BAB 5

1090 Kata
"Toko kue? Kenapa kau memilih toko kue? Bukannya kau seorang juru masak?" tanya Alfdrein begitu memasuki toko kue Sheeran yang baru saja dibuka itu. Sheeran mengangguk-angguk, lalu berjalan mendekati etalase yang tengah memajangkan beberapa kue pernikahan buatannya semalam dan sebagian kue kering yang disimpan dalam wadah yang didesain dengan cantik.  Ia lalu mengeluarkan bebarapa slice kue, kemudian ditaruhnya pada piring kecil. "Ini, untukmu. Makanlah," katanya. "Jadi alasanmu apa?" tanya Alfdrein. Kali ini ia benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan Sheeran. Masalahnya, ia sama sekali tak mengerti tentang usaha-usaha sejenis ini. Sheeran mengangkat tangannya. "Sebentar ya, aku akan menghidangkan kue ini dulu ke mereka," tunjuknya pada beberapa gadis berseragam sekolah yang menghadiri pembukaan toko kuenya. Tak butuh jawaban Alfdrein, Sheeran sudah melenggang pergi berikut bersana nampannya yang berisi penuh dengan berbagai macam kue. Lalu tak lama kemudian, gadis itu kembali lagi dengan senyum yang merekah indah hingga menciptakan sebuah lengkungan mirip bulan sabit di matanya. "Aku tidak menyangka mereka akan menyukai kue buatanku, padahal sudah lama sekali sejak ibuku meninggal aku tak membuat makanan seperti itu. Membuka toko kue seperti ini adalah impianku bersama ibuku. Kami berjanji akan mendirikan toko bersama. Tapi sayang, beliau sudah lebih dulu pergi, meninggalkanku sebatang kara di sini." Raut gadis itu berlahan berubah duka, kentara sekali kesedihan di matanya. "Oh, jadi toko ini akan mengingatkanmu kepada ibumu?" Sheeran tersenyum kecut, "Bisa disebut seperti itu. Lagipula, kue-kue macam ini digilai banyak orang, jadi keuntungannya bisa sangat besar kalau kita pintar-pintar mengaturnya. Kau harusnya sudah tahu itu." "Tentu saja aku tahu. Aku hanya memastikan saja," ujar Alfdrein dan hanya dibalas anggukan beberapa kali oleh Sheeran. "Oh iya Sheeran, nanti malam apa kau ada acara?" "Acara? Hm, membersihkan tempat ini pastinya. Memangnya ada apa?" tanya gadis itu heran. "Jujur saja ya, sejak awal kita bertemu, aku sudah jatuh hati padamu, jadi aku ingin mengajakmu makan malam nanti," ujar Alfdrein terus terang tanpa memanipulasi ucapannya. Ia bersungguh-sungguh akan hal itu.  Pertama kali bertemu dengan Sheeran adalah ketika gadis itu masih menjadi bocah kecil yang polos dan lugu. Dan Alfdrein langsung tertarik begitu saja hanya karena mata indah gadis itu, mata yang mengingatkan ia pada seseorang di masa lalu. "A-apa maksudmu? K-kau, kau menyukaiku begitu?" Bola mata Sheeran membukat tak normal, gadis itu tak percaya dengan ucapan si tampan penuh pesona di depannya itu. Sulit diterima, gadis sederhana yang sangat jauh dari kata cantik itu disukai oleh sesosok pria berwajah rupawan yang sayangnya, selain kaya raya, juga kaya pesona. Ia begitu menawan dan tampan, sampai Sheeran gagal fokus berkali-kali. Ah, wajar kan kalau gadis seperti dirinya itu menyukai lelaki tampan apalagi yang modelnya seperti Alfdrein ini? Tak diragukan lagi jika ada banyak manusia berjenis kelamin perempuan yang terpincut dengannya. Alfdrein memiliki mata hitam menawan, hidung mancung, dan bibir merah yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Rahangnya tampak sangat kokok, kedua alisnya sangat tebal, berikut dengan bulu mata yang begitu lentik. "Iya. Aku menyukaimu Sheeran," angguk iblis itu kemudian sembari memberi senyum manisnya. "Ah Sheeran, kau pasti sedang bermimpi. Mana mungkin dia menyukaimu. Kau hanya seorang Sheeran yang miskin, tidak cantik, dan membosankan," monolog Sheeran pada dirinya sendiri dengan suara yang sangat pelan, persis seperti desisan angin, tapi Alfdrein mampu mendengarnya dengan sangat baik. "Kau tidak sedang bermimpi Sheeran, ini nyata," kata Alfdrein tersenyum geli. "Coba kau rasakan ini." Ia lalu mencubit lengan Sheeran hingga membuat gadis itu menjerit sakit. "Aww! Kenapa kau mencubitku?" Mata Sheeran mendelik tajam ke arah Alfdrein, memberi peringatan atas perbuatan iblis satu itu. "Ya kan biar kau tahu ini realita, bukan sekadar imajinasi Sheeran." Alfdrein menyahut dengan tenang. "Ah aku tahu, ini mungkin memang bukan mimpi, aku mengerti, aku mengerti, kau hanya sedang mengerjaiku. Hai Bung! Ini bukan April Mop, bulan April bahkan masih lama." Sheeran dengan brutal memukul bahu Alfdrein. Alfdrein menangkap tangan Sheeran, ia lalu menarik tubuh gadis itu hingga terjatuh tepat di pangkuannya. Mata Sheeran mengerjap-ngerjap. Jantungnya tiba-tiba memompa lebih cepat dari biasanya, apalagi dengan tatapan lekat dari seorang Alfdrein Locano. Rasanya, sebentar lagi ia akan meleleh. "Alf-Alfdrein, a-apa, apa yang k-kau lakukan?" Sheeran bertanya dengan terbata-bata. Ia lalu mengedarkan matanya ke sekeliling dan mendapati tatapan penasaran dari sebagian besar pengunjung toko kuenya. Seketika, wajah Sheeran memerah. Ia merasa sangat malu. "Hanya untuk menunjukkan keseriusanku, Sheeran," ucap iblis itu sambil mengelus pipi Sheeran dengan pelan. "Aku tidak main-main dengan ucapanku, aku benar-benar menyukaimu dan aku tertarik padamu saat awal kita bertemu." Ia begitu dalam menatap mata Sheeran, membuat gadis itu salah tingkah sendiri. "Jadi, bisakah kita menjadi dekat? Bukan sebagai seorang teman, tapi sebagai pasangan?" Sheeran terdiam sebentar. Ia tampak berpikir, tapi entah mengapa Alfdrein tak mampu membaca isi pikiran gadis itu. "Eung, ah, bagaimana ya mengatakannya? Aku bingung." "Katakan saja," sahut Alfdrein dengan cepat. Ia benar-benar penasaran dengan jawaban Sheeran. "Jujur Alf, jantungku selalu bekerja tidak normal jika berada di dekatmu. Tapi aku belum bisa merasakan perasaan yang sama denganmu." "K-kenapa? Kenapa kau menolakku seperti itu? Apa wajah ini kurang tampan?" Alfdrein bertanya dengan lesu. Sheeran tertawa mendengar hal itu, "Semua tidak bisa diukur oleh rupa, Alf. Memang benar, sebagian orang jatuh cinta pada pasangannya karena rupa masing-masing, dan sebagian lainnya jatuh cinta dengan cara yang berbeda. Aku menilai cinta sebagai sesuatu yang suci yang tak bisa aku mainkan begitu saja. Dan Alf--" Sheeran menghentikan ucapannya, menepuk-nepuk pipi iblis itu dengan pelan, sebelum turun dari pangkuannya, dan melanjutkan ucapannya tadi, "aku bukan tipe orang yang mudah mencintai Alf. Aku butuh waktu yang lama untuk meyakinkan diriku bahwa orang yang kucintai adalah orang yang tepat." "Sekarang, semua terserah dirimu. Kau masih mau melanjutkan rasa sukamu padaku atau berhenti begitu saja. Aku tidak akan melarang," ujar gadis itu lalu diakhiri senyum tipis. Alfdrein menggeleng. "Aku tidak akan mundur. Aku akan menyakinkan dirimu." Gila saja, dia sudah menunggu selama itu, dari Sheeran masih bocah ingusan sampai ia menjadi gadis yang matang. Bukan hal yang mudah juga menemukan di mana keberadaan gadis itu. Jadi, mana mungkin dia mau mundur begitu saja. Alfdrein bahkan sudah rela menepis ego seorang iblisnya dan berperan sebagai manusia baik-baik, jadi menuggu Sheeran membuka hati untuknya pasti bukan hal yang muda. Ia akan selalu berusaha membuat gadis itu jatuh hati padanya, meski setelah itu ada kemungkinan Sheeran menjauhinya lagi ketika tahu siapa sebenarnya dia. Ah, sialan. Selama ribuan tahun hidupnya, baru kali ini Alfdrein jatuh cinta dan itu sangat merumitkan. Lalu, bagaimana manusia di luar sana bisa melewatinya dan mendapatkan orang yang mereka inginkan? Apa perlu Alfdrein belajar dengan mereka? Ah, itu akan benar-benar menggores egosnya sebagai seorang iblis. Tidak mungkin ia meminta bantuan seorang manusia. Sialan, ini benar-benar rumit, batinnya merutuk. ********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN