto itu di ponsel karena melihat foto Damar di masa remaja sudah menunjukkan kalau dia tampan sekali. Pantas kalau Amira jatuh cinta dengan suaminya dulu. Menurut Karin, Amira cantik. Tapi cantiknya standar. Bahkan kalau dibandingkan dengan dia, sudah sepantasnya Damar memang bersama Karin daripada Amira. Karin jauh lebih segalanya daripada mantan calon istrinya itu. Saat pintu kamar diketuk, perempuan hamil yang memakai dress rumahan sebawah lutut ini bergegas berjalan dan membukanya. Jam segini adalah jam-jam di mana suaminya pulang. Selain Damar, biasanya orang yang mengetuk pintu kamar dia selalu bersuara memanggil namanya sehingga Karin tahu kalau ini pasti Damar. “KAKAK!” Seperti biasa, Karin menyambut Damar setiap suaminya pulang kerja. Dia langsung memeluk lelaki itu dengan erat. “Kamu … ada acara apa?” Setelah pelukan Karin terlepas—karena Damar sudah membalas pelukan itu meskipun singkat—dia bertanya pada istrinya. “Gak ada acara apa-apa, kok. Mm, Karin cantik gak kalau style-nya begini? Kak Damar suka?” tanya dia sambil mengusap-usap wig panjang berwarna hitam yang sekarang dia pakai. “Hm.” Dia mengangguk, masih menatap wajah Karin yang terus berseri. “Mirip sama Kak Amira, kan?” tanyanya lagi yang buat Damar mengerutkan kening. Pantas, style-nya mengingatkan dia dengan seseorang. Ternyata Karin memang sengaja melakukan itu. “Karin sengaja tau ngikutin style-nya mantan calon istri Kak Damar,” jelas perempuan berusia 19 tahun di hadapan Damar. “Kenapa kamu harus ngubah diri kamu kaya dia? Saya gak pernah minta kamu ngelakuin itu.” “Biar Kakak cepet jatuh cinta sama Karin. Siapa tau kan kalau aku kaya gini Kakak bisa sayang sama aku kaya Kakak sayang sama Kak Amira,” jawabnya. “Anggap aja aku Kak Amira, gitu.” Damar gak habis pikir dengan tingkah laku istrinya. Ada aja kelakuan Karin yang kadang kekanakan dan membuat dia sakit kepala. “Kamu gak perlu lakuin itu buat narik perhatian saya, Rin.” “Aku mau lakuin apa pun asalkan Kakak bisa liat aku. Walaupun Kak Damar ngeliat aku dan anggap aku Kak Amira, gak apa-apa.” “Rin ….” “Aku cinta banget sama Kak Damar. Jadi aku akan lakuin apa pun supaya Kak Damar bisa bahagia dan senang, potong Karin. Kini, ada jeda dalam ucapannya. “Mm, ralat. Ada satu hal yang gak bisa aku lakuin, sih.” “Apa?” lirih Damar. “Ngelepas Kak Damar buat orang lain. Kak Damar cuma punya aku, selamanya. Titik!” Damar sempat diam sebentar, kemudian kembali bersuara, “Saya lebih suka lihat kamu berpenampilan kaya biasa. Gak perlu jadi orang lain buat bikin saya jatuh cinta sama kamu.” Manik matanya menatap lekat-lekat sang istri. Tatapan memelas sedikit polos yang ditunjukan Karin membuat Damar merasa bersalah. Karin berhasil menghipnotis lelaki itu dengan mimik wajahnya yang pandai memainkan situasi. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Karin, kemudian menempelkan bibir mereka. Dia sempat mencium bibir perempuan hamil di hadapannya lalu berbisik, “Saya akan belajar buat jatuh cinta sama kamu juga, jadi jangan khawatir.” 'Meski entah kapan, tetapi saya akan berusaha,' batin Damar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN