"Bertahun-tahun? Aku tidak mengerti. Kita baru bertemu, tapi kenapa kau bilang kau mencintaiku sejak bertahun-tahun yang lalu?" Sheeran mendongakkan kepalanya, ia melihat wajah Alfdrein yang berdiri di sampingnya, sembari menikmati angin malam yang mengembus damai dari balkon flat Sheeran, juga lampu kota yang sudah seperti lintang di angkasa.
Alfdrein menunduk dan mencuri ciuman di bibir ranum Sheeran.
"Ish, jangan asal menciumku, kau bukan siapa-siapaku, Alf," peringat gadis itu sambil menggeplak lengan besar Alfdrein.
Alfdrein hanya mengangkat bahunya. "Salahkan saja bibirmu yang terlalu menggoda."
"Kau berbicara apa sih? Ah lupakan. Cepat jawab pertanyaanku, kenapa kau bilang sudah menyukaiku sejak bertahun-tahun. Apa sebelumnya kita saling mengenal?" tanya Sheeran mengulangi pertanyaannya.
"Aku tahu dirimu sejak kau masih jadi bocah ingusan, tapi kau sama sekali tak tahu perihal diriku. Ah, kau tidak akan mengerti jika aku jelaskan. Jadi aku tidak akan mau membahasnya."
"Aku pasti akan mengerti. Jadi jelaskan saja, dan, ah iya, soal mantan-mantanku, dari mana kau tahu tentang mereka?" sahut Sheeran cepat sesaat setelah Alfdrein menyelesaikan ucapannya.
Alfdrein tersenyum tipis. "Tidak, kau tidak akan mengerti dan tidak akan pernah mengerti meski kujelaskan berkali-kali. Ah iya, ini sudah terlalu malam. Sebaiknya kau segera tidur, aku akan kembali lagi besok." Ia lalu mengelus surai kecoklatan Sheeran, sebelum mencuri sebuah ciuman lagi di bibir gadis itu.
"YAK! KAN AKU SUDAH BILANG! KITA BUKAN SIAPA-SIAPA!" pekik Sheeran dengan kesal, sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Kau sendiri yang tak mau jadi kekasihku," katanya lalu kembali mencuri ciuman. Bibir Sheeran terasa manis, dan Alfdrein sangat menyukainya.
"Kau ini! Aku sudah bilang padamu--"
"Maka, ayo kita pacaran," potong Alfdrein, membuat kalimat Sheeran tertahan begitu saja di tenggorokan.
"Ayo kita pacaran, kau dan aku, menjadi kita. Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Dan kau sendiri pun juga mencintaiku, meski aku tak tahu itu perasaan sejati atau hanya sementara saja."
"Alf, kau tidak mengerti. Aku masih berusaha menyembuhkan hatiku dan seperti kataku tadi, aku butuh waktu, aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri. Jadi kumohon, jangan memaksaku."
"Tapi aku bukan mantanmu, aku berbeda dari mereka."
"Aku lelah Alf. Benar, seharusnya aku cepat-cepat tidur. Jadi, kau pulang saja dulu."
Sheeran berbalik dan meninggalkan Alfdrein sendiri di balkon itu. Alfdrein mengumpat keras dalam hati, tangannya terkepal erat dan matanya menggelap, tampak sekali emosi yang berkobar-kobar di jiwa hitamnya.
"Sial! Semua karena mereka!" Ia lalu dalam sekejap menghilang entah ke mana, meninggalkan asap tipis yang mengepul di udara.
******
Pagi tadi Sheeran mendapat dua kabar duka sekaligus, dan dua-duanya juga berasal dari mantan kekasihnya. Dari selentingan kabar yang ia tahu, keduanya meninggal dengan cara mengenaskan, saling membunuh, entah apa alasannya, itu masih menjadi misteri.
"Itu karma," respon Alfdrein dengan dingin ketika ia selesai bercerita dan Sheeran berusaha tak terpengaruh.
Ia tahu, pria itu marah padanya karena sikapnya tadi malam, tapi di lain sisi Sheeran juga merasa lucu. Seharusnya jika benar Alfdrein marah, lelaki itu enggan bertemu dengannya.
"Karma? Korealisasinya di mana? Aku tak mengerti."
"Mereka melukai hatimu dan itu adalah hal yang sangat pantas mereka terima," katanya dengan kejam.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Karma itu bukan sesuatu yang masuk akal, itu takdir," sangkal gadis itu.
"Tapi aku merasa sangat penasaran sebenarnya, kenapa mereka bisa saling membunuh? Apa alasan mereka?"
"Mana aku tahu, kenapa kau bertanya padaku?" Alfdrein melirik tak berminat pada Sheeran, dengan tangan yang memainkan pinggiran gelas, menciptakan suara decitan lirih.
"Kau salah paham. Aku tidak bertanya padamu, aku hanya mengungkapkan pertanyaan yang terbesit di otakku, itu saja. Memangnya salah ya, aku penasaran dengan mereka? Bagaimana pun juga mereka pernah menjadi tokoh dari kisah di masa laluku," kata Sheeran, lalu memasukkan potongan kecil kue ke dalam mulutnya. Toko rotinya sedang sepi, mungkin karena masih jam kerja, ia memaklumi hal itu, lagipula ia bisa bersantai-santai sebelum nanti disibukkan oleh pembeli.
"Karma, itu karma untuk mereka," kukuh Alfdrein dengan senyum sinis dan raut wajah dinginnya. Sebenarnya, ia lah sosok di balik kematian mereka. Ia lah yang mengadu domba mereka, tentu dengan watak iblisnya lalu membuat mereka berselisih paham hingga tahap saling membunuh. Dan ia senang akan hal itu. Ia senang melihat keduanya sama-sama meregang nyawa, sebab mereka, ia kesulitan menjadikan Sheeran miliknya.
"Aku bilang padamu ya, karma itu tidak ada. Karma itu tidak masuk akal," Dan Sheeran juga tetap kukuh pada pendiriannya. Ia menolak pendapat Alfdrein. Keduanya sama-sama memiliki watak yang keras.
"Terserah apa katamu. Lagipula, pendapat kita memang selalu berbeda kan?" Dan untuk ke sekian kalinya, Alfdrein membalas Sheeran dengan dingin.
Sheeran mengangkat alisnya, mendengkus sebal, lalu memutar bola matanya malas. Lama-lama ia tak tahan juga dengan sikap dingin lelaki itu. Lalu, diseggolnya lengan besar pria itu. "Yak! Dingin sekali dirimu, hangat sedikit kan bisa!" serunya.
"Begini ya Alf, perlu kau tahu, aku itu tidak bermaksud menolakmu. Aku hanya butuh waktu. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku. Aku terluka. Dan luka hati itu lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan di jari."
"Sudahlah, aku tidak mau mendengarnya, kau urus saja pelangganmu itu. Aku mau pulang saja." Alfdrein mengedikkan dagunya pada pintu toko. Ia lalu bangkit dan pergi meninggalkan Sheeran yang hanya menggeleng heran dengan sifat kekakanakan seorang Alfdrein. Lucu saja, pria sebesar dan sedewasa itu bertingkah layaknya bocah berumur lima tahun.
"Ada-ada saja."
Sheeran belum tahu pasti bagaimana sifat Alfdrein, pria itu selalu memberinya kejutan setiap harinya dan itu cukup untuk menghiburnya.
*******