bc

Wanita Pilihan

book_age18+
132
IKUTI
1K
BACA
HE
arrogant
single mother
heir/heiress
drama
bxg
bold
detective
like
intro-logo
Uraian

Hubungan yang bermula dari cinta satu malam telah membuat seorang CEO muda menutup rapat hatinya untuk seorang wanita bernama Gina. Pasca pertemuan Emerald dengan Gina di club malam seakan membuat Eme merasa bersalah. Karena setelah melakukan hubungan tersebut dengan Gina, Eme tak pernah lagi menjumpai wanita itu. Eme telah berusaha mencari jejak Gina. Wanita yang telah mencuri hatinya malam itu. Namun, karena perkenalan singkat mereka, Eme hanya dapat mengingat sekilas wajah Gina. Cantik, putih, semampai dengan rambut hitam pekat sebahu.

Kini, Eme telah kehilangan sosok dan rekam jejak Gina. Eme selalu berharap, Tuhan akan mempertemukannya kembali dengan Gina. Bahkan selama tiga tahun terakhir, pasca peristiwa malam itu Eme berjanji untuk tidak akan menikah sebelum ia menemukan kembali sosok Gina.

Setelah tiga tahun berlalu, Emerald Baskara Putra, pewaris perusahaan Litus Property dipertemukan dengan seorang wanita pilihan sang ayah untuk menjadi sekretaris pribadinya. Gadis cantik bernama Jessica Arabella mengawali karier-nya di perusahaan milik keluarga Baskara – Litus Property. Tiga hari sebelumnya, Jessi tanpa sengaja bertemu dengan Pak Baskara di airport. Dari pertemuan itulah, Jessi mendapat tawaran untuk bekerja sebagai sekretaris yang akan mendampingi Emerald dalam menjalankan tugasnya sebagai CEO Litus Property.

Keharmonisan hubungan kerja antara Jessi dan Emerald berubah saat teman sekolah Emerald dulu hadir dalam kehidupan Eme. Eme yang tidak pernah menyadari jika Hanna Permata Sari telah jatuh hati padanya sejak lama.

Siapakah wanita yang mampu meluluhkan hati Emerald? Mungkinkah ia tetap sendiri atau menerima perjodohan pada wanita pilihan orang tuanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Sekretaris Pilihan
“Eme ….” Suara khas laki-laki yang menyebut namanya membuat langkah Eme terhenti saat ia baru saja menapaki anak tangga menuju kamar. Malam itu sudah hampir pukul sebelas malam. Eme baru saja pulang dari menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Ia pulang dengan tubuh yang lusuh dan pikiran yang ruwet. “Belum tidur, Pa?” Eme berjalan mendekati pria paruh baya yang terlihat duduk santai di depan televisi. “Papa belum bisa tidur. Papa tengah memikirkan kesibukan kamu di kantor.” “Memikirkan apa lagi sih, Pa? Papa kan sudah pensiun,” Eme merebahkan tubuhnya di atas sofa berwarna biru tosca pilihan sang ibu, “lagi pula kerjaan Eme lancar kok. Nggak ada masalah.” “Soal sekretaris kamu yang mengundurkan diri itu dan bagaimana caranya untuk mendapatkan sekretaris baru yang dapat membantu pekerjaan kamu di kantor. Itu sudah kamu pikirkan?” Eme terdiam. Pertanyaan sang ayah seakan menyatu dengan pikirannya sendiri. Dalam beberapa hari ini Eme juga tengah memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan pengganti Melody. Wanita yang telah menjadi sekretarisnya selama empat tahun terakhir itu terpaksa resign karena kedapatan berlaku curang di belakang Eme. “Kamu belum menemukan pengganti Melody, kan?” “Belum, Pa.” Suasana seketika menjadi hening. Pak Baskara menatap putranya dalam-dalam. Ada banyak harapan yang telah ia sematkan di pundak Emerald, ahli waris satu-satunya di perusahaan yang ia bangun sejak muda. “Kalau begitu sudah pas. Papa sudah siapkan sekretaris baru untuk kamu,” Pak Baskara mengutarakan maksudnya. “Apa?!” Eme terperangah. “Papa yakin kok, calon sekretaris yang akan mendampingi kamu ini nanti merupakan orang yang loyal dan bertanggung jawab,” pria paruh baya itu menaikkan letak kacamatanya sembari menatap lekat pada Eme. “Pa ….” “Kamu tidak mampu untuk menyelesaikan pekerjaanmu sendiri, bukan?” “Tapi, Pa ….” “Besok sekretaris baru itu akan masuk kerja. Tolong terima dengan baik. Papa sudah memberi perintah kepada Handoko untuk menjemput sekretaris itu di rumahnya.” “Dijemput? Emang dia siapa, Pa? kenapa harus dijemput segala?” Eme sontak terkejut mendengar penuturan ayahnya. Pak Baskara mengangkat kedua bahu, mencibir Eme lalu meyakinkan putranya itu dengan sebuah ucapan, “Besok, kamu juga akan kenalan kok sama dia.” Tanpa memperpanjang percakapan lagi, Pak Baskara beranjak meninggalkan Eme yang masih berselimutkan rasa penasaran pada sosok sekretaris yang dimaksud oleh ayahnya tadi. Pikiran Eme mulai berselancar. Ia membayangkan hari-hari indah dan terbebas dari tumpukan pekerjaan yang telah membebaninya sejak ditinggal oleh Melody. Tapi, apa mungkin sekretaris pilihan ayahnya itu merupakan orang yang tepat? “Eme! Besok kalau ada waktu kamu ikut sama Handoko untuk menjemput dia!” sayup-sayup suara Pak Baskara terdengar memberikan perintah kepada Eme. Mendengar kata-kata dari ayahnya semakin membuat Eme kebingungan. Ia mulai menaruh curiga kalau sosok sekretaris yang dipilih ayahnya bukan sosok sembarangan. Namun, ia berniat mengabaikan perintah sang ayah. Eme berpikir bahwa dirinya adalah CEO di perusahaan. Jika ada orang yang ingin bekerja dengannya maka ia membuka pintu lebar-lebar supaya siapa pun yang berpotensi bisa datang dan masuk dengan sendiri di perusahaannya, tanpa harus dirinya yang turun tangan untuk mencari apalagi mengorbankan waktu untuk menjemput. Tak terasa, malam semakin larut. Sebelum beranjak dari ruang keluarga, Eme mematikan televisi yang masih menyala. Setelah keadaan menyepi, hampir tidak ada lagi suara yang memenuhi isi rumah megah milik keluarga Baskara. Eme menapaki tangga dengan perlahan menuju kamar, di sana ia melepas penat setelah seharian dihantam oleh tumpukan beban pekerjaan yang terasa berat untuk diselesaikan sendiri. Eme memang butuh seorang sekretaris. Ya, seseorang yang bisa membantu meringankan pekerjaannya, meskipun sekretaris itu adalah pilihan sang ayah. * * * Saat pagi tiba, Eme dengan pakaian dan penampilan yang rapi tampak santai menuju meja makan. Kedua orang tuanya telah menunggu Eme di sana. Seperti kebiasaannya sejak kecil, Eme selalu memeluk dan mencium pipi kedua orang tuanya saat berjumpa di meja makan. “Bagaimana dengan tawaran Papa tadi malam?” Pak Baskara kembali mengulang pembicaraan ketika Eme sudah duduk tenang menikmati sarapan paginya. “Papa bicara apa dengan Eme?” Ibu Sundari merasa penasaran dengan isi pembicaraan suami dan putranya itu. “Itu loh, Ma. Soal sekretaris baru untuk Eme.” “Oh, gadis yang Papa temui di airport kemarin?” “Apa?! Eme nggak salah dengar? Jadi, Papa menemui calon sekretaris itu di airport dan Papa dengan langsung menerimanya bekerja untuk Eme?” tanya Eme dengan wajah bingung. “Eme … Eme. Dengar dulu,” Pak Baskara dengan sikap wibawanya menenangkan hati Eme. “Mana mungkin dia punya potensi untuk menjadi sekretaris, Pa. Papa aja menerimanya dengan prosedur yang tidak benar. Seharusnya Papa mewawancarai dia dulu, kan?” “Tidak harus wawancara,” ucap Pak Baskara datar. “Siapa bilang, Pa? Wawancara itu perlu, sebagai tolak ukur kita untuk memberi penilaian terhadap kualitas dan pengalaman kerja calon karyawan.” “Tinggalkan cara itu. Papa yakin dia akan menjadi sekretaris terbaik di perusahaan kita.” “Pa ….” “Eme ….” Bu Sundari menghentikan ucapan Eme hanya dengan menatap lembut putranya itu. “Maaf, Pa, Ma. Eme hanya kurang yakin saja.” “Percaya sama papamu, Le,” ucap Bu Sundari dengan senyuman yang turut meyakinkan hati Eme. “Baiklah, Eme berangkat kerja dulu Pa, Ma.” “Handoko sudah menunggu kamu di depan.” “Maksud Papa?!” Eme kembali bingung. “Kamu harus ikut menjemput sekretaris baru itu.” “Pa?!” “Dia tidak tahu alamat kantormu. Untuk sementara waktu kamu harus mengantar jemput dia selama bekerja sampai dia bisa mandiri.” Eme tak lagi menjawab ucapan ayahnya. Ia hanya menatap wajah sang ibu, lagi-lagi senyuman penuh keyakinan dari sudut bibir wanita paruh baya itu yang mampu meneguhkan hati Emerald. Eme berlalu dengan langkah gontai. Benar saja Handoko telah menunggunya di teras rumah. Sopir pribadi Pak Baskara itu melayangkan senyum hormatnya pada Emerald. “Kita jadi berangkat bareng, Mas?” tanya Handoko dengan santun. “Iya.” Eme menjawab singkat, pria muda berwajah tanpan itu berjalan lebih dulu menuju kendaraan yang telah disiapkan oleh Handoko. “Kamu tahu alamat sekretaris baru itu?” tanya Eme di tengah perjalanan. “Tahu, Mas.” “Kamu kenal?” “Baru kenal saat menjemput Bapak dan Ibu di airport dua hari yang lalu, Mas.” Emerald terdiam untuk beberapa saat. Mata pria itu menatap fokus pada layar handphone di hadapannya, “Orangnya bagaimana?” tanya Eme lebih lanjut. “Cantik, Mas.” “Hmm, bukan soal cantik Handoko! Tapi kesannya lebih cocok tidak untuk menjadi sekretaris saya.” “Em, nganu, Mas. Maksudnya yang cocok itu bagaimana, ya?” Handoko yang hanya menempuh pendidikan sampai kelas empat SD itu nampaknya kurang memahami kriteria sekretaris yang dimaksud oleh Emerard. “Am … begini. Kamu masih ingat Melody?” “Iya, iya. Ingat, Mas. Sekretaris Mas Eme yang sudah diberhentikan itu, ya.” “Iya. Kira-kira, dia ini penampilannya seperti Melody?” “Ah, nggak, Mas! Nggak norak seperti Melody. Biasa aja. Cantik, putih, tinggi, ramah lagi.” “No, no, no. Bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin memastikan dari segi penampilan dia tidak memalukan saya.” “Pakaian maksud Mas Eme?” “Ah, betul!” Eme metik kedua jarinya tanda menyetujui maksud Handoko, “gimana?” “Ayu, Mas.” Eme menarik napas panjang karena tidak mendapatkan jawaban yang meyakinkan dari Handoko. Bagaimana pun wujud sekretaris pilihan ayahnya itu, Eme tetap pasrah. Ia sudah tak punya cara lagi untuk menolak perintah dari ayahnya. Namun, terbesit akal licik di hati Emerald. Jika sekretaris pilihan ayahnya itu nanti tidak menarik dan tidak memiliki kualitas kerja yang bagus, ia berencana mencari titik kelemahan dari sekretaris itu supaya bisa memberhentikannya. “Kita sudah sampai, Mas.” Handoko memutar setir untuk masuk di sebuah pekarangan rumah yang rimbun oleh pohon mangga. Seketika, Eme terpukau dengan kondisi di situ. Matanya menatap sekeliling. Ada rasa kagum ketika ia melihat pekarangan yang asri dengan tanaman rumahan yang tertata rapi. Eme membuka pelan pintu mobil. Baru saja ia menginjakkan kaki di atas rumput hijau, Eme disambut ramah oleh seorang wanita paruh baya yang datang menghampiri mereka. “Panjenengan cari siapa?” wanita tadi meletakkan selang air yang ada di tangannya. “Ah, ini Bu De. Kita ke sini mau jemput Jessi,” handoko menyampaikan maksud kedatangan mereka. Jessi?! Batin Eme menyebut nama calon sekretarisnya itu. “Oh, sebentar Bu De panggil si Ndok dulu, ya.” Wanita paruh baya yang dipanggil Bu De oleh Handoko itu melangkah ke dalam rumah. Namun, beberapa saat kemudian, ia muncul kembali sambil mempersilakan Eme dan Handoko untuk ikut masuk. “Namanya Jessi?” tanya Eme pada Handoko. “Iya, Mas. Saya lupa nama panjangnya.” “Cantik?” “Cantik kok, cah ayu” ucap Handoko membenarkan penilaian Eme. “Bukan itu. Maksud saya namanya cantik.” “Oh, ho. Orangnya juga cantik, Mas," Handoko mengap menahan tawa. “Sebentar, ya! Si Ndok lagi siap-siap,” tiba-tiba saja Bu De berdiri di hadapan mereka, “Mau Bu De buatkan teh hangat dulu?” Handoko dengan sigap mengangguk sementara Eme masih celingak-celinguk melihat sekeliling pekarangan. Matanya tertuju pada serumpun bunga anggrek yang tengah mekar. Harumnya setara dengan udara pagi yang berhembus lembut. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Eme sudah beberapa kali melirik jam tangan. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu Jessi, namun, wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Handoko pun telah menghabiskan setengah dari minumannya. “Selamat pagi …” seorang wanita berperawakan tinggi dengan penampilan sederhana namun elegan berdiri di hadapan mereka. Suaranya sangat merdu sehingga membuat Eme langsung menatap wanita itu, “maaf, lama menunggu,” ucapnya dengan senyum manis. “Non Jessi, cantik amat hari ini?” Handoko menyapa Jessi penuh hormat meski diiringi sedikit candaan. “Ah, Mas Doko ada-ada aja. Saya kan memang harus tampil cantik karena hari ini saya akan mulai bekerja di perusahaan Om Bas. Gimana? Saya sudah oke kan, Mas Doko?” tanya Jessi penuh semangat. “Oke, oke. Ayu tenan. Bapak nggak salah pilih orang.” Handoko mengurai senyum lebar. “Astaga, sudah hampir jam tujuh pagi. Mas Doko, ayo berangkat! Saya khawatir nanti telat.” Jessi sama sekali tak memperdulikan kehadiran Emerald. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Sepertinya saat itu ia tak menyadari jika Eme adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Jessi sempat berebut tempat duduk dengan Eme ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil. “Hey! Saya di sini.” Jessi melotot di hadapan Eme. “Anda ini siapa sih?” Eme tak ingin kalah berdebat. “Saya Jessi. Sekretaris baru yang akan bekerja mendampingi CEO di perusahaan Om Baskara,” jelas Jessi dengan bangga, “Emang kamu siapa?” “Aku … aku ….” “Allah, palingan kamu juga hanya karyawan biasa. Sama seperti aku,” Jessi mendorong pelan pundak Eme, “yuk kita berangkat! Udah telat ini,” Jessi seakan tak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Eme. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil. Eme pun pada akhirnya tidak ada pilihan lain selain masuk dari pintu mobil di sebelah kanan. Saat berada di dalam mobil, Eme bahkan tak ingin menatap Jessi. Hatinya sedikit dongkol dengan sikap Jessi. Seandainya bukan sekretaris pilihan ayahnya, ia tak ingin bertemu wanita itu. “Oh ya, Mas Doko. CEO di perusahaan Om Baskara itu galak nggak, sih?” Jessi mencoba mencari tahu tentang CEO perusahaan tempatnya bekerja kepada Handoko. Sepertinya Jessi masih belum menyadari kalau CEO yang ia maksud itu berada di sampingnya saat ini. Handoko melirik dari kaca spion, tampak Eme memberikan kode kepada Handoko untuk sepakat tidak mengenalnya. Beruntung Handoko langsung paham arti kode yang diberikan oleh Emerald. “Ah, namanya bos pasti galak toh, Non.” “Hah?! Serus, Mas?” “Iya. Kalau nggak percaya, coba tanyain aja sama Mas Eme tuh.” “Eme?” “Iya, itu yang ada di sebelah Non Jessi.” “Nama kamu Eme?” “Emerald,” jawab Eme datar tanpa memandang Jessi. “Kamu karyawan juga di sana?” “Iya.” “Wah, sama dong kita. Kamu anak baru juga?” “Udah lama.” “Wah, udah banyak pengalaman dong,” seloroh Jessi. “Yang jelas lebih berpengalaman dari kamu.” “Oh, ho. Iya dong,” Jessi tampak tersipu malu karena ia sama sekali belum memiliki pengalaman kerja. Jessi baru saja menyelesaikan study-nya di sebuah universitas ternama di Yogyakarta, jurusan sekretaris. Dua hari yang lalu, saat akan kembali pulang ke kampung halaman ia tanpa sengaja berjumpa dengan Pak Baskara dan istrinya di bandara. Karena menunggu pesawat yang delay, Jessi punya kesempatan berbincang lebih panjang dengan Pak Baskara. Hasil dari obrolan panjang itulah yang membuat Pak Baskara langsung tertarik pada Jessi dan meminta wanita itu untuk bekerja di perusahaan miliknya yang saat ini tengah dipimpin oleh Emerald Putra Baskara.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.2K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.9K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.3K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook