Otakku menerima begitu banyak spekulasi. Mulai dari kemungkinan-kemungkinan kecil sampai ke yang paling buruk sekalipun. Brisa sudah pergi setelah melontarkan olokannya padaku. Hanya menyisakanku serta Fano, yang masih bergeming dengan emosi yang menenggelamkan diri kami masing-masing. Tanganku erat memegang sesuatu yang bisa menjadi penyangga agar aku tidak meluruh ke lantai. Lututku serasa habis dicambuk berkali-kali, membuatku tak bisa menahan bobot tubuh pada kaki yang ringkih ini. Andai saja kedua kakiku bisa diajak bekerja sama untuk segera melarikan diri dari sini, aku pasti sudah pergi sekarang. Untuk apa lagi aku berdiri di sini setelah menelan kekecewaan yang begitu besar. Pengakuan Brisa sudah cukup bagiku untuk memilih menghentikan hubungan kami. "Apa yang dikatakan Brisa me

