telepon

1085 Kata
Pov dini. Hari ini aku libur kerja jadi setelah sarapan hanya malas malasan saja dikasur sambil memainkan ponsel. Bosan melihat lihat ponsel aku inget pesan kak dali yang harus membangun hubungan baik sama keluarga, teruatam kedua orang tuaku. Aku mencari nomor kontak ibuku meski sudah ganti nomor namun nomor nomor kontak tak kuhapus karena aku menyimpanya dimemori telepon. Setalah ketemu aku memencet nomor ibu tak lama telepon pun terhubung sebelum menelopon aku sudah ubah dulu penganturan kemode privat nomer biar mereka tidak bisa melacakku. "Haloo" ujar seseorang disebrang sana. "Iya halo ini dini bu" kenalku biar ibu tak menerka nerka karena aku mengunakan privat nomber. "Eh kamu dimana, kamu si4lan kenapa kamu kabur jadi anak kok gak tau terimakasih" kecam ibu dengan nada keras sehingga aku menjauhkan ponsel dari telinga. "Maaf bu kalau aku mengecewakan ibu, tapi aku juga gak mau kalau nikah sama pak wahyu" belaku dengan nada bergetar. "Halah kamu itu sebagai anak jangan banyak protes, dikasih enak kok gak tau diri" bentak ibu menghardik. "Sekali lagi saya minta maaf bu aku tidak bisa jadi anak yang terbaik buat ibu" rajuku sambil menahan air mata. "Sekarang kamu dimana biar bapak kamu nanti susul, kamu harus nikah sama wahyu soalnya gara gara kabur rukonya di tarik lagi sama dia, untung saja gak sampai dilaporkan kepolisi" jelas ibu. "Ibu lebih mentingin harta dari pada kebahagian anaknya" belaku tidak setuju dengan pendapat beliau. "Halah kamu tau apa tentang kebahigian, ibu ini sudah mengenyam asam garam kehidupan, per5et4n tuh kebahagian, yang jelas kalau kamu miskin tidak akan bahagia" semprot ibu. Suasana mulai panas kalau dilanjutkan yang ada aku kena jantung. "Ibu saya lagi kerja nanti dilanjut lagi teloponananya" pintaku sambil menutup teleponnya biar tidak keterusan. Tap Tap Tap Telepon itu aku putus, ada prasaan lega bak orang lolos dari kejaran hewan buas. Pengenya bisa ngobrol lama pengen cerita tapi semua itu kandas dengan penyambutan ibu. Tring Tring Tring Teleponku kembali berdering menadakan ada panggilan masuk, "Siapa yang menelopon padahal tadi aku nelepon ibu pake private nomber" gumamku sambil mengambil telepon, setelah kulihat ternyata telepon dari kak risma, aku segera mengangkatnya. "Hallo" sapa kak risma disebrang sana. "Hallo kak, tumben telepon emang gak kerja" tanyaku heran karena jam sebelas dia sudah telepon. "Aku ngambil istirahat gelombang pertama din, jadi bisa telepon" jelas kak risma. "Ada apa nih biasanya chat doang" tanyaku heran. "Tadi aku ngobrol sama kak dali" jawabnya. Ternyata kak risma mau pamer bahwa dia tadi ngobrol sama ka dali gak tau apa maksudnya. "Hallo din, kok diam" tanya kak risma. "Iya kak, terus kenapa" tanyaku ditelepon. "Gak apa apa ternyata kak dali itu baik yah, dia gak sombong walau kelihatanya agak cuek" kak risma menjelaskan. "Iya emang kak dali orangnya begitu" jawabku seolah menangapin perkataan kak risma. Walau sebenarnya tidak sesuai dengan hatiku. "Kamu gak pacaran kan sama kak dali" tanya kak risma. "Emang kenapa" aku balik bertanya. "Kalau belum aku boleh kan aku deket sama kak dali" kak risma merpetegas maksudnya. "Kalau sudah pacaran bagai mana kak" tanyaku "Yah kalau sudah aku kecewa, dan mungkin mendoakanmu supaya cepat putus heheheh" jelas kak risma sambil terkehkeh. "Jahat amat kamu kak" ucapku sambil mendengus. "Hehe canda kok, aku cuma mau tau aja agar aku gak salah langkah" ujar kak risma kaya menghadapi masalah serius saja. "Gak kok kak aku gak pacaran, cuma kak dali baik saja sama aku" aku menjelaskan yang sebenarnya tentang aku dan kak dali. Lagian aku sadar aku tidak mumgkin memaksa kak dali untuk jadi pacarku. "Syukur deh kalau kamu tidak ada hubungan jadi aku jadi PHO" jelas kak risma terdengar suara bahagia. "Apaan itu PHO" tanyaku penasaraan. "Kamu gak usah tau ya sudah aku mau nyari makan dulu" putus kak risma tak mau memberitahu. "Ya sudah hati hati kerja kak" jawabku Teleponpun terputus mengakhiri perbincangan kami, aku hanya menarik napas kasar lalu membuangnya. Tak tau mengapa aku harus merasa cemburu ketika kak dali didekati wanita lain, padahal dia saja tidak ada perasaan sedikitpun buatku. Hari ini ada dua orang yang membuat emosiku terkuras, membuatku terasa lemas hingga tak sadar mataku terkatup pulas. Tring Tring Tring Ponselku bergetar kembali membangunkan tidur pulasku, kuraih ponsel dengan sisa sisa nyawaku yang masih belum terkumpul lalu menempelkannya di telingaku. "Hallo ini siapa" ujarku yang belum melihat ponselku. "Aku bowo din, kenapa kamu gak masuk kerja" tanya pak bowo mengagetkanku. Kaget karena tidak menyangka dia bertanya seperti itu, apa dia gak tau bahwa hari ini aku libur. "Kan hari ini bagian aku libur pak" aku menjelaskan keadanya. "Masa sih, kirain kamu sakit tadinya sudah khawatir" ujar pak bowo terasa janggal. "Gak sakit kok pak" aku mempertegas keadaanku. "Syukurlah kalau gak sakit, soalnya suara mu terdengar parau, sudah makan belum" tanyanya seolah tidak mau menghentikan pembicaraan. "Sudah pak, maaf saya mau sholat dulu soalnya saya baru bangun tidur" aku mencari alasan agar pak bowo tidak lama lama meneleponku. "Makan bagaimana kamu saja belum baru bangun" selidik pak bowo membuat lidahku terasa kelu. Bingung mau menjawab apa. "Bentar aku jemput ya, kamu siap siap saja dahulu" perintah pak bowo. Aku belum sempat menyanggupi tapi telepon itu sudah terputus, aku lihat dipojok kanan ponsel jam menujukan pukul 13:40, aku segara bangkit lalu mengambil handuk untuk memberesihkan badan dikamar mandi. Dilanjutkan melaksaankan shalat dhuhur. Trok Trok Trok. Pintu kosanku diketok dari luar dalnjutkan dengan ucapan salam, aku segera bangkit dari tempat sujudku lalu mengintip dari celah gorden yang sedikit terbuka. Setelah mengenali siap yang mengetuk, aku membuka pintu terlihat jelas ada seorang bapak bapak tambun memegangi anak berumur tiga tahun. "Waalaikum salam" ujarku ramah menatap keduanya. "Kok belum siap dek" tanyanya sambil melempar senyum kearahku. "Ya belumlah kak lagian kan dari jarak telepon sampai sekarang belum terlalu lama, oh iya ini siapa namanya" tanyaku sambil jongkok mensejajarkan diri sama anak kecil yang yang dituntunnya. "Alisa" jawab anak kecil itu. "Oh salam kenal pinter" ujarku sambil mecubit gemas pipinya. "Tante namanya siapa" tanya anak kecil itu. "Bibi Dini adek manis" aku menepatkan diri sebagai adik kak bowo. "Nanti saja ngobrolnya sa, biarkan bibi dini mengganti bajunya dulu" perintah pak bowo sama anak manis ini. Alisa mengangguk lalu menatap kearahku. Seolah dia juga memerintah hal yang sama, melihat kekompakan mereka aku segera bangkit lalu menutup kembali pintunya. Setelah mengganti pakaianku dengan gamis yang diberikan pak chandra, aku segera kembali keluar. Pak bowo menatap lekat kearahku dari atas sampai bawah. "Kamu cantik banget" gumamnya meski pelan tapi aku tau apa yang diucapkan karena melah dari pergerakan bibirnya. "Kenapa kak" tanyaku yang masih menatapny. "Engga apa apa, kalau sudah siap ayo kita berangkat" ajak kak bobo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN