aku takut

1027 Kata
Pov dali Melihat dini menangis seketika aku panik, bingung apa yang harus kuperbuat. "Maafin aku aku bukan bermaksud begitu" ujarku gugup. "Kamu tega kak, menuduh aku seperti itu" ungkapnya sambil terus manangis. "Maafin aku" jelasku singkat. Aku raih jemarinya lalu ku usap usap supaya dini agak tenang, aku mendekatkan posisi dudukku tepat disampingnya, perlahan aku arahkan kepala dini agar bersandar dibahuku. Aku usap usap lenganya dengan lembut. Perlahan tapi pasti tangisan dinipun mulai reda, aku terus mengusapnya supaya dini lebih tenang. "Maafin aku yah, kalau aku tidak bisa mengotrol perkataanku, aku tidak bermaksud begitu aku hawatir sekali sama kamu" ujarku dengan lembut. Tidak ada basan yang keluar dari mulut dini, mungkin masih kaku karena tangisnya. Aku ambilkan gelasnya lalu aku pegang biar memudahkan dini untuk meminumnya. "Udah yah jangan nangis lagi, aku bingungung harus ngapain" ujarku lagi sambil terus memegang jemarinya dengan erat. "Sakti banget rasanya, ketika orang yang kita andalkan justru orang yang paling tidak mempercayai kita" ungkap dini dengan suara terbata bata. "Maaf aku berkata begitu aku takut" jelasku dengan parau. "Takut kenapa" tanya dini penasaran. Aku melepaskan pelukan lalu aku bergeser kedepanya, aku pegang kedua pipinya supaya dia bisa menatap kedua bola mataku. "Aku takut kamu ada yang nyakitin, aku takut kamu tertarik dengan laki laki lain, aku takut kamu pergi meningalkanku, aku takut kamu hilang, aku ingin kamu disampingku selamanya" jawabku sambil melepaskan kembali pegangan dipipinya. "Maksudnya apa" tanya dini yang kembali menatap kearahku. "Nanti kamu juga paham kalau sudah dewasa, mending sekarang kamu mandi bandanmu berkeringat, nanti setelahnya kita cari makan gak lupakan janjinya" ucapku mengalihkan pembicaraan rasa malu membuatku tak sanggup berkata jujur dengan perasaanku terhadapnya. "Jawab dulu nanti baru mandi" ujar dini manja. "Mandi dulu" perintahku sambil mencubit hidungnya. "Gak mau kalau gak jawab dulu yang tadi maksudnya apa" tanyanya lagi sambil menatap kearahku meminta jawaban. Ditatap seperti itu aku mendekatkan wajahku kewajahnya, dini hanya diam menutup mata, semakin dekat wajah aku dan dini beradu semakin berasa hembusan napas yang menyapu wajah kita. "Tuhkan bau acem, mending mandi dulu sana" ujarku memecahkan napas yang tertahan didada. Dini kembali membuka mata lalu membulatkanya menatap kearah, wajahnya yang ditekuk membuat disemakin cantik apa lagi dilihat sedeket ini. Aawwww Teriakku saat jemari lembut menyentuh kulit tanganku, rasanya panas bagai disengat tawon, gimana gak panas nyubitnya sedikit terus diputar. "Itu sepadan buat cowok yang mempermainkan perasaan wanita" ujarnya sambil mendengeus. Dini bangkit mengambil handuk yang ada dirak jemuran kemudian dia masuk kamar mandi meningalkanku yang masih meringis kesakitan. Setelah menunggu beberap saat. "Kak, kak dali" teriak dini dari kamar mandi. "Iya ada apa" jawabku sambil mendekati pintu kamar mandi agar suarnya terdengar jelas. "Bisa tolong ambilin baju gak kak soalnya tadi aku lupa membawa baju ganti, baju kotorku sudah aku rendem" pinta dini dibalik pintu. "Baju yang mana aja" tanyaku. "Baju tidur yang warna nevi" jawabnya. "Nevi itu biru dongker yah" tanyaku meyakinkan. "Iya kak sekalian kerudungnya juga yah, maaf ngerepotin" pinta dini yang masih ada di dalam kamar mandi. Aku berjalan menuju lemari yang ada disamping kasur, "Kak dalllliiiii" teriak dini sangat kencang mengagetkanku yang hendak membuka lemari. "Ada apa lagi, aku belum juga buka lemari" jawabku dengan meninggikan suara. "Kesini dulu gak jadi minta tolong" teriaknya lagi, Aku yang sudah terlanjur membuka lemari, langsung mengambil baju yang diminta dini, sehubung pakainya sangat sedikit jadi sangat mudah menemukanya. Terlihat ada benda benda aneh yang membuat mataku terbelalak, sehinga perasanku tidak nyaman lama lama menatapnya. Setelah kuambil baju yang dini minta aku menutup lemari lagi. "Kak dali kamu lagi ngapain kok lama" teriak dini memangil lagi. "Iya iya sebentar aku sudah mengambilnya" jawabku sambil bergegas menuju pintu kamar mandi. "Gak jadi minta tolong kak, tapi bisa gak kakak keluar dulu lalu tutup pintunya" pinta dini dibalik pintu. "Lah kenapa aku kan sudah mengambilnya" jelasku. "Ihhhhhhhhhh kok gitu sih, sekarang kak dali keluar dulu please" pinta dini memohon. "Terus bajunya kemanain" tanyaku heran. "Sudah taruh saja dikasur terus kak dali keluar dulu, tolong yah" rengengek dini. "Iya iya aku keluar" ujarku yang masih heran dengan kelakuan dini, lalu aku menuruti permintaannya. Setelah diluar aku tutup kembali pintu kontrakan. Setelah sepuluh menit pintu kontrakan kembali terbuka dari dalam, terlihat dini sudah mengati pakain dengan pakaian yang tadi aku ambil, dikepala masih terlilit handuk menutupi rambutnya. Mungkin dia pikir yang aurat itu hanya rambut makanya dia menutupinya. "Udah" tanyaku sambil menatapnya. "Iya sudah makanya aku bukain pintu" jawabnya ketus. Akupun masuk kembali lalu duduk ditempat semula. "Coba kak dali berbalik" pintanya sambil tetap menekuk mukanya. "Mau apa" tanyaku heran lalu menuruti permintaanya. Dini melihat lihat area leher belakangku lalu menyusuri dengan jari lembutnya seolah olah lagi mengusap ngusap leherku. "Ngapain sih geli tau" tanyaku menikmati belaianya. "Mau nyari memori card siapa tau aja tertanam disini" ujarnya ringan sambil melepaskan belainnya. Aku terhentak kaget emangnya dia pikir aku robot apa pake cari memori card ditubuhku. "Buat apa akukan manusia bukan ponsel" tanyaku heran sambil membalikan badan menghadap kearahnya. "Mau format memorimu kak pasti kakak sudah lihat semua isi yang ada dilemari" ujarnya sambil menyipitkan mata. Aku hanya senyum lalu menatap kearah bawah dagunya, dengan sepontan dini menutup area dadanya dengan tangan, mukanya mulai memerah. "Jaga pandanganmu kak jadi cwo kok Mesvm banget sih kak" dengus dini. "Kamu yang nyuruh, kamu yang marah, kamu yang nuduh" ujarku tersenyum geli melihat tingkahnya dini "Jangan macam macam deh kak, nanti aku pukul" sambil mengangkat kepalan tangan kearahku. "Ih apaan sih galak banget, tapi kalau boleh jujur kamu kalau galak makin cantik" senyumku memenuhi bibir. "Biarin kakak yang mulai, aku cuma ngimbangin aja" dini menatapku tajam. "Ayo katanya mau makan, nanti keburu malam" aku mengingatkan. "Oh iya aku lupa, bentar pake kerudung dulu" dini langsung memgambil kerudung lalu masuk kamar mandi. Taklama dini keluar dengan memakai kerudung yang senada dengan baju, membuatnya terlihat sangat cantik, kulitnya yang putih sangat kontras dengan kerudung nevi, pipi cabi mebuatnya semakin imut. "Ayo" ajak dini yang berdiri dihadapanku. "Bawa duitnya gak tadi katanya mau merktir" ucapku sambil mengangkat sebelah bibir meledeknya. "Udah tenang saja, kakak mau makan apa saja hari ini aku yang traktir" ujar dini bangga. "Ok sebelumnya terima kasih" ujarku sambil mengikuti dini yang sudah keluar pintu. Setelah kita keluar dini langsung mengunci pintunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN