"Sheeran, aku rasa hubungan kita harus diresmikan," kata Alfdrein sambil melihat Sheeran yang sibuk membuat adonan kue.
"Kemarin kan aku sudah menerimamu dan aku resmi jadi kekasihmu. Apa lagi yang perlu diresmikan?" tanya Sheeran tanpa melihat ke arah Alfdrein. Ia masih sibuk dengan adonan tepung dan mixer-nya.
"Iya, aku tahu. Tapi bukan itu maksudku," katanya. "Ayo kita menikah."
"Menikah---tunggu," Sheeran seolah baru menyadari kata-kata Alfdrein. Gadis itu menghentikan aktivitasnya. Perlahan ia mendongak, menatap Alfdrein yang tengah tersenyum yakin padanya dengan mata yang membulat sempurna.
"Sebentar, kau tadi bilang apa? M-menikah? Kau mengajakku untuk menikah?" cecarnya dan dibalas anggukan oleh Alfdrein. "Tentu saja," kata pria itu tak mempedulikan respon terkejut Sheeran.
"YAK! APA KAU SUDAH GILA?! MENIKAH? KAU BILANG MENIKAH? AKU TIDAK SALAH DENGAR KAN?!" pekik Sheeran dengan suara nyaring yang memenuhi dapur mini itu.
Alfdrein mengernyit dengan mata memejam. "Suaramu, astaga. Gendang telingaku bisa pecah," kata iblis sambil mengusap-usap kedua telinganya. "Lagipula apa yang salah dari kata menikah? Bukannya kita saling mencintai? Kau kemarin juga mengakui itu kan, tepat setelah kita berciuman?"
"Y-ya, itu urusannya berbeda," Pipi Sheeran bersemu merah mengingat ciuman panasnya kemarin, Alfdrein adalah lawan yang hebat untuk seorang amatiran seperti dirinya. "aku, aku memang mencintaimu. Tapi bukan berarti kita harus menikah secepat itu. Aku baru menerimamu jadi kekasihku kemarin dan sekarang kau mau aku jadi istrimu? Kau tampak sangat tamak Tuan Alfdrein Locano," decak Sheeran tak habis pikir.
"Tidak. Aku tidak tamak." Alfdrein menyangkal, meski sebenarnya yang Sheeran katakan adalah sebuah fakta. Tidaj ada iblis yang tidak tamak di dunia itu. "Ini hanya bukti kesungguhanku padamu. Jadi kau wajib menerimaku," katanya melanjutkan dengan tenang.
"Kau tahu, kau sangat gila."
"Aku memang tergila-gila padamu," sahut Alfdrein enteng.
"Baiklah, begini ya, aku merasa ini terlalu cepat dan tak masuk akal. Aku tekankan padamu, seperti yang kukatakan sebelum-sebelumnya, kita baru mengenal. Kita bahkan belum tahu bagaimana sifat masing-masing. Aku belum tahu siapa keluargamu. Kau punya saudara atau tidak dan silsilah-silsilah lain dalam keluargamu. Aku juga belum tahu rumahmu di mana. Kau hanya bercerita memiliki beberapa restoran, tapi kau belum pernah mengajakku ke sana. Semua terlalu cepat, Alf. Begitu pun dengan keputusanku menerimamu, itu sebenarnya yang terjadi. Aku tidak ingin menikah dengan terburu-buru, dan pada akhirnya kacau begitu saja di tengah jalan. Aku mau semuanya tersusun dengan rapi."
"Sheeran," desahnya. "Oke baiklah," putusnya. "Aku akan menjelaskan beberapa hal tentang diriku, aku sudah tidak memiliki ayah atau ibu, atau saudara-saudara seperti yang kau pikirkan. Aku sebatang kara. Restoranku berada di luar kota, aku tidak bisa mengajakmu ke sana. Akan butuh waktu yang sangat panjang hanya untuk perjalanannya saja."
"Sifatku? Ya kau bisa melihat sendiri bagaimana aku. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku adalah orang yang baik, sementara orang baik tak pernah mengakui dirinya sendiri sebagai orang baik. Tapi satu yang perlu kau tahu, aku adalah tipikal pria setia yang tak akan meninggalkan wanitanya sampai kapan pun.
Jadi Sheeran Chatalien, untuk itu kau harus menerimaku sebagai suamimu. Aku tidak akan memberikanmu pilihan lain. Hanya itu dan aku juga tidak akan mau menerima sebuah penolakan dari bibirmu."
"Kita selalu berbeda pemikiran, jadi aku takut jika benar kita akan menikah, pernikahan kita tak berjalan lancar seperti apa yang kita bayangkan sejak awal," kata Sheeran lemah.
Alfdrein bangkit dari kursinya, berjalan menghampiri Sheeran dan berdiri tepat di hadapan gadis itu. "Sheeran, perbedaan itu ada untuk menyatukan, untuk saling melengkapi. Bukan malah menghancurkan satu sama lain. Untuk apa kau merasa ragu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius? Kau tahu aku mencintaimu. Oke katamu pasti itu tidak masuk akal karena waktu perkenalan kita yang terlalu singkat. Tapi bisa apa kau jika Tuhan ikut campur dalam urusan hati kita?"
Sejauh ini usaha Alfdrein terasa sangat sia-sia. Sheeran benar-benar sangat keras kepala. Ia tipikal gadis yang enggan menerima saran atau pendapat dari orang lain dan lebih menjunjung tinggi apa yang ia yakini. Alfdrein mulai kewalahan, ia kehabisan ide untuk meyakinkan gadis yang ia cintai setengah mati itu.
"Aku masih merasa ini tidak masuk akal." Sheeran menggeleng lemah dan kepalanya tiba-tiba pusing. Ia sudah mencoba membuat dirinya kembali percaya akan ketulusan cinta, namun sisi hitam dalam dirinya masih berusaha mengompori. Mengatakan hal yang tidak-tidak jika ia menyerahkan seluruh hati dan hidupnya pada seorang pria.
"Aku tidak tahu, Alf."
Alfdrein mengacak-acak rambut coklatnya. Ia frustrasi sendiri dengan respon Sheeran. Jatuh cinta itu memang sangat merepotkan, terlebih dengan manusia berwatak batu seperti Sheeran. Ah, apa perlu Alfdrein menggunakan kemampuannya untuk mempengaruhi pikiran gadis itu? Tapi itu artinya Sheeran terpaksa dengannya. Alfdrein menginginkan Sheeran yang tulus mencintainya, bukan malah kebalikannya.
"Begini Sheeran, coba kau baca hati sendiri. Apa yang kau rasakan setiap berada di dekatku? Kau harus jujur dengan hatimu sendiri."
Sheeran mendengar petuah Alfdrein dengan seksama, sambil mencoba meraba hatinya yang masih saja gulita, meski sudah ia coba buka. Masalahnya, pikiran Sheeran masih terpaku pada masa lalu yang mencoba mendominasi. Jadi, selebar apa pun ia membuka pintu hati, semuanya akan terasa percuma saja.
"Sulit. Rasanya sulit," katanya. Namun meski begitu ia masih mencoba menyelami hatinya.
Sheeran merasa nyaman, hangat dan bahagia setiap kali berada di sisi Alfdrein. Lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri? Sebenarnya, menyangkal phn, ia tak akan bisa. Sudah Sheeran bilang, ia terlalu mudah luluh pada pesona Alfdrein yang luar biasa, wajah tampannya, sifat baiknya yang gemar memberinya bantuan, dan segala perlakuan manis pria itu, jadi mana mungkin Sheeran tidak jatuh begitu saja padanya? Hanya orang bodoh dan gila yang menolak mencintai seorang Alfdrein Locano. Dan beruntung sekali ia masuk ke golongan orang waras dan pintar, bahkan perasaannya disambut hangat oleh si pria idaman.
Lalu, untuk apa ia merasa ragu? Bukankah Alfdrein juga sudah meyakinkan dirinya bahwa pria itu tak akan menyakiti dirinya? Akan selalu setia padanya?
"Aku janji Sheeran, aku akan selalu berada di sisimu, apa pun yang akan terjadi. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, karena, entah kau percaya atau tidak, aku sangat, sangat, dan sangat mencintai dirimu."
Sheeran melihat ke dalam mata Alfdrein. Ia bisa menangkap kesungguhan dari mata yang berbinar putus asa itu. Gadis itu lalu tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita menikah," katanya dengan seulas senyum yang mulai merekah indah, membuat kedua matanya tenggelam dan membuat dua buah ukiran bulan sabit di wajah teduhnya.
Alfdrein terdiam. Ia menatap Sheeran tak yakin. "Apa kau bilang? Coba ulangi kalimatmu," pintanya.
Sheeran tertawa. "Aku bilang, mari kita menikah."
Alfdrein menggeleng-geleng. Ia masih tampak tak percaya. "A-apa kau yakin? Apa kau yakin dengan kalimatmu?"
"Oh, kalau begitu aku berubah pikiran."
"Tidak-tidak, jangan. Kau tidak boleh berubah pikiran." Alfdrein langsung mendekap erat tubuh Sheeran, ia ciumi kepala gadis itu dengan sayang. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih telah menerimaku Sheeran. Aku sangat-sangat-sangat mencintaimu."
******