Dengan wajah kgue, Alan menyerahkan es krim cokelat kepada adiknya. Ia menatap kesal ke arah Aliana yang sedari tadi tak berani menatap matanya. Keduanya saat ini sedang berada di toko dua puluh empat jam yang terlihat sangat lenggang. Mereka duduk di pelataran toko yang menyediakan tempat duduk ala kafe yang nyaman. Namun kenyamanan itu sama sekali tidak menghampiri Aliana, ia menunduk sembari menyantap es krimnya dengan wajah cemberut. Gadis itu menunggu eksekusi dari kakak gantengnya yang belum potong rambut itu. “Lo suka sama dia?” tanya Alan yang bagaikan guntur di siang bolong. Aliana mendongak dengan wajah terkejut, mulutnya belepotan dengan pandangan mata bingungnya membuat Alan mendengus. “Dasar anak kecil,” desis Alan sembari me

