Pov stela
Pukul 08:00 aku kembali kemarku lalu mengati baju. Mengingat dali membuat otakku betgejolak bingung cara meluluhkan hatinya. Sebaiknya aku shoping buat meredam gejolak yang udah tidak dapat aku kontrol lagi.
Aku segera turun kebawah kemudian menemui ibu yang lagi berada ditaman belakang.
"Sudah rapih saja mau kemana" tanya ibu yang lagi duduk dibangku taman.
"Ada urusan sama teman teman bu. Oh iya nanti aku langsung berangkat kerja yah, jadi gak pulang dulu kerumah" ijinku sambil menyalimi ibu dan tante tari.
"Iya udah hati hati dijalan, kalau bawa mobil jangan ngebut yah" nasihat ibu mengingatkan.
"Iya bu, aku berangkat yah asslamualaikum" aku langsung membalikan badan meningalkan mereka berdua ditaman.
Kadang aku suka iri ketika melihat kedekatan meraka, mengingat aku cuma anak tunggal, walau kata ibu aku sempat memiliki adek bayi tapi dia meninggal sesaat setelah dilahirkan.
Kuhidupkan mobilku lalu kuputar lagu justin biber. Kemudian kuinjak pedal gas pergi meningal kediamanku. Aku terhayut dalam alunan musik membutku tubuhku tak terkontrol mangut mangut mengikuti iramanya, sesekali kupukul pukul setir mobil dijadikan drum dadakan bak drumer propesional.
Kuijak pedal rem ketika lampu memerah dipertigan jalan.
Bruuumaam
Tiba tiba motor ninj4 berhenti tepat didepan mobilku, awalnya aku cuek tapi ada satu yang membuatku untuk tetap memperhatikanya, selain jarakya sangat dekat di spakbor belakangnya terlihat ada stiker logo tempat aku bekerja. Aku inget dali cuma dia dipekerjaanku yang mempunyai motor ninj4 berlogo itu.
Dan yang membuat aku terus memperhatikanya, dijok belakang ada seorang wanita yang duduk diboncengnya, meski cuma saling menggenggam tangan terlihat mereka sangat mesra, membuat dadaku bergemuruh tak rela ada orang lain yang mendekatinya.
Rasa penasaran membuatku merubah arah, yang awalnya mau lurus menuju mall elite kebelokan kearah kanan mengikuti mereka. Meski mobilku ketingalan tapi aku masih bisa melihat kearah mereka.
Setibanya dimall berlantai tujuh tempat aku bekerja meraka berbelok lalu mesuki area parkir, aku mengikutiya memarkirkan mobil tidak jauh dari meraka. Terlihat wanita itu turun lalu dali membukakan helmya, wajah sumringah menghiasi kedua bibir meraka membuat darahku bedesir panas, membakar jantuk.
Aku turun dari mobil lalu mengikuti mereka yang lagi bergandengan tangan memasukin mall. Setelah dekat lift mereka berpisah lalu dali memasuki lift untuk menuju tempat kerjanya, wanita masih menunggu sampai pintu lift tertutup bak seorang istri yang lagi mengantar suaminya bekerja.
Aku hanya menarik napas sangat dalam melihat kelakuan meraka. Setelah lift tertutup wanita itu pergi menuju salah satu kios yang tak jauh dari pintu lift. Disana ada beberapa karyawan yang sedang menyapu dan ada pula merapihkan baju baju untuk dipajang. Tak lama dia keluar membawa ember kosong menuju toilet umum.
Aku menghampiri kios lalu masuk kedalamnya mendekati salah seorang pegawai yang lagi merapihkan baju.
"Pagi kak, maaf ada yang bisa saya bantu" tanya pelayan menyapa denga ramah.
Aku berbalik senyum kearah pelayan itu.
"Saya lagi nyari kemeja wanita" aku beralasan supaya dia tidak curiga.
"Oh banyak kak, disini ada banyak model mulai dari kemeja korea, kemeja polos, kemeja tunik, dan banyak lagi yang lainya, kakak mau model yang bagaimana" pelayan itu menawarkan koleksi kemeja yang mereka punya.
"Boleh liat contoh modelnya" aku bertanya sambil menatapnya.
"Boleh ayo kakak ikut aku" pelayan itu mengajak aku melihat kemeja koleksi tokonya.
Aku berjalan dibelakamgnya menuju koleksi kemeja yang tergantung rapih dirak gantungan pakaian, yang letakya berada dipojok kios. Aku langsung melihat beberapa kemeja yang ditawarkan pelayan, katanya itu kemeja best seler ditokonya.
"Oya itu yang lagi ngepel siapa namanya" tanyaku sambil meletakan beberapa kemeja ketubuhku.
"Oh itu namanya dini kak, dia baru beberapa minggu bekerja disini, kakak ada perlu sama dia biar aku pangilkan" tawar pelayan itu sambil menatapku.
"Oh jangan takut pekerjaanya tergangu, saya cuma pengen tau saja kayanya pernah liat tapi dimana gitu" aku membuat alasan supaya pelayan itu tidak memangil dini.
"Oh iya kak, kirain tadi kakak saudaranya soalnya maaf yah kak" pelayan itu menghentikan pembicaraanya.
"Maaf kenapa" tanyaku heran menatapnya.
"Mukanya sangat mirip maaf ya sekali lagi" ungkapnya sambil menunudukan kepala takut aku marah.
"Masi sih sepasaran itukah wajah saya" mataku terbelalak kaget mendengar penuturanya.
"Sekali lagi mohon maaf yah kak aku tak bermaksud begitu" kata dia sambil tetap menundukan kepalanya.
"Udah tidak apa apa katanya kan kita memiliki tujuh kembaran didunia" aku mencairkan suasana supaya bisa terus mengintrigasi tentang dini.
Dia terlihat mengela napas lega seolah terbebas dari hukuman berat.
"Kamu tau dia tingalnya dimana" tanya kembali kepokok permasalaha.
"Kurang tau sih kak kalau di jakarta tingalnya diamana katanya dia ngekos. tapi kemarin pas lihat berkasnya dia asalnya dari bandung" jawabnya sambil mengambilkan beberapa kemeja biar nambah repernsiku.
"Oh begitu yah terus apa lagi yang kamu tau tentang dini" selidiku kepada mbak pelayan.
"Gak ada lagi kak cuma itu yang saya tau lagian dia baru bekerja disini jadi kita belum saling kenal dekat" jelas pelayan menerangkan pengetahuanya.
"Ya sudah menerutmu kemeja mana yang paling bagus" tanya mengalihkan pembicaran supaya dia tidak semakin curiga.
"Menurutku kakak lebih cocok memakai kemeja korea serasi dengan kulit kakak yang putih" pelayan menuturkan pendapatnya, sambil memberikan kemeja polos over size.
"Warnanya gak ada lagi" tanyaku sambil menatapnya.
"Ada kak cuma warna yang ini yang paling laris, bahanya juga bagus kak tidak mudah lecek" ujar pelayan itu.
"Oke saya mau yang ini satu dan yang itu satu" pilihku sambil menunjuk keaarah celana kulot yang tergantung didinding.
Walau tidak panatik banget sama korea tapi aku tau fasihon mereka yang digandrumi orang orang indonesia.
"Nomor berapa yah kak, biar saya ambilkan celananya"
"Kamu biasa pake nomor berapa" tanyaku sambil menatapnya.
"29 kak, kenapa yah pake nanya ukuran celana saya" tanyanya heran.
"Gak apa apa ya udah celananya satu yang warna hitam ukuran 29" pintaku.
Pelayan itu dengan sigap mengabi celanya dengan tongkat yang tersedia disamping rak pengatung.
"Kalau mau dicoba dulu ada kamar pasnya kak disamping" tawarnya sambil memberikan celana yang baru dia ambil.
"Oke terima kasih yah" ujarku sambil menerima celana yang baru dia berikan
Lalu aku berjalan menuju arah kasir meninggalkan pelayang yang masih merapihkan pakaian.
"Totalnya jadi tiga ratus dua puluh ribu kak" ujar kasir itu menjelaskan
Aku mengeluarkan uang pecahan seratus ribu tiga lembar dan uang pecahan lima puluh ribu satu lembar kemudian menyerahkan kepenjaga kasir.
"Uangnya tiga ratus lima puluh ribu ya kak, kembalian tiga puluh ribu" ujar penjaga kasir sambil menyerahkan uang pecahan sepuluh ribu tiga lembar.
"Kembalianya buat kamu saja tapi setelah saya pergi tolong kasih baju ini kepelayan yang lagi merapihkan baju" pintaku sambil menujuk pelayan yang tadi menemaniku.
"Oh itu kak risma, baik nanti saya sampaikan terimalasih sudah berbelanja disini, semoga puas dan kembali lagi kesini" ujar wanita penunggu kasir.
Aku hanya senyum tak menanggapi ucapanya. Kemudian aku pergi meningkal kios pakain menuju lantai lima.
Sesampai dilantain lima aku menelepon cherly dan lessie untuk menemaniku menoniton bioskop, mereka berdua adalah sahabat baikku jadi tak mungkin mereka berdua berani menolaknya.