panggil abang

1138 Kata
Pov dini "Alhamdulillah nyaman pak" kataku yang masih bingung dengan tujuan pemangilannya. "Syukurlah kalau begitu. Berhubung anto lagi sakit, jadi dia tidak bisa berbelanja untuk mengisi stok toko kita. Saya mau kamu belajar berbelanja stok perlengkapaan toko, supaya nanti kalau mau belanja, gak harus selalu menunggu anto" ujar pak bowo menjeleskan tujuanya memanggilku. Aku sempat kaget kenapa beliau memerintahku padahal karyawan lama yang harusnya dia ajak, mereka pasti sudah paham dengan semua yang berhubungan dengan pakaian, berbeda denganku yang masih karyawan baru, pasti masih banyak yang harus kupelajari. Sebagai karyawan aku tidak bisa berbuat banyak apa lagi harus menolaknya itu sangat tidak mungkin, apa lagi pak bowo yang selama ini selalu baik terhadap semua karyawan, samapi sampai belum pernah terdenger pak bowo berani macem macem atau berbuat aneh aneh terhadap karyawannya. "Bagaimana kamu bisa" tanya pak bowo memecahkan lamunanku. "Bisa pak, kapan saya harus berangkat dan sama siapa" tanyaku yang sedari tadi belum berani mengangkat kepala Mendapat pertanyaan seperti itu dia bangkit dari tempat duduknya lalu menatapa rani. "Rani saya mau ketanah abang dulu, saya nitip toko yah" perintah pak bowo. "Siap pak, bapak bisa percayakan semua ini kepada saya" ujar kak rani yang terlihat senyum sumringah, kurang tau maksudnya apa. "Ayo ikut saya" ajak pak bowo yang kembali menatapku. Aku mengikutinya dari belakang menuju tempat parkiran, sesampainya disana pak bowo membukakan pintu depan mobilnya untukku. "Saya duduk dibelakang saja pak" pintaku sambil menatap kearahnya. "Emang saya supirmu, pake mau duduk dibelakang" sanggah pak bowo yang menatap kembali arahku. "Ayo masuk nanti keburu sore" pinta pak bowo Aku hanya bisa menurutinya karena keinginan bos adalah perintah, kemudian pak bowo kembali menutup pintu mobilnya, lalu berjalan kepintu samping dan duduk dibelakang kemudi. Mobil pun melaju meninggalkan area mall. "Kamu sekarang umur berapa" tanya pak bowo mencairkan jarak antar pegawai dan bos. "Aku sebentar lagi dua puluh pak" jawabku sambil melihat arah jalan. "Lulusan tahun kemarin yah, kenapa gak dilanjut kuliah" tanya pak bowo yang terus fokus kearah jalan. "Pernah sih cuma satu semester, cuma bapak saya keburu bangkrut jadi tidak bisa melanjutkan kuliah" jawabku sambil menudukan kepala. Mengingat tentang orang tua, rasa sakit kembali memenuhi d**a. "Emang bapakmu dulu usaha apa" selidik pak bowo. "Jualan ikan dipasar pak" jawabku singkat. "Kok bisa bangkrut padahal ikan sangat bagus untuk kesehatan" ujar pak bowo memberikan pendapat. "Iya sih pak, waktu itu pasarnya dibangun ulang sehingga para pedagang direlokasi ketempat baru yang sepi pengunjung, jadi banyak ikan yang busuk, akhirnya rugi terus" jelasku yang sudah mulai nyamapan bercerita sama pak bowo. "Semoga bapakmu bisa kembali bangkit membuka usaha baru, dan kamu bisa melanjutkan kuliah lagi" ujar pak bowo mendoakan. "Amin, rencana saya mau nabung dulu, kalau uangnya sudah kumpul nanti saya mau melanjutkan kuliah lagi" aku mengutarakan maksudku. "Wah bagus itu, saya suka sama orang yang punya tujuan hidup, padahal kalau mau kamu gak harus nunggu nanti untuk kuliah didekat mall kan ada kampus swasta kamu bisa mengambil kulaih karyawan" saran pak bowo menyemangatiku. "Iya pengennya seperti itu tapi takut mengangu pekerjaan dan untuk saat ini saya belum ada uang untuk biaya pendaptarannya, jadi saya tetap harus menunggu punya tabungan dulu" ujar yang semakain nyaman mengobrol denganya. jauh dari orang tua tak membuatku terlalu sedih karena aku menemukan sesosok orang tua baru yang bisa dijadikan tempat curhat. "kalau masalah kerjaan kamu bisa menyesuaikan saja, saya akan sangat bangga jika pegawai saya bisa lulus strata satu hasil dari bekerja diperusahan saya" ujar pak bowo. "Terimakasih pak semoga saya tidak mengecewakan bapak dan bisa terus bekerja dengan baik" ujarku yang masih menikmati kemewahan kota metro politan. "kamu di jakarta tinggal sama siapa" ujar pak bowo mengalihkan topik pembicaran. "saya ngekos sendiri pak" jawabku. "Ngekos dimana" pak bowo menyelidiki. "Diareah cempaka pak" ujarku sambil terus memandang kedepan. "Lumayan jauh dari pekerjaan, kenpa gk ngekos deket deket mall saja biar hemat ongkos" saran pak bowo. "Maunya sih begitu pak, tapi sudah terlanjur disitu, sayang kalau pindah" ucapku. Pamdangan Pak bowo fokus lagi kejalan yang sedikit mace karena didepan ada lamou merah. Ketika jalan sudah mulai lenggang pak bowo menolehku. "Nanti kamu belajar kasir sama rani biar kamu serba bisa siapa tau kedepanya kamu punya modal dan bisa buka usaha sendri, nanti saya yang akan ngomong langsung sama rani biar bisa ajarin kamu" perintah pak bowo. "Iya terimakasih pak" jawabku. "Jangan panggi bapak, panggil abng saja anggap aku kakak kamu, lagian ini bukan ditempat kerja" jelas pak bowo yang menerangkan keberatannya. Aku hanya duduk termenung kaget atas permintaanya, bukankah seharusnya anak buah memangil atasan dengan sebutan bapak, biar bawahan tidak melunjak. "Kenapa kamu diam keberatanya panggail aku dengan sebutan abang" tanyanya mendesak. "Enggak pak cuma saya bingung saja kenapa harus seperti itu, bukan kah lebih baik bapak dari pada abang, sesuai dengan posisi bapak sebagai atasan saya" aku mengukapkan keherananku. Dia hanya menolehku lalu tersenyum, kemudian mengembalikan pandanganya lagi kejalan. "Ya terserah kamu saja abang gak maksa, itu cuma harapan saja, kebetulan aku tidak punya adek" ujar pria yang badannya sedikit gempal itu. "Maaf kalau begitu bang" jawabku merasa tidak enak hati mendengar penuturanya. "Nah begitu kan lebih enak didengarnya" ujar pak bowo. Lama mengobrol akhirnya kita sampai ditempat tujuan, pak bowo memarkirkan mobilnya lalu membukakan pintu untukku. Rasanya tidak nyaman cuma mau protes rasanya tidak enak. Sesampai dikios pak bowo disambut hangat oleh pemilik toko grosir. "Tumben kamu datang kesini, biasanya sianto yang mengurusnya" tanya laki laki bermata sipit. "Sianto lagi gak masuk koh, kebetulan stok dimall ac sudah menipis, kalau gak cepat diisi nanti pelangganku pada kabur" jawab pak bowo sambil senyum. "Betul walau kita punya anak buah jangan terlalu mengandalkan mereka, nanti bisa repot kalau suata saat dia sakit" ujar pria yang dipanggil koh itu. "Iya makanya saya ajak karyawan baru, biar nanti dia sesekali bisa mengantikan sianto, atau sianto fokus ketoko lainnya, kasihan juga kalau menghendel tiga toko seorang diri" jelas pak bowo. "Saya kira tadi itu istri kamu, kan udah biasa kalau udah maju kelakuanya juga bertingkah" ledek pria itu "Ada ada saja kamu koh, satu aja udah bikin penat apalagi harus dua, oh iya kenalin karyawan saya namanya dini biar nanti kalau dia kesini sendri kokoh sudah kenal" ujar pak bowo mengenalkanku. Aku maju lalu senyum kemudain menaruh kedua tanganku didada. "Kenalkan namaku dini pak" ujurku mengenalkan diri. "Aku liem tapi sudah bisa dipangilnya kokoh, kamu mau manggil apa saja bebas, dan kalau tidak ada yang mengerti bisa ditanyakan langsung sama saya" jelas koh liem yang memperkenalkan dirinya. Setelah mengibrol sebentar Pak bowo memilih milih pakaian yang terbaik meski dia beli kodian tapi dia tetap memilih katanya demi menjaga kualitas tokonya. Sebenarnya ada beberapa barang yang disuplay langsung dari garmen garmen dijakarta, ketanah abang hanya untuk melengkapi koleksi tokonya saja. Aku diajarkan cara memilih pakaian yang baik dan benar, mulai dari jahitan, warna, bahan, model dan banyak lagi yang lainya. Aku memperhatikan dengan jeli supaya tidak ada satupun pelajaran yang terlewat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN