Tawaran Penuh Makna

1533 Kata
“Selamat pagi, Om,” sapa Jessi sambil memberi salam pada Pak Baskara. “Hallo Jessi. Bagaimana kabar kamu?” Pak Baskara dengan lembut menyentuh pundak Jessi sebagai balasan salam dari sekretaris pribadi Emerald tersebut. “Baik, Om,” Jessi kembali tersenyum meski sebelumnya tadi ia sempat manyun karena ulah Emerald padanya. “Eme!” Pak Baskara menyapa putranya yang sedari tadi masih duduk di kursi, “gimana persiapan hari ini?” “Aman, Pa.” “Syukurlah.” Pak Baskara merebahkan tubuhnya di sofa yang menghadap pada meja kerja Emerald, “Jessi bagaimana? Betah bekerja sama Emerald?” Jessi tersenyum ciut. Ia sendiri sebenarnya juga belum bisa memberi penilaian pada kinerjanya sendiri, sebab ia pun baru dua hari bekerja sama dengan Emerald, “Aman, Om,” Jessi berusaha meyakinkan Pak Baskara, “maaf, Om. Ruang kerja kami tidak serapi yang Om Bas harapkan,” Jessi tampak kocar-kacir merapikan tumpukan berkas yang ada pada meja di hadapan Pak Baskara. “Oh, santai-santai. Om tidak mengganggu pekerjaan kalian, kok. Cuma mampir sebentar. Kebetulan lewat,” Pak Baskara berusaha menenangkan Jessi agar tak perlu repot berbenah. Emerald yang menyaksikan tingkah gopoh Jessi dalam berbenah hanya menyimpulkan senyum kecil. Dalam hatinya ia mengagumi sikap respect sekretarisnya itu. Meski pun ia menyadari, kondisi ruang kerja yang masih berantakan karena sejauh Melody tak lagi bekerja dengannya, tidak ada yang menata semua berkas dengan rapi. Jika mengharapkan Jessi, wanita itu baru tiga hari ini bekerja padanya. “Pa. Nanti sore Eme bawa Raffa ke rumah, boleh?” dengan sikap santai, Emerald mengajukan permohonan kecil pada ayahnya. “Raffa?” Pak Baskara mencoba mengingat-ingat nama Raffa yang dimaksud emerald, “ponakan Jessi yang kamu ceritakan tadi malam?” “Iya. Raffa sendiri yang meminta untuk berkunjung ke rumah.” “Oh, mari-mari!” Pak Baskara memandang pada Jessi, “o*******g sekali kalau nak Jessi mau ikut serta ke rumah. Biar nanti Om minta tante siapin makan malam bersama,” sesuai prediksi emerald tadi pagi dalam perjalanan, Pak Baskara pasti akan menyambut baik niat Raffa untuk mengikutinya ke rumah. “Terima kasih, Om. Sudah berkenan menerima Raffa. Sejak pertemuannya dengan Mas Eme kemarin siang, Raffa selalu ingat Eme. Maklum, di rumah Raffa tidak ada teman bermain.” “Oh, ya?” Pak Baskara tertegun mendengar penuturan Jessi, “jadi, waktu kamu ninggalin Raffa bekerja, anak itu bersama siapa?” “Saya tinggalin bersama Bu De. Kalau Bu De ada aktivitas lain, biasanya saya titip bersama Mbak Yu.” “Kasihan,” ujar Pak Baskara menaruh iba, “nanti bawa ke rumah. Tantemu pasti senang.” “Tuh, apa saya bilang,” Emerald menyetujui niat baik ayahnya, “bisa-bisa nanti Mama berniat untuk mengasuh Raffa. Ya, kan Pa?” Eme melempar pertanyaan pada Pak Baskara. “Iya, iya. Betul. Mamanya Eme pasti senang, Jes.” “Terima kasih, Om.” “Ngomong-ngomong, Raffa anak kamu, Jes?” Pak Baskara tanpa sungkan menanyakan asal muasal Raffa pada Jessi. Meski pun ia sudah mendengar penuturan Emerald tadi malam, rasanya belum puas jika tidak mendengar langsung dari Jessi sebagai pemilik hak asuh atas Raffa. “Raffa anak dari Mbak Yu saya, Om,” Jessi masih tak ingin menjelaskan lebih. Padahal, sejauh ini hanya dirinya dan Bu De Sarini yang mengetahui dari mana Raffa berasal. Jessi tak ingin membuka aib Raffa dengan gamblang. Toh, selama ini ia sendiri sudah bertindak sebagai orang tua tunggal yang baik dalam mengasuh dan membesarkan Raffa. “Orang tuanya kemana?” “Ada,” jawab Jessi singkat seakan ingin memotong pertanyaan. Memahami jawaban singkat Jessi, sebagai orang tua yang bijaksana, Pak Baskara tak ingin mengulik lebih jauh. Demikian pun Emerald. Meski ia juga diselimuti rasa penasaran, ia juga tak ingin terlalu memaksa Jessi untuk menceritakan perihal Raffa. Bagi Emerald, Raffa tetaplah seorang anak yang lucu dan masih lugu. Seorang anak yang seharusnya mendapat kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Tapi Raffa ternyata salah satu anak yang kurang beruntung dari jutaan anak yang ada di Indonesia ini. Seandainya diberi kesempatan untuk sama-sama merawat Raffa, Emerald tidak akan keberatan. Toh, ia juga punya banyak uang untuk menyewa pengasuh supaya tumbuh kembang Raffa dapat terjamin dengan pola hidup dan pengawasan yang bagus. “Am, eme!” “Iya, Pa,” Eme merespon cepat sapaan ayahnya. “Papa nggak bisa berlama-lama. Ada urusan lain di luar. Papa harus pergi.” “Papa udah ninjau office?” Emerald memastikan maksud kedatangan ayahnya sudah terlaksana. Tadi malam, dalam perbincangan, mereka sempat membahas satu office yang kinerjanya menurun. Sesuai kesepakatan, Eme meminta ayahnya untuk memberi motivasi kepada karyawan di office tersebut agar kembali memiliki etos kerja yang tinggi. “Nanti, sambil ke luar Papa akan menuju ke sana.” “Baik, Pa. terima kasih sudah berkenan mampir lagi ke sini.” “Sama-sama. Tetap semangat bekerja, ya.” Pak Baskara menepuk pundak putra semata wayangnya itu, “apalagi sudah ditemani sekretaris muda dan cantik juga baik hati seperti Jessi ini,” ujarnya lagi memberi semangat. “Akh, Om ada-ada saja,” Jessi tersipu malu sembari ikut berdiri dan mendekat untuk memberi salam hormat lagi pada Pak Baskara. “Bawa Raffa ke rumah!” ujar pria paruh baya itu lagi mempersilakan. “Nanti, sepulang kerja kami menjemput Raffa, Om.” “Oke. Om dan Tante akan menunggu di rumah.” “Pa, Raffa dan Jessi boleh menginap, kan?” Emerald kembali meminta izin. Percis seprti anak-anak usia remaja yang masih perlu keputusan orang tua dalam memberi izin, Emerald melakukan itu pada ayahnya. “Nggak masalah. Di rumah banyak kamar kosong. Silakan saja,” pak Baskara tersenyum lebar menanggapi permohonan Emerald. Eme memainkan alisnya di hadapan Jessi. Menandakan bahwa ia telah berhasil meyakinkan orang tuanya untuk memberi peluang dirinya membawa Jessi dan Raffa mampir ke rumah. “Oh, ya. Raffa suka mainan apa?” Padahal Pak Baskara sudah berada di depan pintu, pria paruh baya itu kembali memutar badannya perihal mainan kesukaan Raffa. Ia ingin memastikan supaya bisa membelikan mainan untuk menyambut kedatangan Raffa nantinya. “Nggak usah repot, Om. Nanti Jessi dan Raffa bawa mainan dari rumah saja.” “Akh, tentu beda,” Pak Baskara meyakinkan Jessi bahwa ia benar-benar ingin membelikan Raffa mainan sebagai bentuk sambutan kecil pada kedatangan Raffa nantinya. “Mobil-mobilan, mungkin Pa. Atau pesawat … oh, ya. Baling-baling juga boleh Pa ….” “Emangnya Raffa usia berapa tahun?” Pak Baskara memotong ucapan Emerald. “Hampir tiga tahun, Om,” Jessi menegaskan. “Oooh ….” Pak Baskara manggut-manggut tanda mengerti, “baiklah! Papa keluar ya. Selamat bekerja,” ucapnya sebelum lenyap di balik pintu. “Hati-hati, Pa!” Emerald memberi warning pada ayahnya, “yes!” lanjutnya dengan ekspresi girang. “Bapak kenapa?” Jessi memandang heran pada Emerald. “Saya senang karena bisa berjumpa lagi dengan Raffa.” “Senang amat?” Jessi menatap ragu. “Jes …” tiba-tiba Emerald sedikit termenung, nadanya meminta pendapat Jessi, “Raffa bukan anak kandung kamu, kan?” “Kalau anak kandung saya emang kenapa? Kalau bukan juga apa salah?” “Bukan … bukan. Tolong jangan tersinggung,” Emerald berusaha meluruskan ucapannya. “Bapak ada maksud apa?” Jessi memandang sinis pada Emerald. Khawatir kalau pria itu merencanakan hal buruk terhadap Raffa. “Kalau Raffa jadi anak angkat saya gimana?” Hahaha. seketika Jessi tertawa lebar. “Kenapa Anda tertawa?” merasa ucapannya salah, Emerald jadi sungkan. “Bapak aja belum nikah, gimana mau adopsi anak!” Jessi memberi peringatan yang cukup menampar hati Emerald. Emerald Putra Baskara memang sudah berusia tiga puluh empat tahun. Tapi bukan berarti ia tak laku. Eme hanya masih kekeh untuk menutup hatinya dari perempuan mana pun sebelum ia menemukan Gina. “Menikah?” “Iya. Menikah.” Jessi memantapkan ucapannya. “Kamu punya tugas mencari jodoh untuk saya, Kan?” seketika Emerald menatap Jessi penuh harap. Bukannya mengiyakan, Jessi menarik pundaknya tanda tak setuju. Meski ada tugas khusus dari Pak Baskara padanya, Jessi tetap sungkan untuk melaksanakan. Lagi pula untuk pria setampan Emerald tidak mungkin sulit mencari jodohnya sendiri. “Cari aja sendiri!” Jessi segera berpaling dari hadapan Emerald. “Tunggu!” pria itu menahan pergelangan Jessi. “Kalau saya menikah sama kamu, bagaimana?” “Apa?!” Jessi terperangah, “Ti … daaa … kkk!!!” teriaknya histeris. Beruntung ruang kerja Emerald kedap suara. Sekeras apa pun teriakan Jessi tidak akan terdengar sampai keluar. Jessi menghempas genggaman tangan emerald. “Nggak, saya cuma bercanda. Jangan baper!” Emerald mencairkan suasana. Ini kali ketiganya dalam satu hari kerja ia merasa bahagia karena berhasil membuat Jessi kesal. Tujuan Eme tidak banyak. Ia sebenarnya hanya ingin mengusili sekretaris pribadinya itu dengan berbagai cara. “Saya di sini ingin bekerja, Pak. Bukan menjalin hubungan. Kalau bapak mau nikah, segera cari jodoh sendiri!” Jessi menggerutu karena menahan kesal. Ada-ada saja tingkah bosnya itu yang membuat hati Jessi tidak aman. “Kalau jodoh saya tidak ada?” “Ada.” “Nggak ada.” “Ada, Bapak!” ujar Jessi geram tepat di wajah Emerald. Pria itu memonyongkan bibir, seakan ingin mengecup kening Jessi yang berhadapan dengan wajahnya. Tak ingin berlarut, Emerald tertawa keras. Ia beranjak dari hadapan Jessi yang masih berdiri terpaku karena syok mengira kalau laki-laki itu benar akan mengecup keningnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN