aku menginginkannya

1097 Kata
Pov dini Setelah merapihkan mangkuk bekas makan mie, aku kembali duduk dihadapan kak dali. "Mau ngopi" tawarku menatapnya. "Boleh kayanya mantap rasa chococino" ujarnya memberi pendapat. Dan aku segera bangkit lalu membuatkan kopi untuknya, tak susah karena tinggal buka bungkusnya lalu siram dengan air panas Kopipun bisa terhidang. "Emang kamu gak kangen orang tua din" tanya kak dali setelah memyeruput kopinya. Membuatku terkejut. "Kangen lah tapi aku takut menemui mereka" ujarku dengan mata berkaca "Kapan mau pulang, pasti orang tua kamu menghawatirkanmu" kak dali memberikan pendapat. "Gak tau kak kalau soal itu aku belum memikirkannya, rasanya trauma itu masih mambekas" mengingat pengakuan mereka yang yang membuatku membulatkan diri untuk pergi dari rumah. "Tapi mau sampai kapan kamu seperti ini" tanya kak dali serius. "Entahlah kak aku juga tidak tau" jawabku sambil menarik napas. "Tapi kamu tidak mungkin selamanya seperti ini, kamu pasti butuh mereka, meski kamu mampu bertahan hidup tanpa meraka" jelas kak tatapanya memenuhi wajahku. "Butuh buat apa, yang ada mereka yang membutuhkanku" bagaimana tidak, demi harta mereka berani menjodohkanku dengan orang yang tidak aku sukai, solah aku ini barang jualan siapa yang mampu membayar dia yang berhak membawa. "Kamu jangan sombong seperti itu, walau bagaimanapun kesalahannya mereka tetap orang tuamu, dan yang harus kamu ingat kamu itu seorang perempuan, dan seorang prempuan membutuhkan wali ketika dia mau nikah, apa kamu tidak menginginkan hal itu ketika kamu sudah menemukan orang yang kamu cintai" jelas kak dali mengingatkan. Aku hanya menarik napas dalam lalu membuangnya dengan pelan, sebenarnya masih ada yang mengganjal dibenakku tentang pembicaran mereka pas diteras belakang rumah waktu itu. melihat kebaikan mereka selama sembilan belas tahun membuatku sulit menerimanya. Mau tidak percaya tapi melihat perlakuannya sebelum aku kabur sangat tidak mungkin bahkan ibu sampai tega memberiku obat tidur supaya rencana jahat mereka terlaksana. "Iya sih kak bingung juga" aku tidak berani jujur tentang yang sebenarnya terjadi, takut dibilang mengada ngada. "Ya kalau seperti itu mulai sekarang kamu harus memperbaiki hubunganmu sama kedua orang tuamu, minimal kamu ngasih kabar sama mereka bahwa kamu baik baik saja, supaya mereka tidak terlalu khawatir" saran kak dali mengingatkan. "Terimakasih sudah mengingatkan, semoga aku selalu menjadi anak baik" aku sedikit tersentuh denga perkataan kak dali. "Amin, aku yakin kalau kamu ngobrol baik baik mereka pasti akan mengerti" sarannya lagi. "Semoga saja seperti itu kak" ucapku tidak yakin. "Kamu harus yakin lagian kan kamu belum mencobanya kan" dia seolah tau apa maksudku. "Iya kak mungkin besok aku coba hubungin mereka" jawabku. "Iya nanti aku susah kalau mau meminangmu atau mepersunting" ujarnya sambil cengenesan. "Buat apa dipinang biar leluasa ya meledekku" tanyaku dengan tatapan serius. "Bukanlah" jawabnya singkat. "Kayanya aku gak yakin deh bisa hidup dibahagiain kamu kak" pendapatku sok tau. "Halah belum dipinang aja kamu sudah berbunga bunga, idungmu saja kembang kempis kaya ban" ujaranya yang mulai meledek. Memang aku bahagia jangankan sampai dinikahi, diajak ngobol begini saja sudah melayang. "Sok tau, walau kamu ganteng belum tentu aku bisa suka" dengan menyunggingkan sebelah bibir, menunjukan aku tidak membutuhkannya. "Terimakasih sudah mengakui aku ganteng, memang benar ya pantai tidak harus repot repot memunjukan keindahannya" dia membalas dengan senyum yang sama. Seketika aku menetup mulut, baru sadar bahwa aku bilang dia ganteng, membuat kuping terasa panas tak kuasa menahan malu aku menundukan kepala. "Kenapa diam bener ya aku ganteng" tanyanya. "Au ah kamu salah denger kali kak" tangkisku supaya tidak terlalu malu. "Sebenernya banyak orang yang bilang begitu, tapi kalau kamu yang bilang rasanya sangat spesial" jelasnya samnil seyum mendakan kebahagian. "Spesial kenapa, emang aku sepesial ya" tanyaku merajuk meminta penjelasan. "Sini mendekat biar kamu mengerti, apa yang akan aku jelaskan" ajaknya sambil menepuk tempat disebelahnya. "Mau apa disini saja aku bisa denger kok" tolakku halus biar dia tau aku wanita yang gak gampangan. "Katanya mau dijelasin tentang kelebihan kamu, sini memdekat biar tidak didengar cicak putih" ujarnya seolah berbisik, raut wajahnya menunjukan keseriusan. Seolah terhipnotis aku menggerakan tubuh merangkak mendekatinya, rasa ingin tau membuatku seperti orang yang kehilangan arah. "Apa" tanyaku sambil menatapnya. "Ya sinilah lebih dekat nanti aku kasih tau" perintahnya lagi. "Kamu lah yang kesini masa aku yang harus berusaha terus" jawabku sambil menekukmu. Dia hanya senyum lalu mengeserkan pantatnya mendekatiku. Kemudian membalikan tubuhku supaya menghadapnya. "Mau apa" tanyaku gelagapan. Kak dali gak menjawab dia hanya memegang pipiku dengan kedua tanganya, aku hanya menikmati momen itu tak tahu kenapa napasku terasa sesak. Perlahan dia mengangkat wajahku sehingga tatapan kami beradu, membuatku memejamkan mata tak kuasa ketika harus lama lama bertatapan mata denganya, bisa bisa aku dibuat pingsan. "Din" ujar kak dali yang terlihat matanya sayu seolah lagi sakit. "Iya kak kenapa" jawabuku lirih sambil memegang tanganya yang masih melekat dipipiku. Dia mulai mendekatkan wajahnya sehiga napasnya tercium sangat wangi, meski kak dali seorang pria pekerja keras, tapi dia sangat pintar untuk merawat tubuhnya. Semakin dekat wajahnya semakin kencang pula jantuku berdegup, seolah mau loncat dari tempatnya. Tubuhku melemas solah pasrah dengan apapun yang akan dilakukan kak dali, mataku mulai tertutup perlahan seiring wajah kak dali medakiti wajahku, hembusan napasnya yang berat memenuhi seluruh wajahku, membuatku semakin terhipnotis tak sabar dengan apa yang akan dilakukan kak dali. Trrok Trrok Trok Suara pintu diketuk, walau terbuka namun etikanya harus seperti itu. Kak dali menghentikan perbuatanya yang sebentar lagi bibirnya menyentuh bibirku, ada rasa kecewa ketika dia tidak melanjutkan. "Astagfirullah harusnya aku senang ada yang menggagu kegiatan b***t ini kenapa aku harus kesal, apa jangan jangan pertahanan kesucianku sudah lemah" batinku bergejolak. "Maaf bang dah jam sepuluh lebih, waktuya pulang" ujar satpam kosanku. "Boleh gak extra time soalnya masih sama kuat" jawab kak dali sambil senyum kearah penjaga. "Gak bang ini sudah menjadi pelaturanya, silahkan kemasi barangnya aku tunggu" tegas satpam. Pak penjaga dengan sabar menungu kak dali yang sedang merapihkan barang barangnga lalu bangkit terus menoleh kearah ku. "Aku pulang dulu yah, besok kamu libur kan biar aku tidak mampir kesini" tanya kak dali. "Iya besok libur" jawabku menguatkan. "Ok selamat bobo mimpi indah" sambil mengusap bibirnya yang belum sempat menyentuh bibirku. Lalu Kak dali digiring oleh penjaga seperti sakitan yang baru tertangkap, tak lama terdengar suara motornya yang menyala lalu suarnya perlahan pergi menjauh meninggalkan kosanku. Setelah menutup pintu, kurebahkan tubuh diatas kasur lalu menatap langit langi kamar. Rasanya ada yang belum terlepasakan, tapi aku gak tau apa itu. "Apa aku menginginkannya" gumamku. Seolah tidak percaya kalau itu beneran terjadi, dosa banget kalau beneran aku mengingikan hal itu. "Gak, gak mungkin aku seperti itu, jangankan hal itu bersentuahan kulit saja hanya kak dali yang melakukannya" gumamku soalah tak percaya dengan yang terjadi. Akal sehatku menolak tapi hasratku membutuhkanya, mengingat aku masih normal, meskiku akui hati kecil ini mengakui itu salah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN