Bau rempah-rempah tercium di hidungku saat masakan yang berada di atas kompor hampir matang. Aku terbiasa memasak semenjak tinggal berdua bersama adikku. Jadi, bukan hal baru lagi bagiku menghabiskan waktu selama beberapa saat di dapur.
Aku juga bisa mengatur sendiri kadar gizi dalam makanan yang akan kami santap nantinya. Adikku jelas sangat membutuhkan asupan gizi yang baik untuk membantu otaknya mencerna pelajaran di kampus dengan baik. Ya, meskipun sampai detik ini dia tidak lulus-lulus juga.
"Gue pergi dulu, Ryn!" Elon berteriak dari ruang tengah, meminta izin yang sepertinya hanya sekadar angin lalu saja. Toh, kalau tidak kuizinkan, dia akan tetap pergi.
"Jangan lupa pulang!" Aku juga ikut berteriak, tetap berada di dapur dan berharap Elon dapat mendengarku sekaligus mematuhi perintahku.
Ternyata adikku pulang tadi malam. Aku sudah tidak memikirkan apa pun lagi sejak kejadian Fano membuang bunga pemberianku. Oke, aku sedang berusaha melupakan kejadian sialan itu. Jadi, cukup sudah pembahasan mengenai hal itu dan kembali pada keadaan sekarang.
Menurut informasi yang kudapat dari Elon, ternyata dia yang membukakan pintu untuk Fano. Adikku juga yang mengizinkan Fano untuk menunggu di kamarku. Dan yang paling membuatku kaget, ternyata Fano sudah berada di apartemenku sejak tadi malam. Pantas saja aku tak melihat perubahan pada pakaiannya.
Itu artinya Fano menungguiku semalaman ini. Ah! Lagi-lagi dia menunjukkan tindakan yang tak kuduga-duga sebelumnya. Fano memang sesuatu sekali.
"Elon udah pergi?"
Fano muncul manakala aku sedang memindahkan masakan yang telah matang ke piring saji. Wangi sabun dari tubuhnya lebih mendominasi daripada masakanku. Terasa begitu segar di penciumanku.
"Aaaaaaakkkkkk!" Jeritanku keluar secara spontan ketika berbalik dan mendapati Fano bertelanjang d**a.
"Ada apa, Ryn?" Fano seperti tak sadar apa yang membuatku memekik sekuat itu karena dia malah menghampiriku dengan panik.
"Hey! Kenapa?"
Ya, Tuhan! Pria ini benar-benar tidak sadar atau hanya berpura-pura saja? Dia bahkan sudah berada di depanku sekarang, menyentuh tanganku yang menutupi wajahku.
"Itu," Masih dengan satu tangan yang menutupi wajahku, aku menunjuk ke arah tubuh bagian atasnya dengan tanganku yang satunya. "p***o, No. Kamu nggak pake baju."
"Astaga, Auryn," ucapnya, terdengar kelegaan dalam suaranya. "Aku pikir kamu kenapa-kenapa."
Serius, dia benar-benar panik hanya karena mendengar jeritanku?
Lambat laun, kurasakan tubuhnya mulai memberi jarak denganku. Dia sepertinya sedang mencari sesuatu untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Tetapi sungguh, di umurku yang ke dua puluh enam tahun ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seorang pria bertelanjang d**a secara langsung, kecuali adikku. Hidupku dihabiskan dengan mencari uang sehingga aku jarang sekali berkencan. Kalau bukan karena taruhan, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kekasih.
Ya, ini pertama kalinya aku menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan seorang pria. Jadi, aku tidak berpura-pura terkejut ketika melihat Fano bertelanjang d**a. Itu adalah hal baru bagiku.
Aku masih polos.
"Sudah, Ryn. Kamu bisa membuka matamu."
Aku tidak langsung menarik tanganku dari wajahku, tetapi mengintip terlebih dahulu melalui sela-sela jariku. Ketika yakin bahwa dia memang benar-benar sudah menutupi badannya, aku pun membebaskan wajahku.
Yang terjadi selanjutnya adalah tawaku meledak keras. Bagaimana tidak, Fano terlihat sangat aneh dengan handuk yang membalut tubuh bagian atasnya sementara dia sudah memakai celana bahannya.
"Bajuku basah, Ryn," ucap Fano, tahu apa yang menjadi sebabku tertawa. "Maksudnya aku mau minjam baju Elon, tapi dia udah pergi." Terdengar ringisannya di akhir kalimat. Kedua sisi wajahnya juga tampak sedikit memerah manakala dia menggaruk belakang kepalanya.
Fano malu? Astaga! Aku tidak tahu kalau Fano akan seimut itu ketika sedang menahan malu.
"Ayo," ajakku setelah berhasil meredakan tawaku.
Fano berjalan di belakangku, dan aku berusaha untuk tidak menengok ke arahnya kalau tak ingin tawaku pecah kembali.
Aku mengajak Fano ke kamarku. Berhenti di depan lemari dan mencari baju Elon yang belum kusetrika. Lalu, menarik salah satu di antaranya untuk kemudian memberikannya kepada Fano.
"Tutup mata, Ryn," tutur Fano saat baju tersebut sudah berpindah tangan kepadanya.
Aku mendelik. "Ganti di kamar mandi, No!"
Kali ini gantian Fano yang tertawa. Ah, pasti dia senang sekali memiliki bahan godaan baru untukku.
"Nggak kebayang malam pertama kita nanti seperti apa. Kamu bukan teriak-teriak karena keenakan, tapi karena ngeliat aku telanjang," kekehnya.
Bagus! Sekarang Fano menemukan satu lagi kelemahanku. Aku bahkan memerah dibuatnya. Pembahasan macam apa ini?
"Udah sana, buruan pake baju kamu." Aku mendorongnya menuju kamar mandi secara paksa.
Dia masih tetap tertawa bahkan setelah berada di dalam kamar mandi. Aku hanya mengerucutkan bibirku lantas kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Ryn, kamu punya plastik atau paper bag yang udah nggak dipakai?" Suara Fano menginterupsiku yang tengah menyiapkan sarapan di meja makan.
Aku menoleh ke belakang, melihat Fano yang baru mengambil duduk di meja makan. Rambutnya kelihatan masih basah dan berantakan. Entah kenapa tatanan rambut yang seperti itu membuat Fano jauh lebih keren. Dia terlihat ... hot? Apalagi baju Elon yang sedikit kekecilan membungkus pas badannya hingga mencetak jelas bentuk di dalamnya.
"Ryn?"
Teguran Fano membuatku tersentak. Sial! Apa aku baru saja tertangkap basah sedang memerhatikannya? Uh, aku harap ekspresiku tidak terlihat memalukan.
Berdeham pelan, aku pun mencoba untuk menanggapi permintaannya sebelumnya. "Untuk apa?"
"Untuk tempat kemeja sama jasku yang basah," jawab Fano. Syukurlah dia tidak penasaran dengan tingkah anehku tadi.
Kakiku melangkah menuju kulkas untuk mengambil air mineral. "Nggak usah kamu bawa pulang. Biar aku aja yang nyuci nanti."
"Jangan. Nanti biar aku bawa ke laundry."
Setelah meletakkan dua buah gelas di meja makan, aku menatap Fano lekat-lekat, tidak lupa menyipitkan sedikit mataku. "Kamu takut kemeja sama jas kamu rusak kalo aku yang nyuci?" Aku pura-pura tersinggung saat memberi pertanyaan tersebut.
Hanya pura-pura. Aku tidak sesensitif Fano.
Fano tertawa pelan. Menyentuh sisi wajahku dengan tangan besarnya. "Bukan gitu. Aku nggak mau kamu sakit."
Bibirku mengerut cemberut. "Nyuci itu doang nggak bakal bikin aku sakit, No."
Ujung ibu jari Fano menyentuh bibirku, mengusapnya pelan untuk mengurai bibir cemberutku. "Sekali enggak tetap enggak. Kamu paham?"
Meski diucapkan dengan suara yang begitu lembut, aku tetap menangkap nada tidak ingin dibantah dalam suaranya.
Alhasil, aku pun mengangguk. Untuk yang ke sekian kalinya, aku kembali menemui kekalahan ketika berdebat dengan Fano.
"Jangan cemberut." Fano bangkit dari duduknya, memutus jarak denganku sebelum mendekapku. "Kamu tahu, aku ngelarang kamu karena aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
Menghela napas panjang, aku pun membalas pelukannya. Menyamankan kepalaku di dadanya.
Mungkin menyuci bagi Fano sama halnya dengan bermain-main di kandang buaya. Membahayakan. Untuk itu aku hanya mengiyakan permintaannya.
Aku baru saja ingin mengurai pelukan kami saat ponsel Fano berdering. Dia tetap merangkul pinggangku tatkala tangannya terjulur untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
Brisa.
Nama itu yang terpampang di layar ponsel Fano saat aku mengintipnya. Dan pikiranku mulai berkelana ke mana-mana, menyusun spekulasi kenapa Brisa menelepon Fano.
Seketika perasaanku menjadi tidak enak.