Fano menuntunku menuju kursi kosong untuk kududuki setelahnya. Bokongku sudah mendarat dengan sempurna bersamaan dengan Fano yang mengambil posisi berlutut di depanku. "Lain kali jangan memakai sepatu dengan hak yang terlalu tinggi seperti ini," tegurnya tanpa menatapku sebab matanya fokus pada kakiku, membuka sepatuku lantas memberi pijatan pelan di tumitku. Aku tak menjawabnya, baik dengan suara maupun gerakan tubuh. Seluruh tubuhku hanya terpusat pada sikap lembut Fano. Meski dari suaranya dia terlihat kesal melihatku yang sedang menahan sakit, aku tahu jika dirinya tengah didominasi oleh rasa cemas. Kerja otakku sekonyong-konyong membawa pikiranku untuk bertanya apakah aku pantas menerima semua ini dari Fano? Sebenarnya siapa aku di mata Fano? Perasaan seperti apa yang dia miliki un

