Keheningan membentang selama tiga menit, atau mungkin lima. Panggilan pertama dari Brisa sudah berakhir, tetapi gadis itu masih menghubungi Fano dan sekarang sudah yang ketiga kalinya. Aku dan Fano sama-sama terdiam. Hanya ponselnya saja yang berdering. Aku menunggu respons Fano dengan waswas. Sementara dia sudah mengabaikan panggilan Brisa untuk yang ketiga kalinya.
Sampai akhirnya aku mendapatkan suaraku kembali, memecah sunyi di antara kami.
"Kamu ... masih berhubungan dengan Brisa?"
Fano menolehkan kepalanya ke arahku begitu cepat, seakan bisa mematahkan persendiannya. "Kamu kenal Brisa?"
Damn! Aku benar-benar lupa kalau seharusnya aku berpura-pura tidak mengenal Brisa di hadapan Fano. Jika seperti ini, maka Fano akan menaruh curiga nantinya. Aku membutuhkan tiga bulan lagi untuk tetap bersama Fano.
Mengerem detak jantungku yang menggila akibat takut ketahuan Fano, aku mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
"Maksud kamu?" Aku mulai berpura-pura, memainkan sedikit kata-kata untuk mengelabuinya.
"Kamu bertanya soal Brisa, kan?"
Aku menaikkan sebelah alisku. Setelah bermain kata-kata, aku juga mencoba untuk memainkan ekspresiku. Lantas aku menggeleng, sebagai jawaban atas pertanyaannya. "Aku cuma bertanya apa kamu punya hubungan dengan perempuan lain?"
Good job, Auryn! Yang harus aku lakukan saat ini hanyalah berdoa supaya Fano percaya pada semua kebohonganku.
Kegugupanku naik satu level ketika melihat raut curiga Fano yang belum hilang dari wajahnya. Napasku tak beraturan karena aku cenderung menahan napas saking cemasnya menunggu reaksinya.
Kelegaan langsung membanjiri diriku saat melihat kecurigaan di wajah Fano menghilang. Bertepatan dengan itu pula dering di ponsel Fano berhenti.
Aku bersyukur untuk dua hal. Yang pertama tentulah karena Fano tidak mengangkat telepon Brisa. Aku hanya takut Brisa mengatakan soal taruhan kami dan menggagalkan kemenangan yang sudah di depan mata. Oleh sebab itu, aku refleks bertanya mengenai Brisa.
Dan yang kedua, aku bersyukur Fano memercayai ucapanku. Entah apa jadinya kalau dia menginterogasiku. Rasanya sangat sulit berbohong di depan Fano bila dia sudah mendesak untuk berkata jujur.
"Dia bukan siapa-siapa," ujar Fano, meletakkan kembali ponselnya di atas meja tanpa peduli dengan panggilan Brisan barusan.
Fano lantas memutar tubuhnya hingga kami saling berhadapan. "Cemburu, eh?" Seringai jahil muncul di kedua belah bibirnya.
Aku memajukan bibirku beberapa centi. "Memangnya cuma kamu aja yang boleh cemburu?"
"Jadi, benar kamu cemburu?" Dia kembali bertanya, kali ini dengan pupil yang membesar, seolah baru memenangkan lotre senilai jutaan dolar.
Oh! Sebegitu senangnyakah dia melihatku cemburu? Tidak buruk rasanya sesekali membuat Fano bahagia.
Aku mengangguk, masih dengan bibir yang cemberut. Pura-pura tak senang melihat Fano mendapat panggilan dari perempuan lain.
Mulutnya mengeluarkan kekehan kecil. "Akhirnya ada juga yang bisa membuat kamu cemburu." Cubitan pelannya mendarat di kedua pipiku saat dia berbicara.
Aku menyingkirkan tangannya dari wajahku. "Siapa Brisa?" Nada kesal terselip dalam suaraku.
"Sudah kubilang dia bukan siapa-siapa, Auryn."
"Lalu, kenapa dia terus menghubungi kamu? Bahkan sampai tiga kali." Aku mengangkat ketiga jariku padanya.
"Astaga! Kenapa kamu jadi kelihatan sangat menggemaskan ketika sedang cemburu seperti ini?" Seolah tak jera, Fano kembali mencubit pipiku.
"Fano." Suaraku kali ini terdengar seperti sebuah rengekan, bermaksud meminta Fano untuk serius.
Tetapi entah kenapa aku merasa ikut bahagia melihat senyum Fano yang seceria ini. Dia benar-benar tampak gembira. Sisi positif dalam dirinya kembali unjuk diri. Bagian lain dari dirinya yang terkadang membuatku melupakan bahwa sebelumnya dia telah menginjak-injak harga diriku. Sisi lain yang juga mendatangkan sebongkah perasaan bersalah sebab hanya menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan.
"Aku nggak bohong, Ryn. Dia bukan siapa-siapa. Aku bahkan nggak punya hubungan apa-apa dengannya."
"Beneran?" Mataku menyipit saat menatapnya.
Fano menarik tangannya dari pipiku. "Lihat aku," suruhnya. Aku menghela napas sejenak sebelum menurutinya. "Apa aku kelihatan sedang berbohong?"
Tidak. Sejak kapan memangnya Fano berbohong? Sekalipun tidak pernah. Malah, aku yang sering berbohong kepadanya. Ya, Tuhan! Dosaku pasti sudah setinggi gunung sekarang.
Fano selalu tulus dalam melakukan sesuatu, apa pun itu. Dan aku selalu mempermainkannya.
Oke, sudah cukup membahas soal keburukanku. Aku terlihat sangat jahat sekarang.
Mengalungkan lenganku di leher Fano, aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya sebelumnya. "Kalau begitu, jangan pernah berhubungan dengannya."
Permintaanku yang satu ini sejujurnya hanya akal-akalanku saja. Fano tidak boleh berhubungan dengan Brisa. Oh! Tentu saja aku tidak cemburu, tetapi hanya takut kalau Brisa membocorkan soal taruhan kami.
Brisa sangat licik. Dia tidak mungkin membiarkanku menang dengan mudah. Apalagi saat tahu bahwa aku berhasil mendapatkan Fano hanya dalam waktu satu minggu, sedangkan Brisa ditolak mentah-mentah oleh Fano. Aku yakin sekali Brisa tengah merencanakan sesuatu. Itu sebabnya dia menghubungi Fano.
"Apa aku perlu memblokirnya?"
Aku terkekeh. "Berjanjilah, Fano. Jangan pernah berhubungan dengan perempuan lain, terutama yang baru saja meneleponmu."
"Oke, sepertinya aku memang harus memblokirnya," balasnya sembari mengambil ponselnya.
Aku kembali terkekeh. Semoga saja Fano benar-benar tak tertarik dengan Brisa. Aku merasa berada satu langkah di depan Brisa saat Fano mengabaikan panggilannya. Setidaknya aku dapat memercayai Fano lewat sikapnya tadi.
"Ayo, sarapan." Aku menarik diriku dari Fano, mengambil duduk di salah satu kursi dengan senyum lebar.
Fano mengikutiku, duduk di tempat sebelumnya, tepat di sampingku.
"Kamu kerja hari ini?" Aku menyendok nasi goreng dan menaruhnya di piring Fano.
"Ya. Aku ada meeting jam sepuluh nanti."
Pandanganku beralih pada jam yang menggantung di dinding, kemudian membelalak lebar manakala kembali menatap Fano. "Dan sekarang udah jam setengah sepuluh, No!" pekikku, sedikit histeris.
Aku sudah tak heran lagi jika Fano bekerja di akhir pekan. Statusnya sebagai direktur utama di sebuah stasiun televisi memang membuat jam kerjanya menjadi fleksibel. Televisi memang tidak pernah istirahat.
Dan sekarang dia malah terlihat santai saat meeting akan dilakukan dalam waktu setengah jam ke depan. Kalau aku jadi Fano, mungkin aku sudah pontang-panting mengejar waktu.
"Kamu kenapa santai banget, sih, No? Setelah ini, kamu masih harus pulang untuk ganti baju, kan?"
Fano menggeleng, memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. "Asistenku sedang dalam perjalanan ke sini untuk mengantar pakaianku."
Aku menganga ke arahnya, kemudian menggeleng takjub. Dasar bos besar. Kerjaannya pasti lebih banyak menjadi tukang suruh.
"Kalau begitu cepat habiskan sarapan kamu, No. Aku ambil jas sama kemeja kamu dulu."
Aku berlalu meninggalkan Fano di meja makan seorang diri. Sementara aku berlekas-lekas mencari paper bag sebagai tempat jas dan kemejanya.
Ya, Tuhan! Fano yang terlambat, tapi aku yang kerepotan. Ah, aku memang tidak bisa mendengar kata terlambat.
Aku kembali ke ruang makan setelah selesai dengan jas dan kemeja Fano. Kulihat Fano belum menghabiskan sarapannya. Aku pun berdecak saat dia malah berhenti menyantapnya.
"Kenapa belum dihabi—"
Kalimatku menggantung begitu saja saat aku menemukan Fano tengah memusatkan perhatiannya pada ponselku.
Dia mendongak menatapku, lantas menunjukkan layar ponsel tersebut kepadaku. "Ini siapa?"
Aku segera merebutnya dari Fano. Semoga saja aku tak mendapat pesan dari seorang pria. Aku sudah merasa cukup baik dengan situasi sekarang. Dengan Fano yang sedang dalam perwujudan malaikat.
Aku tahu dia bersamamu. Selamat bersenang-senang kalau begitu.
Napasku tercekat ketika membaca sederet pesan tersebut. Meski pesan tersebut kudapat dari nomor asing, pengirimnya sudah bisa kutebak.
Brisa.
Ya. Itu sudah pasti Brisa.