Pov dali
Dini masih berdiam diri tanpa menghiraukanku. Merasa hawatir aku kembali menghampirinya.
"Kenapa" tanyaku sambil menatapnya.
"Apa aku cuma mainan buat kak" celetuknya mengagetkanku.
"Kok ngomong seperti itu ada apa" tanyaku yang masih meras heran dengan pertanyaannya.
"Iya kalau bukan main mana mungkin kakak seperti tadi" matanya mulai berkaca kaca
Aku bingung dengan apa yang dimaksud dini tak tau arah tujuannya kemana.
"Maksud kamu apa din, aku bingngung maaf kalau ada perkataanku yang menyakiti" tegasku walau belum tau kesalahannya aku dahulukan meminta maaf.
"Ya kalau kakak gak permainkan aku ngapain tadi kakak mengaku aku sebagi istri kakak" jelasnya sambil menuduk.
"Oh itu maaf tadi aku cuma bercanda, maaf kalau kelakuanku kelewat batas" aku mengakuinya yang telah kelewatan bercanda.
Mungkin dia tidak nyaman dengan cadaanku, atau mungkin dia masih trauma mengingat kejadianya yang masih belum lama.
Mendengar perkataanku dia hanya mengeluarkan air matanya yang tertahan sedari tadi. Aku makin bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Untung ditempat parkiran sepi cuma aku dan dini da seorang tukang parkir yang jauh dari kita jadi tidak akan menimbulkan tontonan publik.
"Kenapa menangis lagi malam tadi aku sudah bikin kamu nangis masa sekarang bikin kamu nangis lagi" ujarku mulai panik tak tau apa yang harus aku lakukan.
"Iya kakak cuma bisa nyakitin tanpa memikirkan prasaanku" ucapnya pelan.
"Aku mohon maaf lagi din, tapi tolong jelaskan apa kesalahanku yang membuatmu menangis lagi, biar aku bisa memperbaikinya" ujarku merajuk.
"Ayo pulang" hanya itu yang keluar dari mulut dini seraya mendekati motorku.
Aku tak bertanya lagi langsung aku berjalan menaiki motor sudah sangat beruntung dini mau diajak pulang tidak menangis ditempat umum.
Diperjalanan kita tidak berbicara sepatah katapun, aku fokus mengendari motor dan dini hanya tertunduk. Dijalan aku sempatkan beli pecel ayam buat makan dini dikosannya.
Sesampai dikosan aku ijin langsung pulang karena aku akan mengahdiri undangan pak wahyu. Dini hanya mengangguk tanda menyetujuinya.
*****
Sesusai shalat isya aku menghidupkan motorku lalu pergi melesat meningalkan kotrakan menuju lokasi yang pak wahyu kasih.
Sesampai didepan hotel aku segara memarkirkan motorku. Tiba tiba ada mobil parkir tepat disebelahku, meski masih tehalang beberapa motor aku sangat jelas melihatnya. Awalnya aku cuek tapi ada yang membuat pandanganku terfokus kearah mobil itu. Bukan karena mobil sportnya yang super mewah tapi yang keluar dari mobil itu adalah vina wantia yang pernah bersamaku tapi dia berselingkuh dikosannya tepat ketika aku mengantarkan makanan.
Aku sangat jelas melihat kearahnya namun tidak dengan dia pasti tidak akan sadar bahwa aku memperhatikanya karena aku belum melepas helm dan jaketku.
Tak lama setelah dia keluar, pintu sampingnya terbuka lalu keluar seseorang yang tak kalah mengangetkan dari aku melihat vina.
"Dani" iya itu dani meski sudah lama kita tidak bertemu tapi aku sangat mengenali wajah serata postur tubuhnya karena dia adalah sahabatku dulu sewaktu sma.
"Ayo kita masuk" ajak dani sambil menghampiri vina.
"Iya bikin males saja lagian ngapain sih b4ndot tua itu pake acara ngudang ngundang makan malam segala" gerutu vina yang memakai baju longdres dengan belahan d**a terbuka.
"Kamu sabar sayang setelah kita kuasai hartanya baru kita tendang kakek si4l4n itu" sahut dani
"Ya sudah ayo kita masuk nanti lama lama diluar gue bisa masuk anging" ketus vina sambil berlalu.
Terlihat dani yang berjalan disampingnya sesekali meremas bagian b0kong vina. Aku masih tertegun melihat pemandangan barusan, tak menyangka ketemu mantan sama sahabat dengan kondisi seperti ini.
Tak lama memikirkan meraka lagian itu bukan urusanku. Lalu Aku berjalan masuk kehotel menyusuri lantai satu menuju pintu lift hotel lalu aku tekan lantai yang aku tuju.
"Mbak maaf kalau ruangan ini dimana yah" tanyaku sama pelayan restoran.
"Mari saya antar pak wahyu sudah menunggu anda" ungkap pelayan itu seolah tau siapa yang hendak aku temui.
Tak lama pintu terbuka setalah pelayan itu mengetukanya. Aku dipersilahkan masuk keprivat room restoran oleh seorang bapak bapak. Terlihat dimeja restoran ada pak wahyu dan dua orang wanita, yang satunya aku mengenalinya karena baru saja melihatnya ditempat parkiran.
"Silahkan duduk dal" ujar pak wahyu sambil senyum kearahku.
"Terima kasih pak" ucapku setalah pelayan mengeserkan kursi.
Setelah aku duduk, bapak bapak yang membukakan pintu dan seorang pemuda keluar meningalkan ruangan.
"Maaf saya telat sehingga membuat bapak menunggu" ujarku membuka pembicaraan.
"Oh tidak apa apa, kita juga baru sampai, kenalin ini devina istri kedua saya dan ini aira putri tunggalku" beliau mengenalkan kedua wanita cantik yang diduk disampingnya.
Aku menatap kearah aira lalu kulempar seyum sambil memperkenalkan diri terliahat wajah aira yang asam tak menggubrisku. Lalu kulanjukan menatap kerah vina, pandangan kita beradu membuat darahku berdesir mengiris hati mengingat perlakuanya terhadapku. Tapi vina senyum menyunging mengihasi bibir merahnya seolah dia menujukan siapa dia sekarang.
"senang bisa berkenalan dengan keluarga besar pak wahyu" ujarku.
Tak lama beberapa pelayan menghidangkan makanan dimeja kami. Setelah semua beres meraka pergi meningalkan kami.
"Ayo kita makan dulu, nanti kita lanjut ngobrol lagi" ajak pak wahyu sambil mengambil sendok untuk memulai makan malam.
Aku buang jauh jauh rasa perih dihati meski sudah lama sembuh tapi melihat vina luka lamaku terbuka kembali. Meski itu menguras emosi tapi aku tetap tegar supaya aku terlihat tegar setelah membuangnya.
Seusai makan vina dan aira pamit untuk pulang duluan mengingat mereka tak ada kepentingan lagi ditempat ini. Dengan berat hati pak wahyupun mengijinkan mereka.
"Bagaimana makannya" tanya pak wahyu setelah mereka mengalkan kita pergi.
"Alhamdulillah sangat enak terimakasih sudah berkenan mengundang saya" jawabku sambil mentap kearah laki laki berbadan tambun itu.
"Saya yang harusnya berterimakasih kamu dan team kamu sudah membantu saya meyakinkan orang itu menjual tanahnya kepada saya" jawab pak wahyu sambil memotong cerutunya.
"Bapak bisa saja kami tidak berarti apa apa kalau bukan karena bapak" ujurku merendah memang benar kami hanya bermodalkan relasi dan sedikit pengetahuan. kalau dibanding pak wahyu memang tidak apa apanya.
"Gini dal nanti sebelum kamu pulang kamu temui pak arif saya punya hadiah buat kamu" ujar pak wahyu.
Aku mengerenyitkan dahi menangapi hal itu.
"Hadiah, hadiah untuk apa pak, saya kemarin kan sudah dapat hasil dari membantu bapak" tanyaku heran.
"Hadiah karena saya bisa mengenalmu, berkat kamu urusan saya lancar tanpa halangan apapun, itu tidak besar kok tolong terima ya lagian pak agung juga dapat" pinta pak wahyu menjeleskan.
Mendengar pak agung disebut pikiranku mulai paham mungkin ini adalah bonus dari pak wahyu untuk team broker kami.
"Terima kasih sebelumnya, saya menjadi tidak enak merepotkan bapak" ucapku sambil menunduk.
"Santai saja dal, saya harap kita sering terlibat dalam berbagai bisnis saya jalani" pinta pak wahyu
"Amin semoga hubungan kuta terjalin dengan baik" jawabku sambil mangukan kepala tanda menyetujuinya.
"Bagaimana tadi anak saya" tanya pak wahyu tiba tiba berkata begitu.
Aku menaikan otot keningku untuk yang kedua kalinya, tak paham dengang maksudanya.
"Maaf pak maksudnya bagaimana" mataku menatap heran kearahnya.
"Iya putri saya bagaimana dia lulusan luar negri baru lulus tahun kemarin" tanyanya mengulang.
"Cantik pak" jawabku singkat bigung harus jawab apa.
"Kalau kamu suka kamu boleh mengenalnya lebih dekat, saya yakin kamu orang baik jadi saya tidak khawatir kalau putri saya dekat dengan kamu" pernyataan yang membuat mataku membulat sempurna kaget dengan perkataan pak wahyu.
"Maaf pak masih banyak lelaki yang lebih baik dari pada saya" ujarku menjelaskan.
"Jadi kamu monolak putri saya padahal kamu adalah harapan satu satunya untuk merubah aira, semenjak kepergian ibunya dia tak terlihat ceria lagi dirumah dia hanya pergi hiburan sampai larut malam, saya tidak sepenuhnya menyalahkannya karana saya juga merasakan hal yang sama, makanya saya menikah lagi supaya tidak berlarut dalam kesedihan sepeninggal mendiang ibunya" terliahat kecewa terlukis diwajahnnya.
"Bukan begitu pak, kalau kenalan sama siapa saja saya mau tapi kalau mengangap saya orang baik itu tidak benar, masih banyak kekurangan yang harus saya pelajari" ujarku menjelaskan maksud sebenarnya.
"Saya terlalu banyak kesibukan sehinga saya lalai memperhatikan aira, saya hawatir aira semakin dalam jatuh kelergaulan bebas dan jatuh ketangan yang salah" keluh laki laki tua dihadapanku.
Merasa iba melihatnya hatiku mulai tergerak membantunya meski akan sulit, jagankan menyadarkan orang lain menyadarkan diri sendiri saja sangat susah, tapi apa salahnya aku coba membantu semampuku.
"Terus apa kira kira yang bisa saya lakukan untuk membantu bapak" tanyaku dengan tidak yakin.
"Kamu dekati aira ingatkan dia, ajak kejalan yang benar, kalau bisa kamu ajak nikah dia, saya akan sangat senang bila anak saya berada ditangan yang tepat" pintanya dengan serius.
"Insya allah pak karena saling mengingatkan dalam kesabaran dan maksiat adalah tanggung jawab bersama, tapi saya tidak menjajikan itu berhasil karena hanya dzatNya yang bisa membolak balikan hati manusia" aku menjelaskan kegelisahaanku.
"Terima kasih sudah bersedia untuk membantu, kamu tenang saja kalau berjodoh dengan anak saya semua harta saya akan jatuh keputri saya" pak wahyu menjelaskan dengan bangga seolah semuanya bisa dibeli dengan harta.
"Maaf pak saya membantu bukan karena harta tapi ini sudah kewajiban kita saling mengingatkan, dan sebenarnya kalau pernikahaan dengan tujuan harta maka hukum nikahnya haram, sekali lagi saya minta maaf bukan saya menggurui" aku menjelasakan tentang hukum pernikahan yang aku ketahui.
Bahkan bukan tujuan harta doang termasuk tujuan nikah untuk menyakiti maka pernikahan itu haram untuk dilakukan, karena tujuan nikah yang sebenarnya adalah melaksanakan pernitaNya dan mengikuti ajaran rasullNya.