Fano menelepon ketika aku sedang sibuk memilih pakaian yang hendak kugunakan untuk makan malam bersamanya.
"Hai," sapaku terlebih dahulu setelah menggunakan handsfree supaya aku tetap bisa bergerak bebas.
"Sedang apa?"
Aku mengulum senyum mendengar pertanyaan klisenya. Serius, Fano tak pernah menghubungiku hanya untuk sekadar menanyakan apa yang sedang kulakukan. Dia akan meneleponku jika ada sesuatu yang menurutnya cukup penting saja.
"Memilih pakaian untuk makan malam kita nanti."
"Pakailah pakaian yang tertutup."
"Rencananya aku akan menggunakan dress dengan bahu terbuka," godaku, ingin mencari tahu apa responsnya.
"Tidak masalah. Aku memakai jaket malam ini."
Aku mendengkus geli. Berhenti sejenak dari kegiatanku dan bersandar pada lemari. "Dan kamu akan menggunakan jaket itu untuk menutupi bahuku?"
"Benar sekali."
Tawaku meletus, dan telingaku dapat mendengar Fano juga turut tertawa walau tak sekeras milikku.
"Kamu lagi di mana?" Aku kembali melanjutkan kegiatanku mencari pakaian.
"Di lift."
"Lift? Masih di kantormu?"
"Apartemenmu."
"Benarkah?" Tubuhku membeku dengan tangan yang menggantung di udara, memegang salah satu terusan yang hendak kukeluarkan. "Tapi ini masih jam enam, No. Kamu kan mau jemput aku jam tujuh malam."
"Ya, tapi aku sudah pulang sejak jam lima sore tadi. Dan aku nggak sabar untuk ketemu sama kamu."
Yang benar saja! Aku bahkan masih menggunakan jubah mandiku dengan rambut basah sehabis keramas. Aku pun masih bingung akan mengenakan pakaian yang mana nantinya.
"Dan sekarang aku sudah di depan apartemenmu."
Fano tidak main-main. Setelah dia mengucapkan sederet kalimat itu, bel apartemenku berbunyi.
"Bisa bukakan pintu untukku?"
Oh, Fano sialan! Aku bisa mendengar nada menggoda dalam suaranya.
"Satu menit, Auryn. Aku nggak bisa menunggu terlalu lama."
Dasar, Si Tuan Pemaksa.
Tanpa memusingkan apa yang sedang kukenakan sekarang, aku memutus sambungan telepon kami, melepas handsfree dan meletakkannya di atas meja secara asal sebelum membawa langkahku meninggalkan kamar dan membukakan pintu untuk Fano.
Begitu pintu terbuka, hal pertama yang aku dapatkan adalah seringaian Fano. Pandanganku kemudian jatuh pada pakaian yang digunakannya. Terlihat simpel dengan kaus abu-abu yang dipadukan dengan jaket hitam serta jeans yang juga berwarna hitam yang menutup sampai ke mata kakinya.
Aku pikir makan malam kali ini akan berjalan dengan formal. Tahu begitu aku tidak perlu repot-repot memilih dress apa yang akan kupakai. Cukup dengan jeans dan kaus saja, seperti halnya Fano.
Tetapi syukurlah Fano datang di saat aku belum menentukan pakaian apa yang akan kukenakan. Bisa-bisa aku salah kostum bila tidak melihat gaya berpakaiannya yang sederhana.
"Masuklah," suruhku, bergeser sedikit ke samping untuk menyediakan jalan bagi Fano.
"Apa kamu sering membukakan pintu untuk seseorang yang bertamu dengan jubah mandi seperti itu?"
Aku menutup pintu, menyusul Fano yang sudah mengambil duduk di sofa ruang tengah. Wajahnya menunjukkan perubahan yang signifikan. Senyum sudah tidak tampak lagi di sana, yang ada hanya raut menghakiminya.
Apa dia akan mengajakku berdebat lagi? Ya, Tuhan!
"Baru sama kamu, No," jawabku, membuang napas panjang sebagai tanda bahwa aku sedang tak ingin beradu argumen dengannya.
"Jangan berani melakukannya di depan orang lain," ancam Fano, terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Nggak akan," balasku malas-malasan.
"Aku serius, Auryn."
"Aku tahu!" Bentakanku akhirnya tak dapat kutahan. Aku hanya tidak suka jika Fano sudah mempermasalahkan hal yang sebenarnya tidak perlu.
Fano mengerutkan dahi tatkala dia bangkit berdiri, berjalan beberapa langkah hingga dia tiba di depanku. "Aku hanya memperingatimu."
"Aku tahu, No." Suaraku melemah, kehilangan nyali saat menemukan wajah Fano yang sudah dikelilingi kemarahan.
"Apa yang akan terjadi kalau orang lain yang menemukanmu dengan jubah sialan ini?"
Aku tersentak ketika Fano memegang kerah jubah mandiku dan menariknya sampai membuat tubuhku juga ikut terseret ke arahnya.
Panik menyerangku. Tidak ada yang dapat kupikirkan selain melepaskan diri dari jeratan Fano. Kedua mataku mengedarkan tatapannya ke sekeliling ruangan untuk mencari celah agar bisa kabur, tetapi tangan Fano yang masih berada di jubah mandiku pasti akan mempersempit ruang gerakku.
Monster dalam diri Fano sudah menampakkan dirinya, dan ini pertanda buruk.
"Apa yang akan kamu lakukan jika seseorang melakukan ini padamu?" Fano menarik ikatan jubah mandiku, dan aku kembali dibuat terkejut.
Sebelum tubuhku yang tanpa sehelai benang pun terpampang akibat ikatan di jubah mandiku yang terlepas, aku langsung menahannya dengan kedua tanganku. Memeluk sendiri tubuhku dengan erat.
Aku tahu Fano sangat marah. Terlihat dari wajahnya yang memerah, juga giginya yang bergemeletuk hebat. Tetapi apa dia harus semarah ini hanya karena aku membukakan pintu dengan jubah mandi? Padahal, sebelumnya dia yang menyuruhku untuk bergegas hingga membuatku mengabaikan apa yang kukenakan.
"Kamu takut, bukan?"
Napasku terdengar tak beraturan. Ya, aku takut. Sangat.
"Sialan!"
Umpatan Fano dibarengi dengan dirinya yang menyambar bibirku, memaksaku untuk berciuman dengannya.
Aku jelas memberontak, tetapi terlalu sulit karena kekuatanku tak sebanding dengan miliknya. Dia mencumbuku dengan amarah, begitu kuat bibirnya menekan bibirku.
Aku yakin masih sanggup menahannya kalau saja tangan Fano tidak bergerak menyentuh dadaku. Detik itu pula air mataku sudah tak bisa lagi dibendung. Aku menangis sejadinya, sementara tubuhku menggigil ketakutan.
Di detik berikutnya, aku mendengar Fano kembali mengumpat sebelum aku merasakan tubuhku terbebas dari kukungannya. Aku langsung jatuh meluruh, tak bisa lagi menahan bobot tubuhku ketika kakiku terasa seperti tak bertulang.
Dalam posisi berjongkok, aku memeluk tubuhku sendiri dengan tangis yang masih belum dapat kuhentikan. Entah apa yang sedang Fano lakukan saat ini, aku tak peduli. Instingku hanya memintaku untuk melindungi diriku sendiri. Dan itulah yang kulakukan.
"Ryn."
Aku mendengar Fano memanggilku. Suaranya bergetar dan penuh rasa bersalah. Tetapi yang kulakukan saat mendengar lidahnya menyerukan namaku adalah menutup telingaku lantas menggeleng beberapa kali.
Aku masih dilanda ketakutan yang begitu besar.
"Pergi," lirihku, berharap Fano bisa mendengar pengusiranku. Aku hanya belum sanggup mengeluarkan suara yang kuat karena isak tangisku.
"Maafkan aku, Ryn."
Aku kembali menggeleng-gelengkan kepalaku, menepis tangannya yang mencoba menggapaiku.
"Pergi! Aku bilang pergi!" usirku lagi, kali ini suaraku lebih kuat dengan ledakan amarahku.
Hening selama sekian detik, sebelum akhirnya telingaku mendengar suara langkah yang menjauh, dan tangisku merebak semakin kuat setelahnya.
I am done.
Aku telah selesai dengan semuanya. Dengan taruhan yang kubuat dengan Brisa, juga hubunganku dengan Fano.