Hampir semua orang yang hilir mudik di sekitarku mengarahkan pandangan mereka ke arahku walau hanya sekilas. Sepertinya hanya aku yang kelihatan paling mencolok di ruang tunggu ini, dengan sebuket besar mawar merah yang berada di pangkuanku.
Mungkin aneh bagi karyawan yang bekerja di sini mendapati seseorang sepertiku yang tidak jelas memiliki kepentingan apa. Bagaimana tidak, sebelumnya aku hanya menanyakan apakah Fano masih berada di kantor atau tidak kepada resepsionis. Hanya itu saja. Aku tidak berniat meminta izin untuk bertemu Fano. Aku lebih memilih untuk menunggunya di sini.
Sudah hampir setengah jam aku menunggu Fano sejak kedatanganku ke sini. Matahari mulai kembali ke peraduannya, semakin rendah hingga sinar yang terpancar sedikit demi sedikit menghilang.
Jujur saja, aku sudah cukup lelah hari ini. Bayang-bayang kasur yang ada di kamarku terus bergentayangan dalam benakku. Setelah selesai mengurusi masalah Elon, aku kembali ke kantor. Dan sekarang, aku sedang menunggu Fano di sini, di kantornya.
Untuk apa lagi memangnya kalau bukan untuk menyelesaikan masalah sepele yang sebelumnya terjadi di antara kami. Di dalam hubungan ini, aku harus selalu mengalah meskipun kesalahan yang kulakukan tak begitu besar. Fano seharusnya tidak marah hanya karena hal itu. Pria itu hanya terlalu sensitif.
Terkadang, aku tidak mengerti dengan sikap Fano yang mudah tersinggung atau yang paling parah bila dia sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Fano bisa berubah menjadi seseorang yang paling menyedihkan atau bahkan menjadi monster sekalipun.
Aku sempat berpikir mungkin saja di masa lalu, Fano memiliki kenangan yang buruk atau mungkin kisah cinta yang tragis. Pasalnya, sikapnya sangat berlebihan dalam menghadapi sesuatu. Emosinya akan sangat susah untuk dikendalikan.
Untuk mempertahankan hubungan kami, ada banyak hal yang sudah kukorbankan. Menahan ego adalah salah satunya. Aku harus berpikir jernih bila tak ingin Fano pergi dari hidupku. Dan aku melakukan semua itu bukan atas dasar cinta, melainkan taruhan yang kulakukan dengan Brisa.
Sungguh, aku tidak mencintai Fano sama sekali. Kurang lebih satu bulan aku mengenalnya, aku tak memiliki perasaan apa pun padanya. Hanya sedikit ketertarikan akan sikapnya yang kerap kali berubah. Sekaligus perhatiannya padaku yang kadang membuatku lupa diri. Hanya itu.
Aku melirik jam di tanganku, lantas menghela napas panjang saat waktu menungguku terus bertambah. Entah kenapa setiap detiknya berjalan sangat lambat hingga membuatku kebosanan.
Tetapi kemudian aku mengucap syukur di dalam hati saat mataku menemukan Fano yang baru saja keluar dari lift bersama seorang perempuan yang memakai seragam yang sama dengan karyawan di sini.
Aku bangkit dengan lincah. Ikut serta membawa mawar tersebut di dalam genggamanku sambil menyampirkan tas di bahuku. Langkahku berjalan sedikit tergopoh-gopoh sampai aku tiba di belakang Fano.
"Laporkan program-program baru yang akan tayang bulan depan."
Aku tak langsung menginterupsi Fano. Sepertinya dia masih menyampaikan soal pekerjaan pada perempuan yang berjalan di sampingnya dengan tab di tangannya. Kini aku yakin perempuan itu merupakan sekretarisnya.
"Oke! Sudah saya kirim ke email Mas Fano."
Aku mengernyitkan keningku karena panggilan tersebut. Mas? Apa seperti itu seorang bawahan memanggil atasannya?
Kemudian aku menggeleng, merasa berlebihan dengan reaksiku barusan. Huh! Apa yang baru saja kurasakan? Cemburu? Perasaan tidak suka? Oh! Jangan sampai.
"Good job, Marina. Sampai bertemu besok!"
Such a good boss. Fano bahkan melambaikan tangannya pada perempuan tadi sebagai salam perpisahan.
Sepeninggal perempuan bernama Marina tersebut, aku menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengenyahkan perasaan aneh yang mengganjal di hatiku. Ini tidak benar. Aku harus kembali fokus pada tujuan awalku datang ke sini.
Kami sudah berada di lobi saat aku memegang lengan Fano sebagai upaya untuk menahan kepergiannya. Seulas senyum kubentuk di bibirku kala Fano membalikkan badannya.
"Hai!" sapaku pertama kali.
Pupilnya sedikit membesar ketika melihatku, tetapi hanya terjadi dalam sekejap. Kemudian tatapannya turun pada bunga yang kubawa. Aku lantas tersadar dan cepat-cepat menyerahkan bunga tersebut kepadanya.
Dia tampak bingung. Pandangannya seperti bertanya-tanya untuk apa aku memberi bunga tersebut padanya.
"Terima kasih sudah membantuku dan maaf karena telah membuatmu tersinggung," ucapku, yang malah terdengar seperti bisikan.
Semoga saja Fano mengerti bahwa bunga tersebut sebagai simbol atas rasa terima kasihku kepadanya sekaligus permintaan maaf.
Selagi menunggu Fano mengeluarkan suaranya, kepalaku menunduk dengan jemari yang saling bertaut di depan, memainkan kuku-kukuku ditemani perasaan gelisah.
"Kamu ... memberiku ini?" Suaranya sedikit bergetar saat berucap.
Seketika aku mengangkat kepalaku, dengan bibir yang hendak mengukir senyum lebar. Namun, yang terjadi malah sebaliknya saat kedua mataku menangkap seperti apa ekspresinya saat ini.
Kupikir, suaranya yang bergetar dikarenakan perasaan senangnya karena mendapatkan bunga dariku. Nyatanya, dari air muka yang terlihat di wajahnya, dia tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali. Malah, wajahnya terlihat tegang dan ... ketakutan? Entahlah.
Belum sempat otakku mencerna apa yang sedang terjadi, aku kembali dibuat terkejut. Mulutku terbuka lebar saat Fano meremas kuat bunga yang kuberikan padanya. Belum cukup sampai di sana, dia pun membuang bunga tersebut di tempat sampah.
"Jangan pernah memberiku bunga lagi. Bunga apa pun itu," geramnya sebelum berjalan meninggalkanku.
Aku tercengang di tempatku berdiri. Merasa begitu terkejut dengan sikap gila Fano. Seperti ada sesuatu yang menusuk tepat di jantungku. Entah kenapa aku merasakan sakit yang amat dalam di hatiku.
Katakan semua ini hanya lelucon. Fano membuang bunga pemberianku hanya sebagai bahan candaan, kan?
Ya, Tuhan! Kalau Fano melakukannya dengan sungguh-sungguh, selamat! Dia telah berhasil melukai harga diriku.
Kalau Fano memang tidak menyukai bunga, tidak bisakah dia memberi tahuku secara baik-baik? Aku pasti akan mengerti. Kenapa Fano sampai harus membuangnya? Itu sungguh keterlaluan.
Aku bahkan menghabiskan waktu yang lama hanya untuk memilih bunga apa yang cocok untuknya, dan dia membuangnya layaknya sampah yang tak ada harganya sama sekali.
Menyadari Fano sudah berjalan jauh di depanku, aku segera menyusulnya. Langsung menarik lengannya dengan kuat setelah tiba di belakangnya. Dia pun berputar setelahnya, berhadapan denganku kembali.
Hanya berselang sedetik setelahnya, tamparanku langsung mendarat di wajahnya. Aku harap itu cukup untuk membuatnya sadar bahwa apa yang dia lakukan benar-benar membuatku terluka.
"Aku membencimu." Itu adalah hal terakhir yang kukatakan kepadanya sebelum berbalik dan pergi dari hadapannya.
Persetan dengan taruhan sialan itu. Apa yang Fano lakukan kali ini sudah kelewatan. Ketika aku memberinya sebuah ketulusan, dengan seenaknya dia memperlakukanku selayaknya sampah.
Dan sekarang, haruskah aku berhenti? Atau kembali mengalah seperti yang lalu-lalu?