Panik

1418 Kata
“Ibu, Hanna pamit dulu, ya!” Entah apa yang ada dalam pikiran Hanna. Ia malah memilih untuk lebih dulu beranjak sebelum makan malam bersama dilaksanakan di rumah keluarga Baskara saat itu. “Loh, Nak Hanna nggak ikut makan malam dulu?” Bu Sundari menghampiri Hanna yang sudah siap menjinjing sling bag di pundaknya. “Terima kasih, Bu. Lain kali Hanna mampir dan bantu Ibu masak di dapur,” Hanna memandang sinis pada Jessi, “kali ini biar Jessi dulu yang bantu Ibu,” ucap Hanna, wanita itu tampak berusaha menyindir kehadiran Jessi. “Tunggulah sebentar, Han. Kita makan bersama dulu,” Emerald turut mencegat Hanna. “Kalau dia mau pergi nggak apa-apa, Mas. Mungkin Hanna ada kegiatan lain,” Jessi tak mau kalah membalas sinis ucapan Hanna padanya. Hanna terdiam. Sebenarnya ia hanya ingin pura-pura beranjak. Sudah tepat baginya Emerald dan Bu Sundari menahannya. Tapi karena dikuatkan oleh ucapan Jessi, Hanna jadi ciut. Ia menjeling tajam pada Jessi. “Iya, aku ada urusan di luar, Mas,” ucap Hanna hampir terbata menutupi kekecewaannya. “Ya udah, lain kali mampir lagi, ya ke sini,” pinta Bu Sundari sembari mendekati Hanna, “salam buat bapak dan ibumu,” ucap wanita paruh baya itu lagi di hadapan Hanna. “Baik, Bu. Nanti Hanna sampaikan.” “Tante Ana mau pelgi ke mana?” Raffa turut menghampiri hingga membuat Jessi terpaksa menahan pergelangan tangan Raffa agar tidak menghiraukan kepergian Hanna. “Tante Hanna pamit dulu ya, Sayang,” ucap Hanna pura-pura ramah pada Raffa. “Yah, kita kan masih mau main …” “Raffa,” Jessi memotong ucapan Raffa. “Ya udah, nanti lain kali Tante Hanna main lagi sama Raffa, ya,” lagi-lagi Hanna menjeling sinis pada Jessi. Jessi yang sudah mengetahui niat busuk Hanna berusaha membuang muka. Ia menarik napas agar tidak terpengaruh dengan ancaman Hanna padanya. “Ibu … Mas Eme. Hanna pamit, ya,” Hanna memeluk hormat ibunda Emerald. “Hati-hati, Han!” ucap Emerald kala wanita itu juga berpamitan dengannya. “Baik, Mas. See you,” ucap Hanna sembari berlalu. Saat hanna telah berlalu, Jessi lebih dulu duduk di meja makan. Meski pun tuan rumah belum berada di sana, tapi tidak mengurangi rasa hormat Jessi untuk menempati posisi di kursi yaang telah di sediakan. “Maaf, Bu. Jessi lelah dan duduk duluan,” ucap Jessi pada Bu Sundari untuk meminta izin. “Silakan, Nak. Silakan!” Bu Sundari dengan humble mempersilakan, “papamu mana, Le?” lanjut Bu Sundari sembari memandang pada Emerald. “Tadi masih berganti pakaian, Ma. Keringatan karena main bola sama Raffa.” “Loh, Raffa nggak kepanasan?” “Laffa kan kuat, Eyang!” ujar Raffa dengan nada yang nyaring dan penuh semangat. “Oh, ya?” gelak tawa mengisi meja makan keluarga Baskara. Suasana kembali terasa damai setelah kepergian Hanna. Seandainya Hanna masih ada di sana mungkin Jessi tak akan senyaman ini. Hanna pasti akan semakin kuat meruntuhkan hati Jessi. “Eme!” “Iya, Ma,” sahut Emerald ketika sang ibu menyebut namanya. “Kamu sudah kasi posisi kerja untuk Hanna?” Emerald menarik napas panjang. Ia mengetuk sisi meja dengan kedua jari telunjuknya. Sebenarnya Emerald sangat ingin membantu Hanna. Tapi di sisi lain, perusahaan juga sudah full posisi karyawan. Emerald juga tidak mungkin memberikan posisi paling bawah pada Hanna. Bagaimana pun juga, Hanna adalah bagian dari keluarga besar mereka. “Belum, Ma,” jawab Emerald. “Kenapa?” tanya Bu Sundari lembut. “Eme bingung mau kasi posisi apa untuk Hanna. Dia sendiri mau jadi sekretaris Eme, Ma. Mama juga tahu, sekarang posisi sekretaris sudah ditempati oleh Jessi,” Emerald memandang pada Jessi, “Eme dan Jessi juga sudah klop. Ya kan, Jes?” “I … iyaaa …” jawab Jessi terbata saat Emerald menyebut namanya. “Bagus dong. Kan nggak perlu cari pengganti,” Bu Sundari menyetujui. “Tapi maslaahnya ada pada Hanna, Ma,” Emerald menarik napas, “sebenarnya Eme sedikit risih, sih kalau harus bekerja sama Hanna. Lagian basic dia kan sebagai psikolog anak,”ujar Emerald blak-blakkan. “Kamu cari aja tempat kerja yang cocok untuk Hanna!” pinta Bu Sundari lagi. “Maksud Mama?” “Ya, maksud Mama, kamu bantu dia cari tempat yang cocok untuk Hanna bekerja.” “Hmmm …” Emerald berdehem, “lagian Eme juga heran, hanna sebelumnya bekerja di mana, Ma, Mama tahu?” tanya Emerald mulai menerka pekerjaan Hanna sebelumnya. Bu Sundari menggeleng. “Hanna itu sedang bekerja di sebuah lembaga swasta,” seketika Pak Baskara muncul di hadapan mereka. “Papa …” Emerald memandang pada ayahnya. “Sejak pulang ke sini, Bu De Sri kamu meminta Hanna meninggalkan pekerjaannya dan minta Papa untuk memasukkan Hanna ke Litus Property,” ujar Pak Baskara yang ternyata mengetahui latar belakang pekerjaan Hanna. “Kenapa, Pa?” tanya Bu Sundari ikut heran. “Nggak tahu,” Pak Baskara mengangkat kedua bahunya lalu duduk di kursi, “katanya supaya nggak jauh-jauh lagi dari Pak De dan Bu De kamu.” “Tapi, kan kita nggak bisa bantu sepenuhnya, Pa!” nada Bu Sundari agaknya kurang setuju untuk menerima Hanna dalam perusahaan mereka. Jessi yang sejak tadi berada di tengah-tengah keluarga Baskara hanya terpaku. Ia mendengarkan dengan seksama apa yang sudah di perbincangkan dalam keluarga ini tentang Hanna. “Ya, Papa pikir juga begitu,” Pak Baskara meremas jemarinya, “ada baiknya kamu mengikuti saran mamamu tadi, Eme!” perintah Pak Baskara. “Nanti Eme pikirkan lagi, Pa.” “Ya udah, yuk kita makan dulu!” ajak Pak Baskara. Bu Sundari dengan sigap mengambil makanan untuk suaminya. Sementara Jessi juga lebih dulu menyiapkan sajian makanan untuk Raffa agar bocah kecil itu bisa duduk dengan anteng menikmati makanan yang diberikan padanya. “Makan yang lahap ya jagoan Eyang!” Pak Baskara memberi support pada Raffa. Raffa kecil mengangguk-angguk sembari mengayunkan kakinya yang menggantung saat duduk di kursi. Suasana makan malam dalam keluarga Pak Baskara terasa harmonis dan penuh kekeluargaan. Jessi duduk dengan tenang meskipun ia hanya memenuhi undangan dari keluarga ini. Itu pun karena permohonan Emerald untuk menemani Raffa. “Jessi,” sapa Pak Baskara sembari menikmati dengan lahap lalapan yang disuguhkan oleh istrinya. “Iya, Om.” Jessi tetap konsisten memanggil Pak Baskara dengan sebutan ‘Om’ sejak awal perjumpaan mereka di bandara beberapa waktu yang lalu. “Kamu aman bekerja dengan Emerad?” “Ya aman lah, pa. kalau nggak aman mana mungkin Jessi mau duduk makan bersama dengan kita malam ini,” seloroh Emerald. “Papa bertanya pada Jessi, Eme!” “Hmmm … mulai, mulai …” Emerald meledek ayahnya. “Gimana, Jes?” tanya Pak Baskara. Jessi mengurai senyum, ia sempat menatap pada Emerald, khawatir ucapannya akan menyinggung pria itu, “seperti yang Eme katakan, Om.” “Kamu tidak sedang diintimidasi saama dia, kan?” Pak Baskara menatap putranya. Tatapan sang ayah membuat Emerald tersipu malu. Sejauh beberapa hari ini, Jessi bekerja dengan jujur. Mana mungkin Emerald mengintimidasi Jessi. “Papa bercanda.” Pak Baskara mengelap bibirnya dengan tissue, “kemarin, kan Papa udah singgah di kantor. Jadi, Papa sudah tahu bagaimana Jessi bekerja,” ujar Pak Baskara meluruskan ucapannya. Jessi menarik napas. Ia bersyukur karena Pak Baskara tidak berlebihan mengintrogasinya. “Papa ini ada-ada saja. Anak-anak kita ini sudah klop kok dalam pekerjaan,” Bu Sundari bangkit dari tempat duduknya lalu segera merapikan meja makan karena makan malam telah usai. Jessi pun tak ingin ketinggalan langkah, ia membantu Bu Sundari membereskan meja makan. Sementara Pak Baskara dan Emerald kembali terlibat pembicaraan yang lain. “Biar Jessi yang bantu nyuci, Bu,” pinta Jessi saat ia melihat Bu Sundari telah berdiri di depan wastafel hendak mencuci peralatan makan mereka tadi. “Ibu sudah terbiasa. Nak Jessi duduk saja di sana. Temani Bapak sama Emerald ngobrol,” perintah Bu Sundari dengan halus kala menolak bantuan Jessi. “Tapi, Bu …” Jessi masih merasa sungkan. “Nggak apa-apa. Duduk saja!” perintah Bu Sundari lagi. “Baiklah, Bu. Maaf Jessi nggak bantu,” Jessi yang masih merasa sungkan tetap ingin membantu pekerjaan Bu Sundari. “Duduklah!” Bu Sundari tersenyum pada Jessi. “Rafaaa …” Jessi terperangah. Raffa tersandung di lantai karena kakinya menyenggol sisi kursi meja makan. Suasana di rumah Pak Baskara menjadi riuh karena tangisan Raffa yang tidak berhenti. Akibat kelalaian mereka semua dalam menjaga Raffa membuat anak laki-laki itu tersandung dan mengakibatkan tulang besar di pergelangan tangannya patah. Suasana seketika menjadi panik. Emerald bergegas menggendong Raffa ke dalam mobil dan membawa anak kecil itu menuju rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN