Aku terbangun di atas ranjang besar dalam sebuah kamar yang didominasi warna putih. Sambil mengumpulkan kesadaran yang sebagiannya masih tertinggal di alam mimpi, aku mencoba mencari tahu di mana aku berada sekarang.
Hanya dalam hitungan detik, ketika kepalaku bergerak ke samping dan kedua mataku menemukan seorang pria yang tengah duduk dengan laptop di pangkuannya dan kaca mata yang menggantung di wajahnya, aku pun tahu di mana aku sekarang.
Aku mengubah posisiku menjadi menghadap ke sisi kiri tanpa suara. Berniat untuk memerhatikan Fano yang kelihatannya belum sadar kalau aku sudah terjaga. Tatapanku beralih sejenak menuju jendela yang belum ditutup, menampakkan langit malam yang membentang di atas sana. Serta kibaran gorden akibat tiupan angin yang malam ini agak kencang hingga terasa sampai menyentuh kulitku.
Sepertinya tidurku tidak terlalu lama, tetapi entah kenapa tubuhku terasa segar saat bangun tadi. Apa mungkin efek obat yang sebelumnya masuk ke dalam tubuhku? Obat yang diberikan dokter hanya karena perutku sakit akibat mengonsumsi makanan yang begitu pedas. Atau mungkin karena aku tidur di atas ranjang Fano, yang baunya sangat khas dengan pria itu? Entahlah.
Selama beberapa menit, aku terus menatap lekat Fano di depan sana. Terkadang aku tersenyum ketika keningnya berkerut sambil jarinya bergerak di atas keyboard untuk mengetikkan sesuatu. Dia terlihat berkali-kali lebih tampan dengan wajah seriusnya. Tidak akan bosan rasanya hanya tidur di sini sambil memandangi Fano.
Tetapi sayang, malam yang kurasa sudah cukup larut ini membuatku tidak bisa berlama-lama menikmati pemandangan indah di depan sana. Besok masihlah weekdays, aku harus kembali bekerja dan sekarang aku harus segera pulang.
Menyibak selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhku, aku lantas mengambil posisi duduk. Gerakanku kali ini berhasil menarik perhatian Fano.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya, tak beranjak dari posisinya sama sekali. Hanya melepas kaca matanya saja.
Aku hanya mengangguk dan memilih untuk duduk di pinggir ranjang.
"Kemarilah." Fano menepuk-nepuk sisi sofa di sebelahnya, memberi kode kepadaku untuk duduk di sana.
Tak ada bantahan yang keluar dari mulutku. Aku memang menginginkan berada di dekat Fano sekarang. Meski di awal aku menuruti semua kemauan Fano hanya atas dasar kepura-puraan untuk menjaga hubungan ini hingga empat bulan lamanya, tetapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Aku mulai nyaman menjalani semua ini dengan Fano walau terkadang ada luka yang kudapat, tetapi mulai sekarang aku akan menganggap itu impas. Karena dalam hubungan ini aku juga hanya memanfaatkan Fano.
Satu kecupan di dahi kudapat begitu bokongku mendarat di sofa.
"Kenapa bangun, hm? Kamu bisa tidur lagi sampai pagi kalau kamu mau."
Aku menjatuhkan kepalaku di bahu Fano sambil mendekap lengannya. Ya, Tuhan! Ini nyaman sekali.
"Aku mau pulang."
Usapan yang tadinya kurasakan di rambutku, mendadak berhenti meski hanya sejenak. "Sudah malam. Kamu menginap di sini saja."
Aku menggeleng. Aku tidak pernah menginap di rumah Fano walaupun aku sudah sering datang ke sini dan tidur di ranjangnya seperti tadi, tapi tetap saja aku lebih memilih pulang sebab aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku menginap di sini. Fano tetaplah seorang lelaki, yang nafsunya bisa datang kapan saja.
"Kamu takut?"
Aku mendengar nada kecewa dalam suaranya. Kepalaku mendongak cepat, meneliti rautnya yang selaras dengan nada suaranya barusan.
"Aku berjanji nggak akan nyentuh kamu, Ryn. Aku juga nggak akan nyakitin kamu kalau itu yang kamu takutkan."
Kepalaku menggeleng beberapa kali. Bukan itu yang kumaksud. Fano selalu saja mengambil kesimpulan sendiri. Dan dari yang kulihat, kepercayaan dirinya kerap kali hilang di saat-saat seperti ini.
Merangkum wajahnya, aku berusaha memberi alasan yang paling logis agar dia tak lagi merendah seperti ini. "Aku bukannya takut sama kamu, No. Besok aku masih harus kerja. Dan aku nggak bawa pakaian sama sekali."
"Sekali saja, Auryn. Aku ingin sekali menghabiskan malam bersama kamu." Kata-katanya terdengar sedih.
"Aku nggak bisa. Maaf," balasku penuh sesal.
Sudut hatiku mungkin merasa aman jika menginap di sini mengingat janji yang Fano ucapkan tadi, tetapi logika tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin aku setuju dengan apa yang hatiku suarakan, tetapi aku takut bila nantinya Fano tergoda oleh nafsunya sendiri.
Okay, aku mungkin terdengar sangat percaya diri jika Fano akan b*******h terhadap tubuhku. Tetapi tidak salah bukan bila aku mengantisipasi hal-hal seperti itu? Sebagai seorang perawan, jelas aku harus menghindarinya.
Kudengar Fano menghela napasnya sebelum tangannya mengambil satu tanganku yang berada di wajahnya lantas menanamkan sebuah kecupan lembut di ruas jariku.
"Aku antar kamu pulang," ucapnya sembari mematikan laptopnya, berdiri tanpa aba-aba guna meletakkan benda tersebut di tempatnya.
Kendati aku merasa sedikit bersalah padanya, keputusanku untuk tidak menginap di sini tak dapat diganggu gugat lagi.
Menghirup oksigen dengan rakus, aku menyusul Fano yang sedang berdiri di depan lemarinya, seperti mencari-cari sesuatu. Dan aku tiba di belakangnya tepat setelah dia mengeluarkan jaket dari sana sebelum menutup kembali lemari tersebut.
Kini kami saling berhadapan saat dia berbalik.
"Udara di luar sangat dingin." Dia memakaikan jaket tersebut kepadaku.
Dengan senang hati aku menerimanya. Tak lupa pula melepas senyum sebagai tanda terima kasihku padanya.
Umpatan Fano tiba-tiba terdengar setelah selesai dengan jaket tersebut. Kulihat pandangannya mengarah ke bawah, ke arah kakiku.
"Dan sekarang harus dengan apa aku melindungi kakimu?" Dia terdengar frustasi.
Aku mendengkus geli saat tahu apa yang menyebabkannya mengeluarkan makian. Dia memang Fano sekali, yang perhatiannya begitu besar untukku. Jujur saja, tidak ada orang yang lebih perhatian kepadaku selain Fano.
"Nggak apa-apa," jawabku, berusaha menenangkannya.
Kemudian aku merangkul lengannya dan mengajak Fano untuk langsung mengantarku pulang saja.
"Memangnya di tempat kamu bekerja aturan berpakaiannya harus dengan rok ketat sebatas lutut?" tanya Fano. Sepertinya dia belum ingin berpindah topik dari apa yang kukenakan saat ini.
Aku mengangguk, dan kami berdua sudah berada di dalam lift sekarang.
"Kalau begitu segera buat lamaran dan pindah ke kantorku saja."
Kepalaku dengan cepat berputar untuk menengok Fano. Keningku jelas sekali menunjukkan kerutan samar di sana, merasa aneh dengan perkataan Fano barusan.
"Aku serius," tambahnya, ketika aku tak kunjung buka suara.
Pada akhirnya, yang keluar pertama kali dari mulutku hanya decakan geli.
"Nggak mungkinlah, No. Aku udah dapet posisi yang lumayan di sana."
"Kamu juga bakal dapet posisi yang lebih dari kata lumayan di kantorku nanti." Fano tidak mau kalah.
Suara dentingan lift yang telah tiba di basement membuatku dan Fano lekas keluar, berjalan beriringan menuju tempat di mana mobil Fano terparkir masih dengan lenganku yang berada di lengan Fano, memeluknya erat.
"Oh, ya?" Aku berniat melanjutkan pembicaraan kami di lift tadi.
Fano mengangguk, menjeda sejenak jawabannya saat membukakan pintu mobil untukku. Aku segera masuk dan mengucapkan terima kasih padanya.
"Kalau kamu bekerja di kantorku, aku akan memberikan kamu posisi yang sangat dibutuhkan." Fano berbicara setelah dia berada di balik kemudi.
"Apa itu?"
"Menjadi penyemangatku."
Tawaku meledak seketika. Astaga! Pria ini ada-ada saja.
"Jabatan apa itu?" tanyaku tak habis pikir, masih dengan sisa-sisa tawaku sebelumnya.
Bibir Fano melengkung ke atas, membentuk senyum puas akan leluconnya barusan.
"Itu jabatan yang sangat penting, Ryn."
"Penting yang hanya berguna untuk kamu aja, kan?"
"Ya, karena kamu memang hanya untukku saja."
Aku mendecih. Setelah lelucon, sekarang dia menggombaliku.
Tetapi aku suka Fano yang seperti ini. Saat selera humornya sudah keluar, dia akan menjadi Fano yang berbeda. Fano yang jauh lebih menyenangkan dari biasanya.
Banyak sekali hal yang kusukai dari Fano. Terkadang, aku merasa taruhan yang kubuat dengan Brisa lebih banyak menguntungkannya. Kesampingkan terlebih dahulu tentang sikap posesif dan kasar Fano. Karena sesungguhnya Fano lebih banyak memiliki hal-hal positif dalam dirinya.
Taruhan ini benar-benar tidak buruk sama sekali.