alisa

1153 Kata
Pov dini "Ayo berangkat, nanti keburu sore bukannya kita jalan jalan yang ada nanti kita macet macetan" memang kalau jam pulang kantor kota metro politan ini sering macet parah. Sebenarnya hati ini pengen menolaknya tapi ada rasa tidak enak, apalagi pak bowo bawa anaknya, mungkin mereka berharap lebih agar aku bisa menerima ajakannya. "Kenapa masih diam ayo kita berangkat" ajak pak bowo yang kedua kali, memacahkan lamunanku. Aku bangkit sambil menggendong alisa berjalan mengikuti pak bowo menuju mobilnya, alisa hanya diam dalam gendonganku tanpa ada penolakan darinya, mungkin dia sudah biasa berhadapan dengan orang baru, jadi dia merasa nyaman. "Silahkan masuk" tawar pak bowo setelah membukaan pintu mobilnya. Seperti biasa aku hanya diam tapi tetap mengikuti perintahnya. Selatah memastikan aku masuk dengan selamat pak bowo berlari kesebelah kanan duduk dibelakang kemudi. "Ade isya mau maen kemana" tanya pria yang menggapku adek. "Mall" jawab alisa yang ada didekapanku dengan terbata bata sesuai usianya yang belum masih lancar bicara. "Emang mau apa ade isya kemall" tanya pak bobo yang terus fokus mengemdalikan mobilnya. "Mandi bola yah" jawab alisa sambil riang gembira. Pembicaran mereka berdua berlanjut tanpa menghiraukanku, meraka sangat akrab napknya pak bowo adalah sosok yang perhatian sama anaknya. Sesampai disalah satu mall pak bowo mengajak kita turun terus masuk kedalam. "Dek isya kita cari makan dulu ya, kasian bibi dininya kelaparan" ajak pak bowo keanaknya. Alisa hanya mengangguk kecil tanda iya seteju. Pak bowo akhirnya berhenti disalah satu makan cepat saji berlogo kakek kakek tua, setalah memasan makanan kami menuju meja kosong lalu duduk berhadap hadapan. "Maaf yah makan makanya jadi keganggu alisa" ungkap pak bowo terlihat wajahnya menunjukan rasa bersalah. "Enngak kok lagian alisa anak baik buktinya dia tidak rewel" sanggahku yang tidak merasa terbebani dengan adamya alisa. "Iya kalau gak diajak kasian dia hanya bisa maen dirumah terus ditemani si mbok" dia menjelaskan keberadannya. "Iya gak apa apa kak, aku senang banget malahan ada teman main seimut alisa" jawabku meyakinkan pak bowo. "Sebenarnya pengen mengajak keluarga liburan bareng tapi waktumya selalu tidak tepat, istriku dia sibuk bekerja jadi pegawai negri disalah satu intansi pemerintahan, kalaupun ada hari libur dia selalu sibuk dengan acara arisanya. Sedangkan anak pertamaku dia lagi sibuk dengan ujianya disekolah menengah kejuruan, kalau hari libur dia selalu belajar dirumah. Jadi cuma ini yang bisa kulalukan untuk anak bunggsuku, meski keluarganya selalu sibuk tapi minimal ada bapaknya yang selalu ada buatnya" Ujar pak bowo sambil menghela napas berat, terlihat matanya berkaca kaca, menunjukan bahwa dia tidak sedang baik baik saja. "Sabar yah kak semua pasti ada hikmahnya" jawabku yang kebingungan harus mananggapi seperti apa, karena aku belum pernah menghadapi masalah keluarga. "Terimakasih yah dini atas sarannya, semoga aku selalu menjadi orang orang sabar" ucap pak bowo yang nampak berlebuhan menanggapi saranku. "Sama sama kak, bukankah kita diperintah untuk saling menasihati dalam kesabaran" aku menjelasakan tugas sesama manusia yaitu saling menasihati dalam segala hal yang baik. "Bener banget tuh din, terimakasih sudah mengingatkanku lagi" ujar pak bowo yang seperti orang tersesat dihutan terus diselamatkan. Obrolan terhenti ketika pelayan datang memberikan hidangan yang kami pesan. "Makan dulu, dek isyanya duduk dipangkuan ayahnya kasihan bibinya mau makan" ajak pak bowo sambil mandahkan tangannya mengambil alisa dari pangkuanku. "Ade makan sendiri aja yah" rengek alisa menunjukan kemandirianya "Anak pintar" jawab pak bowo sambil mendudukan alisa ditempat kosong lalu mencium rambutnya. Tidak ada pembicaran selagi kami makan, hanya rengek alisa yang selalu mau kulit ayamnya. Pak bowo hanya tersenyum meladeni anaknya yang masih butuh perhatin belaian orang tua. Setelah makin aku berjalan mengikuti pak bowo yang menggendong alisa. Meski dia mau aku yang mengendong tapi pak bowo menolaknya, katanya biar aku tidak kecapean. "Ayah aku mau mandi bola" rengek alisa yang ada digendingan ayahnya. "Tanya sama bibi boleh gak" jawab pak bowo melemparkan pertanyan alisa kearahku. "Bibi boleh gak aku mandi bola dulu" tanya alisa sambil melihat kearahku. Tadinya aku mau menolaknya karena sangat tidak pantas berduan sama suami orang apapun itu alasannya. Tapi melihat wajah alisa memelas rasanya tak kuasa saja. "Horeeee" teriak alis sambil loncat ketumpukan bola, terlihat wajahnya memancarkan rona bahagia. "Terimakasih ya din, sudah mau menemani alisa bermain" ujar pak bowo yang duduk disampingku mengawasi alisa. "Iya kak, tapi aku tidak enak takut menjadi fitnah kalau kita berduan seperti ini, tolong jangan libatkan aku dalam masalah kakak" ungkapku mengeluarkan kekhawatiran. "Maksudnya" tanya pak bowo menatap heran. "Kakak masa gak ngerti sih. Kita ini lawan jenis sangat tidak pantas berduan seperti ini, akan menjadikan fitnah bagi kita" jelasku ketakutan. "Oh itu tenang saja kan kita kakak adek, jadi kamu gak usah berpikiran macam macam" jelas pak bowo santai. "Tapi itu menurut kak bowo, belum tentu menurut orang apalagi cuma kita yang mengakui hubungan kakak adek" elak sambil memainkan ujung kerudung. "Terus bagaimana supaya kamu nyaman, aku bener bener pingin mempunyi adek" tanya pak bowo. "Kenalkan aku sama istri kakak, akui aku sebagai adikmu dihadapanya, biar ketika kita jalan seperti ini tidak ada rasa takut menghantuiku" pintaku sambil menatapnya. Pak bowo hanya manggut manggut mencerna perkataanku "hmmmz itu, ya sudah nanti hari minggu aku ajak kamu kerumah biar bisa kenalan sama kakak iparmu" jawabnya sambil menghembuskan napas panjang. "Beneran kak" tanyaku sambil menatap nanar kearahnya. "Beneralah din, kalau kakak berbohong ngapain aku kenalin sama alisa" jelas pak bowo. Memang kalau dipikir secara jernih perkatan pak ada benarnya, kalau dia tidak sungguh sungguh atas pengakuanya mana mungkin dia bawa alisa menemuiku. Karena itu sangat beresiko terhadap keutuhan rumah tangganya. "Nanti gimana kalau istri kak bowo tidak menerima aku sebagai adiknya" "Pasti nerima lagian kak erisa jadi kamu gak usah khawatir" jelas pak bowo menatapku. "Terimakasih kak semoga kita bisa jadi saudara selamanya" "Amiin" jawab pak bowo. "Bibi sini temenin alisa main" teriak alisa yang lagi ada kolam bola. Aku bangkit lalu mendekati alisa. "Ayo turun sini bibi" rengek alisa penuh harap sambil menuntun tanganku masuk kekolam. Akhirany kita larut dalam permainan bola, mulai dari kejar kejaran, mancing, main prosotan dan banyak lagi yang lainnya. "Udahan yah sya bibinya sudah capek" ujar pak bowo yang berdiri disamping kolam. "Gak mau" jawab alisa ketus. "Kamu juga sudah capek kan ayo naik" ajak pak bowo. "Nanti besok besok kita main lagi" tambahku merayu alisa. Benar apa yang dikatakan pak bowo tubuh mulai lemas menemani alisa yang lagi aktiv aktivnya sebagai anak kecil. "Janji ya bik" alisa mengulurkan kelingkingnya kearahku. Aku hanya senyum lalu mengaitkan kelingkingku ke kelingking kecil alisa. "Ayo" ajakku sambil menggendongnya membawa alisa keluar dari tumpukan plastik. Kami duduk bersama di kursi tunggu pak bowo beranjak pergi tak lama dia kembali sambil membawa botol minum. "Minum dulu pasti kamu haus" tawar pak bowo sambil menyodorkan botol teh. "Terimakasih" jawabku sambil mengabil botol yang diberikan pak bowo. Glek glek glek Aku tengga minuman itu dengan hidmat, capek menamani alisa ditambah cuaca jakarta yang panas membuat minuman ini rasa sangat nikmat. Setelah lama beristirahat aku dan pak bowo pergi meninggalkan arena bermain anak anak, berjalan menuju moshola untuk melaksanakan sholat asyar, mengingat waktu sudah menunjukan pukul 16:30.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN