“Udah berapa lama kerja di sana?” tanya Jessi setelah ia menceritakan secara detail pertemuannya dengan Pak Baskara di bandara kala itu.
“Adalah kurang lebih lima tahun.”
“Wah, sudah lama. Betah, ya kerja sama CEO-nya?”
“Ya betahlah.”
“Pasti galak?” Jessi mengira-ngira terhadap sosok sang CEO.
“Banget.”
“Serius?”
“Iya. Selain galak, Pak Bos juga paling nggak suka lihat karyawan cerewet kayak kamu.”
“Loh, emang aku cerewet?” Jessi seakan tak terima pada penilaian Eme terhadap dirinya.
“Iya. Bawel juga.”
Handoko yang mendengar penuturan Emerald langsung cekikan. Kalau dari sudut pandang Handoko, ia melihat kalau Emerald sangat serasi berdampingan dengan Jessi. Selama ini, Eme terkesan dingin. Belum pernah sekali pun Handoko melihat Emerald mau berinteraksi dengan nyaman seperti suasana pertemuannya dengan Jessi pagi ini.
“Jangan gitu dong kamu! Aku kan hanya ingin cerita. Supaya kamu tahu kalau aku masuk di perusahaan Pak Baskara tuh pakai jurus tenaga dalam,” Jessi cekikan dengan ucapannya sendiri, “sebenarnya aku merasa bersalah juga sih, karena masuk dengan prosedur yang nggak seharusnya.”
“Seharusnya gimana?” Eme pura-pura menggali informasi lebih dalam dari Jessi.
“Seharusnya aku datang, sat set sat set,” Jessi memperagakan sedikit gerakan silat dari kedua tangannya, “lewat pintu masuk perusahaan maksudnya, mengajukan berkas seperti karyawan lain, tes wawancara trus langsung diterima karena pimpinan perusahaan itu tertarik dengan diriku.”
“Bukan hanya itu, kredibelitas, loyalitas dan pengalaman kerja kamu juga harus jadi pertimbangan,” Eme meluruskan maksud Jessi.
“Nah, itu dia. Aku kan baru selesai kuliah. Bagaimana nanti kalau CEO itu tau bahwa aku belum punya pengalaman kerja sama sekali, trus … dia menilai kurangnya diriku. Bisa mati aku,” Jessi menepuk jidat karena bingung dengan keputusannya sendiri.
Hahaha, Eme tertawa lebar.
“Kok kamu ketawa?” wajah Jessi seketika cemberut karena ditertawai oleh Eme.
“Kamu itu ya, kalau mau ngelamar kerja ya harus dengan prosedur yang benarlah. Ini bangga banget dengan jurus orang dalam.”
“Hei! Hati-hati ya kamu kalau bicara. Om Baskara yang memintaku untuk bekerja di perusahaanya.”
“Oh, ya? Kamu tahu alasannya apa?” Eme menatap tajam pada Jessi.
“Karena, anak semata wayangnya itu.”
“Ada apa dengan anak Pak Baskara?” tanya Eme tentang dirinya.
“Kamu tau CEO perusahaan itu, kan?” kali ini Jessi yang menatap tajam pada Eme.
“Hmmm, iya.” Eme mengangguk.
“Kata Om Bas, anaknya itu terlalu cool. Usianya udah tua tapi nggak nikah-nikah. Trus Om Bas minta aku untuk dampingi dia. Katanya sih supaya anaknya itu nggak terkesan serius dalam pekerjaan sehingga lupa cari jodoh.”
“Terus?” Eme semakin penasaran dengan dirinya atas penuturan sang ayah pada Jessi.
“Ya gitu deh.”
“Kenapa kamu nggak menolak permintaan Pak Baskara?”
“Karena aku butuh pekerjaan.”
“Cari perusahaan lain kan bisa.”
“Bisa sih. Tapi … apa salahnya kalau aku mencoba masuk di perusahaan beliau? Lagian, kan aji mumpung dipermudah. Setelah aku searching, perusahaan Om Bas ini cukup besar dan terkenal juga loh. Kamu juga pasti beruntung bisa kerja di sana.”
“Hmmm … okey, okey. Kita sudah sampai.” Eme yang menyadari mereka telah tiba di parkiran langsung turun dari mobil. Seketika kepalanya muncul kembali ke dalam mobil, “aku masuk duluan ya, nanti kamu diantar oleh resepsionis untuk menuju ruang CEO,” ucap Eme lebih lanjut.
Jessi yang sama sekali tak menyadari jika CEO yang akan dia temui nanti adalah Eme hanya mengangguk saja tanpa bertanya lebih dalam kepada Handoko. Ia hanya mengucapkan terima kasih kepada sopir pribadi Pak Baskara yang sudah menjemputnya pagi itu.
Ketika sampai di lobi, Jessi merapikan diri di depan cermin yang tersedia di samping pintu masuk. Ia melihat karyawan yang berdatangan. Mereka tampak rapi dan penuh semangat untuk bekerja. Jessi melempar senyum kepada beberapa karyawan yang melintas di depannya.
“Selamat pagi,” sapa Jessi pada dua orang resepsionis yang sedang bertugas menerima tamu.
“Selamat pagi, Mbak,” sahut salah satu dari mereka, “ada keperluan apa supaya kami bisa membantu?” tanya resepsionis itu lebih lanjut.
“Saya sekretaris baru di sini. Mau bertemu CEO perusahaan. Ada?” tanya Jessi sedikit canggung.
Seketika dua resepsionis tadi langsung berpandangan. Mereka tampak sedikit berbisik, mungkin tengah membicarakan penampilan Jessi.
Style Jessi pagi itu memang terkesan sederhana dari style sekretaris pada umumnya. Ia mengenakan rok span selutut dengan perpaduan blezer berwarna biru. Rambut hitam panjangnya terurai rapi, polesan make up di wajahnya juga tidak seberapa. Tapi, Jessi tampak cantik dan lebih fresh sesuai dengan usianya yang masih muda.
“Maaf, ada yang salah, ya?” tanya Jessi penuh keraguan.
“Ah, nggak. Nggak ada yang salah, Mbak. Kita hanya bingung saja. Karena Pak Bos tidak ada menginfokan kalau hari ini ada kedatangan sekretaris baru.”
“Oh, begitu …” Jessi manggut-manggut.
“Maaf, Mbak atas nama siapa?” tanya salah satu resepsionis yang bernama Mega.
“Jessica Arabella.”
“Baik, selamat datang dan selamat bergabung di perusahan Litus Property, Mbak. Sebentar nanti kami akan antarkan Mbak bertemu dengan CEO perusahaan ini. Sementara kami menghubungi beliau, Mbak silakan mengisi daftar hadir tamu dulu dan boleh duduk di kursi tamu,” Mega bicara panjang lebar di hadapan Jessi.
“Terima kasih,” jawab Jessi singkat.
Sambil menunggu intruksi lanjutan dari resepsionis tadi, Jessi melangkah perlahan menyusur lorong yang ada di lobi kantor. Jessi memperhatikan ornamen yang menghiasi dinding kantor. Ornamen-ornamen yang terpajang di sana terlihat punya nilai seni yang tinggi. Belum lagi furniture yang ada di setiap sudut ruangan dengan warna-warni yang sepadan tampak memperindah suasana di dalam ruangan itu sendiri.
Tentu saja, untuk pertama kalinya Jessi menginjakkan kaki di kantor semewah ini. Apalagi ia berkesempatan mendapatkan tawaran kerja di sini. Meskipun tidak membawa pengalaman apa-apa, Jessi berjanji akan membentuk dirinya sebagai sekretaris handal di perusahaan ini nantinya.
“Mbak Jessi, mari ikut saya!” seketika, Mega berdiri di belakang Jessi.
“Oh, sudah boleh bertemu Pak Bos?” tanya Jessi sedikit gelagapan karena ia baru saja kaget mendengar sapaan Mega.
“Saya mau antar Mbak Jessi keliling dulu. Perintah dari pak Bos demikian.”
“Oh, ya?”
“Kebetulan Pak Bos sedang ada tamu. Tadi perintah beliau supaya Mbak Jessi nggak lama menunggu, maka saya diminta untuk mendampingi Mbak keliling office.”
“Baiklah, terima kasih.” Jessi menundukkan sedikit kepalanya, “kalau begitu saya persilakan Mbak Mega untuk membawa saya keliling.”
“Mari, ikut saya!” ucap Mega dengan ramah dalam melayani Jessi.
“Mbak Mega sudah lama bekerja di sini?”
“Adalah dua tahun terakhir.”
Jessi manggut-manggut. Ia menilai pelayanan Mega dan rekannya tadi sangat baik untuk ukuran resepsionis. Meskipun ia baru mengenal Mega, Jessi memastikan dirinya untuk belajar lebih banyak kepada rekan kerjanya itu nanti.
“Mbak Mega.”
“Iya,” sahut Mega seketika mendengar namanya disebut oleh Jessi.
“Nanti saya boleh belajar lebih banyak dari Mbak Mega dan kawan-kawan di sini, kan?”
“Kita sama-sama belajar, Mbak. Saya juga harus banyak belajar bersama rekaan-rekan yang lain. By the way, Mbak Jessi orang yang paling beruntung loh bisa menempati posisi sebagai sekretaris pribadi untuk mendamping Pak Bos.”
“Ah, tidak. Ini hanya sebuah kebetulan.”
“Kebetulan?”
“Ah, nggak … nggak. Maksud saya, saya juga kebetulan mendapat informasi penerimaan sekretaris baru di perusahaan ini.” Jessi jadi gelagapan dengan ucapannya, ia merasa tidak nyaman jika harus mengutarakan kemudahannya masuk di perusahaan Litus Property ini karena ada orang dalam.
“Iya, Mbak. Kita mesti bersyukur bisa diterima di sini. Semoga nanti betah kerjanya, ya Mbak.”
“Betah?!” Jessi seakan menyimpulkan sesuatu yang tidak baik.
“Pak Bos terlalu cool,” Mega sedikit berbisik pada Jessi, “sampai sekarang statusnya jomblo. Mana ada perempuan berani dekatin dia.”
Hahaha, Jessi tertawa cukup keras. Ternyata penilaian ayahnya sendiri sama dengan penilaian orang-orang di sekitar sang CEO.
Mega membuka pintu office 01, terlihat tujuh orang karyawan berada di sana. Jessi pun langsung melempar senyum ramah kepada mereka. Meski belum saling kenal, para karyawan itu menyambut baik kedatangan Jessi. Mereka sangat antusias ketika mendengar ada orang baru yang akan bergabung bersama bersama mereka.
Dalam perusahaan Litus Property ada sembilan office yang menangani bidangnya masing-masing. Dari setiap office yang mereka kunjungi, Jessi selalu mendapat sambutan yang baik dari seluruh karyawan yang berada di sana. Mega pun tak sungkan memperkenalkan beberapa karyawan yang punya ciri khas tertentu. Mereka tampak asyik dan saling mendukung satu sama lain.
“Okey, sekarang saatnya kita menuju ruang pak Bos.”
Senyuman Mega seakan membuat hati Jessi berdebar untuk mempersiapkan diri bertemu langsung dengan CEO perusahaan Litus Property. Sosok sang CEO yang kalem membuat Jessi berpikir seakan mati kutu jika berhadapan dengan manusia jenis ini. Tapi demi sebuah pekerjaan yang layak, Jessi tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ia terima.
“Silakan, Mbak!” ujar Mega setelah membuka pintu untuk Jessi.
“Di sini?” hati Jessi sedikit ciut.
“Iya, di sini. Yuk!” ujarnya lagi sambil memberi tanda kepada Jessi untuk mengikuti langkahnya.
“Bos! Ini Mbak Jessi sudah datang,” Mega menyapa sosok seorang laki-laki yang duduk di balik kursi, laki-laki itu hanya menunjukkan jempolnya kepada Mega.
“Saya tinggal ke luar, ya.” Mega menepuk pelan pundak Jessi untuk menguatkan wanita itu, semoga berhasil, ucapnya di telinga Jessi.
Suara pintu tertutup rapat. Sosok Mega pun sudah berlalu. Dengan wajah tegang, Jessi menarik napas panjang. Ia memulas dadanya sendiri agar siap untuk bertemu sang CEO.
“Jessica Arabella.”
“I … iya, Pak.”
“Duduk!” pria itu mempersilakan Jessi untuk duduk meski pun ia belum memutar kursinya.
“Terima kasih.” Jessi meletakkan sling bag miliknya di atas meja.
“Bagaimana? Sudah siap bekerja di sini?” seketika, Jesi terperangah melihat sosok yang ada di depannya.
Emerald. Pria yang menjemputnya tadi. Ternyata, Eme adalah sosok CEO yang ia bicarakan di hadapan pria itu tadi pagi.
“Eme?!” Jessi hampir gugup menyebut nama Eme.
“Kaget, ya?” tanya Eme dengan wajah sumringah.
“Kamu … kamu?!”
“Saya adalah Emerald Putra Baskara, CEO Perusahaan Litus Property.”
“Jadi, kamu bohongin saya ya tadi pagi?”
“Karena kamu gampang dibo … hongi!” Eme memberi penekanan di akhir ucapannya.
Fuck! Jessi menggerutu di dalam hati. Seandainya ia tahu kalau pria yang bersamanya sejak tadi adalah CEO di perusahaan Litus Property, mungkin ia akan bersikap lebih sopan di hadapan pria itu ketka ia bersamanya tadi pagi.
Kamu pikir, kamu gampang nipu saya. Jesi masih menggerutu di dalam hati.
“Jessica Arabella,” ucapan Eme terhenti. Ia menatap tajam pada dua bola mata Jessi, “sekretaris pilihan Pak Baskara untuk CEO Perusahaan Litus Property bernama Emerald Baskara Putra. Welcome,” tepuk tangan santai dari Eme terdengar lembut mengisi ruangan.
“Jadi, kamu anaknya Om Baskara yang terkenal cool habis itu?”
“Sekarang sudah tahu, kan?”
“Maaf, saya nggak ada waktu untuk bermain-main. Sekarang putuskan, apakah saya diterima bekerja di sini atau saya harus pergi sekarang,” tiba-tiba, sikap Jessi berubah jutek.
“Santai dong. Santai! Saya lebih penasaran ke sikap kamu. Tadi pagi kamu menggebu-gebu menceritakan saya. Ada apa?!” Eme mendekatkan sedikit wajahnya pada Jessi.
“Saya hanya ingin bekerja sebagai sekretaris di sini,” Jessi berusaha meluruskan topik.
“Yakin hanya itu?”
“Atas perintah Om Baskara, saya akan berjanji untuk mendedikasikan diri saya bekerja di bawah perintah sang CEO.”
“Ada lagi?”
“Saya juga berjanji untuk bertanggung jawab penuh akan semua tugas yang dibebankan kepada saya dan apa bila saya lalai, saya siap diberhentikan meski dengan cara yang tidak hormat sekali pun.”
“Termasuk mengurusi soal pribadi saya?”
Jessi menunduk. Perintah Pak Baskkara memang sedikit janggal untuknya. Pemilik utama perusahaan Litus Property itu memberi wewenang kepada Jessi untuk mengatur perkenalan Emerald dengan perempuan mana pun asalkan Emerald menyukai wanita itu dan siap menjalin hubungan dengan wanita tersebut.
“Iya,” jawab Jessi singkat.
“Hebat,” sekali lagi Emerald mempersembahkan tepuk tangan meriah untuk Jessi.
“Kenapa? Kamu nggak suka?”
“Oh, suka. Suka sekali.” Eme berusaha menunjukkan rasa sukanya meski pun hatinya sedikit dongkol, “tentu saja saya suka. Apalagi punya seorang sekretaris cantik dan muda seperti kamu.”
“Maaf, kita harus profesional.”
“Sedikit menggoda boleh dong? Tadi pagi aja Handoko bisa godain kamu.”
“Itu pujian.”
“Sama aja. Hati-hati, jangan mau digoda sama om-om.”
“Kamu juga om-om.”
“Loh saya masih single.”
Emerald tak terima dengan penilaian Jessi padanya. Eme menatap dua bola mata Jessi, untuk beberapa saat Eme terpana. Hatinya berdesir saat kedua bola mata mereka beradu. Eme teringat akan peristiwa tiga tahun yang lalu.
Eme mengenang sosok seorang wanita yang pernah b******u mesra dengannya. Tiga tahun yang lalu Eme telah merenggut kesucian wanita itu. Mereka melewati malam atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan. Namun, saat pagi tiba, Eme kehilangan sosok Gina. Wanita yang ia jumpai di bar dan telah melewati satu malam bersamanya hilang tanpa jejak hingga kini sejak Eme terbangun di pagi hari itu.