salah paham

1404 Kata
Pop dini Selesai salat kami keluar dari mushola berjalan menuju parkiran, Sesampainya di parkiran ketika mau masuk mobil tiba-tiba tubuhku ditarik. Plak Satu tamparan mendarat di pipiku dengan sangat keras membuat aku terhuyung "si4lan dasar cewek jal4ng, dasar pelak0r biad4b berani-beraninya Kamu berjalan dengan suami orang, Dasar gak tau malu Masih muda kok nyarinya yang tua" bentak seorang wanita yang yang barusan menamparku Aku hanya diam sambil memegangi pipi yang terasa panas bekas tamparan bekas tamparannya, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Wanita itu hendak melayangkan pukulan yang kedua kalinya, tapi tangannya tertahan oleh tangan pak Bowo yang turun lagi dari mobil. "Sudah mah jangan diteruskan dia nggak salah, papah yang salah mengajak dia jalan-jalan menemani Alisa, dia adik angkat Papa" jelas Prabowo sambil memegangi istrinya dengan kuat. Bruk Satu tendangan mendarat di perutku membuatku meringis, karena istri pak Bowo itu memakai sepatu tu high heel yang terbuat sangat keras. Aku merasa mual dan pusing mendapat serangan di dua tempat vital sekaligus. "Sudah jangan diteruskan kasihan nanti dia bisa terluka, ini tidak seperti yang Mama bayangkan, kita hanya Jalan menemani aliza bermain, karena mama tidak pernah punya waktu buat keluarga, Kasihan Alisa mah dia masih kecil dia butuh sosok ibu yang selalu mendampinginya" jelas Pak bowo sambil menarik istrinya menjauh dari tempatku. "Halah mana ada maling ngaku, kalau banyak maling ngaku penjara penuh dan Jangan jadikan alasan Alyssa untuk papa berselingkuh, harusnya papa mikir aku kerja banting tulang dari pagi sampai sore, ini buat keluarga supaya bisa bahagia dan membantu perekonomian papa, harusnya papa bersyukur. bukan Malah seperti ini balasannya berselingkuh di belakang Mama papa tega Papa jahat" rancu wanita yang berpakaian PNS itu sambil terisak menahan kepedihan. "Mana ada buat keluarga, yang ada hasil usaha mama hanya untuk menghiasi diri Mama sendiri, untuk memikat berondong berondong di luar sana. Papa sudah tahu semuanya mah, kejelekan mama jadi jangan sok suci sok menasehati, kaya Mama sudah benar saja, lagian aku cuma jalan bukan tidur seperti yang Mama lakukan dengan peliharaan peliharaanmu, sadar diri mah" pak bowo membalas tak kalah sengit Melihat mereka beradu mulut dengan suara yang sangat keras, ini bisa menimbulkan perhatian banyak orang yang akan menonton, aku yang masih meringis kesakitan mencoba berpikir secara jernih tentang apa yang harus aku lakukan, kuperhatikan sekeliling ternyata masih sepi aku harus cepat meninggalkan tempat ini sebelum semua menjadi ramai. bisa-bisa orang mengabadikan tentang pertengkaran ini dan mereka tidak mungkin menerima penjelasanku yang hanya bermain menemani anak mereka. aku akan tetap jadi tersangka bahwa aku ini seorang pelakor. Tanpa pikir panjang aku segera menjauh dari parkiran, lalu mencari tempat persembunyian yang dirasa aman, supaya aku tidak dihajar lagi oleh istri pak Bowo. untuk sekarang keselamatanku adalah hal yang terpenting mungkin lain kali aku akan kan mendatangi istri Pak bowo dan menjelaskan semuanya. Benar saja setelah aku jauh dari tempat pertengkaran mereka, satu per satu orang mulai berdatangan untuk menyaksikan tontonan gratis. Tak sedikit pula yang menyalakan kamera handphone untuk mengabadikan Kejadian ini. Aku terus mempercepat jalanku sambil memegang pipi dan perutku yang masih terasa perih dan ngilu, tanpa memperhatikan jalan yang aku lalui sampai-sampai aku menabrak seseorang lalu aku terjatuh. "Kalau jalan tuh pakai mata, biar nggak nabrak orang" bentak seorang wanita. "Nggak apa-apa stela, mungkin dia buru-buru" Bella seorang laki-laki sambil membantuku untuk bangkit. "Maafin aku Kak, aku nggak ngelihat jalan tadi aku buru-buru" kataku sambil menundukkan kepala tanpa melihat ke arah yang membantuku. "Dini" sapa laki-laki yang ada di hadapanku. Mendengar namaku disebut dengan Ragu aku mengangkat kepala menatap ke arah datangnya suara. ternyata itu Kak Dali dan seorang perempuan yang tadi membentakku. Melihat kak dali berdua bersama seorang perempuan entah kenapa apa hati ini terasa sakit mengalahkan Kan sakitnya tamparan dan tendangan dari istri pak Bowo. Tak terasa air mata ini ini mengalir begitu deras entah tak kuat menahan rasa sakit dari tamparan atau menahan rasa yang tidak terbalas, orang yang diharapkan malaj asik jalan-jalan dengan wanita lain tanpa sama sekali tidak memikirkan perasaanku. "Kenapa kamu menangis, terus kenapa pipimu juga merah" Kak Dali memberondong aku dengan pertanyaan pertanyaan sambil memegang pundaku memperhatikan area pipiku yang merah, akan terlihat kontras dengan kulit yang putih. "Enggak apa-apa kak, tadi aku jatuh di toilet, pipiku kena tembok akhirnya merah begini" jawabku berbohong sambil menahan sesak di d**a "Halah cemen amat baru jatuh aja sudah nangis meraung-raung seperti jatuh dari lantai tujuh saja" kak stela mencela dengan Ketus "Beneran kamu nggak apa-apa, mau aku antar pukesmas Siapa tahu saja gigimu ada yang rontok" tawar Kak Dali campak menghiraukan ucapan Kak Stella "Dali kamu kan sudah janji hari ini kamu mau menemaniku menonton bioskop, jangan gara-gara perempuan murahan ini acara kita jadi batal" Kak setela mengingatkan tujuan mereka datang ke mall ini "Kamu ngomongnya jangan seperti itu semua orang sama" ujar kak dali membelaku "Halah kalau nggak murahan ngapain coba nangis nangis di depan kita, emang kita peduli apa? kalau nggak murahan ya kegatelan mengganggu kesenangan orang saja" ucapan Kak Stella menusuk keulu hatiku Mendengar ocehan Kak Stella membuatku semakin merasa bersalah Apa benar aku ini ini hanya menjadi pengganggu hubungan orang, karena dalam satu waktu aku sudah ada ada dua wanita yang mengatakan kan bahwa aku ini mengganggu hubungan orang. Tak kuat menahan ucapan-ucapan pedas yang keluar dari mulut Kak Stella aku berjalan meninggalkan mereka sambil menundukkan kepala.Melihat aku pergi Dadali segera menyusul lalu memegang tanganku. Aku berbalik badan "lepaskan tanganku Kak, aku mau pulang" pintaku sambil menatapnya "Beneran kamu nggak apa-apa" tanya kak dali membalas tatapanku Seperti biasa ketika tatapan mata kita beradu Jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya "Beneran nggak apa-apa Kak cuma lebam sedikit, Ya sudah temennya masih menunggu tuh nanti, kalau kelamaan dia marah" ucapku sambil senyum menyembunyikan segala kepedihan "Ya sudah kalau tidak apa-apa, nanti kamu kabarin ya kalau butuh bantuan, aku akan selalu siap membantumu" setelah berucap seperti itu kak dali membalikan badan menghampiri Kak Stella yang masih berdiri dengan raut masam lalu meraka pergi meningalkanku. Aku hanya menarik nafas panjangmelihat kepergian mereka, mengatur kembali rongga dadaku yang terasa mulai menyempit, aku Kembali menuju pintu belakang mall kebetulan di situ banyak terparkir mobil-mobil warna biru tanpa pikir panjang aku masuk lalu menyebutkan tujuanku. Rasanya tak aman kalau lama-lama tinggal di mall bisa-bisa aku dihakimi massa Mobilpun melaju meningalkan area mall, Kurebahkan punggungku di jok, mengingat kejadian yang baru saja kualami aku bak pelakor profesional yang kabur dari kejaran istri sahnya. bukan tidak mau menyelesaikan masalah tapi keadaan yang tidak memungkinkan, semoga saja pak Bowo bisa menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi kepada istrinya. Setelah membayar tagihan mobil berargo itu, aku keluar menuju kosan. Sesampainya di dalam kostan aku segera mengambil handuk lalu membasahi tubuhku dengan air, mengingat sebentar lagi azan maghrib berkumandang. Selesai salat kurebahkan tubuhku di atas kasur sambil mengingat kembali kejadian hari ini Tring Ponselku berbunyi menandakan ada satu pesan masuk, aku berharap bahwa pesan ini dari Pak bowo memberi kabar bahwa dia telah menjelaskan semuanya yang terjadi. tapi pas kubuka itu hanya pesan dari Kak dali yang mengingatkanku untuk salat magrib "Kakak juga jangan lupa salat jangan mentang-mentang lagi nonton sama wanita cantik sampai-sampai melupakan kewajiban sebenarnya" aku membalas pesannya "Secantik apapun orang yang ada di sampingku aku tidak akan melupakan kewajibanku terhadap penciptanya tapi nggak tahu kalau kamu yang ada disampingku" balas kak dali "Kenapa kalau aku yang ada di sampingmu" tanya aku lewat pesan itu "Mungkin aku akan lupa karena kamu lah duniaku" Balas Kak Dali dengan emoticon senyum "Jangan dong Kak masa seperti itu, Oh ya Katanya lagi nonton Kok bisa chat-an nanti kakak stela nya marah loh" aku mengingatkanya "Aku tadi izin salat dulu, jadi setelah salat aku chat kamu takut kamu belum salat" Balas Kak dali "Ya sudah temenin lagi nanti dia kesepian loh, aku sudah sholat kok" balasku "Oke nanti kita juga nonton bareng ya" ajak Kak Dali "Males" jawabku singkat "Kenapa kok gitu Marah ya, Atau kamu cemburu ya aku jalan sama cewek lain. Tenang saja hatiku cuma buat kamu kok aku nggak enak saja tadi Stella membeli dua tiket kebetulan kamunya kan nggak kerja Jadi aku nggak ngantar jemput kamu" pesan dari kak dali "Baru aja sehari gak ketemu sudah pindah ke lain hati payah Kamu Kak" balasku sambil emoticon senyum Aku dan kadali pun terus berbalas pesan mungkin aku sudah pantas disebut pelakor Karena aku tahu bahwa yang aku chat Dia sedang berduaan menonton. dan mungkin juga mereka mulai merasa getaran getaran cinta. Tapi aku tidak memperdulikan itu aku juga harus bahagia, lagian kak dali bukan milik siapa siapa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN