BAB 4

1238 Kata
Berawal dari obrolan bersama secangkir kopi masing-masing dan juga pinjaman sejumlah uang itu, baik Sheeran dan Alfdrein menjadi semakin dekat. Di lain sisi, Sheeran tidak tahu telah digilai iblis macam Alfdrein, dan di lain sisi juga Alfdrein sangat gencar mendekati Sheeran, memperlakukan gadis itu dengan sedemikian manis dan baik, agar ia bisa luluh padanya. Namun sayang sekali, Sheeran memang sangat terbuka padanya, tapi gadis itu belum juga menunjukkan sisi ketertarikannya pada Alfdrein. "Oh iya, Alfdrein, aku sebenarnya heran padamu. Kau terlihat seperti orang pengangguran, tapi uangmu sangat banyak. Bagaimana bisa?" Sore itu mereka sedang mengunjungi taman di sekitar flat Sheeran, menikmati senja yang perlahan menghilang. "Oh itu. Ehm, aku punya beberapa usaha dan anak buahku yang mengurusnya." "Wah, memangnya kau punya usaha di bidang apa? Melihat kesuksesanmu ini aku jadi tertarik," kata gadis itu sambil menghentikan langkahnya dan memutar tubuh sembilan puluh derajat ke arah Alfdrein yang diam dengan raut bingung. Terlihat sekali binar penuh pengharapan di mata Sheeran. Gadis itu sepertinya memang ingin tahu, tapi Alfdrein tidak memiliki jawaban sama sekali atas pernyataannya. Sebagai seorang iblis, cukup mudah bagi Alfdrein mendapatkan sejumlah uang dengan nominal berapa pun tanpa harus membuatnya bekerja keras seperti kebanyakan manusia di luaran sana. Cukup menjentikkan jari, maka semua beres. Perihal ia mengaku memiliki beberapa usaha itu, ia ucapkan semata-mata untuk meyakinkan posisinya sebagai manusia biasa yang mendapatkan sejumlah uang dengan cara mereka. Ia tak mengerti usaha apa saja yang membuat manusia diuntungkan. Ia tidak tahu bagaimana cara manusia bekerja tapi tidak dicela banyak orang. Yang ia tahu hanya tentang beberapa manusia yang mendapat uang karena membunuh sesamanya, atau beberapa orang yang mencuri dan merampok hak orang lain, atau beberapa orang yang menjual diri mereka untuk dinikmati wanita-wanita atau pria-pria pendamba nafsu. Dan itulah usaha Alfdrein, ia yang menjerumuskan manusia pada dosa besar. Dan itu juga bukanlah sesuatu yang bisa ia katakan pada Sheeran. Sheeran akan takut padanya. Lalu menjauh dan ia sama sekali tak bisa memilikinya. "Yak! Kenapa kau diam saja Alf? Oh aku tahu, kau pasti tak mau memberitahukan aku apa usahamu. Aku mengerti, aku mengerti. Lagi pula aku memang orang yang baru kau kenal. Kau tidak bisa menceritakan perihal apa usaha di balik kesusksesanmu itu. Tidak masalah, aku akan berusaha mengerti." Sheeran berujar sambil menunjukkan raut kecewa yang dibuat-buat. Alfdrein sangat tahu, gadis itu sedang berusaha membuatnya merasa tidak enak lalu menceritakan usaha apa saja yang ia miliki. Dia sangat cerdas memanipulasi dan Alfdrein bangga. Tidak salah ia memilih Sheeran, ada sedikit watak iblis dalam dirinya. "Ah itu, tidak-tidak. Aku hanya bingung ingin menceritakannya dari mana. Aku punya beberapa ehm," Alfdrein melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah restoran yang lumayan sepi pengunjung, sebelum melanjutkan ucapannya, "aku punya beberapa rumah makan dan beberapa toko kue." "Bisnis kuliner?! Wah benar kah? Kau serius?!" Sheeran terdengar sangat antusias dan Alfdrein merutuki dirinya. Ah, berhadapan dengan manusia seperti Sheeran yang sangat ia cintai membuatnya menjadi bodoh seketika. Bagaimana bisa ia mengatakan memiliki beberapa rumah makan, padahal sebelumnya ia tahu Sheeran adalah mantan juru masak yang sedang mencari pekerjaan. Sudah pasti gadis itu akan meminta dipekerjakan olehnya. Padahal, semua yang ia ucapkan adalah kebohongan semata. Ah, sial sekali dia. "I-iya. Tentu saja. Memangnya kenapa?" tanya Alfdrein pura-pura tidak tahu. "Ah itu," Sheeran menyenggol lengan Alfdrein. "Jadi begini, aku ini seorang juru masak, tapi berminggu-minggu yang lalu aku dipecat dari tempatku bekerja. Kau tahu, hanya kesalahan kecil, tapi mereka membesar-besarkannya seolah aku ini memang salah besar," ceritanya dengan wajah tertekuk. Dan Alfdrein benar-benar sangat tahu ke mana Sheeran akan membawa ceritanya itu. "Aku sudah mencoba mencari pekerjaan, tapi sayangnya setiap aku melamar dan mendapat pekerjaan mereka memecatku lagi. Padahal perlu kau tahu, masalahku itu tak seberapa. Masih masalah kecil yang dibesar-besarkan." "Jadi kesimpulannya?" Alfdrein menaikkan alisnya. Masih pura-pura tidak tahu dan tidak peka. Sheeran tersenyum lebar. "Jadi, aku boleh kan, bekerja di tempatmu menjadi juru masak? Boleh ya? Boleh dong. Kita kan sudah menjadi teman dekat sekarang." "Ah bagaimana ya, bukannya aku tidak bisa membantumu, tapi di tempatku tidak ada lowongan sama sekali, semua sudah terisi penuh." Alfdrein menampilkan wajah paling tidak enak untuk menyakinkan Sheeran bahwa memang sudah tidak ada lowongan pekerjaan lagi untuknya. "Alf, apa kau tidak kasihan padaku? Aku ini seorang wanita Alf. Aku tidak punya pekerjaan dan uang yang kau pinjamkan waktu itu sebentar lagi juga akan habis. Lalu, kalau aku tidak bekerja, bagaimana caraku membayar utang padamu? Bagaimana aku bisa hidup Alf? Kau sama sekali tidak kasihan padaku ya? Teman macam apa kau yang tega melihat temannya yang lain menderita?" cecar Sheeran dengan wajah yang ia buat semelas mungkin. Sheeran sangat pandai berlakon. Tapi Alfdrein tak mudah tertipu. Ia seorang iblis, tidak akan ada yang bisa memanipulasinya. Lagipula Sheeran adalah orang yang mudah ditebak, apa pun yang gadis itu pikirkan sangat mudah Alfdrein baca. "Oke, baiklah. Aku tahu kita baru mengenal. Kita baru dekat baru-baru ini. Tapi seharusnya sebagai sesama manusia, kau punya rasa empati padaku, Alf. Kau seharusnya mau mengasihiku." Alfdrein menggelengkan kepala. Mana mungkin iblis seperti dirinya memiliki empati, pikirnya. Dari pada berempati, seorang Alfdrein Locano lebih bisa disebut tak punya hati. Ia bahkan lebih suka melihat manusia-manusia di luar sana menderita. Terkecuali Sheeran Chatalien. Gadis itu satu-satunya manusia yang mengubah prinsip hidup Alfdrein dan Alfdrein tidak akan membiarkannya menderita begitu saja. "Bukan begitu maksudku Sheeran," kata Alfdrein. "Ah ini akan menjadi percakapan yang melelahkan. Ayo kita duduk di situ dulu," tunjuk iblis rupawan itu pada bangku kosong di bawah pohon maple. Sheeran terdengar mendengkus jengkel. Ia lalu menghentakkan kakinya ke aspal dan berjalan mendahulu Alfdrein. Iblis itu lalu tersenyum geli, sebelum dengan langkah santai menyusul Sheeran dan duduk tepat di sebelah gadis menyebalkan itu. "Bilang saja kau tak mau membantuku. Aku baik-baik saja. Aku mengerti, kita memang belum terlalu mengenal satu sama lain," kata Sheeran dengan sinis dan Alfdrein hanya menunjukkan senyum tipisnya. "Sebenarnya maksudku bukan begitu, Sheeran. Kita memang teman kan? Sebagai seorang teman tidak mungkin aku membiarkan dirimu berada dalam kesulitan. Aku tidak berbohong soal tidak ada lowongan pekerjaan di restoran-restoran milikku. Dan aku juga tidak mungkin memasukkanmu ke sana, bagaimana respon pekerjaku yang lain? Aku punya cara lain untuk menolongmu Sheeran." "Cara lain? Maksudmu apa? Kau mau membeli ginjalku begitu?" Alfdrein tertawa dengan renyahnya. Sejenak, Sheeran menahan napasnya. Baginya, melihat pria setampan itu tengah bercengkerama dengannya, lalu tertawa dengan sedemikian hangatnya membuat kupu-kupu di perutnya terasa beterbangan. Astaga, ia bahagia sendiri hanya melihat 'manusia' setampan Alfdrein. "Kau lucu juga ya, jarang sekali aku tertawa begini. Lagipula, untuk apa aku membeli ginjalmu? Aku tidak mungkin memasaknya bukan?" "Ah, kau terdengar seperti psycopath gila, Alf." "Kalau kau tahu siapa jati diriku, kau pasti akan lebih gila lagi." "Hah? Maksudmu apa?" tanya Sheeran tak mengerti dan Alfdrein tertawa kembali. "Lupakan. Jadi begini, aku akan memberimu sejumlah uang, kau bisa menggunakannya untuk usaha apa saja. Nanti keuntungannya bisa kau berikan padaku sebagai bayaran atas utang-utangmu," tawar Alfdrein. "Woah benar, kah? Kau serius dengan kata-katamu, kan?" tanya gadis itu tak percaya. "Tentu saja," angguk Alfdrein mantap. "Kau terdengar sangat baik, Alf. Aku bangga memiliki teman sepertimu." Alfdrein tak menjawab. Ia hanya membiarkan saja Sheeran terus mengoceh. Baginya, hal itu adalah kesenangan pribadi untuknya. Sheeran benar-benar sangat manis. Apalagi ketika mata sebening madu itu berbinar, rasanya Alfdrein tak bisa menampung cintanya lebih lama lagi. Sekarang, ia hanya berharap Sheeran lekas jatuh hati padanya, lalu ia bisa mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya pada gadis itu. Jika Sheeran benar-benar mencintainya, gadis itu pasti akan memilih tetap berada di sisinya. Alfdrein yakin itu. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN