Bab 7

1125 Kata
Aku terbangun karena sinar matahari yang menyengat. Mataku agak susah terbuka, terlalu silau. Aku memilih untuk berbalik, memunggungi jendela dan benar-benar membuka mataku setelahnya. Seingatku, tadi malam aku sudah menutup jendela dan merapatkan gorden. Lalu, kenapa sinar matahari masih dapat menembus sampai ke dalam? Sangat tidak mungkin kalau Elon yang membukanya. Lelaki itu pun sepertinya tidak pulang tadi malam. Mengenyahkan segala asumsi dalam benakku, aku langsung bangkit dari posisiku untuk merapatkan kembali gorden tersebut. Ini hari sabtu, dan aku ingin menghabiskan waktu untuk tidur seharian. Aku butuh energi yang banyak sebelum bertemu dengan hari senin. Selain itu, aku yang biasanya pergi shopping saat akhir pekan, kini memutuskan untuk menghindari dunia luar. Oh! Jangan tanyakan apa alasannya. Aku benci memberi tahu bila semua ini masih ada sangkut pautnya dengan pria itu. Ya, pria yang bahkan sangat enggan kusebut namanya meski hanya di dalam hati. Dan saat ini rasanya aku ingin enyah saja dari sini saat bayangan pria itu tampak di penglihatanku. Setelah ini sepertinya aku harus mencuci muka. Lagi-lagi aku seperti bermimpi saat hidungku mencium aroma pria itu yang terasa begitu dekat denganku. Menggelengkan kepala, aku berusaha mengembalikan kesadaranku dalam bentuk utuh. Kalau terus seperti ini, maka usahaku untuk menghilangkan pria itu dari pikiranku akan gagal dalam sekali coba. "Selamat pagi, Auryn." Tubuhku membeku seketika dengan tangan yang kubiarkan menggantung memegang gorden yang baru kugeser setengah. Sial! Setelah aku diikuti oleh bayang-bayangnya, lalu mengendus aroma tubuhnya, sekarang aku berhalusinasi mendengar suaranya. Apa sesulit ini saat aku mencoba untuk melupakan pria itu? Kenapa dia terus mampir di pikiranku? "Ini bukan mimpi. Aku di sini." Kalimat itu seolah menjawab segala kebingunganku sedari tadi. Secepat kilat aku berbalik, dan aku terdiam sempurna dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya serta mulut yang menganga seolah-olah hendak menyentuh lantai. Tidak ada hal yang lebih gila dari munculnya Fano di kamarku. Iya! Di kamarku. Benar-benar tidak masuk akal. Aku mundur selangkah, tetapi sialnya aku sudah berada begitu rapat dengan jendela sehingga keinginanku untuk menjauh darinya berakhir sia-sia. "Pergi dari sini," desisku penuh kemarahan. Sejujurnya aku penasaran kenapa Fano bisa masuk ke apartemenku. Tetapi lebih dari itu, aku ingin dia pergi dari hadapanku. Aku tak bohong saat aku berkata bahwa aku membencinya. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku lebih tanggap dan menghindar. Tidak ada paksaan yang Fano lakukan seperti biasanya. Atau ancaman saat aku menolaknya. Kini Fano terdiam cukup lama. Kepalanya menunduk. Hingga dia menunjukkan tindakan yang membuat mataku melotot kian lebar. Fano ... dia sedang berlutut di depanku sekarang. Seperti seseorang yang butuh pengampunan. Selain itu, dia juga terlihat tidak berdaya. "Maaf." Suaranya bergetar, begitu lirih. Menunjukkan dirinya yang rapuh. Aku tergugu. Menutup mataku untuk memikirkan harus seperti apa aku menghadapi situasi yang seperti ini. Tidak pernah terbayang di benakku kalau Fano akan merendahkan harga dirinya untuk berlutut di hadapanku. Terlalu angkuh untuk melakukannya. Tetapi lihatlah sekarang, dia sedang bersimpuh di hadapanku. Posisinya masih tidak berubah ketika Fano mengangkat kepalanya, mengunci mataku dengan tatapan pilunya. Dia kemudian mengambil satu tanganku, bergerak menampar wajahnya sendiri menggunakan tanganku. "Tampar aku sebanyak yang kamu mau, Ryn." Dia terus melakukan hal itu. "Aku pantas mendapatkannya." Napasku tercekat. Suaraku sudah hilang entah ke mana ketika dia belum juga berhenti menampari wajahnya sendiri. "Aku sudah terlalu jahat kepadamu." Kini, dapat kulihat air matanya mulai menetes satu demi satu. Kesadaranku pun kembali lantas dengan sigap aku menarik tanganku dari genggaman Fano. Kemudian tubuhku meluruh dan tanpa sadar aku jatuh memeluknya. "Maafkan aku, Ryn." Dia membalas pelukanku, begitu erat seolah-olah tak ada hari esok. "Jangan pergi. Tolong, jangan pergi." Aku membiarkan dia mendekapku. Sudah kubilang, Fano bisa menjadi seorang monster dan seseorang yang meyedihkan sekalipun. Dan kini, aku melihat Fano yang begitu rentan. Dia ketakutan. Aku dapat melihat hal itu lewat bola matanya. Mungkin aku terdengar plin-plan sebab kini aku tidak bisa menghalau perasaan kasihan dan sedih ketika mendapatinya seperti ini. Entah apa yang pernah Fano lalui di masa lalu sampai membuatnya seperti ini. Jujur, aku luluh sekarang. Aku akan mengakui kekalahanku secara terang-terangan. Sekali lagi, aku membiarkan Fano kembali masuk ke dalam hidupku. Aku mencoba mengurai pelukan kami, tetapi Fano menarikku dengan cepat. Tak membiarkanku menjauh. Menghela napas, akhirnya aku tetap membiarkan kami berada dalam posisi seperti ini. Tanganku lantas menyentuh rambutnya, mengusap dengan lembut untuk memberinya ketenangan. "Hey! Tenanglah," bisikku pelan. "Aku sudah memaafkan kamu." "Jangan pergi. Aku mohon." Aku tersenyum pedih manakala dia memohon dengan ratapannya. "Aku nggak akan pergi. Aku di sini." Aku mengucapkannya dengan tegas, berharap Fano percaya bahwa aku memang tidak akan ke mana-mana. Perkataanku barusan bagai sihir hingga membuat Fano serta-merta bersedia melepas pelukannya, tetapi tetap tidak membiarkan tubuh kami berada dalam jarak yang cukup jauh. Aku melepas senyum, menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Kemudian ibu jariku mengusap air mata yang membasahi wajahnya dengan hati-hati. "Aku takut, Ryn." Mata Fano tampak berkaca-kaca saat berucap. "Apa, No? Apa yang kamu takutkan?" Emosiku kembali tersulut. Begitu melankolis saat melihat Fano serapuh ini. Suaraku bahkan tercekat ketika berbicara. "Aku takut kamu meninggalkanku setelah memberi bunga itu. Aku refleks membuangnya. Aku sangat takut." "Apa ini berhubungan dengan masa lalumu?" Fano mengangguk, membenarkan dugaanku selama ini. Pastilah Fano tidak akan bersikap semaunya kalau tak ada yang pernah terjadi di masa lalunya. Kendati penasaran tentang masa lalunya, aku tidak berusaha untuk mencari tahu. Biarkan semua itu tetap menjadi bagian dari rahasia Fano, sebab hubungan ini hanya sementara waktu. Fano mengambil satu tanganku yang berada di wajahnya, menggenggamnya dengan erat. Dapat kulihat sorot di matanya tidak seredup sebelumnya. Tampaknya dia mulai sedikit tenang. "Kamu nggak akan meninggalkanku setelah apa yang kulakukan padamu, kan?" tanyanya, menatapku penuh harap. Aku menggeleng tersenyum. Tidak untuk sekarang. "Oh! Thanks, God!" Dia menghela napas penuh kelegaan. Sementara aku hanya menatapnya dengan d**a yang terasa plong. "Kemarilah, ikut denganku." Fano berdiri, mengajakku untuk ikut bersamanya. Dia menuntunku keluar kamar dengan tetap menggandeng tanganku. Dan aku terus mengikutinya tanpa protes. Setibanya di ruang tengah, mataku dikejutkan dengan banyaknya bunga yang tersusun rapi di sana. Bunga dengan jenis yang berbeda-beda jika aku boleh menambahkan. "Ini ... apa maksudnya?" Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikir Fano. Aku pikir dia membenci bunga, tapi nyatanya dia memberikanku bunga sebanyak ini. "Anggap saja ini sebagai ganti atas bunga pemberianmu yang aku buang kemarin." Terselip nada penyesalan dalam suaranya. Ya, aku tahu dia memang benar-benar menyesal setelah melihat sikapnya tadi. "Auryn," panggil Fano, memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya sebelum membawa kedua tanganku ke dalam genggaman hangatnya. "Mulai detik ini, jangan pernah memberiku bunga apa pun. Biarkan aku saja yang memberikannya kepadamu. Kamu paham?" Permintaanya seolah menghipnotisku untuk menganggukkan kepalaku. Dan memang itulah yang kulakukan. Aku menyetujuinya. "Terima kasih." Dapat kulihat Fano mengembangkan senyumnya sebelum menarikku ke dalam rengkuhannya. Pada akhirnya, aku memang sudah terikat begitu kuat dengannya. Aku terlalu lemah untuk meninggalkan Fano. Dan aku terlalu takut untuk menolak Fano.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN