Sepulangnya aku ke apartemen, aku tidak lagi melihat keberadaan papa. Sepertinya dia memang sudah pergi. Pagi ini pun aku masih tak mendapati keberadaannya. Biasanya dia nekat menggedor pintu apartemenku bila aku atau Elon tak memberinya akses masuk. Jadi, dapat kusimpulkan jika papa sudah kembali ke Italia. Mulutku mungkin akan mengucap kalimat syukur karena papa akhirnya pergi juga, tetapi hati ini berkhianat. Perasaan melankolis dan keengganan berpusar di dadaku. Menunjukkan bahwasanya aku butuh sosok orang tua di dalam hidupku. Terkadang aku merindukan kehidupanku di masa kecil, yang penuh gembira meskipun papa hanya akan pulang satu bulan sekali. Setidaknya, pada saat itu aku merasa bahagia. Mendapat kasih sayang lebih dari kedua orang tuaku, tetapi semua itu berubah sejak kepergian

