siapa dia

1015 Kata
Pov dini Pukul 12:30 aku dan kak risma dapat giliran beristirahat, kita segera menuju mushola yang letaknya berada dilantai dasar. setelah menunaikan shalat aku dan kak risma menuju kantin yang letaknya masih sama dilantai dasar. Lantai dasar dimall selain dijadikan tempat parkir, ada juga sebagia diisi oleh penjual makanan, semua jenis masakan ada disini meski tempatnya kurang nyaman tapi sesuai dengan harganya yang lumayan tidak menguras kantong. Biasanya para karyawati akan membungkus makananya dari pada makan langsung ditempat, dikarenakan suasananya kurang ramah bagi para perempuan. Asap rok0k dan asap makan mengepul menjado satu memenuhi area tersebut sehingga membuat hidung kita tidak akan nyaman untuk lama lama tingal disini, pentilasi yang minim serta banyaknya asap masakan menjadi tempat ini bak under grond di film film holiwood. Sebenarnya ada tempat makan yang ramah untuk perempuan yaitu di lantai tiga, disitu sangat nyaman dengan kursi kursi cantik nan elegan, pelayannya pakai seragam tubuhnya wangi parfum bukan wangi bawang goreng, cuma itu tidak ramah dikantong, apalagi buat kita kita yang pekerjaanya sebagai SPG yang gaji dibawah UMR. Selesai membeli makan aku dan kak risma kembali lagi ketoko untuk menikmati makanan kita. Beruntung toko milik pak bowo tempat kami kerja ini memiliki ruangan 2x1 yang fungsi asalnya buat kamar pas, tapi pak bowo tidak mempermasalahkan kamar kecil untuk dipake sholat atau tempat makan, asal tidak menggangu kenyamana pelanggan yang datang. Jadi karyawati bisa makan dengan nyaman tanpa takut dilihat orang. Aku dan kak risma duduk berhadapan lalu membuka makanan masing masing, kebetulan hari ini kita membeli masakan minang yang terkenal kalau dibungkus nasinya akan banyak. "Sebenernya makanan dilantai dasar itu enak enak harganya juga murah cuma tempatnya aja yang gak nyaman kalau buat makan ditempat" ujar kak risma sambil menuangkan air teh kegelas. "Setuju kak, rasanya sama seperti makanan yang dilantai tiga, bahkan lebih nikmat yang ada dibawah" aku memberikan pendapat sambil menyendok makanan kemulut. "Emang kamu pernah makan dilantai tiga" tanya kak risma penasaran. "Emmmmm eeee katanya sih gitu" aku bingung mau jawab apa kalau jujur aku pernah di ajak kak dali dilantai tiga aku sangat malu. "Heheheh kirain, nanti aku ajak kamu makan kalau bulan ini aku dapat bonus dari pak bowo" ujar kak risma berjanji. "Amin semoga saja aku bisa makan dilantai atas, sesekali pengen nyobain makan duduk dikursi dengan makanan terhidang dimeja, jangan seperti sekarang makan duduk dilantai dengan piring ditengteng" ujarku sambil senyum bercanda. "Oh iya cowok yang suka bareng sama kamu itu siapa, kayanya akrab banget" tanya kak risma penasaran. "Yang mana yah" aku balik bertanya meledek kak risma. "Itu yang tadi pagi masa kamu sudah lupa" ujar kak risma mengingatkan. "Oh itu kak dali, dia barista di coffe lantai tiga, kenapa emang" aku bertanya lalu kumasukan lagi nasi kemulut yang udah mulai kosong. "Kamu pacaran yah sama dia, aku lihat kalian sering jalan barang" desak kak risma menyelidiki. "Enggak kak mungkin asal kita satu daeareh dan disini sama sama merantau jadi kita terasa saudara, apa lagi kak dali sahabat SMA kakakku di bandung" aku menjelaskan semuanya ke kak risma, tanpa ada yang ditutupi. "Berarti kamu tidak pacaran sama kak dali" tanya kak risma menjelaskan "Amiiinnnn" seketika aku tutup mulut sadar apa yang telah aku ucapkan, aku hanya nunduk dan mengisi lagi mulutku dengan nasi. "Kok amin kamu berharap yah kalau dia bisa jadi pacar kamu" ledek kak risma sambil cengengesan. Aku hanya senyum getir menatap kearah kak risma, lagian siapa yang tidak mau jadi pacar pria setampan dan segagah kak dali ditambah orangnya baik dah perhatian wanita mana yang gak akan meleleh dibuatmya. Melihat aku diam kak risma seolah tau apa yang sebenarnya aku rasakan, dia tidak bertanya lagi dia fokos menghabiskan nasinya begitu juga dengan aku. Tak ada obrolan lagi sampai aku dan kak risma melipat kertas bungkus nasi. "Aku hampir lupa tadi pagi ada yang nyariin kamu" ujar kak risma sambil memasukan kertas nasi kekantong asalnya, lalu kembali duduk menikmati teh yang masih tersisa. "Siapa yah kak, kok aneh banget" tanya ku penasaran. Merasa aneh saja disini aku tidak punya siapa siapa dan tidak kenal sama siapa tiba tiba ada yang nyariin. "Aku juga kurang tau, tapi kalau boleh jujur mukanya sangat mirip dengan kamu, aku juga sempat bertanya apa dia ada hubungan saudara dengan kamu tapi di mengalak dengan alasan manusia memilik tujuh kembaran" ujar karisma menjelaskan. "Terus kakak tau, dia mau apa" tanyaku lagi. "Gak dia cuma bilang pernah lihat saja" jelas kak risma. "Terus dia nanya apa lagi kak" aku semakin penasaran. "Engga aku bilang kamu anak baru jadi aku belum kenal betul sama kamu" perkataan kak risma membuatku sedikit lega. "Syukurlah kalau tidak keterusan" ucapku sambil meminum air teh yang tinggal sedikit lagi. "Tapi ada yang lebih aneh dia memberikan semua belanjaanya kepadaku" jelas kak risma merasa heran. "Kok bisa begitu kak" aku mulai penasaran kembali. "Gak tau tadi kak rani yang memberikan belanjaanya. semoga saja siapa pun dia gak punya maksud tidak baik terhadap kita" doa kak risma "Amin semoga saja begitu, buktinya dia membelikan baju buat kak risma" ujar ku yang masih bingung. "Ya udah jangan dipikirin kalau kamu tidak kenal mending ayo kita siap siap buat kerja lagi waktu istirahat kita sebentar lagi selesai" ajak kak risma sambil bangkit lalu merapihkan pakaianya. Aku mengikutinya sambil membersekan bekas makan lalu membuangnnya ketempat sampah. Pukul 13:15 aku melanjutkan pekerjaan aku melayani pelangagan yang hendak membeli baju atau sekedar bertanya tanya, kami dituntut selalu ramah dangan senyum menghiasi bibir meski permintaan costomer aneh aneh. "Din kamu dipanggil pak bowo" ujar kak rani yang menghampiriku. "Ada apa yah kak" tanyaku heran gak seperti biasanya pak bowo memangil. "Kurang tau, cepat temui nanti pak bowo marah" saran kak rani. Aku dengan deg degan menghampiri pak bowo yang lagi duduk dimeja kasir, kalau dia lagi berkunjung pak bowo yang selalu menghandel tempat kasir. "Asalamualaikum bapak memangil saya" tanyaku sambil menundukan kepala. "Iya waalaikum salam silahkan duduk, kamu yang namanya dini yah" ujar pak bowo menyuruhku duduk ditempat kasir yang biasa diduduki kak rani. "Iya aku dini pak, maaf ada keperluan apa bapak memangilku" tanyaku sambil mengikuti perintahnya "Gak apa apa bagaimana kamu nyaman bekerja disini" tanya pak bowo sambil menatapku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN