Bab 10

1050 Kata
Aku sedang berada di kamar saat bel apartemenku berbunyi. Awalnya aku ingin mengabaikannya, tetapi suara dari bel tersebut tak kunjung berhenti dan membuat pikiranku yang tengah merangkai berbagai macam adegan untuk novel karanganku jadi buyar. Terpaksa aku mengangkat bokongku dari atas sofa lantas berjalan menuju pintu utama dengan langkah malas untuk melihat siapa yang memencet bel di tengah malam seperti ini. Tatkala kakiku sudah berada di luar kamar, aku berhenti sebentar untuk melihat apakah adikku sudah pulang atau belum. Dan kamarnya yang tak berpenghuni sudah menjawab semua pertanyaanku tentang Elon. Ah! Adikku itu benar-benar anti sekali sepertinya bila hanya berdiam diri di rumah. Aku akan menghubunginya setelah ini, memaksanya untuk pulang. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju pintu utama, mengintip lewat monitor untuk mengantisipasi kalau saja yang datang adalah orang asing. Pasalnya, ini sudah hampir jam dua belas malam. Memangnya siapa yang mau bertamu di tengah malam seperti ini? Sepertinya pengecualian untuk tamu yang satu ini. Dia memang suka sekali datang di jam-jam yang tidak masuk akal. Setelah mengetahui bahwa yang memencet bel sejak tadi adalah Fano, aku langsung membuka pintu tanpa ragu. "Hai! Ada apa?" sambutku dengan senyum yang sengaja kulemparkan kepadanya. Untuk sesaat, tidak ada suara yang keluar dari mulut Fano. Dia hanya terus menatapku dengan sorot yang menunjukkan ... kelegaan? Entahlah, aku tak terlalu paham dengan sikap Fano kali ini. Tiba-tiba dia datang ke apartemenku di tengah malam seperti ini setelah satu harian ini tidak menghubungiku sama sekali. Dan jangan lupakan pula tentang dirinya yang kelihatan acak-acakan. Dengan lengan kemeja yang digulung sampai sebatas siku dan dasi yang ikatannya entah seperti apa. Fano tampak kacau. Dan itu jelas saja langsung memunculkan kebingungan dalam diriku. "Kamu ... baik-baik saja, kan?" Fano akhirnya bersuara, walau apa yang keluar dari mulutnya masih tak bisa kutangkap maksudnya dengan baik. "Ya. Aku baik-baik saja." Akhirnya aku menyahutinya, masih dalam keadaan bingung. Fano menghela napas kasar, begitu kuat sampai telingaku bisa mendengar dengan jelas suara napasnya. Hingga dia mendekatiku tanpa peringatan, menarik tubuhku untuk masuk ke dalam pelukannya. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat khawatir." Fano tidak mencoba untuk menyembunyikan nada cemas dalam suaranya. Dia melakukannya secara terang-terangan. Tubuhku masih belum pulih dari kebingungan. Tampaknya aku harus menggali lebih dalam mengenai apa yang terjadi pada Fano malam ini. Bukan hal baru lagi bagiku melihat Fano bertingkah seperti ini. Dapat kukatakan kalau kepribadian Fano memang sedikit aneh. Jadi, aku pasti bisa menanganinya dengan baik. "Satu harian ini aku di rumah. Sudah pasti aku baik-baik saja." Aku balas memeluk Fano, menenangkan dirinya dengan cara mengusap punggungnya. "Kenapa tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku?" tanyanya, mengurai pelukan kami perlahan-lahan. Alisku naik hingga ke garis rambutku. "Kapan kamu meneleponku? Bukannya kamu nggak menghubungiku selama satu harian ini?" Oh! Semoga saja kalimatku barusan tidak terdengar sedang menyindirnya. Aku tak ingin membuat Fano merasa menjadi lebih buruk dari ini walau sejujurnya aku agak kesal karena dia seolah-olah mengabaikanku. "Aku menghubungi kamu berkali-kali saat sedang dalam perjalanan ke sini." "Benarkah?" Fano mengangguk. "Kamu nggak tahu?" "Handphone-ku dalam mode silent. Dan sejak beberapa jam yang lalu aku sibuk dengan laptopku. Maaf." Sekali lagi aku menangkap Fano sedang menghela napas. "Nggak apa-apa. Setidaknya kamu baik-baik saja sekarang." "Memangnya akan ada sesuatu yang terjadi padaku?" Aku melipat kedua tanganku di depan d**a, melayangkan tatapan intens kepadanya. "Kenapa kamu sampai seperti ini, hm?" Fano memegang kedua pundakku, meremasnya pelan seiring dengan matanya yang juga memandangku sama lekatnya. "Aku berharap nggak akan ada sesuatu yang terjadi sama kamu. Terutama sesuatu yang buruk." Entah ini hanya perasaanku saja atau memang Fano terlihat ketakutan saat mengatakan hal itu. Kedua matanya bahkan sempat terpejam sekian detik. Setakut itukah Fano bila hal buruk terjadi padaku? Tetapi bukan itu yang mendominasi pikiranku saat ini. Aku penasaran jika sikap Fano pasti masih berhubungan dengan sesuatu yang membuatnya setakut ini. Sayangnya otakku terlalu lelah untuk memikirkan sesuatu apa yang Fano takutkan. Fano menggenggam daguku lantas memajukan wajahnya, seperti ingin menciumku. Aku membiarkannya, menunggu bibirnya mendarat di tempat yang diinginkannya. "Dor!" Aku refleks mendorong Fano sedetik setelah bibirnya menyentuh sudut bibirku. Jantungku berdenyut hebat akibat adrenalin yang berpacu kuat ketika seseorang memergoki diriku yang hampir berciuman. Sial! Itu memalukan. Aku bahkan tak memiliki keberanian untuk menengok ke asal suara dan mencari celah agar aku dapat masuk ke apartemen tanpa perlu menunjukkan wajah merah padamku. "Seharusnya kamu lebih pengertian, Elon. Masuklah perlahan-lahan tanpa membuat suara." Telingaku menangkap suara Fano. Terdengar kesal, walau aku tahu itu hanya pura-pura saja sebab ada nada jenaka yang terselip dalam suaranya. Yang lebih menarik perhatianku dari perkataan Fano barusan tentulah saat dia menyebutkan nama Elon. Jadi, yang tadi mengagetkan kami adalah Elon? Seketika aku mengangkat kepalaku, memutarnya sekian derajat hingga mataku menemukan Elon. Tatapan setajam elang kuberikan kepadanya sebelum aku mendekatinya hanya untuk menendang kakinya. "Astaga! Sakit, Ryn!" Aku tidak peduli saat Elon mengerang kesakitan. Biarkan saja. Biar tahu rasa dia. "Masuk sana!" Aku mendorongnya secara paksa sampai dia masuk ke dalam apartemen. "Iya-iya, gue masuk." Tawa Fano terdengar setelah aku berhasil memaksa Elon untuk masuk. Tatapanku lantas kembali terpusat padanya. "Lain kali jangan asal cium, No." Aku memberi peringatan pada Fano. "Kenapa kamu nggak nolak? Kamu bahkan memejamkan kedua matamu tadi." Fano menaikturunkan alisnya, tampak senang menggodaku. Aku berdecak dan mencibirnya. "Udah, sana pulang." "Aku diusir?" "Iya," balasku dengan sadis, langsung mendorongnya menuju lift. Fano kembali terkekeh. Dia kemudian menahan tubuhnya dan doronganku terhenti sampai di situ. Berbalik, Fano langsung menangkup wajahku lantas merendahkan sedikit tubuhnya agar tatapan kami sejajar. "Nggak ada ciuman selamat malam?" Dia menyapu jarinya menuruni pipiku dan berhenti tepat di bibirku. Aku berdecih, tetapi tetap berniat untuk mengabulkan permintaannya. Mataku kemudian menengok ke kanan dan kiri sejenak, memastikan bahwa tak ada orang lain selain kami sebelum memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Fano. Ciuman yang ternyata tidak sesingkat yang aku rencanakan karena Fano malah melumat bibirku. "Well, ini dia p*****r yang selalu menggoda Fano." Sekali lagi aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Yang kali ini dapat kupastikan bukan Elon karena suaranya milik seorang perempuan. Aku dan Fano sama-sama menarik diri. Menoleh ke asal suara secepat kilat. Entah seperti apa ekspresi Fano saat ini, karena yang kutunjukkan setelah menemukan seseorang yang menginterupsi kegiatan kami adalah membuka mulutku selebar mungkin dengan mata yang juga membesar. Seseorang itu tak lain adalah Brisa, tetapi dia tidak sendirian. Ada satu orang wanita paruh baya di sisinya, yang tampak asing di mataku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN