Pov dali
Sehabis bekerja aku turun kelantai bawah, seperti biasa aku akan menjeput dini untuk pulang bersama. Tapi yang ditunggu tak kunjung muncul. Aku ambil ponselku ditas lalu menghubunginnya, tak lama telepon pun tersambung kenomor dini, lama menunggu tapi tak kunjung diangakat, aku mengulangnya sampai beberapa kali tapi tidak ada respon sama sekali.
Rasa khawatir memenuhi pikirankan membuatku gelisah takut terjadi apa apa sama dia. Aku putuskan untuk menghampiri tempat kerjannya.
"Maaf numpang tanya apa dini sudah pulang" tanyaku sama pelayan toko.
"Oh kurang tau kak soalnya kita baru ganti ship coba nanti tanya kak risma dia lagi siap siap pulang" saran mbak pelayan sambil senyum.
Tak lama satu pelayan muncul menghapiriku setelah pelayan yang tadi aku tanya ngasih tau aku membutuhkan pertolonganya.
"Maaf ada apa yah kak, kok mencari saya" tanya pelayan yang baru datang.
"Maaf menggagu, apa kakak melihat dini, soalnya saya hubungin gak diangkat angkat" aku memberi tau maksudku.
"Panggil risma aja janngan pake kakak kesannya aku tua banget kalau dipanggil begitu" ujar risma sambil menyodorkan tangan untuk mengajakku kenalan.
Aku segera menjabat tangannya untuk menerima perkenalan itu.
"Aku dali, apa risma tau kemana perginya dini" ujarku mengulang pertanyaan.
"Dini tadi diajak pak bowo, untuk menemaninya berbelanja soalnya stok toko sudah mulai kosong, kakak tunggu aja mungkin sebentar lagi dia pulang soalnya sudah dari siang dini berangkat" jelas risma menjelesakan apa yang dia tau.
"Terimakasih kalau begitu saya akan menudunggunya" jawabku sambil menatap kearahnya.
Setelah tidak ada pertanyaan lagi. Risma pamit pergi katanya takut jemputanya menunggu. Aku hanya mengucapkan teramakasih dan mentap kepergianya sampai hilang ditelan pintu keluar.
Dengan gelisah aku duduk di bangku mall sambil memperhatikan pintu masuk, berharap dari sekian banyak yang datang dinilah salah satunya. Sejam menunggu yang ditunggu belum juga muncul aku coba menguhubunginya tapi tetap saja seperti tadi. Akhirnya aku putuskan untuk pulang terlebih dahulu sambil kucoba nanti untuk menghubunginya lagi.
Ketika aku mau keluar gerbang mall disitu berdiri seorang wanita yang tadi mengobrol denganku di dalam.
"Kok belum pulang" tanyaku sambil memarkirkan motor didepannya.
"Yang jemput belum datang gak tau kenapa" jawab risma terlihat mukanya sangat panik.
"Pulang ke arah mana" tanyaku sambil menatapnya.
"Kearah ab kak" jawabnya singkat.
"Ya sudah ayo naik kebetuan kita searah" ajak sambil memberikan helm kepadanya.
Dia hanya manggut lalu mengambil helm yang aku berikan, mengingat waktu sudah mau gelap aku antarkan dia sebagi ucapan terimakasih telqh membantuku.
********
Seusai sholat isya aku mengecek handphone ternyata ada pesan dari dini aku segera membacanya ternyata dia mau nelepon sesampainya dikosan.
Aku segera keluar kontrkan lalu menghidupkan motor menuju kosan dini, untuk memastikan dia baik baik saja.
Sesampai di pos satpam kosan dini aku memarkirkan motor didekatnya, pak satpam pun menyambutku dengan senyum.
"Tumben gak bareng dini bang" tanyanya sambil menatap kearahku.
"Enggak katanya dia lagi dijalan" jawabku menjelaskan.
"Ya sudah tunggu disini, kita ngopi dulu" ajaknya.
Aku menurutinya lalu duduk di pos satpam, kulihat rok0knya tinggal sebatang.
"Warung jualan rok0k dimana yah" tanyaku sambil menatap kearahnya yang sedang membuat kopi menggunakan air dispenser.
"Ada didalam mau beli rok0k apa biar aku yang beliin" tawarnya sambil meletakan kopi dimeja pos.
"Rok0k ini saja nanti aku minta soalnya aku jarang nger0kok" pintaku sambil menunjuk bungkusan rok0k yang tergeletak dimeja.
Aku mengeluarkan uang lalu memberikan kepada satpam, dia langsung bergegas meniggalkanku.
Tak lama setelah satpam pergi terliahat mobil minibus berhenti tepat dipintu gerbang kemudian turun seorang wanita sambil menenenteng totebag lalu mobil pun pergi meningalkannya.
Aku segera menghampiri lalu memeluk erat wantia yang baru turun dari mobil, yang masih diam tak bergeming.
"Kemana saja kamu buat aku hawatir" tanyaku yang suaranya sedikit parau.
Dia tak langsung menjawab tapi malah memeluk balik. Aku yang awalnya tidak sadar memeluk dini karena rasa cemas menjadi gelagapan, jiwa ini belum siap menerima pelukan hangat seorang perempuan. Aku segera melepaskan pelukanya, lalu kutatap wajah imutnya.
"Kenapa dilepasin" rengeknya, sambil menatap kearahaku.
"Apaan sih bukanya dijawab malah meluk balik" ujarku sambil menatp balik kearahnya.
Dua pandangan beradu membuat jantukku berdesir panas, mengalir keseluruh tubuhku.
"Ya sudah ayo kekosan nanti aku jelasin" ajaknya sambil menarik ujung jemariku.
Aku hanya mengikuti dibelakangnya, tanpa mengelurkan perkataan apapun.
Sesampai didalam dia menaruh totabagnya. Diatas kasur lalu mengelarkan tikar untuk kita duduk.
"Mau minum apa" tanya dini menatap kearahku
Seolah dia punya banyak minuman dikosanya.
"Air putih saja" jawabku yang tau dia hanya mempunya minuman air mineral gelas itupun aku yang belikan.
Dia hanya senyum lalu mengambil dua gelas air lalu menaruhnya dihadapanku.
"Maaf yah membuat kakak hawatir tadi mau ngasih kabar takut bos marah" ungkapnya sambil meneguk air.
"Iya tapi jangan diulangin yah, jangan bikin orang panik kalau kamu mau pergi kasih tau dulu biar aku tenang" pintaku menasihatinya.
"Iya tadinya kirain gak sampai semalam ini jadi aku gak ngasih kabar kakak dulu" jawabnya terlihat raut menyesal terukir diwajahnya.
"Kok bisa bos kamu ngajak berbelanja padahal disitu banyak karyawan yang sudah lama" tanyaku mulai mengintrogasi.
"Gak tau juga kak, awalnya aku takut tapi alhamdulillah pak bowo gak macem macem kok, bahkan dia membelikanku baju gamis, katanya sebagai hadiah karena aku mau jadi adik angkatnya" jawabya dengan polos.
Tadinya aku hawatir takut dini diapa apain sama yang namanya bowo tapi ketika mendengar penjelasan dini aku sedikit lega meski ada yang mengajal dihati tapi entah apa itu.
"Syukurlah kalau gak macem macem kalau dia berani macem macem maka aku lah orang pertama yang akan menghajarnya" jelasku dengan serius.
"Terimakasih yah kak sudah peduli sama aku, tapi kakak gak usah khawatir pak bowo orangnya baik kok, bahkan temen temen kerja selu memuji kebaikannya. oh iya kakak sudah makan belum kalau belum ayo cari makan nanti aku yang terktir kebetulan aku baru dapat bonus" tawarnya sambil mengeluarkan amplop coklat dari totebagnya.
Setelah dibuka terlihat isi ada lima lembar uang merah. Rasa heranku semakin bertambah tapi aku sembunyikan didada membuatku rasanya sangat panas, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa, dini kan bukan siapa siapa aku kenapa aku cemburu ketika ada orang yang baik sama dia.
"Beneran tadi kamu gak diapa apain sama pak bowo" celetukku tanpa sadar.
Dini membulatkan mata menatap kearahku.
"Emang aku cewek apaan, kakak pasti berpikir aku yang enga enga kan, kalau aku mau harta pak wahyu calon suamiku lebih kaya dari pada pak bowo, bahkan aku telah diberikan ruko sama isinya, tapi aku malah pergi kabur meningalkannya karena kebahagian bukan hanya sekedar harta" ujarnya yang sudah tak saggup menahan genangan air dimatanya, sehigga membuat pipinya basah.