Pov dini
Setelah menghabiskan makanannya kak dali menyusut keringat yang mebasahi dahinya dengan tisu.
"Kenapa makanannya gak dihabiskan" tanyanya sambil meneguk minumannya.
"Udah habis kak, tapi kalau nambah lagi perutku udah gak muat" jawabku sambil menundukan kepala.
"Hmmmzz harus tanggung jawab dong nanti nasinya marah" ujar kak dali cuek.
"Maaf banget kak, aku udah gak kuat, kakak aja yang habisin" balasku sambil mendekatkan piring berisi nasi kedekatnya.
"Gak mau ah masa kamu yang berbuat aku yang harus bertangung jawab" ucap kak dali menolak.
"Tolong yah kak please" ujarku memelas sambil memasang muka imut menatap kearahnya.
"Jangan pasang muka seperti aku tidak iba kok" jawabnya
Akupun menekuk wajahku kesal karena tidak dapat merayunya.
"Oke gak apa apa aku yang habiskan, terus apa hadiahnya jika makanan ini habis" tanya kak dali sambil menatap kearahku.
"Hadiah apa kak, aku tidak punya apa apa" tanyaku sambil menatap kearahnya.
Pandangan kitapun beradu membuat tubuhku bergetar, jantungku terasa lebih cepat berdetak.
Ditatap seperti itu dia hanya senyum sambil menunjuk bibirnya.
Mataku tiba tiba terbelalak tidak menyangka kak dali yang alim itu meminta c1um.
"Jangan cium dong kak, gak ada yang lain apa" pintaku sambil menatapnya nanar takut itu beneran terjadi.
Kak dali tidak menjawab, hanya mengulurkan tangannya menyentuh bibirku,
"Makan kok belepotan kaya anak kecil saja" ujarnya sambil membuang sisa nasi yang tadi nempel dibibirku.
Mulutku seketika menganga menyadari hal itu, terlebih tadi aku udah menuduh kak dali yang macam macam, pengen rasanya membenamkan wajahku agar tidak terlihat.
"Mainanya udah cium cium aja, nanti aja dikosan kalau mau dic1um disini banyak orang" ujarnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Aku hanya tertunduk malu, mau menyangkal udah jelas jelas pasti aku kalah lagi darinya.
Kak dali melambaikan tangan kearah pelayan, merasa ada yang memangil pelayan itu pun menghampiri.
"Iya ada apa kak" tanya pelayan sambil senyum.
"Tolong nasi ini dibungkus kalau ada, r0koknya sebungkus, sekalian minta nota pembayaranya" ujar kak dali
Pelayan itu hanya mengaguk, lalu membawa nasi yang tadi belum dimakan, tak selang berapa lama pelayan itu kembali sambil membawa kantong berisi bok, lalu menyerahkannya ke kak dali.
"Ini nasi sama rok0knya, dan ini nota pembayaranya kak" sambil menyerahkan keratas kecil.
Setelah menerima nota dan membacanya, kak dali membuka tasnya lalu mengeluarkan uang kemudian menyerahkan kepada pelayan, kemudian pelayan itu menghitung uangnya.
"Ambil aja kambaliannya buat kakak" tawarnya percaya diri.
"Uangnya pas kak" ujar pelayan sambil menujukan kembali uang yang tadi diberikan
Uhhhuuuuuuk
Aku yang lagi mau menghabiskan tehku tersendat kaget mendengar itu, pake sok sokan mua ngasih tips segala padalah uang pas juga.
"Kenapa din" tanyanya.
Aku cuma mengangkat telapak tangan memberikan kode bahwa aku baik baik saja.
"Oh pas ya kirain lebih" ujar kak dali tanpa dosa, dia mengambil uang lagi dari tasnya lalu memberikan kepada pelayan itu.
"Terima kasih yah kak semoga dibalas lebih oleh tuhan YME dan hubungany tetap langgeng yah" ujar pelayan itu sambil senyum.
"Amiiiinnn" ujar kak dali sambil mengusapkan kedua telapak tangannya kemuka.
Pelayan itupun pamit meningalkan kita yang masih menikmati teh panas, rasanya sangat pas apalagi setelah makan yang pedas.
"Maaf cuma bisa ngajak makan ditempat seperti ini" ujarnya sambil menatap sayu kearahku.
"Engga kak ini sangat istimewa, makasih yah maaf sering banget aku ngerepotin kakak" jawabku lirih.
Karena menurutku keistimewaan makan itu bukan dengan apa kita makan tapi dengan siapa kita makan,
"Sama sama nanti kalau aku ada rejeki, aku ajak makan kamu ditempat yang mewah" ujarnya dengan tatapan serius.
"Terima kasih lagi untuk yang kedua kalinya kakak udah ada niatan seperti itu, semoga rejeki kakak dilancarkan oleh Allah swt" ujarku sambil menatap haru kearahnya,
Suasana pun menjadi melow, mengantarkan hayalan masing masing menembus cakralawa, lama terdiam kak dali membuka rok0k yang tadi dibelinya.
"Kak dali nger0ko juga" tanyaku tanpa mememcahkan hening diantar kita berdua.
"Kadang tergantung situasinya aja, kalau lagi ngumpul suka ada yang ngasih yah di isep, walau cuma sebatang rok0k itu tetap rejeki gak baik kalau ditolak" ujar kak dali sambil ngambil sebatang r0kok lalu menyimpan kembali bungkusnya diatas meja.
"Terus sekarang mau nger0kok gitu" tanyaku heran.
"Enggak aku mau nyelamitin kamu" ujarnya santai sambil menghisap r0kok yang belum dibakar lalu pura pura menyemburkan asapnya keatas.
Aku yang melihatnya pun geli ada yah orang aneh seperti itu masa ngeroko tapi gak nyala.
"Nyelamatin apa justru aku enggak suka asap rok0k" jawabku sambil menatapnya heran.
"Kata orang kalau gak ngerok0k itu tandanya lagi gak punya duit, makanya aku nger0kok biar keliatan punya duit" jawabnnya enteng sambil mengetuk ngeteuk ujung rokok keasbak bak rok0k itu menyala dan ada sakarnya.
"Lantas apa hubungan anatar rok0k dan keselamatan aku" tanyaku penasaran.
"Aku gak mau orang orang mengagap kamu lagi jalan sama orang yang gak punya duit, walau kenyataanya bener begitu, setidaknya aku udah berusaha melindungimu" jawabnya sambil memasukan kembali rok0k yang dipegang sedari tadi kebungkusnya.
"Ihhhhh apaan sih gak jelas amat" gerutuku sambil menekuk wajahku.
"Pulang yuk dah malam" ajaknya sambil berdiri lalu mengulurkan tangan kearahku.
Akupun menganguk kemudian memegang tangannya seraya bangkit dari tempat duduk.
Sebelum meningalkan meja makan kak dali mengambil kantong yang berisi bok nasi, lalu menuntunku berjalan kearea parkir.
Seperti biasa setelah mengaitkan kantong di stang motornya, dia mengabil helm lalu memakaikannya kekepelaku.
Aku hanya terdiam menurut ketika dia mengikatkan talinya tak ada perlawanan seperti ketika mau berangkat.
"Pegangan yah aku mau ngebut" pinta kak dali ketika motor sudah melaju meninggalkan tempat parkir.
Disuruh seperti itu Aku hanya memegang pingiran baju didekat pinggangnya.
Kak dali cuma mengeleng geleng kepala sambil terus menarik gas menuju kekosanku.
Sesampai didepan pos jaga kak dali mematikan motor, kemudian mengkick standing motornya, diapun menoleh kearahku memberi kode agar aku turun dari motornya.
Aku tersadar lalu melepaskan pelukkan yang melingkar dipinggangnya, akupun tak sadar mengapa itu bisa terjadi padahal tadi sebelum meningalkan tempat makan aku menolaknya.
Setelah turun dari motor dia menghapiri pos jaga lalu meberikan bok nasi kepada penjaga kosku.
"Wah kebetulan banget lagi lapar malah dapat nasi, terimakasih yah" ujar penjaga kosku sambil senyum.
"Sama sama oya punya korek gak" tanya kak dali.
"Ada bang" sambil mengabil korek yang ada dimeja lalu menyerahkanya ke kak dali.
Kak dali pun mengabilnya lalu mengelurkan sebatang r0kok untuk dibakarnya.
"Nih rok0knya tadi bingung mau belin r0kok apa, jadi saya beli yang ada saja oh iya saya minta satu ya" sambil mengacungkan rok0k yang dibakarnya lalu menyerahkan kembali korek sama r0konya.
"Kalau saya sih rok0k apa saja yang penting ngebul, terima kasih banyak yah pake beliin r0kok segala jadi gak enak ngerepotin hehehe" ujar penjaga itu sambil menerima rok0knya.
Setelah dirasa selesai berbincang kak dali seperti biasa menarik jemariku untuk mengikutinya.
Sesampai didepan pintu kontrakan.
"Mat bobo yah, terima kasih udah mau menemani aku makan" sambil melepaskan genggamannya.
"Iya sama sama kak makasih juga udah ngajak aku makan" ujarku sambil menunundukan kepala.
"Ya udah masuk gih, aku harus memastikan kamu kembali dengan aman sampai kamarmu" ujar kak dali sambil melipat kedua tanganmya didada bak bodyguard yang sigap mengawal majikanya.
Akupun berlalu setelah menutup pintu kamar terdengar suara langkah sepatu menigalka depan kosanku.
Akupun penasaran lalu mengintip melalui celah gorden yang kubuka terlihat kak dali menaiki motor lalu melambaikan tengan kearah penjaga kemudian pergi meningalkan kosanku.
Ketika dia udah tak terlihat lagi aku baru sadar jaketnya masih melekat ditubuhku.
"Kenapa bisa lupa sih, kasian kan dia nanti kedinginan" gumamku sambil merebahkan badan diatas kasur tanpa membuka jaketnya.
Aku melipatkan tangan seolah olah lagi dipeluk kak dali, membanyangkan seperti itu matakupun mengatup meningalkan semua keindahan yang baru aku alami.