mungkin dia

1117 Kata
Pov stela Sepulanganya diner yang dikira bakal romantis, ternyata berantakan aku langsung memasuki ruang tengah, langkah ku seketika terhenti dilayar cctv, melihat pria yang membuat malam ini terasa sangat menyebalkan, dia dengan tanpa dosa dimenghampir pos satpam, terlihat dilayar itu para satpam sangat senang padahal cuma dikasih kue pancong. "Dasar miskin dikasih kue gituan aja senengnya bukan main" gumamku sambil mendengus kesal. Aku langsug masuk lift untuk menuju kamarku dilantai tiga. Sesampainya dikamar aku langsung menjatuhkan tubuhku dikasur. "Ada yah orang gak peka begitu, sama cowok baik banget apa bener dugaan gue dia itu gak suka cewek, umur sudah tua tapi masih bl00n makanya gak nikah nikah, kurang apa coba gue" geretuku kesal. Terhanyut dalam kekesalan matuku mulai mangtup, meningalkan rasa kesal yang menyelimuti tubuh. Pukul 06:00 aku alarm dimeja nakas membangunkan dari semua mimpi indah. Setelah mandi dan ganti pakain aku turun kebawah untuk sarapan bersama, karena ini udah menjadi rutinitas keluarga, kalau tidak ikut sekali saja bisa bisa daun telingaku tinggal pangkalnya dinasihati dari pagi sampai malam. Terlihat dimeja makan udah ada orang tuaku dan tante yang menunguku untuk sarapan. "Eh udah bangun ayo duduk sini" sapa ibu ramah Aku hanya menyungingkan bibir sedikit lalu duduk untuk mangambil roti kemudian diolesi selai nanas. "Gimana tadi malam seru gak makannya" tanya ayah sambil memasukan roti kemulutnya. "Apaan sih yah kepo" dengusku sambil meminum s**u. "Ya iyalah ayah harus kepo kamu kan putri ayah" jawab ayah. "Kacau yah dia homo" cetusku ngasal "Hush kamu itu gak boleh begitu sama orang" debat ibu menimpali. "Emang iya ngapain dia lebih merhatiin satpam dari pada aku" belaku ketus. "Udah udah sarapan dulu masih pagi sudah pada ribut" seru ayah sambil melanjutkan sarapanya. Setelah sarapan ayah pamit untuk pergi kekantor, dan tanteku mendorong kursinya memasuki kamar, tinggal aku dan ibu yang masih ada meja makan. "Kamu kenapa sih, cemberut terus dari tadi ibu punya salah yah" tanya ibu dengan lembut. "Enggak kok bu, cuma aku masih kesel saja padahal aku bela belain kerja dicoffe supaya bisa deket dia, eh dianya malah cuek, kayanya bener deh bu dia emang" aku menghentikan curhatku sambil menutup mulut. "Kok bisa seperti itu padahal kelihatannya dali sangat baik" bela ibu. "Iya kelihatanya doang baik bu, kenyaatannya gak gitu, malam aja dia bela belain beli makan buat satpam, kalau normal masa baiknya kelaki laki doang" sanggahku ketus. "Dari tadi ibu perhatiin kamu kesal banget sama dia apa jangan jangan kamu suka tapi dianya enggak, bertepuk sebelah tangan gitu, makanya kamu uring uringan" perkataan ibu seolah tau apa yang kurasakan. Seketika aku terbelalak kaget, memang bener kali aku benci dia karena dia tidak membalas perasaan sukaku. "Ah ibu sok tau deh" tuturku menyela sambil menundukan pandangan. Ibu selalu paham tentang apa yang putrinya rasakan. "Iya tau lah, dianya sholat malah kamu maen handphone diluar bukan ikut sholat, terus kamu makan ditempat mahal untung ayahmu semalam ngirim orang kepercayaannya, jadi bisa bayarin makan kamu, makan yang harga nyampe tiga jutaan itu, kamu kalau suka sama seseorang maka kamu ikutin kesukaanya, selama itu baik, pengen disukai tapi kamu malah merepotkan" tutur ibu menasihati. Aku hanya tertunduk malu, Emang bener aku tidak berpikir sebelum melangkah, gajihnya dia cuma empat jutaan aku malah ngajak makan ditempat yang harganya sebulan gaji dia, b0doh banget aku untung dia orangnya baik, masih mau ngantar aku pulang. "Hmmmmmz aku salah yah bu" tanyaku sambil menatapnya. "Hehhe... ya kamu udah dewasa masa gak tau" ujar ibu malah mengejek. "Bentar bentar apa ibu juga suka sama dia" tanyaku penasaran. "Enggalah cuma ibu tau dia orang baik, dia tidak berani memandangmu ketika pakainmu ancur kaya semelam, tapi setelah ganti baju ibu perhatiin dia curi curi pandang sama kamu, terlihat dari sorot matanya memancarkan kekaguman kepadamu, dan ibu yakin kalau dia orang baik, ketika dia tidak pergi meninggalkan mu saat diresto, ibu yakin uang tabungan dia gak banyak tapi dia berani bertanggung jawab dengan menamanimu sampai diantar pulang" ucap ibu menjelaskan pendapat. "Berarti kalau begitu ibu setuju dong kalau aku nikah sama dia" tanyaku sambil menatap ibu. "Kalau ibu sebagai orang tua sama siapa saja kamu nikah ibu tidak melarangnya, yang penting dia tanggung jawab dan anak ibu bahagia, orang tua hanya mendukungnya" ujar ibu sambil senyum. "Bantuin aku dong bu" pintaku memelas. "Bantuin apa, usaha sendri lah udah dewasa ini" jawab ibu. "Please" ujarku sambil mengedipkan mata. "Iya iya tapi jangan pasang muka seperti ibu gak bisa menolaknya" ujar ibu sambil mencubit hidungku. "Makasih ibu emang terbaik" ucapku sambil bangkit dari kursi makan lalu memeluk ibu. "Udah udah ibu pengap" ucap ibu sambil melepaskan pelukanku. Aku duduk kemabali sambil senyum, menatap kearah ibu. "Kalau kamu mau mendapatkan pria baik, maka perbaiki diri kamu dulu, sering sering berdo'a supaya Allah membalikan hatinya supaya menyukaimu" ujaribu sambil menetap kearahku. "Apa do'aku akan diqobul bu sedangkan aku sholat aja kadang kadang" tanyaku. Jujur walau kedua orang tua sangat rajin beribadah tapi berbanding 180⁰ dengan anaknya, mereka sering mengingatkanku tapi akunya saja yang bandel, udah kehabisan cara mereka mendidiku sehinga mungkin mereka lelah. "Ya makanya mulai sekarang kamu sholatnya yang rajin, soal doa di qobul apa enggak itu urusan sang pengibul doa kita cuma berusaha dan jangan berkeci hati doa kita tidak qobulkan dulu saja iblis pernah berdoa supaya hidup kekal, Allah mengibulkannya" jelas ibu. "Siap bu aku lebih rajin supaya dia menyukai ku" ucapku semangat emat lima "Hush jangan gitu niatnya, kamu beribadah bukan untuk mendapatakan dia tapi kamu beribadah semata mata melaksanakan perintahnya, dengan kamu taat semoga allah meberikan orang terbaik buat kamu" nasihat ibu. Tiba tiba pintu kamar terbuka lalu muncul tante utari menghampiri kita. "Lagi ngobrolin apa nih kayanya seru banget" tanya tante utari. "Lagi ngobrol biasa ja tar, kamu mau ikut sini" sapa ibu ramah. Tante utari adalah adik kandung ibu, semenjak setahun lalu beliau bangkrut dan terkena serangan jantung membuat dirinya hanya duduk dikursi roda untuk menopang aktivitasnya, asalnya beliau menolak untuk tingal disini tapi ibu memaksanya karena kasian tidak ada lagi sanak keluarga kecuali ibu. "Gak aku cuma bosan saja dikamar terus, mau jalan jalan ketaman" ujarnya memberi kode keibu. "Oh ya udah aku temenin tar" jawab ibu sambil bangkit lalu mendorong kursi rodanya. Ibu memang selalu perhatian sama tante utari, bahkan sampai membawa tante keluar negri untuk berobat. Bosan sendrian, aku mengambik ponsel yang kusimpan diatas meja, lalu aku membuka pesan di aplikasi hijau, ternyata ada beberpa pesan masuk termasuk pesan dari dali. ( selamat bobo, mimpi indah yah ) sambil diakhiri emoticon senyum. ( apan sih lu gak jelas banget, oya lu dah sarapan belum ) pesanku Send Tring ( kamu tuh yang gak jelas sejak kapan kamu bisa perhatian sama orang pake ngingetin sarapan segala ) pesan dali lalu mengiri stiker tertawa. Dichat aja dia sangat nyebelin banget, membuat aku malas meneruskan chatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN