Mendapat pertanyaan seperti itu aku mendungus kesel tak sepantasnya dia bertanya masalah pribadiku, walau tak dapat kupungkiri mungkin bukan hanya stela yang punya pertanyaan yang sama, bahkan ibupun pernah menanyakan hal seperti itu.
"Aku normal kok tapi apa aku salah menjaga diri dari perbuatan perbuatan yang dilarang oleh agama, aku tak ingin istriku kelak hanya mendapat sisaan orang, aku hanya ingin mempersebahkan diri ini seutuhnya untuk istriku" jawabku lirih sambil menatap meja yang sudah kosong menahan rasa sesak.
"Gak salah sih terus lu mau menahan sampai kapan sedangkan lu aja gak permah membuka hati buat para wanita" tanya stela seolah memojokan ku.
Padahal kalau secara logis dia tidak berhak mengatur masalah pribadiku.
"Sampai aku menemukan orang yang pas, yang seirama, senada, satu tujuan, memang didunia ini tidak ada yang sempurna, tapi aku yakin kesempurnaan bisa tercipta ketika kita terus berusaha mewujadkanya, karena setiap orang punya pendapat masing masing tentang kesempurnaan" jawabku menjelaskan.
"Terus keriteria kesempuran buat pendamping hidup lu seperti apa" tanya stela mendesak.
"Yaitu tadi yang senada, seirama, memiliki tujuan yang sama, memilik pedoman hidup yang sama, bisa menghargai aku sebagai imamnya dengan segala kekuranganku, itu semua sesuai anjuran agamaku" ucapku sambil menatap stela.
"Terus sekarang lu sudah menemukan wanita itu" ujar stela.
"Belum lagian mempertahankan pernikahan itu bukan hal yang mudah, butuh sosok yang tanggu untuk menjaga keutuhan rumah tannga, biarkan aku mencari sambil berusaha memperbaiki diri supaya kapal rumah tanggaku kela tidak karam terhepas ombak cobaan, dan kalau udah waktunya aku yakin allah akan mengijinkan" jelasku sama stela.
Stela seketika terdiam mencerna perkataanku, lalu ia menarik napas panjang.
"Sekarang kalau misal ada wanita yang suka sama lu tapi dia tidak sempurna seperti yang lu bilang apa lu mau menerimanya" ujar stela sambil menatap tajam seolah ingin menembus hatiku.
"Sempurna atau tidaknya seseorang tergantung dari rasa syukurnya, ketika rasa syukur dijadikan tolak ukur maka kesempurnaan akan muncul, terus kalau menerima atau tidaknya pasti aku terima, aku jahat sekali kalau menerima seseorang hanya diukur dari tingkat kesempurnaanya" jelasku.
"Terus menerut lu gue giamana" tanya mulai menjurus.
"Ya gak gimana gimana kamu akan tetep jadi stela yang seperti sekarang" jawabku sambil senyum untuk memecahkan suasana.
"Ya bukan itu maksudnya dali gue minta pendapat lu tentang diri gue dimata lu" ucap stela sambil mendengus kesal.
Sebenarnya aku bingung arah pembicaraanya kemana, aku coba fahami tapi tetep sulit untuk memahami.
"Tentang apa nih, kalau tentang itu kan yang berhubangan dengan dirimu mulai karkater, fisik, benda benda, orang orang dan masih banyak lagi yang lainnya" aku balik bertanya pada stela.
"Ih lu ini b3g0 beneran apa pura pura b3g0 sih, masa gitu aja gak ngerti" tanya stela sambil meneuk wajahnya.
"Yah emang gak tau la, kamu mau dikasih tentang pedapat apa aku bingung" ujarku sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal.
"Tau ah kamu gak asik" ketus stela.
"Yah kan gak tau la lagian walau kita udah lama kenal tapi kita gak terlalu dekat, lagian ngapain sih ribet ribet memperahtikan pendapat orang terhadap diri kita, kalau orang sudah benci mereka akan tetep benci meski hanya melihat sandal kita" ujarku mengingatkan.
Stela cuma diam sambil menekuk wajahnya, akupun tidak enak hati takut ada perkataanku yang tidak pas dihatinya.
"Maafin aku la kalau ada perkataan yang membuatmu gak enak hati" pintaku sambil menatapnya.
"Gak kok mungkin ekspektasi gue terlalu tinggi jadi ketika gak kesampain rasanya kecewa" jelasnya terlihat wajahnya sayu.
"Semangat la terus berusaha sampai kamu bisa mengapainya, oh iya kayanya kamu udah mulai ngantuk, ayo aku antar pulang" tawarku kepada stela.
Stela hanya menganguk terlihat wajahnya pucat, tak tau apa penyebabnya.
Aku pun melambaikan tangan untuk memangil pelayan, setelah berada dihadapanku aku meminta nota pembayaranku.
Pelayan itu kembali sambil membawa nota pembayaran.
"Maaf pak semuanya udah dibayar lunas oleh seseorang" jelas mbak pelayan.
"Dibayarin siapa" tanyaku menatap heran pelayan itu.
"Untuk masalah itu beliau meminta merahasiahkanya, ini notanya terimakasih sudah berkunjung" ujar pelayan sambil menyerehkan nota lalu pergi meningalkan kita yang sedang kebingungan.
Aku menatap stela untuk mencari jawaban, stela hanya mengangkat bahu tanda tidak mengetahuinya.
"Ya udah siapapun yang baik semoga allah membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda" do'aku buat orang mistertius itu.
Aku mengulurkan tangan mengajak dia beranjak dari restoran, ketiak sampai parkiran sebelum menaiki motor terlihat stela menaruh tanganya didepan d**a, aku segera membuka jaketku lalu mengenakannya ketubuh stela, dia menatapku terlihat senyum dibibirnya.
"Terimakasih" hanya kata itu yang terlontar dari mulut mugilnya.
Aku hanya senyum lalu mengambil helm kemudian memasangkannya di kepela stela.
Dijalan aku memohon ijin kepada stela untuk mampir ketempat kue pancong, dia hanya menganguk semenjak pulang stela terlihat lebih kalem gak seperti biasanya.
Sesampai digerbang rumah stela, tak lama pak satpampun membukakan pintu untuk kita.
Aku parkirkan motorku di tempat semula, stela pun turun kemudian aku membukakan helmnya.
Setelah turun aku mengantarkan stela sampai teras rumahnya.
"La" pangilku
Stela berbalik badan menoleh ke arah aku, sekarang dia sangat kalem membuat aura kecantikanya keluar.
"Maafin aku yah kalau jamuannya kurang nikmat atau ada perkataan yang membuatmu tidak nyaman, sungguh aku tidak tahu cara memulyakan mu mungkin ini adalah kebodohanku semoga kamu faham" ujarku sambil menatap kedua bola matanya.
"Engak apa apa aku juga minta maaf yah ngerepotin kamu" ujar stela sambil menundukan kepalanya.
"Lain kali kita makan lagi yah, aku masih punya hutang janji mentrakturmu, terimakasih udah menemani makan malam ini" ujarku sambil memandangi stela.
"Srius lu mau ngajak makan lagi" tanya antusias
"Iya insya allah, ywd kamu masuk udah malam sampaikan salamku sama bapak dan ibu" seruku.
Dia hanya menganguk lalu beranjak pergi meningalkan ku yang masih berdiri memperhatikanya.
Setelah memasikan stela masuk dengan selamat aku kembali kemotorku lalu mengambil kue pancong yang tadi aki beli.
"Lagi pada nonton bola yah, mana lawan mana nih" tanyaku pas sampe di pos satpam.
"Eh bang dali liverpool vs arsenal bang" jawab pak satpam.
"Wah seru nih oya aku ada kue pancong mau" tawarku sambil menyerahkan plastik yang aku pegang.
"Wah mantep banget nih apa lagi sambil nonton bola terimakasih yah bang" ujar pak satpam sambil mengambil plastik yang kuberikan.
"Tadi pas beli pancong pedangangnya gak ada kembalin dia ngembaliin pake rok0k, kebetulan saya enga merok0k, oh iya pada ngeroko gak" tanyaku.
"Ngerok0k sih bang, kalau engga bisa ngantuk" jawab satpam.
Aku pun mengeluarkan rokok lalu memberikanya pada satpam, bukannya sombong tapi suka ngerasain sendiri walau di traktir kopi sama bapak bapak aku sangat bahagia, karena kebahagaian tidak diukur dengan kemewahan hal sederhana pun akan jadi bahagia asal ikhlas membagi dan menerimanya.
Setelah memberikan rok0k aku pamit sama mereka, karena malam sudah mulai larut.
Setelah motorku menyala pak satpampun membukakan pintu kembali lalu memberi hormat sambil senyum ketika aku melewatinya