Pernah Menjadi Sahabat

1359 Kata
Hari itu, tepatnya sekitar bulan April 2021. Gerimis mengguyur Kota Yogyakarta. Jessi nekad membonceng seseorang menyusur jalan raya. Seorang wanita yang memeluk erat tubuh Jessi dari belakang itu mengeluh sakit pada dadanya sejak subuh tadi. Karena kamar kost mereka bersebelahan dan tidak ada yang menolong perempuan itu, Jessi terpaksa meminjam kendaraan motor milik sahabatnya. “Pegangan yang erat, Mbak!” seru Jessi dengan suara keras. Ia teriak dari balik helm yang melekat di kepalanya. Wanita di belakangnya sudah lunglai. Dadanya semakin sesak, untuk beberapa kali ia menahan napas agar tidak terlalu merasa sakit. “Berhenti, Jes!” ia menepuk pelan pundak Jessi. Hampir tidak terasa karena Jessi juga mengenakan mantel, “Stop!” ucapnya lagi sedikit keras. Jessi menepikan motor di pinggir jalan. Ia melihat wajah pucat wanita yang bersamanya itu. Napasnya tersengal. Ia meringis kesakitan sambil mencengkram dadanya. “Sa … kiiittt!!!” ucapnya perih. “Mbak! Mbak tahan dulu, ya. Sebentar lagi kita sampai,” Jessi memeluk erat tubuh wanita tersebut. Gerimis tiada henti mengguyur tubuh mereka. Jessi jadi kalang kabut. Andai saja tadi ia tidak nekad membawa wanita tersebut, pasti penyakit Mbak Yu tidak akan bertambah parah seperti ini. “Mbak Yu pengen mati saja, Jes. Mbak pengen mati! Mbak sudah nggak sanggup lagi untuk hidup,” ujarnya, “Mbak, Mbak. Jangan menyerah, Mbak. Jessi mau Mbak tetap hidup. Ingat Raffa, Mbak. Ingat Raffa!” teriak Jessi lebih keras. “Tapi Mbak udah nggak kuat lagi, Jes! Tolong jaga Raffa. Jaga Raffa, Jes. Mbak pe … rrr … gi …” seketika wanita itu terlelap tanpa tarikan napas sedikit pun. Mbak Yu telah pergi. Ia pergi meninggalkan Raffa. Putra semata wayang yang telah dibesarkannya dengan cinta. Jessi mematung di bawah rintik huja. Sorot matanya mengikuti arus lalu lintas kendaraan yang tengah lalu-lalang menyusur jalan raya. Aneh. Dunia memang sangat aneh dengan jutaan penduduk yang ada di muka bumi ini. Tak ada satu orang pun yang memiliki hati untuk singgah menolong mereka. Hampir saja Jessi mengumpat dalam hati. Teringat pada sahabatnya, Jessi segera mencari tempat berteduh untuk menelepon. Ia perlu bantuan untuk mengangkat tubuh Mbak Yu. Walau pun sudah tidak dapat diselamatkan lagi, setidaknya jasad Mbak Yu bisa segera dibawa pulang untuk disemayamkan. “Han, tolong jemput gue!” pinta Jessi pada Hanna yang tengah sibuk bermain dengan Raffa. Waktu berangkat tadi, Jessi sempat menitipkan Raffa pada Hanna. “Lo nggak lihat hujan deras?” tanya Hanna dari balik telepon, “lagian gue nggak mungkin bawa Raffa hujan-hujanan, kan?” “Tapi … Mbak Yu, Han. Mbak Yu.” “Kenapa?” pertanyaan Hanna terdengar santai. “Mbak Yu udah nggak ada,” jelas Yessi dalam isak tangis. “Santai aja kenapa?” alih-alih merasa iba, Hanna malah bersikap cuek. “Han! Lo gila, ya.” “Gue nggak gila. Tapi lo yang gila.” “Hanna!” Tut … tut … tut … sambungan telepon terputus. Sepertinya Hanna sengaja mengakhiri panggilan di handphone-nya. Tak mau terlalu ambil hati dengan sikap Hanna, Jessi kembali mendekati tubuh Mbak Yu yang sudah tergeletak di tanah. Hujan sudah sedikit reda. Tidak ada pilihan lain bagi Jessi selain ia menyinggahkan kendaraan yang tengah melintas. Jessi melambaikan tangannya. Tanpa peduli, beberapa kendaraan yang sudah lewat tetap melaju. Bahkan apes bagi Jessi, sebuah mobil pick up yang melaju menjiprat genangan air ke tubuhnya. “Sial!” umpat Jessi geram. Seketika, seorang wanita bermantel biru singgah di hadapan Jessi. Tanpa membuka helm, ia turun dari kendaraan. Ia hanya memandang pada tubuh Mbak Yu yang tergolek di tanah. Tanpa bicara, wanita itu segera beranjak. Jessi menatap heran hingga tubuh wanita tadi menghilang di balik tikungan jalan raya. Tiiit … tiiiiiit … suara klakson mobil membuat jantung Jessi seakan mau copot. Sebuah mobil ambulance menepi di jalan raya. Jessi segera menghampiri supir ambulance yang masih duduk di depan setir, “Pak tolongin saya!” ucapnya dengan tubuh menggigil. Dengan mengeluarkan segenap tenaga, Jessi dan supir ambulance berhasil mengangkat tubuh Mbak Yu, “sudah meninggal,” supir ambulance tadi meyakinkan, “kita bawa ke rumah sakit dulu, ya,” titahnya lagi. Jessi hanya mengangguk. Tanpa berlama-lama, Jessi mengikuti mobil ambulance yang melaju dengan iringan sirine. Beruntung, jarak dari lokasi kejadian dengan rumah sakit tidak terlalu jauh sehingga tidak menjadi kesulitan bagi Jessi untuk membuntuti mobil ambulance tadi. Setibanya di rumah sakit, Mbak Yu mendapat penanganan akhir sebelum tubuhnya masuk ke ruang jenasah. Kelopak mata Jessi sembab karena mengurai air mata. Melintas kenangan indah yang pernah ia lalui bersama Mbak Yu. Sejak ia kenal wanita itu kurang lebih satu tahun yang lalu. Kala itu, saat perjumpaan mereka pertama kali di depan kos-an, Panggil saja Mbak, Yu, ucap wanita yang tengah menggendong seorang bayi laki-laki pada Jessi. Suami Mbak Yu di mana? Mbak Yu nggak punya suami Tapi Raffa? tanya Jessi suatu hari kala mengulik keberadaan keluarga Mbak Yu. Raffa hasil hubungan gelap saya dengan seorang laki-laki, hanya itu penjelasan Mbak Yu. Jessi mematung di depan jasad Mbak Yu. Kini Mbak Yu telah pergi selamanya. Kepergian Mbak Yu juga mengurangi gelak tawa di kos-an. Meski punya masa lalu yang runyam, Mbak Yu mampu menjadi sosok inspiratif dalam menikmati hidup. “Jessi pulang ke kos dulu sebentar ya, Mbak. Tunggu Jessi di sini,” bisik Jessi di samping jasad Mbak Yu. Jessi bergegas menyusur koridor rumah sakit. Ia berencana menjemput Raffa dan mengambil pakaian untuk dipakai pada jasad Mbak Yu. Jessi sama sekali tidak ingin merepotkan Hanna lagi setelah menyimak percakapan mereka di telepon tadi. Bahkan, saat Jessi menitip Raffa sebelum berangkat tadi, Hanna hampir menolak. Ia berdalih akan ada teman yang berkunjung ke kos-an. Tapi karena Jessi memaksa Hanna untuk menjaga Raffa, sahabatnya itu manut meski dengan hati yang tidak ikhlas. * “Hanna!” Jessi berdiri mematung di muka pintu. “Jes … Jes … tunggu Jes. Biar gue jelasin.” “Lo memang gila, ya! Lo udah nggak waras, hah?!” Plak! Hanna menampar wajah Jessi. Plak! Jessi tak ingin kalah mengeluarkan tenaga. Mereka saling dorong, Jessi lebih dulu menjambak rambut Hanna. Ia mendorong kuat tubuh sahabatnya itu. “Lo tega hianatin gue, Han. Gue benci sama lo!” Jessi kembali mendorong tubuh Hanna. “Stop!” suara laki-laki yang sedari tadi berada di tengah-tengah mereka menghentikan pertikaian keduanya. Tak berselang lama, Raffa terbangun dari tidur. Anak laki-laki berusia satu tahun tiga bulan itu mengucek mata dan hampir mewek. Jessi segera menggendong tubuh Raffa. “Aldo!” Jessi membentak pada laki-laki tadi, “Sekarang kita putus!” Jessi melangkah keluar dari kamar kos Hanna. “Jes, tunggu!” Jessi tak menggubris upaya Aldo yang berusaha mencegatnya. Aldo menatap pada Hanna. Wanita itu segera mengenakan lagi pakaiannya. Demikian pun Aldo yang masih bertelanjang d**a, “Maafkan aku, Han,” ucapnya sebelum melangkah ke luar menyusul Jessi. “Do! Tunggu, Do. Kamu mau ke mana?” Jessi menahan pergelangan tangan Aldo sehingga membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya. “Gue mau nyusul Jessi,” ucap Aldo. “Kamu nggak mendengar tadi Jessi bilang putus?” Hanna menatap tajam pada Aldo. “Persetan. Jessi pacar saya.” Seketika, air mata Hanna mengalir di sudut pipinya, “gimana dengan gue, Do?” “Elo? Hah …” Aldo tersenyum sinis, “lo hanya jadi bahan senang-senang gue aja.” Plak! Kali ini sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aldo. Laki-laki itu tang ingin membalas. Ia hanya mengusap pipinya yang seketika memerah. “Lo tega, ya sama gue!” Aldo tak bergeming. Ia melangkah ke luar. Keadaan menjadi sepi. Jessi tak terlihat lagi. Seketika, sifat buruk Aldo mencuat. Hasratnya untuk berhubungan intim dengan Hanna belum terpenuhi karena dilabrak oleh Jessi tadi. Aldo menjadi bringas, ia menutup pintu kos dengan keras, mengunci pintu dengan rapat lalu membungkam mulut Hanna. Ia menarik tubuh Hanna kembali ke dalam kamar. Seketika desah panjang seakan meronta memberi perlawanan terdengar memenuhi kamar kos. “Nikmati saja. Kita sudah terlanjur masuk dalam permainan ini!” ucap Aldo di telinga Hanna. Permainan itu berakhir sempurna. Aldo berkali-kali memuaskan hasratnya pada Hanna hingga membuat gadis itu terbaring lemah karena mendapat paksaan yang cukup keras dari Aldo. Usai bersenggama, Aldo mengenakan pakaiannya kembali. Ia berlalu dari hadapan Hanna tanpa peduli lagi pada perasaan gadis tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN