Aku berjalan menuju kantor polisi dengan langkah tergesa-gesa setelah memarkirkan mobilku di sembarang tempat—semoga aku tidak mendapat masalah untuk yang satu ini. Kakiku bergerak mencari ruang pemeriksaan untuk segera menemukan seseorang yang membuatku harus meminta izin sejenak dari kantor.
Di dalam hati, aku berharap telepon yang kudapat tadi hanyalah sebuah lelucon saja. Barangkali seseorang yang sedang berada dalam tatapanku saat ini hanyalah ilusi belaka. Oh, Tuhan! Kabulkanlah doaku.
"Anda walinya Elon?"
Pupus sudah harapanku saat doa secepat kilatku tak terealisasi. Aku menghela napas berat lantas segera mengambil duduk di hadapan sang polisi dan di sisi Elon, adik lelakiku.
"Ya, saya Kakaknya Elon."
"Elon baru saja mencederai temannya sampai mengalami luka yang cukup serius. Dan keluarga temannya ingin membawa kasus ini ke jalur hukum." Sang polisi menjelaskan kepadaku apa yang sudah diperbuat Elon.
Jemariku menggenggam erat tas yang kini berada di pangkuanku manakala emosi mulai menggelegak sampai ke ubun-ubun. Bila saja aku sedang tidak berada di tempat umum, Elon pasti sudah mendapat bogeman keras dan rentetan makian dariku.
Menarik napas dalam-dalam untuk mengisi stok oksigen di paru-paruku, aku pun mencoba untuk tenang saat menghadapi masalah ini.
"Baiklah. Saya akan mengikuti pro—"
"Saya yang akan bertanggung jawab atas kasus yang dibuat oleh Elon."
Seseorang berhasil memotong kalimatku yang bahkan belum sempat kuselesaikan. Kuputar tubuhku agak ke belakang tanpa menarik bokongku dari kursi. Betapa terkejutnya ketika mataku menemukan Fano di sana.
Terburu-buru aku bangkit, berdiri di hadapan Fano untuk menyampaikan penolakan atas usulannya barusan.
"Elon tanggung jawabku, No. Kamu nggak perlu ngelakuin ini." Setengah berbisik aku berbicara padanya.
Senyum Fano kudapat di awal seiring dengan genggamannya yang jatuh di kedua tanganku. "Masalah kamu juga masalahku, Ryn. Dan biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini. Aku sudah membawa pengacara untuk mengurus kasus ini." Di akhir kalimatnya, Fano sempat melirik seseorang berpakaian rapi yang berdiri di sisinya, seseorang yang kuyakini merupakan pengacara yang dimaksud olehnya.
Serius, aku tidak ingin membebani Fano dengan masalah pribadiku. Dia bahkan hanya kujadikan sebagai bahan taruhanku, tetapi jasa yang sudah dia lakukan untukku benar-benar luar biasa. Aku tak ingin merasa berutang budi padanya.
Aku menggeleng, menegaskan sekali lagi bahwa aku menolaknya. "Jangan ngelakuin ini sama aku, No. Aku nggak mau punya utang budi apa pun sama kamu."
"Hey! Apa yang aku lakukan untuk kamu bukanlah utang. Semua ini aku lakukan dengan tulus. Kamu nggak perlu membayarnya." Tatapan Fano kelihatan serius, dan dengan lembut dia membelai pipiku.
Tahu aku akan protes, dia pun segera menyelaku. Melepas genggamannya di tanganku dan maju selangkah guna memberi tahu sang polisi bahwa dia yang akan bertanggung jawab atas masalah Elon.
"Mau menunggu di luar bersamaku?" tawarnya setelah berhasil mengambil alih kasus tersebut. Satu tangannya terjulur kepadaku. Aku tidak langsung menempatkan tanganku di sana dan menyetujui ajakannya. Sejenak aku menoleh ke arah Elon, yang kini sudah duduk bersisian dengan pengacara Fano.
Rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di seputar tanganku menyadarkanku bahwa aku sudah terlalu lama berdiam dalam posisi ini. Tatapanku beralih ke arah Fano, dan mendapati tangannya sudah menyatu dengan tanganku.
"Percayalah padaku, Ryn. Aku pasti akan membuat semuanya baik-baik saja," ucapnya, dengan tekad yang kuat dalam suaranya.
Aku percaya, sungguh. Apa, sih, yang tak bisa Fano selesaikan. Hanya saja, aku tidak ingin terlalu bergantung padanya kalau pada akhirnya kami akan berpisah. Dan aku takut tidak dapat hidup tenang jika mempunyai utang budi padanya sementara aku datang dalam hidupnya hanya karena sesuatu, sesuatu yang menguntungkan untukku dan merugikan bagi Fano.
Mungkin taruhan kali ini sangatlah mudah untukku, tetapi entah kenapa perlakuan Fano membuat semuanya menjadi sulit. Aku merasa terbebani dengan hati sebaik malaikatnya.
Helaan napas panjang kuembuskan dengan sedikit kasar. Kepalaku lantas bergerak mengangguk, mengiyakan ajakan Fano untuk menunggu di luar. Aku juga butuh udara segar untuk meredakan amarahku.
Sempat kurasakan usapan Fano di rambutku ketika kami melangkah bersamaan menuju luar.
Ada ruang tunggu yang disediakan di kantor polisi ini. Dan di situlah kami menunggu sampai urusan Elon di dalam selesai.
"Dia udah sering bikin masalah kayak gini, No," desahku.
Fano mengangguk. Merangkulku untuk kemudian membimbing kepalaku agar bersandar di bahunya. "Aku tahu."
"Sulit sekali rasanya mengatur satu orang adik sepertinya." Aku kembali menyampaikan keluhanku, merasa butuh seseorang untuk mendengar keresahanku.
Di kota ini, aku hanya tinggal berdua dengan Elon. Itu pun kalau Elon tidak menginap di rumah temannya. Adikku itu memang jarang sekali pulang ke rumah. Aku membiarkannya, asalkan dia tidak membuat ulah. Nyatanya, Elon memang tak bisa dilepas begitu saja. Akan ada masalah yang selalu dibuatnya.
Satu kecupan Fano jatuh di puncak kepalaku. Emosiku perlahan mulai surut karena perlakuan Fano. Ah! Dia benar-benar bisa menyembuhkanku dari apa pun, termasuk penyakit hati sekalipun.
"Aku bisa membantumu kapan pun kamu butuh. Jangan menanggung semuanya seorang diri."
Aku mengangkat kepalaku untuk menatap wajah Fano. Dia tersenyum saat melihatku, dan aku melakukan hal yang sama. "Terima kasih."
Lengkungan di bibir Fano semakin lebar bersamaan dengan tangannya yang mencubit pipiku dengan gemas. "Jangan pernah memasang wajah sedih lagi atau aku akan—"
"Akan apa?" Aku menyelanya sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
Cubitan di pipiku berubah menjadi usapan penuh kelembutan. "Atau aku akan menciummu," bisiknya tepat di telingaku.
Aku tergelak, kemudian menggeleng takjub.
"Omong-omong, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku di sini?"
"GPS di handphone-mu."
Aku mengerutkan keningku, kemudian berdecak pelan. "Dasar, stalker."
Dia terkekeh pelan. "Aku harus selalu mengawasi kamu, Ryn."
Sejujurnya aku risi saat dia bersikap bagai cctv pribadiku. Ruang gerakku pastilah tak akan sebebas dulu, tetapi keterlibatannya dalam membantuku mengurus masalah ini membuatku segan untuk menentangnya. Untuk kali ini, aku akan diam dan menerima.
"Lalu, pengacara itu?"
Fano mengedikkan kedua bahunya. "Entahlah, aku refleks menyuruhnya untuk datang ke sini. Saat kamu pergi ke sini, aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi. Dan pengacara hanya untuk berjaga-jaga saja."
Aku berdecak penuh kekaguman. Reaksinya sungguh mencengangkan.
"Tapi serius, No, lain kali kamu nggak perlu ngelakuin ini lagi untukku. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri." Aku memberinya peringatan, semoga saja yang satu ini didengar olehnya.
Fano merapatkan rangkulannya di pundakku dan menatap lurus ke arah mataku. "Sudah kubilang masalahmu adalah masalahku juga. Jadi, aku juga akan menyelesaikannya."
Aku menghela napas, menunduk menghindari pandangannya. "Kamu tahu, No, apa yang kamu lakukan ini sangat membebaniku. Aku ha—"
"Aku membebanimu?"
Secepat kilat aku mendongak, kembali memfokuskan tatapanku pada Fano. "Bukan begitu," sergahku, dan terlalu bingung melanjutkan pembelaanku dengan kata-kata seperti apa.
Tubuhnya sedikit bergeser seiring dengan rangkulannya yang ditarik, tetapi kemudian kedua tangannya memegang bahuku. "Dengar, Auryn, saat aku sudah mengikatmu sebagai milikku, maka apa yang terjadi di dalam hidupmu, aku juga akan ikut terlibat di dalamnya." Nada suaranya masih tenang meski matanya tetap mengawasi gerak-gerikku.
Aku mencoba mengendalikan diri, tetapi sialnya tidak ada yang dapat kuucapkan kepadanya walau hanya satu kata.
Fano melepas kontak fisik denganku saat dia bangkit berdiri. Aku masih mengamatinya. Jas yang sebelumnya terpasang rapi di tubuhnya, kini dia tanggalkan dan diletakkan di pahaku, mencoba menutupi sebagian pahaku yang terlihat karena memakai rok pendek.
"Aku ada meeting," ucapnya setelah selesai menutupi pahaku. Kali ini suaranya terdengar datar dan bisa kulihat kilatan tersinggung di bola matanya.
Sial! Aku kembali diliputi perasaan bersalah sekarang.
"Aku lebih suka kamu mengucapkan terima kasih dari pada mengatakan kalau aku membebanimu." Dan itu adalah kalimat terakhir Fano sebelum dia benar-benar pergi.
Aku menggigit bibirku, menatap kepergian Fano dengan pandangan menyesal. Aku yakin sekali jika dia hanya menjadikan meeting sebagai alasannya untuk meninggalkanku. Fano tidak pernah pergi di saat-saat seperti ini. Dan aku baru saja membuatnya pergi.