Bab 34

1838 Kata

Secangkir kopi panas tersedia di depan mataku. Asapnya mengepul di permukaan. Menandakan bahwa aku harus menunggu sebentar sebelum meneguknya. Namun, sampai kopi itu menjadi sedingin es pun aku sepertinya tetap tak akan meminumnya. Lambungku tak bisa menerima jenis minuman yang satu itu. Aku juga tak sadar bagaimana bisa aku memesannya. Aku jelas tak sendirian saat ini. Dua orang berbeda generasi duduk di hadapanku. Tampak ramah dengan senyum yang masing-masing terukir di bibir mereka. Saya adalah ibunya Fano. Sebaris kalimat itulah yang membawaku sampai ke kafetaria rumah sakit. Duduk berhadapan dengan sosok wanita yang menyatakan dirinya sebagai ibu Fano. Lantas, ingatanku berputar pada Faya, yang kutahu merupakan ibu Fano. Seketika memori dalam otakku kembali memutar cerita Veronik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN