sederhana

1139 Kata
Pov dini. Pukul 21:00 aku masih belum tidur mengingat kejadian tadi sore membuat dadaku terasa masih sesak. Sesak bukan karena disakiti, tapi sesak dengan ketidak mampuanku mengartikan segala rasa yang terpendam didada. aku tau kak dali cuma bercanda memanggil aku dengan sebutan sayang, tapi bukan cuma panggilan doang yang aku butuhkan melainkan pengakuannya. Padahal dari awal sudah kubuang rasa itu, tapi aku tidak bisa melawan hasrat untuk dimilikinya. Pikuranku Apa harus aku yang mengungkapkan duluan, tapi itu hal yang tidak mungkin banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan. Tring Ponselku berdering mendakan pesan masuk. Aku dengan sigap mengalihkan aplikasi gameku keaplikasi chat, ternyata pesan dari kak dali. ( bagaimana dispensernya sudah datang ) isi pesan yang k****a. Hah dia lebih tertarik dengan menanyakan dispenser dari pada tentangku, apa dia emang bener bener gak ada perasaan sama sekali buatku. ( sudah ) balasanku singkat mengingat hati yang sedang kesal. Pesan yang kukirim langsung centang biru dan seperti biasa dia tidak membalas lagi chatnya. Padahal ngapain repot repot chat kalau tidak niat. Aku melanjutkan gameku menunggu rasa kantuk memjemput. Trok Trok Trok Pukul 21:30 Pintu kosanku ada yang mengetuk. dengan malas aku bangkit dari kasur lalu mengintip lewat jendela untuk memastikan siapa yang berani menggangu malam malam begini. Aku buka gordennya sedikit. Agrhhhhhh Teriaku kaget karena yang aku intip dia sudah menampakan wajahnya dijendela. Dengan perasaan kesal kemudian aku membuka pintu. "Ngapain sih malam malam kaya gini ganggu orang istirahat saja" omelku setelah dihadapan orang yang mengetuk pintu. "Assalamualaikum" jawabnya santai tanpa memperdulikanku yang masih merajuk. "Mau apa" tanyaku lagi sambil menekuk muka. "Jawab dulu salamnya dosa tau kalau salam gak dijawab" ujarnya sambil senyum yang membuat jantungku berderbar. "Waalaikum salam mau apa" lagi dan lagi aku tanyakan hal yang sama. "Mau nyeduh mi instan pake dispenser baru" ujarnya sambil mengangkat kantong berlogo minimarket. Sudah ketebak pasti hal yang gak penting yang akan dia lakukan. "Mau nyeduh bagaimana, galonnya saja belum diisi air" jawabku ketus. "Maka dari itu seorang dali datang kesini, ngomong ngomong gak dibolehin masuk nih" tanya kak dali yang masih berdiri diambang pintu. "Hampir lupa, lagian ngapain malam malam begini datang kerumah seorang gadis gak sopan tau" aku meledeknya. "Ya sudah kalau gak boleh aku pamit pulang ya, maaf menggangu waktunya" ujarnya sambil membalikan badan hendak pergi meninggalkanku. Melihat dia mau pergi aku mulai gelagapan padahal dialah yang ditunngu setiap waktu. "Kak dali tunggu, katanya mau ngisiin galonnya, bentar ya aku ambilin dulu" ucapku seketika takut dia beneran pergi. Kak dali menoleh lalu seyum menujukan kemenangan diukir diwajahnya. "Mana sini galonnya" pertanyaan yang membuatku jengkel dia lebih perhatian sama galon dari pada perhatiin aku. Aku segera mengambil galon yag ada didalam dispenser lalu menyerahkan kepada kak dali. "Nitip ini dulu yah, awas jangan dimakanin sebelum aku pulang" ujarnya yang menyerahkan kantong berisi belanjaan. "Ya sudah taro disitu" ujarku gemas sambil menunjuk gagang pintu. Dia hanya senyum mengikuti perintahku, lalu pergi membawa galon kosong. Tak lama berselang dia sudah berdiri di ambang pintu dengan memangul galon berisi air. "Sekarang boleh masuk" tanya kak dali napasnya tersendat mungkin capek memangul galon. "Iya masuk saja" jawabku memoersilahkan. Kak dali menurunkan galon lalu memasukanya kedispenser. "Tolong ambilin tetminal listrik diplastik" pintanya sambil menujuk plastik belanjaan yang masih tergantung digagang pintu. Aku bangkit dari tempat duduk lalu mengambil apa yang dia minta. "Ini buat apa kak" tanyaku heran ngapain pake terminal segala. "Ya buat listriklah, kan colokam disini cuma satu, nanti kalau kamu mau ngecas gimana, masa iya nanti colokanya bergantian bisa bisa kamu repot" ujarnya menjelaskan. Hal inilah yang selalu membuatku takjub dengannya, hal hal sederhana yang dia lakukan membuat rasa sukaku selalu bertambah bak tanaman yang tumbuh dengan subur karena selalu diberi pupuk. Setelah beres memasangnya kak dali duduk disampingku. "Ngapain dekat dekat" tanyaku. "Emang kamu mau aku jauh jauh darimu" jawabnya yang mebuat mataku terbelalak dia seolah tau apa yang ada dalam hatiku. "Bentar ya aku ambilin mangkok dulu katanya mau nyeduh mie" aku mengalihkan pembicaraan supaya tidak terpojok. "Emang kakak belum makan, katanya tadi mau menghadiri undangan" tanyaku sambil meletakan mangkok. "Sudah tapi menghadapimu harus banyak energi membuatku menjadi cepat mudah lapar" balasnya sambil terus memperhatikan dispenser, seperti anak kecil yang punya mainan baru. "kok gitu kak" tanyaku heran. "Iya lah kadang nangis, kadang jutek, kadang senyum, gimana gak butuh energi coba" jawabya sambil tertawa kecil. "Ih apa sih" cetusku membuat wajahku merah malu mengingat tingkah kekanak kanakkanku. "Benerkan" kak dali menguatkan perkataanya. Membuatku semakin salah tingkah. "Kakak mau mie rasa apa" tanyaku hanya bisa mengalihkan pembicaraan ketika mulai terpojok. "Soto aja" jawabnya. "Aku boleh minta yang goreng" tanyaku mengingat tadi dia bilang tidak boleh memakanya. "Boleh emang kamu juga lapar ya, kan tadi sudah makan pecel ayam" kak dali balik bertanya. "Iya tapi menghadapi kak dali harus banyak energi, sehingga membuat perutku kembali bersuara" jawabku membalikan perkataanya. "Lah kok bisa" tanyanya menujukan wajah heran yang mebuatnya semakin lucu. "Iya gimana tidak, aku terus diledek, digodain, dipuji tapi semua itu gak serius" ungkapku menjelaskan sikapnya. "Kalau begitu boleh, ambil saja" ujarnya yang tidak memperdulikan perkataanku. Aku hanya mendengus kesal, kemudian mengambil dua mie lalu membukanya. Untuk mengambil bumbunya, supaya nanti tidak ikut terseduh dengan air panas. Indikator hijau didispenser menjadi merah menandakan air didalam sudah panas. Kak dali dengan sigap mengisi kantong mie dengan air dispenser, kemudian mengikatnya dengan karet. Aku membuka bumbu mie isntan lalu menuangkanya kemangkok, awalnya mudah tapi sangat kesulitan ketika membuaka bumbu minyaknya. "Boleh aku gigit kak" tanyaku sambil menatap kearahya. "Hah digigit jangan lah nanti aku kesakitan, dielus saja juga enak kok" jawabannya gak nyambung sama sekali. Walau begitu tapi itu membuat pipiku panas. "Ini loh kak yang digigit soalnya susah banget membukanya" ujarku sambil menujukan bumbu minyak. "Oh kirain mau gigit apa gitu, aku sudah parno takut gigit yang itu" jawab kak dali sambil mengigit bibirnya. "Apaan sih, ya sudah buka sendiri" dengusku pura pura kesal lalu menyerahkan bumbu padanya. "Jangan digigit mending kalau kamu sudah sikat gigi kalau tidak bisa gawat" kak dali terus meledeku. "Ya aku gigit punyaku saja, yang kakak terserah" ujarku sambil memngabil bumbu mieku untik membukanya. "Emang nyampe" tanyanya sambil melongo, mentap kearah muka dan pah4ku. "Matamu tuh kak" aku melemparkan bumbu yang sedangku pegang kemukannya. Dia hanya tertawa puas yang membuatku terus tak berdaya dibuatnya. Dengan cuek dia mengmbil bumbu yang terjatuh, kemudian mengambil guntung dari plastik belanjaanya. "Kenapa tidak bilang kalau ada gunting" tanyaku kesal. "Lah kamu kan gak nanya" jawabnya enateng sambil membuka bumbu mie. Mau nanya bagaimana kan ini kosan aku, jadi mana tau hal sekecil itu dia siapkan untuk memudahkaku. Membuatku semakin melayang dan mengubah pendapatku, ternyata romantis itu tidak harus dengan bunga, cukup dengan hal sepele saja bisa membuatku mengawan. Mie instan sudah jadi, dengan lahap kak dali menyantapnya seperti biasa dia tidak akan mengeluarkan suara ketika dia lagi makan. Aku juga mengikutinya menatap mie dengan lahap, apalagi ditambah pilus rasanya semakin nikmat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN