Pov dali
Sepulang mengatrakan dini kerja aku bergegas pulang karena aku ada janji dengan stela, untuk meneraktir makan malam.
Sesamapai di kosan oh iya aku belum pindah ke rumah baru karena masih tahap renovasi.
( sore stela jadi kan kita makan malam kalau jadi tolong shere lock nya biar mudah aku menjeputnya )
Send
Isi pesanku kekontak stela di aplikasi hijau berlogo telepon itu, tak berapa lama kemudian ponselku berdering.
Triing
( kirain lo lupa ternyata lu jentel juga ) pesan stela di akhiri emoticon ketawa.
( malah ngeledek, buruan kirim lokasinya nanti habis shoat magrib aku jemput biar gak kemalaman )
Send
Stela mengirim lokasinya, walau sudah betfathner selama dua tahun kita jarang bertegur sapa sebab selalu beda ship.
Sehabis sholat magrib aku berangkat mengemdarai kuda besiku, menuju lokasi yang stela kirimkan tak lupa membeli buah tangan untuk oleh oleh"
Setelah penuh perjuangan mencari lokasi sesuai google maps, akhirnya aku sampai didepan rumah beringakat tiga dengan pintu pagar menjulang tinggi, disamping pintu pagar ada pos scurity diisi dua orang penjaga.
Aku metikan motorku lalu aku mengecek telepon pintarku, dan menyamakan alamat yang dikirim stela dengan rumah besar ini.
Ada keraguan dalam diruku masa iya ini rumah stela, kalau memang benar ini rumahnya berarti stela orang kaya, kalau kaya ngapain dia repot repot kerja di coffe.
Dari pada rasa penasaran semakin membara dalam diriku mending aku hubungin yang bersangkutan.
Aku fotoin jalan yang ada didepan rumah stela lalu mengirimkannya ke nomor stela denga caption "aku udah sampe depan rumah" tak lama pesan bercentan biru dua itu tandanya dia sudah membacanya.
Lama menunggu tapi tak kunjug ada balasan aku udah berburuk sangka saja bahwa stela mengerjaiku.
Walau hanya lima menit kalau menungu rasanya sejam.
( kamu dimana jadi gak makannya ) tanyaku melalu pesan aplikasi.
Aku menatap pesan yang baru aku kirim tapi tak kunjung membiru membuatku agak kesal dibuatnya, aku memasukan kembali ponselku ke dalam tas yang kuselempangkan didedap dadaku.
Ketika aku hendak mengkick stater motorku tiba tiba pintu pagar rumah berlantai tiga itu terbuka.
"Bang dali yah" tanya satpam yang membukakan pintu.
Aku segera menghentikan niatku lalu aku membuka helm yang menutupi kepala.
"Iya pak, maaf menggangu" jawabku sambil mengangukan kepal dibarengi dengan senyum tanda hormat.
"Non stela udah menunggu di dalam silahkan masuk, sekalin parkir motornya didalam" perintah pak satpam.
Aku hanya menganguk kemudian mendorong motorku masuk kedalam.
"Nyalain aja bang biar gak didorong begitu" saran pak satpam,
Aku hanya tersenyum getir kearahnya lalu memarkirkan motorku di samping pos satpam.
"Tamu disana bang parkir motornya" sambil menunjuk kedepan rumah mewah itu.
"Disini aja gak apa kan pak maaf menggangu" ujarku memohon
"Ya gak apa apa sih tapi biasanya tamu undangan disana" jelas pak satpam.
Setelah mengkick standing motorku aku berpamitan kepada mereka untuk menumui stela yang udah menunggu diteras rumah,
Terlihat stela yang berdiri menungguku malam itu dia hanya memakai baju anak kecil, terlihat baju itu hanya mampu menutupi dari bagian d**a sampai paha itupun kayanya tidak muat sehinga menapilkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.
"Asalamualaikum" ujarku sambil senyum lalu kutundukan kepala biar mata ini tidak terus berbuat dosa.
"Walaikumsalam, motornya kenapa tidak dibawa kesini" tanya stela
"Engga apa apa la disana juga aman" jawabku
"Oh ya udah gak apa apa kalau begitu, ayo masuk" sambil meraih tangan kananku lalu menariknya keruang tamu.
Setibanya diruang tamu stela mempersilahkanku duduk di disofa besar yang empuk.
" lo Mau minum apa biar dibikinin" tanyanya sambil menatap kearahku.
"Engak usah ngerepotin la, terima kasih sebelumnya" ujarku sambil memandang bungkusan yang kubawa di atas meja.
"Gue perhatiin dari tadi kayanya lu j1j1k yah melihat gue, tak seperti biasanya kalau lu lagi ngoborol membuang muka seperti itu" tiba tiba stela bertanya begitu membuatku tidak enak hati.
"Maaf stela boleh duduk dulu sebentar" pintaku sambil menolehnya lalu menundukan lagi kepalaku.
Stela pun menurut lalu duduk dihadapanku.
"Maaf stela bukan maksud mengatur hidup orang lain tapi aku gak nyaman melihat pakainmu seperti itu, memang itu hak kamu mau pake baju seperti apapun aku tak berhak melarangnya, tapi aku juga punya hak menjaga pandanganku, bukan sok alim atau sok agamis tapi aku juga pengen jadi pribadi yang alim yang agamis, tanpa mengurangi rasa hormat aku meminta maaf kalau perkatan atau perbuatanku tidak berkenan dihatimu" jelasku panjang lebar
Aku berbicara dengan tetap menundukan kepala.
"Oh itu maaf yah kalau membuat lo tidak nyaman, sebentar gue buatkan minum dulu" ujar stela sambil bangkit dari tempat duduknya.
Setelah stela pergi napasku lega kembali, rasa seperti lagi mengambil oksigen kepermukaan, ketika lagi menyelam.
"Eh ternyata ada tamu" ujar seseorang dari ruang tengah.
Terlihat ada dua orang yang datang menghapiriku
Aku pun bengkit dari tempat duduk lalu mencium pungung tangan meraka.
"Silahkan duduk kembali" ujar bapak bapak berpakaian sederhana tapi sorot matanya mengeluarkan kharisma.
"Terimakasih pak, bu" ujarku sambil senyum.
"Namanya siapa" tanya ibu ibu yang duduk disebelahnya.
"Dali bu" jawabku singat sambil menolehnya lalu menundukan lagi kepala.
"Oh dali temen kerjanya stela yah, kenalian nama saya bagaskara dan ini istri saya namanya nanda asri wanita paling cantik kedua setelah stela" ujar pak bagas sambil senyum.
Mendapat pujian seperti itu ibu asri hanya senyum getir menangapi pujian suaminya.
"Ngomong ngomong kamu bawa apa nih, pake ngerepotin segala" tanya pak bagas sambil menatap kearah bungkusan yang ada diatas meja.
"Martabak pak, maaf cuma itu yang aku bawa" jawabku ragu karena mungkin bagi mereka ini hanya makanan jalanan yang tidak higienis bagi kesehetanya.
"Wah mantep nih makanan keseukan bapak, boleh bapa membukanya" ujar pak bagas sambil mengambil bungkasan.
"Boleh pak" jawabku sambil tersenyum getir
Pak bagas pun mebuka pelastik yang kubawa lalu mengambil tisu yang ada dimeja untuk dijadikan alas ketika mengabil martabak.
"Enak bu" ujar pak bagas sambil melirik keistrinya.
"Masa coba sini bagi ibu" ujar bu asri.
Pak bagaspun menyuapi ibu asri dengan lembut.
"Iya enak jadi inget jaman dulu pas pacaran, bapak sering banget bawain martabak ketika maen kerumah" kenang bu asri
"Apalagi kalau pake teh pasti enak banget" ujar pak bagas menimpali
Aku hanya senyum senyum melihat keromantisan mereka.
Tak lama seorang ibu ibu datang menghampiri lalu manaruh gelas berisi kopi dihadapanku.
"Bapak ibu mau minum apa biar sekalian dibikinin" tawarnya sambil menatap kearah pak bagas dan bu asri
"Bapak mau teh tawar bi tapi gak apa apa biar ibu yang bikinin" ujar bu asri seraya bangkit dari duduknya.
"Udah lama kerja di coffe li" tanya pak bagas membuka kembali obrolan setelah tadi asik mempertontonkan keromantisany.
"Hampir lima tahun pak" jawabku.
"Oh lama juga yah, hebat kamu li bisa betah seperti itu" puji pak bagas yang mungkin sekedar basa basi.
"Bukan betah pak tapi butuh" jawabku tersenyum getir.
"Hahahaha bisa aja kamu li" ujar pak andra tertawa aku juga heran apanya yang lucu.
Tak lama bu asri dan stela datang membawa nampan berisi dua mug teh dan piring kosong.
"Bapak jangan ledekin terus kak dali apa" ujar stela manja.
Ternyata stela lama tak keluar dia menganti bajunya dengan rok tiga peremat dan baju kemaja lengan panjang terlihat anggun dan cantik apalagi ada bando melingkar dikepalnya membuat dia sangat imut sekali.
Ternyata Bukan aku saja yang terpana pak bagaspun demikian, terlihat dari tatapanya yang tak bisa lepas dari anaknya.
"Aduh anak bapak cantik banget sih, beda yah kalau pacarnya yang nasihatin langsung nurut sini duduk dekat bapak" ujar pak bagas sambil ngekek.
"Ih bapak apan sih lebay banget deh" jawab stela sambil duduk disamping pak bagas.
Ibu asri mengikuti duduk disebelah stela, aku hanya tersenyum getir melihat mereka serasa lagi ikut audisi tahap seleksi.
"Diminum li kopinya" tawar pak bagas sambil meneguk tehnya, lalu mengambi kembali martabak yang aku bawa.
Mendapat perintah seperti itu aku hanya menganguk lalu menenguk kopi sedikit sedikit.
Setelah lama mengobrol aku baru sadar aku kesini untuk menepati janji mengajak stela makan.
"Maaf pak maaf bu bukan saya kurang sopan tapi saya datang kesini saya mau mengajak stela makan malam, itu pun kalau bapak ibu mengijinkan" pintaku sambil menatap mereka.
"Oh kirain bapak kamu mau melamar tadinya bapak udah senang" jawab pak bagas sambil ngekek
"Bapak apan sih malu tau, nanti kak dalinya ilfil" ketus stela manja.
"ya udah berangkat sana mumpung masih sore biar pulangnya tidak terlalu malam" seru bu asri.
Aku pun bangkit lalu menyalami mereka, kemudian keluar dari ruang keluarga diikuti dengan stela.
"Li nitip stela yah" ujar pak candra yang mengatarkan kita keteras
Aku hanya mengangguk lalu pergi menuju pos satpam untuk mengambil motorku