Pov dali
Kesokan harinya. Seusai pulang kerja dini memintaku mampir ketoserba yang kebetulan letaknya ada diarah jalan pulang.
Sesamapinya diparkiran aku dan dini kemudian turun lalu berjalan memasuki toko.
"Mau cari apa kesini" tanyaku yang berjalan disampingnya.
"Aku mau cari dispenser kak, soalnya kalau kakak maen gak enak cuma disuguhin air mineral terus, dan nanti aku bisa nyeduh mi instan kalau malam kelaparan" paparnya sambil terus berjalan.
"Hehehe padahal gak apa apa walau cuma air putih kalau kamu yang nyuguhuin teras manis" godaku melirij kerahnya.
Dia hanya memicingkan mata sambil tersenyum kepadaku.
"Kenapa menatapnya sinis begitu" tanyaku terus mengodanya.
Melihat dia kesal membuatnya tambah kelihatan manis.
"Apaan sih gak jelas" dengusnya.
"Tapi senengkan" ujarku meledek.
"Senang apaan yang ada kesel kakak kaya anak sma yang lagi alay alaynya" dini membalas ledekan ku.
"Kesel, kengen selalu yah heeee heeee" balasku sambil mendekati pelayan.
"Ada dispenser kak" tanya dini mengacuhkan ledekanku.
"Ada mau yang bagai mana" pelayan balik bertanya.
"Ada yang bagaimana saja" dini bertanya lagi.
"Banyak ayo kalau mau lihat modelnya ikut saya" ajak pelayan seraya pergi.
Aku dan dini ikut dibelakang pelayan toko menuju tempat dispenser. Ada berbagai merek dan model produk dispenser yang tersusun rapih dirak toko.
"Yang ini harganya berapa kak" tanya dini sambil menujuk dispenser klasik.
"Itu harganya Rp. 150.000 kak" jawab pelayan.
"Emang kamu kuat ngangkat galonnya" tanyaku heran solanya dispenser kalasik posisi galonnya diatas.
"Ada yang galon dibawah harganya satu jutaan kak" jawab pelayan menatap kearahku.
"Iya mending galon bawah, itu ada air dinginya" tawarku pada dini.
Dini hanya menoleh kearahku lalu menoleh kearah pelayan.
"Yang klasik aja kak" pinta dini kepelayan.
"Kenapa gak yang galon bawah aja" celaku menatap dini.
"Ih apaan sih kak ikut campur melulu, kan aku yang beli galon" dini metapku dengan kesal.
"Dikasih tau malah ngenyel" jawabku sambil menatap balik.
Pelayan hanya bengong menatap kami yang sedang adu pendapat. Kemudian dini menarik pergelangan tanganku menjauh dari pelayan. Dini menatap tajam kearahku.
"Ada apa narik narik" tanyaku menatap balik.
"Udah jangan ikut campur uangku kurang kalau beli harga yang satu jutaan" ketus dini sambil menekuk muka.
"Heheehee kamu kan punya sahabat, jadi kamu bisa andalkan sahabatmu ini" ujarku sambil ketawa lucu melihat tingkah dini.
"Udah mulai sekarang aku mau mandiri, jadi kakak gak usah bantuin aku terus, nanti aku gak bisa mandiri lagi" pintanya dengan serius.
"Ya aku cuma takut kamu gak bisa mesangnya saja, repot juga kan kalau harus nyuruh orang terus" ujarku memberi pendapat.
"Terimakasih sebelumnya, tapi kali ini aku minta kakak gak usah bantu aku, biar aku lebih dewasa" dini menatapku dengan nanar.
"Iya iya" jawabku sambil senyum kearahnya.
Kita kembali menghampiri pelayan yang dari tadi menunggu.
"Jadi gimana kak, mau ambil yang klasik apa yang galon bawah" tanya pelayan menatap kearah kita.
"Setelah berunding istri saya setuju dengan pilihan saya" jawabku mendahuli dini yang yang hendak mengeluarkan suara tetlihat mulutnya sudah bergerk.
"Oke kebetulan yang ini lagi ada promo, jadi beli dispenser kakak dapat lalngsung galonnya" ujar pelayan menjelaskan.
"Oke saya ambil yang itu saja, oh iya pengirimannya kapan mbak" tanyaku memastikan.
"Nanti saya tanya dulu, sekalian saya bikinkan notanya, biasanya pengiriman sampai jam sembilan malam" jawab pelayan sambil berajak pergi menuju kasir.
"Kakak apa apaan sih katanya tadi sepakat gak bantu aku tapi sekarang malah begini, pake ngaku ngaku istri segala" dengus dini kesal.
"Aminin aja dulu siapa tau jadi kenyataan, emang kamu gak mau yah jadi istriku" Aku hanya senyum kearahnya.
Dini hanya diam mukanya seketika memerah, sambil menudukan pandangan.
Tak lama berselang pelayan toko kembali sambil membawa keretas kecil ditanganya.
"Ini nontanya, katanya bisa dikirim hari ini untuk lebih jelasnya nanti kasir akan menjelaskan" jelas pelayan yang memberikan nota pembayarannya.
"Oke terimakasih atas bantuannya" jawabku sambil senyum kearah pelayan.
"Sama sama jangan lupa nanti mampir lagi kesini kalau ada perlu prabotan yang lain" basa basi pelayan.
"Ayo sayang kita bayar dulu" ajakku meledek dini yang masih diam.
Dia hanya melirik dengan memicingkan mata kearah aku, walau sebenarnya aku tau dini sangat suka diledek seperti itu.
Aku dan dini berjalan menuju kasir utuk membayar dispenser.
"Nak dali" ujar suara wanita menyapaku dibelakang.
Aku seketika menoleh kearah datangnya suara lalu menghapirinya, kemudian aku mencium pungangu tangan wanita yang barusan menyapaku.
"Iya bu asri, ibu lagi belanja juga yah" ujarku bertanya sama ibunya stela.
"Iya ibu lagi nyari mesin cuci kebetulan yang dirumah rusak jadi ibu kesini sekalian jalan jalan sore, nak dali lagi apa disini cari mesin cuci juga kah" ujar ibu asri ramah sambil senyum.
"Enggak bu saya nyari dispenser buat teman saya" jawabku menjelaskan.
Dini menghampiri ibu asri lalu dia menyalaminya sambli manggut menghormati ibu asri.
"Kenalin saya dini bu" ujarnya sambil senyum kearah ibu asri.
Yang disapa hanya menatap tajam memperhatikan dini dengan teliti dari bawah sampai atas.
"Kamu mirip banget sama stela" gumam bu asri sambil terus menatapnya.
Memang kalau diperhatikan dini sama stela terlihat sangat mirip apa lagi kalau stela mau memakai hijab pasti akan susah membedakan. Dini hanya dia terpaku tak mengerti apa sedang terjadi.
"Maaf ada apa yah bu, mohon maaf kalau saya punya salah" tanya dini yang masih heran.
"Engak apa apa, kamu sangat mirip anak saya namanya stela, dulu stela punya adik mungkin kalau hidup umurnya udah seusia kamu sekarang" ujar ibu asri terlihat dari sudut matanya ada cairan bening yang hendak keluar.
"Maaf yah bu, kalau wajah saya membuat ibu sedih" balas dini lembut.
"Engak apa apa salam kenal nama saya asri kamu boleh panggil ibu, soalnya kamu mirip banget" pinta bu asri yang masih terus menatapnya.
"Iya ibu terimakasih sudah mengijinkan aku memangil ibu asri dengan sebutan ibu" jawab dini lirih.
"Nanti kapan kapan kamu maen kerumah ibu, ikut sama nak dali" ujar ibu asri.
"Insya allah bu, terimakasih atas undanganya" jawab dini.
"Ya sama sama, nak dali kalau maen lagi kerumah ajak dini yah, ibu seneng banget melihatnya" pinta bu asri mentap kearahku.
"Iya insya allah bu" jawabku menyetujui permintaannya.
"Kalau datang tidak bawa dini jangan harap ibu membukakan pintu" ancam bu asri sambil senyum kearahku.
Aku hanya senyum menanggapi ancamanya, setelah selesai berbincang aku pamit undur diri, soalnya waktu sudah mulai sore dan malam nanti aku ada undangan dari pak wahyu.
"Mending kita makan dulu, kebetulan didekat sini ibu punya restoran, nanti ibu yang traktir" ucap bu asri mengulur waktu.
"Terimakasih atas tawaranya, mungkin lain kesempatan mengingat waktunya sudah sore dan sebentar lagi magrib" aku menolak secara halus ajakan bu asri.
"Ya sudah tapi inget yah pesan ibu kalau maen kerumah ajak dini" terlihat raut penyesalan terlukis dimuka buasri.
Setelah menyaminya kita menjukan tujuan menuju tempat kasir.
"Totalnya Rp. 1.050.000 kak, mau dilunasin sekarang apa menunggu barang sampai" ucap kasir menjelesakan totalnya.
"Pengiriman kapan mbak" tanyaku.
"Barusan saya sudah bertanya sama pengirim barang katanya hari ini bisa dikirim tapi sehabis magrib, kalau kakak keberatan kakak bisa minta pengiriman hari esok" ungkapnya.
"Ya sudah kirim hari ini aja ya sayang" tanyaku sama dini yang berdiri disampingku.
Dini hanya mendengus kesal diledek terus dari tadi.
"Jangan sayang sayangan apa aku malu" bisik dini sambil menginjak kakiku.
Awwwwwww
"Ada apa kak" tanya pelayan heran dia tidak tau kalau kaki diinjak dengan kencang karena terutup meja.
"Iya katanya kirim hari ini" pintaku yang masih meringis kesakitan.
"Baik tolong tulis alamatnya serta nomor handphone yang bisa dihubungin agar memudahkan kami dalam pengiriman" pinta mbak kasir sambil menyerahkan krtas sama bolpoin untuk menulis.
Aku tuliskan alamat kosan dini serta nomor hapenya. Kemudian menyerahkan kembali sama mbak kasir, lulu mengeluarkan uang sesuai yang tadi dia sebutkan.
"Terimakasih pemabayaranya sudah lunas, kakak tinggal menungu baranganya datang kerumah, ini notanya dan ini garansi tokonya, kalau dalam waktu dua minggu ada masalah barang bisa diretur kembali, kalau lebih dari dua minggu garansinya cuma dari merknya saja kak" jelas mbak kasir sambil memberikan keratas untuk ditanda tangani.
Setelah dirasa semua selesai aku dan dini pergi menigalkan tempat kasir menuju parkiran.
"Kenapa kakak baik banget sih sama aku" tanya dini yang berjalan disebelahku.
"Baik, perasan enggak deh, buktinya kamu marah marah terus" jawabku sambil senyum kearahnya.
"Lagian kakak ngawur banget deh, pangil sayanglah, ngaku ngaku sebagai istri lah, aku kan jadi malu" ungkap dini
"Kenapa kamu malu yah kalau punya suami seperi aku" tanyaku memancing.
Dini menghentikan langkahnya lalu menatap kearahku yang berhenti mengikutinya.
"Emang kakak mau tah, aku jadi istri kakak" tanya dini pelan sambil menundukan kepala.
Aku hanya senyum lalu mengucek hijabnya. Kemudian melanjukan jalan yang sebntar lagi sampai kemotor.
"Ayo pulang nanti keburu magrib" aku mengajak dini yang masih berdiri ditempat tadi.