"Bukannya kau marah? Kenapa kau malah ke sini? Ada urusan apa?" cecar Sheeran tepat di ambang pintu flat minimalisnya sambil menyilangkan kedua tangan di depan d**a dan melihat Alfdrein yang berwajah murah dengan pandangan menantang.
Alfdrien melangkah mendekat dan langsung merengkuh tubuh mungil Sheeran. "Karena aku bukan orang yang mampu menahan rindu. Aku terlalu mencintaimu, sampai-sampai aku tak mampu membendung rasa rinduku," katanya tepat dari balik rambut gadis itu.
"Sok puitis sekali dirimu."
"Aku tidak puitis, itu hanya kalimat yang muncul begitu saja dan di setiap sel otakku. Memang apa salahnya merindukan orang yang kita cintai?" Alfdrein sama sekali tak melonggarkan rengkuhannya, malah semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Sheeran, seakan tak membiarkan gadis itu menjauhinga barang seinchi pun. "Kapan kau akan menerimaku, Sheeran? Kedua mantan brengsekmu itu juga sudah mati. Mereka kan yang menjadi sumber kesakitanmu dulu? Dan seharusnya sekarang, tidak ada hal yang akan membuatmu bingung."
"Alf, aku tidak mengerti maksudmu." Sheeran berusaha melepaskan pelukan Alfdrein, namun pria itu benar-benar tak mau melepaskannya pergi. "Alf?" desah Sheeran lelah.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja," sahut iblis itu dengan cepat.
Sheeran menghela napas panjang. "Sebenarnya, aku bingung padamu. Cara berpikirmu itu rumit dan aku sama sekali tidak bisa memahaminya. Kenapa kau menghubung-hubungkan hubungan kita dengan mereka berdua? Ini hanya tentang dirimu yang mencintaiku dan diriku yang berusaha menyembuhkan luka yang tak juga sembuh. Bukan orang lain."
"Karena memang merekalah yang menghambat hubungan kita. Dan aku sangat bersyukur, orang seperti mereka sangat mudah diadu untuk saling membunuh," katanya.
"Sebentar-sebentar, apa tadi katamu? Diadu untuk saling membunuh? Maksudmu apa?" Kedua mata Sheeran memicing penuh curiga.
Sial, Alfdrein kelepasan. Ia tak sengaja mengatakan hal itu pada Sheeran. Segera saja otak cerdasnya berpikir, memikirkan hal yang bisa Sheeran terima dengan sangat baik. "Ah itu, maksudku, mereka pasti saling beradu kekuatan untuk saling membunuh masing-masing."
"Ucapanmu masuk akal, tapi aku jelas dengar apa yang kau katakan. Tapi itu juga rasanya tidak mungkin. Ah sudahlah, lupakan."
Lalu tidak ada percakapan lagi. Mereka hanya diam diambang pintu dengan posisi Sheeran yang telah dipeluk erat oleh Alfdrein. "Sampai kapan kau akan memelukku begini, Alf? Aku lelah dan bagaimana kalau nanti tetangga flatku melihat posisimu yang begini? Apa yang akan mereka pikirkan tentang kita?"
"Sampai kau menerimaku dan aku akan tetap begini. Aku tidak peduli kicauan orang lain. Mereka hanya akan kuanggap sebagai radio rusak.
"Alf, aku kan sudah bilang padamu sejak awal, kalau aku--"
Alfdrein melepaskan rengkuhannya secara tiba-tiba. Dirangkumnya wajah gadis di hadapannya, ditatapnya bola mata seterang madu itu dengan dalam. "Kenapa rasanya sulit sekali mendapatkanmu? Aku harus apa biar kau yakin padaku, kalau aku benar-benar mencintaimu dan tak akan meninggalkanmu, Sheeran?"
"Talk less do more. Seharusnya begitu. Kau buktikan dengan tindakan, dan kurangi kata-katamu. Itu akan membuatmu persis seperti orang yang sedang membual."
"Tindakan?" Alfdrein tampak berpikir sebentar, sebelum tersenyum kecil. Ia lalu mengangguk dan kembali berujar, "oke. Aku mengerti. Kau butuh tindakan, kan?"
Dan belum sempat Sheeran menjawab, bibir Alfdrein sudah menempel begitu saja di bibirnya. Selalu, ia selalu mencuri ciuman di bibir gadis itu. "Ini kan, tindakan yang kau ingin, kan?" tanyanya dan hanya dijawab gumaman tak jelas dari Sheeran. Iblis itu sama sekali tak memberi waktu untuknya menjawab.
"Aku mencintaimu Sheeran. Aku benar-benar mencintaimu."
*****
"Alfdrein, kau sangat keterlaluan. Kau tidak bisa begitu saja jatuh cinta pada manusia dan sampai ingin menikahinya. Kau ini iblis Alf. Iblis dan manusia tidak diciptakan untuk bersama. Jangan seenaknya sendiri, apa kata makluk lain tentang bangsa kita? Jangan sampai kau mencoreng nama baik kita."
Aldeimond, temannya dengan sayap hitam yang membentang dengan aura kelam yang mengelilingi itu, menatap tajam ke arah Alfdrein yang hanya duduk diam sambil menatap datar ke arahnya. "Hapus rasamu itu! Tugas kita bukan untuk nencintai tapi membujuk mereka ke dalam maksiat!"
"Kau tidak punya hak apa pun, Al. Terserah diriku jatuh cinta pada siapa dan ingin menikahi siapa. Nama baik kita akan tercoreng? Persetan! Itu hanya bualan yang didongengkan pada kita. Banyak iblis yang menikah dengan manusia dan tetap tidak ada bangsa mana pun yang menghina kita, kan?" ujar Alfdrein dengan sudut bibir terangkat.
"Tapi mereka yang menikah dengan manusia adalah iblis rendahan. Tidak ada yang akan mempedulikan mereka. Sementara dirimu, lihatlah, kau pemimpin di antara mereka dan berita tentang kau yang jatuh cinta dan akan menikahi manusia akan tersebar begitu saja, tentu dengan sangat cepat, lalu pimpinan-pimpinan iblis lain akan mengetahuinya. Apa yang kau pikirkan sebelumnya, Alf? Jangan membuat kekacauan di negeri kita sendiri. Kau tahu sendiri bagaimana akibatnya."
"Aku tidak peduli Al, aku akan melawan mereka jika benar mereka mau main-main denganku."
"Alf!" pekik Aldeimond. "Berpikirlah sebelum bertindak! Kau tidak bisa seenakmu sendiri! Pikirkan kami.
Jangan mau kau dibutakan cinta oleh manusia itu! Kau hanya akan dibuat hancur. Entah kau sendiri sadar atau tidak, tapi sifatmu yang sebagai iblis itu mulai hilang. Dia benar-benar membuatmu tidak seperti dirimu.
Jadi, jangan teruskan rasamu. Kau harus kembali ke kodratmu sebagai seorang iblis."
"Aku tidak peduli. Sebaiknya kau pergi saja Al. Kau memang temanku, tapi bisa saja aku membunuhmu jika aku ingin itu."
"Terserah apa katamu, aku sudah mengingatkanmu sebelumnya." Dan Aldeimond mengepakkan sayapnya, lalu pergi dari hadapan Alfdrein.
Alfdrein menunduk, ia tahu, semua yang Aldeimond katakan adalah benar adanya. Akan sangat kacau jika para pemimpin iblis tahu perihal ia yang jatuh cinta pada seorang manusia. Tapi tidak, ia tidak akan melepaskan seorang Sheeran Chatalien begitu saja. Ia terlalu mencintai gadis itu. Dan apa pun ia lakukan untuk membuatnya tetap berada di sisinya.
******