Untuk pertama kalinya aku bertemu Fano setelah satu minggu berlalu. Ada berbagai macam perasaan yang kini mendiami hatiku. Keraguan menjadi yang terbesar. Sementara ada sebagian semangat yang terangkat, yang juga mendatangkan keingintahuanku akan keadaan Fano setelah kami berpisah cukup lama. Detik berlalu begitu cepat. Tak terasa waktu bertemu yang Fano janjikan sudah lewat satu jam. Sepertinya aku terlalu lama menghabiskan waktu di dalam mobil hanya untuk memikirkan ulang keputusanku. Aku menarik napas panjang, sedikit frustasi dengan pergulatan batinku yang masing-masingnya menginginkan kemenangan. "Okay, aku akan menemuinya," putusku pada akhirnya. Langkahku terasa sedikit berat saat memasuki kafe tersebut. Rasanya keraguan tak bisa hilang dari diriku sepenuhnya. Setibanya di dalam

