hadiah untuk adik

1145 Kata
Pov dini "Kamu suka gamis ini gak" tanya pak bowo sambil memegang gamis yang sangat cantik ditanganya. "Bagus tuh bang buat dipajang ditoko yakin pasti laris" aku memberikan pendapat tentang baju yang dipegangnya. "Enggak kalau kamu suka ambilah, lagian kalau ditoko kita kan sudah punya supyaler yang memasok koleksi gamis" jelas pak bowo Aku hanya mengerenyitkan dahi bingung apa yang harus kujawab. "Nanti saja bang aku harus nabung dulu, pasti itu sangat mahal" ujarku lirih. Dia hanya senyum menatapku. Untuk sekarang aku tidak memikirkan pakaian ada uang buat makan sama ongkos saja sudah sangat beruntung. Setelah beres memilih baju pak bowo kembali menghapiri koh liem untuk membayar semua tagihanya. Meski sebenarnya bisa ngambil dulu tapi kata pak bowo lebih enak membayar kash jadi nanti gak pusing ngitung untungnya. Kemudian karyawan koh liem membawa karung karung berisi pakaian menuju tempat parkir. Setelah semua karung masuk kemobil, dan pak bowo memberikan uang lelah kepada orang orang yang membantunya, aku dan pak bowo pergi meningalkan parkiran. Jalanan sangat macet sesuai runitas kota jakarta ketika sore hari. "Macet yah" keluh pak bowo sambil terus memperhatikan jalan. "Iya bang mana aku belum sholat asyar lagi" ujarku yang merasa takut kehabisan waktu asyar. "Suka sholat juga yah" celotehnya sambil senyum. "Suka lah bang, itu kan kewajiban yang harus kita kerjakan selagi kita sehat dan punya akal" jawabku yang terus memperhatikan jalan yang sangat padat. "Baguslah kalau sudah mengerti tentang kewajiban jadi abng gak perlu repot repot" ujar pak bowo terlihat bibir pak bowo melebar "Repot repot bagaimana bang" tanyaku sambil mengerutkan kening. "Yah kalian kan karyawan saya jadi kewajiban bos itu bukan sekedar memberi gaji atau bonus tapi memperhatikan haknya untuk bisa terus menyebah sang penciptanya" ujar pak bowo. Ternyata dia juga sangat paham tentang kewajibanya terhadap karyawan. Aku kira orang secuek dia tidak memperhatikan karyawanya. Jalanan masih macet pak bowo tiba tiba memarkirkan mobilnya didepan sebuah restoran. "Mau ngapain bang, kok berhenti disini" tanyaku sambil merapatkan alis. "Mau menjalakan kebwajiban bos terhadap anak buahnya" jawab pak bowo sambil turun dari mobil lalu membukakan pintu untuku. "Ayo turun " ajaknya terlihat sudut bibirnya mengangkat. Aku turun mengikutinya meski rasa bingung menutupi pikiranku tapi aku tetap berjalan dibelakangnya, membuang semua rasa penasaranku. Pak bowo memasuki restoran pelayanpun menyapanya dengan lembut, hanya senyum simpul terhias dari wajahnya. Pak bowo berjalan menyusuri lorong restoran sampai tiba disebuah moshola kecil. Kemudian menyuruhku untuk mengambil air wudhu. Setelahnya dia mengajak sholat berjamaah asyar. Seusai sholat dia mengajaku kembali ketempat duduk lalu memesan makanan, rasa lelah setelah seharian bekerja membuat selera makanku meningkat, pak bowo sesekali menatap dengan senyum simpul dibibirnya. Mungkin dia heran melihat cara makanku yang kaya orang kelaparan. "Pelan pelan nanti kalau kurang kamu bisa menambah lagi" ujarnya sambil menatap kearahku dengan bibir tertarik keatas. "Iya bang maaf yah, soalnya nanti takut membuat abang menunggu" ujurku membuat wajahku agak sedikit memerah diperhatikan bos sampai seperti itu. "Santai saja abang akan sabar menunggu kok" ujarnya sambil menaruh sendok dipiringnya. Tadinya aku pengen cepat cepat pulang ketepat kerja pasti kak dali menungguku. Makanya aku dengan cepat mengahbiskan makanan yang ada dipiring. Mau ngasih kabar rasanya gak enak ketika dihadapan bos bermain handphone. Adzan magribpun berkumandang aku diajak pak bowo menunaikan shoat magrib dulu lalu setelahnya pergi meningalkan restoran. Pukul 19:00 akhirnya mobil pak bowo sampai diparkiran mall, dia menelopon seseorang tak lama setelahnya orang yang di telepon datang membawa troli untuk mengakat karung pakaian. "Ada barang kamu gak ditoko yang ketingalan, kalau ada ambil dulu sana nanti aku antar kamu pulang" tanya bang bowo sambil menatapku. Aku hanya mengeleng kepala, karna gak ada yang ketingal semua sudah aku bawa pas tadi berangkat. "Kalau semua sudah selesai, Aku pulang naik busway saja bang, gak enak merepotkan" tolakku halus, hati mulai tak tenang takut membuat kak dali cemas. "Gak merepotkan kok, lagian abang yang mebuatmu pulang diluar jam kerja, jadi sudah sewajarnya aku bertangung jawab, ya sudah ayo naik lagi nanti keburu malam" ajaknya sambil membukan kan pintu mobil. Aku hanya mengikutinya kemudian duduk disampang pak bowo. "Arahin yah jalannya, abang kan belum tau jalan kekosan kamu" perintahnya sambil menatap lurus kearah jalan. Aku hanya menganguk tanpa menjawab pertamyaannya. Rasa khawtir membuatku gelisah. "Kenapa kamu kelihatanya gelisah banget din" tanya pak bowo yang memperhatikanku. "Aku takut dicariin teman bang, belum sempat ngasih kabar dari tadi takut dia khawatir mencariku, mau ngabarin lewat pesan takut abang marah. kata abang kalau lagi kerja gak boleh main ponsel" ungkapku mengutarakan kegelisahan. "Hahaha ada ada saja kamu din, ya sudah hubungin dulu nanti dia nyariin" jawabnya sambil ketawa. "Emang boleh" tanyaku sambil menatap nanar kearahnya. "Boleh lagian ini bukan waktu kerja, jadi kamu boleh mau ngapain saja, tapi itu sangat baik kalau kita lagi sama orang jangan bermain handphone nanti orangnya merasa tidak dihargai, tapi kalau ada hal pentig jangan sampai diabaikan, karena itu fungsinya hp memberi kabar ketika tidak bisa bertemu" nasihatnya dengan serius. Mendapat ijin dari pak bowo aku segera membuka tas kecilku, lalu mengabil ponsel terlihat ada dua puluh tujuh panggilan tak terjawab. Dan ada beberapa pesan masuk, aku segera mengecek pesan yang pastinya dari kak dali karena nomor kontak hanya ada dia dan kak risma. ( kamu dimana kok gak diangkat ) ( dini kamu baik baik saja kan jangan buat aku hawatir ) ( kamu sudah pulang belum ) Beberapa pesan yang kak dali kirim, membuat semakin merasa bersalah. ( aku lagi dijalan pulang kak, nanti kalau aku sudah sampai kosan aku telepon ) Lalu kukirimkan pesan balasan diaplikasi hijau berlogo telopon. Setelah pesan terkirim aku memasukan lagi ponselku ketas. "Abang minta nomor kamu dong din, tolong savepin yah dihape abang" pinta pak bowo sambil memberikan handphonenya kearahku dengan tiba tiba. Aku mengabil handphonenya, lalu kutulis nomorku dan mensavenya. Mobil yang dinaiki masuk kegang kemudian berhenti tepat didepan pintu gerbang kosanku. "Terimakasih yah maaf ngeroptin sampai sampai abang harus mengantarkanku kesini" ujarku yang hendak membuka pintu mobil. "Tunggu sebentar" ujar pak bowo menahanku lalu dia mengambil totebag dikursi belakang. " iya kenapa bang" tanyaku sambil mengerenyitkan dahi. "Ini baju gamis sebagai rasa terimakasih abang karena kamu sudah menemani belanja dan mau dianggap adik, dan ini gaji lemburannya, maaf yah membuatmu repot hari ini" ujarnya sambil senyum menatapku. Aku hanya diam tak bergeming bingung mengeluarkan ekpresi apa, kalau kak dali yang memberikan pasti aku akan sangat bahagia meski cuma hanya nasi uduk. "Kamu jangan menolaknya, nanti abang akan sedih" ujarnya memaksa. Melihat ketulusannya yang benar benar mengangapku sebagai adiknya, aku hanya seyum lalu mengambil totebag yang diberikanya. "Terimakasih abang semoga kebaikan abang dibalas oleh allah dengan balasan yang berlipat ganda" jawabku sambil membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali. Kaca pintu terbuka lalu terdengar bunyi klakson "Abng pamit dulu yah, besok sampai ketemu ditempat kerja" ucap pak bowo sambil melajukan mobilnya meningalkanku. Aku membalikan badan tiba tiba ada orang yang mendekap dari depan dengan dekapan yang sangat erat, dadanya yang bidang dan wanginya yang khas membuatku pengen terus dipeluknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN