Elon: Apa perlu gue jemput dulu baru lo mau pulang? Sebuah pesan dari Elon yang terlihat frustasi itu membuatku mendesah berkali-kali. Perasaan tidak tega dan bersalah berlabuh di hatiku saat aku memutuskan meninggalkan rumah tanpa ada komunikasi sama sekali. Apalagi alasannya jika bukan karena papa. Aku tahu betul sampai detik ini papa masih belum pergi dari rumah. Oleh sebab itu, selama beberapa hari ini aku menginap di apartemen Fano. Syukurlah Fano mau menerimaku. Dalam kurun waktu lima hari, aku hanya pernah pulang sekali untuk mengambil barang-barangku. Tentu saja di saat-saat apartemen tidak berpenghuni. Meskipun sempat merasa tertegun dengan pengakuan papa tempo hari, perasaan benci itu masih melekat di dalam diriku. Mendengar ceritanya pun percuma. Aku hanya tak ingin bekas lu

