"Well, ini dia p*****r yang selalu menggoda Fano."
Mulutku masih menganga lebar sejak kemunculan Brisa dan wanita paruh baya yang tak kukenal. Kekagetanku sudah berlangsung sekitar lima atau enam detik. Aku bahkan tidak bisa memutar pandanganku hanya untuk meneliti seperti apa raut wajah Fano saat ini.
Kedatangan Brisa yang biasanya selalu kusambut dengan sorot yang angkuh dan dagu yang kuangkat sebagai tanda bahwa aku tidak takut dengan segala gertakannya, kini sungguh berbeda. Firasatku tak enak sejak melihat Brisa tidak datang seorang diri. Aku yakin sekali jika wanita yang datang bersama Brisa masih ada hubungannya dengan Fano.
See, Brisa sangat licik sampai rela menghalalkan berbagai cara hanya untuk menghalangi kemenanganku. Seperti halnya dia yang baru saja memfitnahku dengan mengatakan bahwa aku adalah pelacurnya Fano.
Di detik berikutnya, perlahan aku mulai dapat mengatur ekspresiku, menghilangkan raut keterkejutan. Bersamaan dengan itu, kehangatan terasa melingkupi tanganku. Ketika kepalaku akhirnya bisa digerakkan, aku pun mendapati Fano lah yang menggenggam tanganku.
Dia maju selangkah. Meski tidak menghalangi pandanganku, dia tetap terlihat seperti sedang melindungiku. Aku cukup tenang atas pembelaannya padaku yang merasa sedikit terpojok dalam situasi ini.
"Sudah kubilang jangan mencoba untuk mengganggunya," geram Fano, tidak menyembunyikan kemarahan dalam suaranya.
Brisa menaikkan satu sudut bibirnya, membentuk senyum culas yang kerap mengundang amarah dalam diriku.
"Apa yang kamu lihat dari p*****r ini, Fano? Brisa bahkan jauh lebih baik dari kamu."
Kali ini gantian wanita paruh baya itu yang angkat suara. Nada angkuhnya serta cemoohan yang dia lontarkan kepadaku membuatku mendengkus tanpa sadar.
Siapa pun wanita itu, aku mulai tidak suka dengannya. Persetan bila wanita itu ternyata merupakan ibu Fano. Aku tak punya urusan dengannya. Tanpa berpura-pura baik di depannya, Fano tetap akan berada di pihakku. Aku yakin itu. Jadi, sia-sia rasanya kalau Brisa menggunakan keluarga Fano untuk menjatuhkanku.
"Jangan menyebutnya seperti itu," balas Fano.
Amarahnya sepertinya mulai naik sedikit demi sedikit. Terlihat jelas dari genggamannya yang mengerat hingga membuatku hampir meringis, tetapi tampaknya Fano langsung menyadari bahwa dia menyakitiku dan perlahan genggamannya kembali melonggar.
"Tante Faya, lihatlah Fano sekarang. p*****r itu berhasil memengaruhinya rupanya."
Brisa sialan! Kalau saja Fano sedang tidak berada dalam posisi sebagai pelindungku dan aku menghargainya, mungkin aku sudah menyulut mulut kurang ajarnya itu dengan besi panas.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya wanita yang bernama Faya itu, terlihat sibuk merogoh tasnya.
Habis sudah harga diriku di hadapan dua wanita k*****t ini. Darahku terasa mendidih, membakar kemarahan yang sudah siap kuledakkan detik ini juga.
Tanpa berpikir dua kali, aku mencoba meloloskan tanganku dari pegangan Fano untuk memberi pelajaran pada dua wanita itu, tetapi belum sempat aku melakukannya, Fano sudah lebih dulu menarik dirinya. Hingga di detik berikutnya aku terkesiap dibuatnya, mulutku menganga sekali lagi, dengan mata yang ikut mendelik kaget.
Bawah sadarku bersorak di dalam hati saat Fano membelaku sampai seperti itu. Oh! Kalau kalian ingin tahu, yang dia lakukan saat ini adalah membuang tas Faya hingga terlempar jauh dari posisi kami berdiri, lalu mendorong Faya sampai punggungnya menempel ke dinding sebelum satu tangannya jatuh di atas lehernya untuk kemudian mencekiknya.
Mungkin itu terlihat berlebihan dan tak pantas dilakukan oleh Fano sebab bagaimanapun juga, Faya jelas lebih tua darinya. Tetapi entah kenapa aku senang. Uh! Apa aku terlihat jahat?
"Fano, berhenti!" Brisa masuk di antara keduanya. Wajah angkuhnya sudah bertransformasi, dipenuhi ekspresi panik ketika memisahkan Fano dari Faya.
"Dia milikku. Jangan pernah sekalipun mengganggu milikku." Fano berbicara tepat di depan wajah Faya yang tengah menahan sakit.
"Lepas, Fano! Ini berlebihan!"
"Kamu yang berlebihan!" Kali ini Fano berteriak tepat di depan wajah Brisa meski cengkeramannya di leher Faya tidak merenggang sedikit pun. Brisa pada akhirnya mundur karena terlalu kaget dengan bentakan Fano.
Sementara aku hanya menontonnya. Menyenangkan sekali rasanya melihat Brisa memasang wajah seperti itu. Di tampak tidak berdaya. Kapan lagi aku bisa menikmati ekspresi Brisa yang seperti itu? Aku akan merekamnya dan menyimpannya di dalam memoriku.
"Apa-apaan ini!"
Aku memutar tubuhku ke belakang, menemukan Elon yang diserang panik saat melihat kekacauan ini. Dan dia yang menjadi penyelamat Faya sebab tanpa ragu Elon menarik Fano untuk menjauh dari wanita paruh baya itu.
Adikku melakukan kebaikan pada waktu dan tempat yang salah.
"Kak, sadarlah! Lo bisa ngebunuh dia," ucap Elon, mengguncang bahu Fano saat dia terus memberontak karena dipisahkan dari mangsanya.
Sedangkan Faya terbatuk-batuk di tempatnya sebelum tubuhnya meluruh dan terduduk di lantai. Brisa segera berlari ke arahnya dan membantunya untuk mengatur napasnya yang berantakan.
"Kenapa lo diem aja, Ryn?" Gantian Elon meneriakiku, menyadarkanku dari kesenangan dalam alam bawah sadarku.
Hanya butuh sekitar dua detik untuk memecah kabut di otakku sebelum kesadaranku kembali seutuhnya.
"Fano, tenanglah." Aku sudah berdiri di depan Fano, menggantikan Elon. Mengusap lengan atasnya, berharap emosinya menguap.
"Sebaiknya ajak Kak Fano masuk ke dalam," saran Elon.
Aku mengangguk menyetujui Elon tanpa mengalihkan tatapanku dari Fano. Dia tidak melihatku awalnya, tetapi kemudian mata kami beradu, dan dapat kurasakan tubuhnya tak sekaku sebelumnya. Dia sudah lebih rileks.
"Mau masuk bersamaku?"
Fano memejamkan matanya sejenak, kemudian sorotnya kembali beralih pada Brisa bertepatan dengan Brisa yang juga tengah menatapnya. "Kita harus berbicara setelah ini," katanya, dengan penegasan yang kuat, seolah tak ingin dibantah.
Tanpa menunggu jawaban Brisa, Fano berbalik dan masuk ke dalam sambil menggandeng erat tanganku.
"Biarkan saja mereka," ucapku pada Elon yang masih memerhatikan Brisa dan Faya.
Elon mengangguk, ikut menyusulku dan Fano lantas menutup pintu.
"Pergilah ke kamarmu, Elon. Aku harus berbicara berdua dengan Fano."
Aku bersyukur saat Elon menurutiku tanpa protes meski wajahnya masih menunjukkan rasa penasaran.
"Mereka yang aku maksud, Ryn," kata Fano sepeninggal Elon.
Sekarang aku tahu apa yang membuat Fano datang ke apartemenku di tengah malam seperti ini. Ternyata dia hanya berusaha melindungiku dari Brisa dan Faya.
Aku turun dari sofa, bersimpuh di hadapan Fano dengan jemari kami yang saling terkait. "Aku bisa lebih cerdas dari mereka, No. Kamu nggak perlu khawatir kalau mereka bakal nyakitin aku."
Fano menggeleng. Mata abu-abunya yang indah, kini berkilat ketakutan. "Mereka sangat licik, Ryn."
Aku tahu itu. Brisa memang sangat licik, dan selama menjadi musuhnya, aku tidak pernah mengalami luka di fisikku. Biasanya Brisa hanya akan menyerangku dengan kata-katanya yang mengandung racun. Jadi, aku tidak perlu takut dengannya.
Menarik napas panjang, aku menarik pandanganku dari Fano, berpaling menatap telapak tangannya yang kini terbuka.
"Kamu nggak seharusnya mengotori tangan kamu, No." Usapan lembutku mendarat di telapak tangan Fano.
"Apa pun akan kulakukan untuk melindungi kamu, Ryn. Apa pun."
Aku tersenyum, merasa senang untuk keprotektifan Fano kali ini, tidak risi seperti yang lalu-lalu.
Mataku kembali berpandangan dengan Fano ketika aku mengangkat kepala. Dan pertanyaan yang selama ini hanya tersimpan di dalam otakku, kini keluar dengan sebegitu luwesnya. "Apa yang kamu rasakan untukku, No? Apa kamu mencintaiku?"
Ini pertama kalinya aku menanyakan tentang perasaan Fano. Seketika aku dilingkupi oleh kegugupan yang luar biasa. Pasalnya, sejak kami bertemu untuk yang pertama kalinya, Fano tak mengatakan bahwa dia mencintaiku. Atau setidaknya kata-kata lain yang masih berhubungan dengan isi hatinya terhadapku.
Aku masih menunggu jawaban Fano, tetapi sepertinya aku harus menelan kekecewaan ketika Fano merangkum wajahku dan hanya mencium sekilas keningku tanpa adanya jawaban yang kutunggu-tunggu.
Selanjutnya dia malah berkata, "tidurlah, ini sudah malam."
Dan aku hanya tersenyum, senyum yang tidak mencapai mataku karena terlalu lemah untuk tersenyum di saat hatiku terasa pedih.
Sungguh, aku bahkan tidak mengerti kenapa aku merasa sangat kecewa hanya karena hal yang sebelumnya kuanggap tidak penting.