"Assalamualaykum." Novia mengucap ketika sampai di rumah bu Ningsih.
"Waalaykumussalam." jawab bu Ningsih.
"Lho kok tumben udah pulang Nov?" lanjutnya.
"Iya bu, tadi diantar Indah teman sekelas." Terang Novia.
"Oalah, kok ga diajak mampir Nov? Kan ibu udah bilang kalau mau bawa teman kesini ga apa-apa, kamu bisa ajak ngobrol di gazebo." ungkap bu Ningsih.
"Lain kali saja bu, nanti mengganggu pekerjaan saya." Jawab Novia sambil tersenyum.
"Saya ke belakang dulu bu, mau ganti baju." Lanjut Novia.
"Iya Nov, jangan lupa makan siang tadi ibu udah masak." bu Ningsih mengingatkan. Walaupun tadi jam istirahat udah makan bekal, yang namanya masa pertumbuhan sampai rumah makan lagi dong, hahahaha.
"Nggeh bu." Jawab Novia.
POV Novia
Flashback On
Aku memang tinggal di rumah ini, di rumah bu Ningsih dan pak Hadi, rumah mantan majikan ibuku, yang kini menjadi majikanku. Selang 3 bulan kepulangan ibu (bi Minah) ke Jogja, akhirnya beliau kembali bekerja di rumah majikannya yang dulu sebelum ibu pergi ke Jakarta. Sebenarnya jarak rumah kami tidak terlalu jauh kurang lebih 10 menit menggunakan sepeda motor, namun karena ibu tak ada yang antar jemput ibu memutuskan untuk tinggal atau menginap, beruntung majikan ibu tak berkeberatan membawa anak kecil.
Alhamdulillah keluarga bu Ningsih sangat baik, bahkan Nenek Ida, mertua bu Ningsih sudah menganggapku seperti cucunya sendiri. Beliau sangat bahagia akan kedatanganku karena ingin sekali punya cucu, namun bu Ningsih dan pak Hadi belum juga dikaruniai anak.
Flashback Off
Setelah selesai makan aku kemudian melakukan pekerjaanku. Ku mulai dari mencuci, sembari mencuci aku mulai menyapu kemudian mengepel. Setelahnya aku mencuci piring dan perabot. Kemudian menjemur pakaian. Sore aku menyapu halaman, masak untuk makan malam, kemudian pekerjaanku ditutup dengan mencuci piring bekas makan malam. Pagi harinya kegiatanku memasak dan menyapu.
Begitulah kira-kira pekerjaanku setiap harinya.
Sejak 3 bulan lalu aku menggantikan pekerjaan ibu, karena ibu sudah sepuh dan sering sakit. Sembari mencari ART baru yang memang susah-susah gampang akhirnya aku menawarkan diri untuk full menggantikan ibu, walau awalnya ditolak oleh pak Hadi dan bu Ningsih karena aku masih sekolah.
Tidak hanya Pak Hadi dan Bu Ningsih yang tidak setuju, kakak angkatku mas Amir adalah orang yang paling lantang menentangku untuk menggantikan ibu.
"Dek, mas ga setuju kamu gantiin ibu, insyaaAllah mas masih sanggup biayain hidup ibu dan kamu. Kamu harus fokus belajar, sekolah, kamu sudah mau ujian." tentang mas Amir kala itu.
Namun setelah ku beri pengertian dan juga sistem kerja di rumah bu Ningsih, dengan berat hati akhirnya mas Amir luluh juga.
“Hanya sementara ya dek, mas akan desak bu Ningsih untuk segera mencari penggantimu.” Ucap mas Amir kesal.
“Siap ndan.” Balasku.
Lagi pula semenjak memiliki anak bu Ningsih lebih fokus di rumah dan juga melakukan pekerjaan rumah.
"Mbak Novi, ngelamun wae." ucap Hanifah mengagetkanku.
"Astaghfirullah Fah, ngageti wae."
"Lha mbak ki bengong wae (lha mbak tu bengong aja)."
"Mbak bantuin aku yaa, kerjaan mbak udah selesai kan?" Lanjut Hanifah.
"Kenapa emangnya? Pasti ada udang dibalik bakwan."
"Hehehe, ngerti wae mbak Novi ki (tau aja mbak Novi tu). Mbak ajari aku gambar, ini dapet tema keluarga bahagia, ga mudeng aku mbak (ga paham aku mbak)."
Semua orang di rumah ini tau kalau aku hobby sekali menggambar, tidak terkecuali mas Amir dan keluarga kecilnya.
"Disiapin dulu aja ya peralatan gambarnya, nanti habis isya' kita kerjain sekalian mbak ngerjain PR."
"Siap master." ucap Hanifah sambil berhormat. Ada-ada kelakuan anak ini.
Hanifah adalah anak kedua dari majikanku, kini ia sekolah kelas 2 SD. Sedangkan Kakaknya Hamdan kelas 5 SD.
Aku dan Hanifah sibuk di ruang tengah, yang kemudian disusul Hamdan.
"Mbak, ajari aku iki mbak (mbak, ajarin aku ini mbak)." pintanya sambil menyodorkan buku paket matematika.
"Hiiihh, mas Hamdan apa-apaan lho, ganggu aja, ga lihat apa mbak Novi kan baru ngajarin aku, lagian Novi lagi ngerjain PR." protes Hanifah pada Hamdan.
"Berisik cah cilik, wweekkk." balas Hamdan sambil menjulurkan lidahnya.
"Mas Hamdan suka gitu, memonopoli mbak Novia terus." lanjut Hanifah.
"Eehhh iki ono opo yo ribut wae, anakke bunda ki mung loro, tapi ora tau akur, ribut wae (Eehhh ada apa ini, anak ibu cuma dua, tapi g pernah akur, ribut terus)." omel bu Ningsih.
"Ini bun, mas Hamdan gangguin Ifah dan mbak Novia ngerjain PR."
"Iiihhh siapa yang ganggu aku kan nanya mbak Novia, lagian mbak Novi aja g keberatan kok kowe sek sewot, iya kan mbak?" Hamdan menimpali dan mencari pembenaran.
Aku hanya senyam senyum melihat kelakuan mereka, memang sudah biasa meraka begitu, kadang jadi hiburan tersendiri.
"Adek, kan mas Hamdan juga ngerjain PR, alangkah baiknya daripada bertengkar lebih baik belajar sama-sama, didampingi mbak Novia, itu sungguh menyejukan hati dan jiwa bunda. Dan mas Hamdan kalau emang butuh bantuan mbak Novia lihat situasi dan kondisi juga ya, siapa tau mbak Novia emang lagi sibuk." panjang lebar bu Ningsih menasehati keduanya.
"Maaf bun, maaf mbak Novia." ucap Hamdan dan Hanìfah, kadang-kadang mereka itu kompak tapi lebih sering berantemnya, aku hanya bisa geleng-geleng setiap melihat kelakuan mereka.
Akhirnya Hamdan ikut mengerjakan PR matematikanya di ruang tengah karena akan lebih cepat jika ingin bertanya kepadaku.
"Mbak, mbak kan pinter buka kursus/bimbel aja, iya ga bun?" ucap Hamdan memecah keheningan.
"Hus, ngawur kamu Ndan, mbak Novia kan udah terlalu banyak pekerjaan, lagian mau ujian juga. Tapi kalau sudah selesai ujian bolehlah dipikir-pikir Nov, kamu kan cerdas." kata bu Ningsih.
"Iya bu nanti saya pikir-pikir dulu." jawabku.
Alhamdulillah, meski aku tak lagi memiliki keluarga kandung namun aku memiliki keluarga yang lain, yang sudah seperti keluarga sendiri.
Pukul 9 malam kami menyudahi kegiatan belajar, mengerjakan PR lebih tepatnya dan kembali ke kamar masing-masing.
Sampai di kamar aku langsung tidur, aku lebih memilih tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Aku selalu mengeset alarmku pukul 2.30.
Pukul 2.30 aku terbangun karena alarm tubuhku sudah bereaksi, ku ambil wudhu kemudian sholat malam. Setelahnya aku membuka software desain di laptopku.
Aku mulai mendesain kali ini bertemakan desain abstrak, butuh pikiran ekstra setiap kali menuangkan ide-ide seni dalam memvisualkannya. Biasanya setelah desain selesai aku memberi watermark di desainku kemudian aku upload di sosmedku, ada juga yang aku upload di platform berbayar untuk desain-desainku yang bagus dan unik. Siapa tau akan ada yang membelinya, lumayan pundi-pundi rupiah.
Terkadang aku juga membuatkan desain untuk personal maupun perusahaan. Seperti desain flayer, banner, baliho, undangan nikahan bahkan undangan RT. Yang sering menguras pikiran adalah desain logo, karena harus menggambarkan brandnya.
Tidak terasa Adzan Subuh berkumandang, kembali ku ambil wudhu kemudian sholat subuh. Setelah itu aku menuju dapur untuk mulai memasak. Setalah beberapa waktu aku berkutat di dapur, bu Ningsih datang ke dapur dan membantuku memasak.
"Mau masak apa ni kita Nov?" tanya bu Ningsih.
"Saya sudah siapkan untuk bikin sayur bu. Ayam juga sudah saya ungkep, tinggal goreng. Ini bahan sambal juga sudah siap." jawabku semangat.
Semenjak memiliki anak bu Ningsih lebih sering terjun langsung memasak, karena ia ingin anak-anak kelak merindukan masakannya. Kerjaan pagi memang lebih ringan sejak itu, kerjaan ibuku juga dulunya menjadi lebih ringan. Begitu pula denganku. Bu Ningsih memasak aku menyapu dan mengepel rumah. Setengah enam akhirnya semua beres, makanan sudah tersaji, kemudian aku pergi untuk mandi.
Selesai mandi aku bergegas ke dapur untuk membungkus bekalku dan juga sarapan. Aku lebih suka makan sendiri di meja dapur, walaupun sebenarnya majikanku sering mangajakku makan bersama, namun aku tau diri, apa kata orang kalau sampai ada yang lihat.
Pukul 6 aku berpamitan kepada bu Ningsih dan pak Hadi serta anak-anak yang masih sarapan, karena aku harus bergegas agar dapet busway yang pagi dan tidak terlambat sampai sekolah, mangingat sekolahku lumayan jauh dari rumah majikanku.
"Pak, bu, saya berangkat sekolah dulu ya, assalamualaykum. Mbak duluan ya Hamdan, Ifah." pamitku.
"Iya Novia hati-hati dijalan." balas bu Ningsih, pak Hadi hanya manggut-manggut.
"Dadah mbak Novia, semangat ya." ucap Hanifah.
"Okey cantik." pungkasku kemudian aku belalu, berjalan menuju halte busway yang tak terlalu jauh dari rumah majikanku.
Begitulah kehidupanku sebagai Asisten Rumah Tangga di rumah bu Ningsih, sejauh ini tidak ada yang buruk, alhamdulillah.
Diperjalanan menuju sekolah aku mengecek beberapa platform desainku. Hhhmmm lumayan ada beberapa yang laku meski belum banyak. Kemudian aku mengecek platform desain yang lain, kalau yang ini lebih ke kontes desain. Aku baca-baca ada beberapa yang menarik perhatianku, sepertinya akan aku coba, kalau menang lumayan hadiahnya, bisa buat tambah-tambah bikin studio.
"Novia boleh aku duduk disini?" tanya seorang pemuda yang terdengar tak asing suaranya. Aku menolehkan wajahku kearahnya.
"Oh Angga, iya monggo Ngga." jawabku.
Angga ini salah satu anak terpopuler diangkatanku, banyak cewek-cewek yang menggandrunginya, dia anak IPS I.
"Kamu selalu naik busway?" tanya Angga.
"Iya Ngga." jawabku singkat. Aku memang tak terlalu suka berbasa-basi dengan orang yang tidak terlalu akrab.
Akhirnya kami tiba di sekolah dan berjalan bersama menuju gerbang sekolah, masih dengan keheningan tampa kata. Hingga ku lihat mobil mewah Elsa melewati kami dan menuju gerbang.
'Aaisshh si tuan putri pakai lewat lagi.' gumamku, yang mungkin sedikit terdengar oleh Angga.
"Kamu ngomong apa Nov?" tanya Angga penasaran.
"Eh engga Ngga, hanya menggumam. Aku duluan ya, itu temen aku udah nunggu." Untung ku lihat Indah sedang menungguku di depan lobby (eh lobby? apa ya author bingung namanya, pokoknya tempat depan sekolah seperti lobby gitu tempat biasanya nurunin penumpang, sudah di dalam gerbang, sebut saja drop zone, wkwkwk).