Pov dali.
Sesampainya dipos satpam aku berbalik menghadap stela.
"Kamu gak apa apa naik motor" tanyaku ragu.
"Emang kenapa" stela balik bertanya.
"Takutnya kamu enggak nyaman" jawabku sambil menunduk.
"Haha lu tenang aja gue bukan kuning telor yang mudah rapuh hanya gara gara naik motor" jelas setela sambil senyum.
"Kalau kamu gak nyaman aku pesenin taksi onlen yah" tawarku gak enak.
"Ah lu banyak omong, kaya tukang obat, ayo berangkat apa lu mau gue yang bawa" ujar stela sambil mengambil helm yang diikat dijok belakang.
Aku cuma bengong menatap stela, tak mau memanjangkan pembicaraan aku menaiki motorku, setelah nyala stela langsug naik dibelakangku.
Pak satpam pun dengan sigap membukakan pintu gerbang, motor pun melesat membelah hingar bingar kota metropolitan.
"Tumben lu gak sholat lagi halangan ya" tanya stela dari arah belakang.
"Sebenarnya mau sih tapi gak enak sama kamu nanti kelamaan menunggu, lagian waktu isya panjang" jawabku sambil melajukan motornya.
"Ya udah mending lu sholat, dulu gue jadi gak enak kalau lu meningalkan perintahNya hanya karena gue" perintah stela.
"Emang boleh" tanya meyakinkan.
"Boleh lah p3a, masa gue larang sih, seburuk itu kah gue dimata lu" ujar stela.
Aku pun mencari tempat ibadah yang buka 24 jam, dijaman sekarang sekarang susah mencari yang seperti itu, tidak meyalahkan pengelola juga sih semakin kesini tempat ibadah semakin mewah, maka semakin banyak pula orang orang yang gak bertangung jawab.
Seusai sholat aku menghampri lagi stela yang duduk diteras masjid, dia gak ikut sholat karena katanya udah melaksanakannya dirumah sebelum tadi berangkat.
Memang keutaman sholat bagi perempuan yaitu dikamar rumahnya.
"Mau makan dimana la" tanyaku sambil merapihan rambut yang basah
"Ikutin gue aja nanti juga lu tau" ujarnya sambil bangkit
Tak lama kitapun berhenti diparkiran salah satu hotel yang ada di jakarta.
Stela menggandengku ketika masuk kedalam hotel tersebut meski risih tapi aku berusaha agar tetap tenang, takut moodnya berubah.
Kita berjalan menuju lift yang berada didekat resepsionis, setela menekan satu tombol tak lama pintu terbuaka, aku yang bingung harus berekpresi seperti apa mengikut stela masuk kelift.
Pikiranku campur aduk bingun dengan apa yang diperbuat stela, apa jangan jangan stela mau memp3rk0saku, tapi aku kan cowok masa dip3rk0s4, harusnya senang dong kalau begitu, tapi ketika ingat siksaanya aku merindig.
"Kenapa lu" tanya stela yang mangkap keanehan dengan tubuhku.
"Gak apa apa cuma aku merinding aja ngebayangin" ucapku terhenti, karena tidak pantas untuk dilontarkan.
"Ngebayangin apa lu, awas aja kalau otak lu kotor" ancam stela sambil mengakat tinjunya.
"Iya aku takut kamu memp3rk0s4ku, kita mau makan bukan mau enak enak" jawabku jujur.
Brukkk
Satu hantaman mendarat diperutku tidak kencang ini masuknya lebih ke usapan, beda dengan hantapam pas di coffe
"Kayanya Otak lu harus di sapuin dulu" ketusya sambil menekuk wajah.
Melihat wajahnya ketika ditekuk aku ingat dini dari romanya gayanya sama presis.
Pintu lift terbuka ketika keluar ternyata ini adalah restoran bernuasa kayu, terlihat dari mulai atap, dinding, tempat makan, dapurnya terbuat dari kayu.
Stela mengajak ku duduk dimeja yang berada di pojok, aku segera mengeser kursi agar stela bisa duduk, meski norak tapi ini harus dilakukan.
"Terimakasih" ujarnya sambil senyum.
Stela kembali lagi kemode cewek peminim.
"Maaf nih seharusnya kamu memberitahu kalau mau makan di tempat seperti ini, biar aku bisa memformalkan diri" ujar sambil menatap stela.
seharusnya sebelum masuk saja kita sudah diusir, biasanya resto seperti ini bukan hanya menyajikan makan mewah tapi yang makanya juga harus terlihat elegan.
"Oh tidak apa apa kak dali, terimakasih sudah mengundang saya makan malam" ujar stela memperlihatkan sikap anggunnya.
"Kenapa lagi nih bocah" gumamku dalam hati.
Aku mengangkat tangan, tak lama waiter mendatangi kita dengan membawa dua main menu resto lalu menyerahkanya pada kita.
Waiter kembali ketempat semula memberikan waktu untuk kita memilih apa yang mau dimakan.
Aku membuka daptar menu seketika mataku terbelalak, bukan kaget melihat masakanya tapi kaget melihat harganya.
Minuman paling murah saja cukup buat makan satu hari bahkan mungkin lebih, bukan tak mampu bayar tapi tak rela saja hasil kerja susah payah hanya untuk menikamati makan yang sedikit.
Lama membaca, aku mengakat tangan kode memangil pelayan, memang harus seperti aturanya, makan di tempat begini harus elegan.
Pelayanpun menghampiri untuk menulis pesanan kita.
"Nona stela mau makan apa" tanyaku sambil senyum kearahnya.
"crab cakes, bone in ribe-eye, fresh avacodo juice and Fruit custard recipe" ujar stela dengan fasih.
"Kalau bapak" tanya pelayan menatap ku.
"Samain saja" jawabku.
Pelayan pun pamit meningalkan kami.
Yang Aku bingung hanya bawa uang cash satu juta, sedangkan harga iga sapi pake tulang saja nyape satu juta dua ratus, aku minta ijin stela untuk keluar sebentar, dia hanya menganguk tanda setuju.
Setelah menanya sama penjaga hotel tak susah untuk mencari mesin ATM, aku mengabil sejumlah uang lalu kembali menemui stela.
"Udah" tanya stela, setelah aku duduk dihadapanya.
"Alhamdulillah sudah, oya kalau boleh tau kenapa kamu kerja di coffe, melihatmu yang sekarang rasanya tidak susah untuk kerja dikantoran" tanyaku mentap stela
"Engga apa apa sih, kata ibu dia sangat senang melihat orang orang yang mandiri makanya aku iseng ngelamar eh diterima juga dapat bonus lagi" jawabnya sambil menatapku.
"Bonus apa" tanyaku heran
"Bonus kenal kamu" kata stela sambil senyum
Aku hanya senyum getir, Digombalin begitu rasanya pingin muntah, soalnya itu pekerjaan para lelaki, jadi buat perempuan jangan sesekali merebutnya, nanti kami tidak punya kerjaan lagi.
Hidangan pembuka pun diantar terlihat dipiring besar ada empat buah yang mirip prekedel mungkin bedanya cuma antara kentang sama daging kepiting, namanya kalau udah disini jadi crab cakes.
Aku meletakan serbet diatas pangkuan lalu mengabil sendok untuk mulai mencoba menikmat prekdel keping seharga dua ratus lima puluh ribu.
Ternyata rasanya wow baget beda jauh sama prekedel, walau kalau disuruh milih aku akan tetap memilih prekedel, lumayan kan dengan uang segitu, prekdelnya bisa dibuat mandi.
Hidannga utama pun datang, sebongkah tulang rusuk sapi terhidang didepanku, aku sempat bingung gimana cara makannya, tapi ternyata Chefnya muncul dan motong bongkahan Rib-Eye tersebut di depan kita, Pas masih bentuk bongkahan terlihat warna coklat tua, tapi pas udah dipotong dalemnya dagingnya warnanya pink super cantikkk, rasanya sangat gurih, lembut, dan juicy sesuai dengan harganya.
Sebenarnya menurut pendapatku rasa daging sapi itu semuanya sama tak ada bedanya, mau daging impor, lokal, beku, baru. paling yang aku bisa bedakan mana rasa daging, hati, jeroan dan lidah.
Aku ngedumel terus Bukan masalah sayang atau engak sama pasangan, ini adalah kejujuran hati yang aku rasakan ketika menemani pasangan makan di tempat tempat mewah, karena masih banyak cara untuk membuktikan bahwa kita menyangi pasangan.
Yah kalau buat mereka yang berpengsilan miliaran sih ini bukan apa tapi bagi aku yang hanya seorang pekerja, bisa makan disini tapi gak makan sebulan.
"Terimakasih yah udah neraktir gue" ujar stela sambil menikmati dessrtnya.
"Sama sama stela terimakasih pula kemarin udah bantu aku" ujarku sambil senyum, mengubur semua rasa kekesalan.
"Nanti boleh kan gue minta traktir lagi" tanya stela sambil senyum.
"Boleh dong jangankan minta traktir kalau bulan ada dua aku ambilin satu buat kamu mainan" jawabku tersenyum lebar.
"Beneran nih terimakasih yah sebelumnya" ujar stela.
"Udah ah terimakasih melulu dari tadi" jawabku.
"Oya lu normal kan, maaf gue nanya gitu" tanya stela srius
Uhukkk
Aku tersendat mendengar pertayaan mendadak seperti itu.
"Kenapa gitu" tanyaku setelah minum beberapa tegukan.
"Soalnya gue liat lu gak pernah bawa pacar atau jalan sama cewek gitu" tanyanya seolah membenarkan argumennya.
"Lah terus apa hubunganya dengan kenormalanku" tanyaku sambil menatapnya.
"Biasanya cowok semakin ganteng semakin aneh pula sipatnya" jelas stela.