aira

1183 Kata
Pukul 07:00 aku baru saja selesai mandi setelah melakukan olah raga ringan. Ponselku terus berdering menandakan ada panggilan masuk. Kuraih ponsel itu dan melihat siapa yang menelepon, ternyata itu dari pak agung aku langsung mengangkatnya. "Assalamualaikum" ucap pak agung disebrang sana. "Waalaikumussalam pak agung tumben pagi pagi sudah menelepon" tanyaku yang keheranan. "Emang gak boleh ya, kalau saya menelepon" ujar pak agung balik bertanya. "Hahahah bukan begitu pak, biasanya kan cuma bertukar pesan, kalau gak ada yang penting penting banget bapak gak pernah telepon" aku menjelaskan kebiasaanya. "Pak wahyu tadi mengirimi pesan untuk menemuinya hari ini ada apa ya, siapa tau saja kamu mengetahui maksudnya pak wahyu mengundangku" tanya pak agung. "Tadi malam saya juga di undang makan malam, beliau cuma mengucapkan terima kasih saja pak, karena team kita sudah memenangkan tender yang menguntungkan buat pak wahyu" jelasku. "Syukurlah kalau begitu, saya suka tak enak hati kalau ada undangan dari klien, takut ada problem di proyek kita" kehawatiran pak agung. "Insya allah kayanya enggak pak" aku menenangkan beliau. "Syukurlah semoga kekhawatiranku tidak jadi kenyataan, oh iya minggu ini kapan kamu libur" tanya pak agung mengalihkan pembicaraan. "Hari rabu pak, emang ada apa ya" tanyaku penasaran. "Kita dapat klien baru dia meminta bantuan supaya bisa menjual ruhamahnya, nanti hari rabu kita chek dulu kondisinya, biar kita enggak gagap ketika menjelaskan kepada klien yang hendak membelinya" ajak pak agung. "Insya Allah siap pak, nanti hari rabu kita chek" aku mengiayakan ajakkanya. "Oke nanti saya hubungin lagi jadwalnya" ujarnya pak agung. "Kapanpun saya selalu siap pak, asal jangan bentrok dengan waktu kerjaku" balasku menjelaskan. "Ya sudah terima kasih ya. Assalamualaikum" ujar pak agung. Lalu beliau memutuskan pangilannya setelah aku menjawab salamnya. Setelah telepon berakhir aku segera memakai baju, lalu menghidupkan motorku kemudian mengedarianya melaju menuju rumahku yang baru saja dibeli dari bu itoh. Sesampainya dirumah ternyata disitu sudah terparkir dua motor dihalaman, menandakan orang yang merenovasi rumah sudah datang. Aku segara masuk menemuai mereka ternyata mereka lagi pada ngopi sambil menunggu waktu kerja dimulai. "Ngopi bang dali" tawar wandi orang yang aku percayakan untuk merenovasi rumahku. "Wah mantep, masih ada gak kopinya" tanyaku basi basi. "Ada bang tapi kopi sachetan, gak apa apa kan" terang wandi dengan wajah malu. "Gak apa apa yang penting kopi, mau apa saja pasti saya minum" aku menjelaskan Wandi lalu menyobek bungkusan kopi lalu diseduh dengan air panas, kemudian diserahkan padaku. "Terima kasih bang, oh iya sekarang tingal ngecet ya" aku menanyakan pekerjaan yang akan mereka lakukan. "Iya bang tinggal ngecat saja, paling nanti ada beberapa finishing yang harus dirapihkan lagi" wandi menjelaskan pekerjaanya. "Syukurlah kalau begitu, kira kira berapa hari kalau mengecat" tanyaku lagi. "Paling semingguan bang, soalnya banyak cat yang terkelupas jadi harus di ampelas dulu biar hasilnya rapih" tutur wandi. Aku percaya apa yang dikatakan wandi, mengingat kita sudah lama bekerja sama dengannya, ketika ada klien yang meminta tenovasi rumah dia sangat bisa diandalkan, semua klien puas atas kinerjanya. "Alhamdulillah bang kalau begitu, semoga kita selalu sehat biar bisa terus bekerja" doaku untuk semua orang yang ada disini. "Amin bang" jawab wandi. Kita melanjutkan ngobrol sambil ditemani kopi, setelah kopi habis aku berpamitan sama semua orang yang ada disitu. "Ya sudah saya pamit dulu mau berangkat kerja, kalau butuh apa apa telepon saja" pintaku sambil menyalami mereka. "Iya siap bang hati hati ya" jawab wandi sambil mengegengam tanganku. Aku pergi meninggalkan meraka menyusiri jalan kota yang mulai agak lenggang, karena yang berangkat kerja kantoran sudah masuk kalau sudah jam segini. Fokus mengendari motor menatap meter demi meter jalan yang kulalui. Namun seketika pandanganku terhenti disalah satu mobil yang terparkir dipinggir jalan, bukan karena mobilnya yang bagus tapi karena orang yang mau menggati ban dengan kesusahanan, beberapa kali dia mengangkat ban dari bagisi tapi tetap tidak terangkat, mungkin karena dia hanya seorang prempuan jadi tenaganya tidak seperti tenaga laki laki. Merasa kasihan aku parikirkan motorku di depan mobil lalu menghampirinya. "Kenapa mbak" tanyaku ketika sampai disampingnya. "Mau ganti ban tapi susah banget ngambilnya" jawab dia sambil menolehku. Ketika pandangan kita beradu ternyata wanita ini adalah wanita yang semalam kutemui saat makan malam dengan pak wahyu. "Aira" desisku pelan cuma aku saja yang dengarnya. "Ambilin bannya ngapain lu bengong begitu" perintah aira yang tidak mengenali wajahku karena masih tertutup helm. Mendapat perintah seperti itu aku menurutinya, mengambil ban serep lalu menyimpanya didekat ban yang gempes. "Eh mau kemana lu, nolong kok setengah setengah" bentak aira ketika melihatku hendak pergi. Aku tak menghiraukan teriakan aira terus berjalan melepaskan helmku lalu minyimpanya dimotorku. "Kirain lu mau kabur" ucap aira yang melihat aku balik lagi ketempat. Aku hanya seyum getir menanggapi pernyataanya. "Ada kunci sok 17 dan dongkrak mbak" tanyaku. "Apaan itu gue gak ngerti, oh iya lu jangan panggil gua mbak emangnya gue kakak lu apa" pinta aira yang belum mengenaliku sama sekali meski kegantenganku telah kutampakan. "Siap gimana ada gak konci sama dongkraknya" tanyaku mengulang. "Gak tau yang lu omongin itu apa" jawabnya balik bertanya. "Ya alat alat untuk mengganti ban mbak eh kak" tanyaku gugup. "Oooh itu mungkin ada dekat ban tadi coba lu liat sana" perintahnya tanpa dosa. Aku bangkit lalu membuka bagasi mobilnya untuk mencari dongkrak, tak susah menemukanya karena bentuknya yang besar dan pasti ada disetiap mobil. Kuambil semua yang kubutuhkan untuk menganti ban. Setalah menganjal ban dengan batu, aku mulai mengakat mobil dengan dongkrak, kemudian membuka baut satu pertsatu dari velgnya setelah terlepas lalu mengantinya dengan ban serep. Sangat mudah kalau hanya sekedar menganti ban tak lebih dari sepuluh menit pekerjaanku selesai, lalu kurapihkan kembali semuanya pada tempatnya. "Sudah mbak" jelasku menghampiri dia yang sedang duduk dibelakang kemudi. Aira tak menjawab dia cuma mngeluarkan uang merah satu lembar lalu memberikannya kepadaku. "Gak usah mbak saya membantu dengan iklas" tolak ku halus. Aira kembali memasukan uangnya kedompetnya lagi lalu menginjak gas mobilnya pergi menigalkanku tanpa sepatah kata apapun. Melihatnya dia pergi aku cuma bisa geleng geleng kepala tak menyaka ada orang seperti itu jangankan berterimakasih ngomong saja enggak. Aku melanjutkan perjalananku menuju tempat kerja mengingat sebentar lagi coffe akan segera dibuka. Setalah memarkirkan motor, aku berjalan menyusuri tangga menuju lantai satu. "Kak dali" sapa seseorang dari belakang. Aku membalikan badan untuk melihat siapa yang nyapa, ternyata aku sama sekali tidak mengenalinya. "Maaf siapa ya" tanyaku heran. "Masa sudah lupa aku risma teman kerjanya dini" risma menjelaskan. "Aduhh maaf saya bener bener lupa" aku merasa gak enak dengannya padahal aku pernah pulang bersama. "Gak apa apa kak lagian kita baru sekali ketemu, tumben gak bareng dini" tanya risma sambil menaikan kedua alisnya. "Dia kan hari ini libur, jadi dia dikosanya saja" jawabku sambil berjalan menyusuri anak tangga. "Iya kok aku bisa lupa ya hari ini bagian dia libur" ujarnya sambil senyum. Kita terus berjalan mentusuri lorong lorong mall sampai terpisah dipersimpangan menuju tempat kerja masing. "Boleh gak kalau chat kakak" tanya risma sebelum berpisah. "Bolehlah kenapa enggak, lagian kamu sudah punya kan nomor kontakku" jawabku sambil senyum. "Terimakasih kak tadinya takut ganggu" ujar risma membalas seyumku. "Sama sama kalau gak bales berarti lagi ada kerjaan ya sudah saya kerja dulu kamu juga mau kerja kan semangat ya" sambil mengepalkan tangan lalu beranjak pergi meningalkak risma yang masih mematung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN